Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

[DRAMA] IL CONIGLI (-remake-)

Amatsukaze Chan

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
198
Reaction score
869
Points
93

KARAKTER UTAMA



( Cheska - 18 y.o )




( Ergi - 18 y.o )



( Michy - 18 y.o )



KARAKTER PEMBANTU




( Rena - 20 y.o )


( Vrisha - 16 y.o )


( Ray Zee - 18 y.o )



( Lexi - 18 y.o )


( Gatra - 20 y.o )


( Lando - 33 y.o )


( Nadya - 29 y.o )


( Fitri - 18 y.o )


( Bella - 18 y.o )


( Albert - 18 y.o )


( Baskara - 53 y.o )


( Kinanti - 48 y.o )


( Giztha - 18 y.o )


( Sherry - 18 y.o )
 
Last edited:

Amatsukaze Chan

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
198
Reaction score
869
Points
93


PROLOG
CHESKA & MICHY







Gadis cantik itu menarik napasnya seraya pejamkan mata. Sudah hampir tiga puluh menit ia tersungkur dalam lamunan serta kecamuk hatinya yang terombang-ambing gelisah. Padahal, Trabadour Café adalah tempat yang paling nyaman serta eksklusif di kota Conigli. Dan, salah satu yang paling termahal. Bila kau ingin bertemu selebriti, public figure, atau orang terkenal di negara ini, cukup datanglah ke kafe tersebut. Ada besar kemungkinan kamu akan bertemu satu atau dua orang di dalamnya.

Namun sang Gadis tampak tidak peduli. Ambience tenang, alunan live music jazz romantis, bahkan wajah tampan lelaki muda yang duduk di depannya pun seakan tak mempengaruhinya. Ia hanya terdiam dan melamun menatap cangkir hot mocchachino-nya.

Salahkah aku masih mencintaimu?

Damn, Ergi, I’m fuckin’ missing you.

Aku kangen pelukan kamu.

Aku kangen senyum polosmu.

Aku kangen tingkah tololmu.

Satu kesalahan, dan kamu ninggalin aku begitu aja?

Kamu jahat Ergi. Jahat. Bisa-bisanya jadi manusia tanpa ampun.


Gadis itu menggeram pelan. Alisnya berkerut dengan bola mata yang berkilat-kilat kesal, membuat sosok lelaki tampan yang menemaninya kencan memicing keheranan.

“Cheska, kamu kenapa?”

“Ah?” sang Gadis terkesiap. Ia hampir lupa kalau ada manusia lain di depannya. “Enggak. Gak pa pa. Aku… cuma lagi gak enak badan aja, Ran.”

“Kamu sakit?” Lelaki yang disebut Randi itu mencoba meremas tangan sang Gadis yang terulur di meja, namun, seketika terhentak ketika gadis tersebut lekas menariknya, dan menggeleng.

“Bisa antar aku pulang, Ran?”

“C-Cheska? Seriously?” bola mata Randi melongo tak percaya.

“Iya. Pulang. Kurang jelas?”

“T-Tapi?” si Pemuda terkekeh panik, “Kita baru satu jam kenc— eh maksudku jalan keluar. Habis ini aku pengen ajak kamu nonton, terus ngabisin malam berdua sama kamu,”

Gadis itu menatapnya sebal. “Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh, ya, Ran. Aku bukan cewek seperti itu!”

“Nggak! Sumpah, a-aku nggak… iya, n-nanti aku anter kamu pulang, kok, kalo udah agak maleman.” Randi tampak membuang lirikan matanya yang ‘terciduk’. Ia menggaruk-garuk kepala perlahan.

“Oke. Aku minta dianter pulang sekarang aja, bisa?” Tegas, sang Gadis mendengus.

“T-Tapi, kenapa?”

“Aku lagi mens.” pungkas Gadis tersebut sembari meraih tas kecilnya dan bangkit berdiri. “Perutku sakit melilit banget, gak enak.”

Randi menghela nafas. Akhirnya, ia pun menyerah dan terima nasibnya. Setelah memanggil waitress dan lakukan pembayaran, mereka berdua pun keluar pintu kafe dengan mulut membisu.

Mungkin, ini baru pertama kalinya bagi Randy Arlington ‘dicampakan’ seperti kerikil oleh seorang gadis. Paras cantiknya benar-benar malas dan tak bergairah kala itu. Belum pernah ia lihat wajah seorang perempuan sekusut dan sebosan ini selagi diajaknya pergi. Kencannya kali sekarang berantakan. Pertama kalinya, bagi reputasi seorang Randy.

Well, ya, padahal, siapa di negeri yang tak kenal Randy Arlington? Dia adalah aktor muda blasteran Kanada nan tampan plus salah satu yang ‘termahal’ yang sedang naik daun. Apa pun akan dilakukan tiap wanita untuk bisa berdekatan dengannya. ‘si Ganteng Surgawi’, begitulah fans-fans fanatiknya menjuluki. Randy selalu bisa mendapatkan gadis yang ia inginkan. Tinggal peluk, dan ia pun nikmati semua.

Namun, apa boleh buat? Ternyata, memang betul gosip-gosip serta omongan sesama selebritis serta sahabat-sahabat dekatnya itu. Gadis yang malam ini diajaknya kencan, memang tergolong ‘sulit’. Agak rese dan complicated. Tapi… cantiknya, luar biasa. Setidaknya begitulah di mata Randi. Relatif, memang, namun bukan soal kecantikannya yang membuat Randi penasaran hingga ia nekad mengajaknya kencan. Melainkan… siapa dia.

Cheska Lovita Irzandi, begitulah nama lengkap gadis itu. Si Anak Bungsu konglomerat kaya Baskara Irzandi yang terpandang dan berpengaruh. Asetnya, termasuk yang terbesar di negeri ini. Menguasai banyak perusahaan serta jaringan bisnis, dengan dibumbui kabar burung konspirasi bahwa ia memiliki organisasi gelap ‘mafia’ bawah tanah yang tak tersentuh.

Menantang, sekaligus membahayakan. Begitulah anggapan Randi mengenai Cheska, yang sedang amat ia kejar dan nafsui untuk dipacari.

Namun… sepertinya gagal. Sang Aktor terpaksa harus gigit jari, karena Cheska sama sekali tak menunjukan ketertarikan.

Dalam hembusan dinginnya angin malam di pelataran parkir, sang Gadis terus melangkah dengan bola mata kaku bercampur gelisah. ErgiErgiErgi… Lubuk hatinya terus-menerus sebutkan sebuah nama, hingga pada suatu titik nanar, terbesit di benaknya sebuah pikiran sinting.

Aku akan melakukannya. Yes, aku MESTI melakukannya. Ergi gak boleh menjadi milik siapa pun. Cuma AKU yang boleh memiliki Ergi!

“….”

Di depan mobil BMW silver racing-nya, Randi mematikan alarm kunci. Secara gentle, ia lalu beringsut membukakan pintu untuk Cheska.

“Cheska, kamu… kayaknya bete banget malem ini. Maaf, ya, kalo aku punya salah,” bisik Sang Aktor perlahan. Si Putri Bungsu Konglomerat pun menggeleng.

“Gak. Bukan salah kamu,” jawab Cheska singkat. Mendadak saja, gadis cantik tersebut ingin cepat-cepat daging belahan bibir kemaluannya tak harus diganjal pembalut lagi, alias menstruasinya selesai.

“Oke, makasih, yah, Cheska.”

Setelah Cheska masuk ke dalam mobil, Randi lantas berputar menuju kemudinya dan menyalakan mesin. BMW putih itu melaju halus, tinggalkan area parkir serta beberapa wartawan gosip yang mengintai diam-diam mengambil puluhan foto.

Banyak hal-hal gila yang telah Cheska lakukan mewarnai kehidupan remajanya. Namun, yang kini tengah bergolak-golak di otaknya, ia pikir bakal menjadi yang tergila.





-------------------------------​





Hentakan musik techo remix berdentum keras di speaker sebongkah Starlet putih di jalanan pusat kota. Walau mobil tua tersebut tak bisa melaju kencang layaknya angin, sang Pengemudi tampak terhanyut dan menikmati dopingan adrenalin yang ditimbulkan olehnya. Ray Zee, nama pemuda tersebut. Berusia delapan belas, dan masih menginjak kelas 3 SMU di kota Conigli.

Di malam minggu nan cerah itu, Ray Zee baru saja hendak menikmati sepotong roti bakar cokelat dari counter pinggir jalan, sebelum ia teringat harus menjemput seseorang di The Bear Cave alias Gua Beruang. Baru satu gigitan, ia langsung buru-buru membungkus dan bayar sebelum beringsut menstarter mobilnya.

Gila, hampir aja gue lupa, bangsat! batinnya menepuk jidat. Bisa ngamuk gak karuan tu cewek.



MICHY :

Ray, jemput aku dong di BC.

Eh, sejam lagi deh, Ray . Jangan lupa ya.



RAY :

Ok, Baby​



Begitulah jawaban Ray Zee. Singkat saja dan cukup mesra. Dan sekarang, sudah hampir satu jam yang dijanjikan sang Pemuda. Bisa dipastikan bakal telat, mana macet, pula? Dan ia harus membelikan sekaleng bir pilsener sebagai ucapan maaf.

Well, biasanya sih, gitu. Michy suka minum air yang lucu-lucu kalau lagi kesal. Sesama teman-teman URSA-nya saja, tapi. Jika di alam normal, dia suka pura-pura jadi ‘good girl’. Apalagi, di depan sang Pacar.

Ray Zee tertawa, membelokan mobilnya di satu tikungan. Ia selalu geli tiap kali melihat Michy bertemu pacarnya di sekolah. Bagaimana gadis itu berakting polos dan manis di depan lelaki aneh itu. Benar-benar cewek yang berbahaya.

Whoaa!”

Pemuda itu tersentak. Tepat di depan Trabadour Café, hampir saja ia menabrak sebuah mobil BMW silver yang baru keluar dari tempat parkir. Untung saja ia sigap menginjak rem. Dan bersyukur mobil tuanya ini masih ‘waras’. Ray Zee seperti mengenal mobil BMW racing tadi, namun tak ingat apa, siapa, dan di mana.

Mobil artis, kayaknya, gue liat di acara gosip. Siapa, ye? benak Ray Zee. Ia pun lanjut tancap gas, acuh.

Anyway, mengenai Ray Zee, meski ramah, murah senyum, serta tampak manis dengan kulit legam serta wajah daerah timurnya, ia adalah salah satu pentolan URSA yang cukup elite. URSA adalah kelompok gangster remaja yang tersohor di kota ini. Berisikan anak-anak sekolah liar serta alumni yang hidup di dunia jalanan.

Secara garis besar, Conigli City dihuni oleh dua geng remaja yang seimbang besarnya dan saling berseteru. URSA yang berbendera hitam berlogokan beruang, serta Scorpi yang berpusaka merah dan ber-icon-kan kalajengking. Kebetulan, kegiatan plus skill Ray Zee di URSA adalah membalap. Ia memiliki nyali luar biasa nekad dan berani bertaruh resiko dalam memacu si Roda Dua atau Roda Empat. Sayang, ia tak terlalu pandai berkelahi. Itulah sebabnya ia kerap tampak menghindar bila ada sinyal-sinyal konfrontasi fisik.



( URSA vs Scorpi )


Tak terasa, mobil bangkotan Ray Zee sudah tiba di area sepi barat kota di mana BC berada. BC, alias Bear Cave adalah basecamp anak-anak URSA. Di malam minggu, normalnya tampak sepi, karena semua orang minggat keluar bak serigala nikmati buasnya malam. Hari-hari biasa pun cenderung begitu, hanya ramai di siang serta sore hari. Malam, mereka semua menyebar di jalanan.

Ray Zee memarkirkan mobilnya dan segera turun. Bear Cave berbentuk sebuah bangunan bekas restoran yang bangkrut terbengkalai. Kini, di dalamnya telah dimodif sedemikian rupa menjadi seperti bar and pub sederhana.

Lah, kok kosong? Michy di mana? Waduh, alamat telat gue jemput. Pasti ngambek dia duluan cabut ama orang lain, batin Ray Zee pasrah siap menerima tonjokan. Dilihatnya, di dalam gedung tersebut hanya ada satu orang manusia. Sesosok cewek cantik berjaket hitam logo beruang yang tampak teler di kursi bar. Ia mengenakan hot pants yang sungguh pendek dan ketat, membuat paha mulus serta kaki jenjangnya tersaji total untuk mata jomblo Ray Zee.

“Lex, hello? Lu sadar apa mabok?” tanya Ray Zee pelan mendekat ke arah meja. Tak mendapat jawaban, sang Pemuda pun langsung mengangkat dagu gadis tersebut lalu nyosor tanpa segan mencoba mencium pipinya.

BUGGG!

“Anjing,”

Cewek itu menghantam Ray Zee tepat di hidung, hingga tubuh kurusnya limbung dan terjatuh duduk.

“Hahaha, berarti sadar,” seloroh sang Pemuda, “Kalo mabok, diremes toket juga lo anteng, Lex,” tambahnya asal, membuat si Gadis mendengus marah.

Ray Zee kembali berdiri dan duduk di kursi sebelah Lexi. Nama aslinya, Alexa Wulandari. Teman satu sekolah Ray Zee yang bisa dibilang dekat. “Kusut amat muka lo kayak softek bekas? Anyway, mana Michy? Katanya dia minta jembut, eh jemput?”

Lexi tak menjawab. Ia hanya meneguk gelas di sebelah botol tequilla Jose Cuervo-nya yang terhampar di meja. Lirikan mata Ray Zee mengamati. Di meja ini, ada dua gelas lagi yang nampak kosong dan bekas terisi.

“Lex? Hello? M i c h y k e m a n a ?” tanya Ray Zee ulang secara dramatis. Akhirnya, gadis cantik yang berparas tipikal Korea tomboy itu pun membuka mulut.

“Di atas, di kamar,” desahnya singkat.

“Heh?”

“….”

“Ngapain? Di kamar… mana?”

“Di kamar tempat Barlow biasa ngewe pelacur, lah. Di mana lagi?” Sambil nenggak tequilla-nya, Lexi berkata amat pelan dan datar, namun di telinga Ray Zee serasa ledakan petir yang amat menggelegar.

“HAH? SERIUS? Ngapain, anjing? Di sana dia ama Barlow?”

Lexi mengangguk, tanpa menatap mata Ray Zee.

“Lex, gue sedang gak pengen becanda, Lex. Gue—”

“Lu jangan bilang-bilang yang lain, yah?” sergah Lexi memotong omongan Ray Zee, “Apalagi, Gatra. Bisa ngamuk dia, bunuh-bunuhan. Ini antara kita aja. Gue, elo, Michy. Cukup.”

Ray Zee segera turun dan bersiap melangkah ke atas. Namun, buru-buru ditarik jaket hitamnya oleh Lexi.

“Jangan ganggu. Lo mau leher lo dipatahin Barlow, hah?”

“Tapi—” Ray Zee tercekat, akhirnya ia pun takluk menyerah, “Ohw, Maaan~ lo tau ini gak bener, kan, Lex? I mean, gue tau Barlow itu siapa. Tapi… ah, shit.”

Ray Zee melangkah menjauhi Lexi dan berjalan-jalan bingung di tengah ruangan. Ia duduk di atas sebuah meja kosong dan lalu merogoh kantongnya. Diambilnya sebatang Marlboro merah, beserta koreknya.

“Dunia jalanan itu keras, Ray. Apalagi buat perempuan seperti gue and Michy. Dunia emang keras.” Lexi berseru seraya menelan tegukan terakhirnya, sebelum ia tersungkur di meja.

Beneran mabok ni orang…,

Tak ada komentar dari Ray Zee. Ia tahu, anak-anak URSA memang sering bercanda porno hingga agak keterlaluan pada URSA Baby—julukan untuk anak URSA yang cewek. Colek-colek, remes-remes dada, elus paha, semua sudah biasa. Namun, kalau sudah masukin pentungan ke dalam lubang, itu sudah peler babi, namanya! Semua anak-anak URSA pun tahu kode etik keras ini. URSA Baby adalah teman, sahabat, bukan daging pemuas! Kalau soal Michy tadi benar, meski Barlow adalah sang Ketua gang yang disegani, ia patut juga dihajar. Bahkan, digulingkan jabatannya secara tidak hormat!

Dan, Ray Zee yakin kalau Michy diperkosa! Michy bukanlah cewek yang suka obral selangkangan pada para senior. Ia bukan gadis seperti itu!

Jika… kasusnya ternyata suka sama suka? Yah, itu hanya membuktikan bahwa dugaan Ray Zee tadi salah. Michy memang perek ewe-eweannya senior—sama seperti Lexi. Namun, tetap saja itu salah. Brengsek, tidak ada rasa hormat.

Ray Zee tahu banyak anak yang diam-diam sudah gerah dengan kelakuan Barlow dan Lexi yang suka tebar ngentot di mana-mana. Masalahnya, mereka berdua tidak dalam status pacaran. Hanya teman ngentot seakan-akan acuh dengan kode etik barusan. Di tambah kasus Michy, makin runyamlah kondisinya di ruangan ini.

Dalam kegalauan hatinya, Ray Zee akhirnya memutuskan menunggu Michy hingga gadis itu selesai ‘dipake’ Barlow. Butuh berbatang-batang rokok buat pemuda itu untuk menemani menunggu. Lexi sudah jatuh ke alam tak sadar. Sempat ia tergoda untuk ‘menjarah’ botol Jose Cuervo-nya yang sisa seperempat. Namun, Ray Zee teringat kalau dia harus menyetir.

“….”

“Michy?”

Ray Zee menghempas batang rokoknya yang baru ia nyalakan. Setengah jam menunggu dalam bisu, barulah ia lihat sahabat baiknya itu turun melangkahi tangga dengan kaki terhuyung-huyung. Kedua tangannya menyusuri tembok, menjaga keseimbangan agar ia tak jatuh berguling.

Barlow tak nampak. Bajingan itu masih berada di kamar tak ikut turun entah sedang apa.

Ray Zee pun seketika melompat menghampiri Michy. Ia membantu gadis itu berjalan.

“Chy? Lo kenapa? Lo diapain?” bisik Ray Zee hampir tanpa suara. Michy, menggeleng.

“Yah… g-gitu deh,” jawabnya.

Pemuda itu menatap sang Gadis dari atas hingga bawah. Rambutnya yang panjang, hitam, dan tebal, kusut tergerai jatuhi wajah. Air mukanya lirih menahan perih. Tank-top putihnya berantakan. Bahkan, kancing serta resleting rok mini denim-nya pun tampak tak dikunci dengan baik. Jelas, cewek ini diperkosa.

“Chy? ‘Gitu deh’ gimana maksudnya?”

Ray Zee membuka pintu. Setelah keduanya keluar gedung dan menghirup udara malam, barulah Michy berkata.

“G-Gue dientot, Ray.”

Tak ada kata-kata keluar dari mulut Ray Zee. Buat apa histeris? Toh, ia sudah menduga sebelumnya.

Diiringi aura membisu kelam, mereka akhirnya masuk ke dalam mobil. Ray Zee menyalakan mesin dan mematikan speaker musik.

“Cerita ama gue, Chy. Lo diapain?”

“Ya intinya gituhh!” tukas Michy agak memekik dengan raut setengah mabuk, membuat Ray Zee terhenyak. “Gue dientot! Ampe sakit selangkangan gue! Mo cerita apa lagi?”

“Lo…,” Ray Zee menarik nafas. “Diperkosa?”

Michy terdiam, membiarkan lelaki idiot ini menelaah dan menjawab sendiri.

“Lo mau gua cerita ke—”

“Jangan!” teriak Michy, “J-Jangan sebelum gue bicara apa-apa! B-Besok kita hidup seperti biasa aja. Malem ini gak pernah ada!” pungkasnya.

“T-Tapi—”

“I-Ini complicated. B-Belum tentu ini salah Barlow, bisa jadi g-gue—”

“Lo diperkosa, Chy!” sela Ray Zee tegas, “Lo jangan nyalahin diri lo!”

“Anjing….,” Michy tertunduk, mengepalkan tangan bergetar, “Gue lagi kalut, Ray! K-Kasih waktu gue buat mikir. Pokoknya, lo… gak usah bertindak macem-macem. Tutup mulut lo, ya, Ray, jangan cerita siapa-siapa!”

“….”

Akhir dari perdebatan. Barulah Ray Zee memundurkan mobilnya lalu memutar perseneling untuk bergerak maju. Sepanjang perjalanan, tak ada patah ucap yang terkata. Bisu, dalam kegeraman.

Di sebuah jalan besar, Ray Zee melajukan mobil Starlet-nya agak kencang. Michy memakaikan jaket URSA-nya yang sejak tadi ia sampirkan di tangan. Ia rekatkan resletingnya rapat-rapat kemudian membuka jendela. Sebatang rokok milik Ray Zee, diambilnya dari dashboard dan disulutnya dengan bola mata yang agak berkaca. Oleh lirikan matanya, Ray Zee bisa melihat itu semua. Angin kencang berhembus. Michy mengepulkan asapnya keluar mobil dengan raut tanpa ekspresi. Ia menatap langit malam. Gelap, segelap nasibnya.

Entah kapan terakhir kali Ray Zee melihat Michy merkokok. Mungkin, tiga bulan lalu?

“Gue bunuh lo, Ray, kalo lo berani cerita ke Gatra…,” bisik Michy menggumam, dingin. “Pokoknya, tutup mulut lo sebelum gue suruh buka. Ngerti?”

Ray Zee menangguk. Ia paham semuanya. Satu yang pemuda itu tak tahu, mungkin hanyalah lelehan darah kecil yang membekas di bibir kemaluan Michy, akibat robeknya selaput dara kala ia digagahi paksa Barlow.

Michy hilang perawan di malam durjana itu, bagai bunga liar di sisi jalan yang terpetik patah.





---------------------------------------​
 
Last edited:

Amatsukaze Chan

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
198
Reaction score
869
Points
93
AKHIRNYA SANG IL CONICLI MUNCUL


:alamak::alamak::alamak:

HEBAT BRADA 👏👏👏
masih tahap pengerjaan lo ini, hahaha. Tadinya mo ntar aja bikin thread-nya :beku:

Wow..mejeng di sini..
Cheska dan michy is comingg...

Makasih bradaaa..
sama-sama, makasih juga udah mampir, brad. :hi:

Waw..hadir disini.. lanjutkan suhu.
siappp, hu :chase:

Mumpung kebagian pejwan.....:lari:
Pejwan dapet hadiah akua galon satu botol :courage:
 

Amatsukaze Chan

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
198
Reaction score
869
Points
93
I love u CHESKA.


MANTEP BRADA, SALAM IL CONICLI ....


SUDAH INGAT KAN ???

BRADA @Amatsukaze Chan , Sttt... Ya 😁😁😁
Sumpah gw lupa, hahaha. troyes kah? siho lapan lapan? penthoel? :stress:

Thanx upnya Brad @Amatsukaze Chan .. :beer:
sama-sama :dudu: maksi jg dah mampir ya

SAYA IKUTI LOH BRADA...CERITA INI...


KURANG 1 SANG KELINCI, 2 SUDAH MUNCUL KURANG YG KE 3 :lol::lol::ampun::ampun:
Kalem... atu-atu dulu munculinnya :he:

Blom inget ... effect kebanyakan ID :ngakak2:
:kabur1:
Pasti Ingat, Hanya 1 yg pakai

😂😂😂
siapa ya gw bingung deh sumpah :sembah:

Whaaaat kesini juga ini cerita.. Ah jadi....

Bdw, udah boleh milih tim belom ini :doukana:
tim apa nih? Bologna v Fiorentina?

(gw lagi sambil nonton nih :ocha: )
 

Amatsukaze Chan

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
198
Reaction score
869
Points
93
Apa yang berubah di remake ini?

- Penyederhanaan plot. Sub plot Jupri ama Gold Heist gw delete. Porsi URSA ditambah dikit. Karakter Jupri kena PHK. Nadia Lando masih ada.
(sumpeh ini bikin puyeng, hahaha)
- Perubahan susunan bab cerita. Timeline dirapihin.
- Perbaikan narasi/dialog biar lebih jelas. (dulu emg rada ngawur)
- Karakter Michy diperbaiki, yg dulu agak ngawur
Agak bingung ama polling yg lama, kok banyak yg suka Cheksa ya? padahal itu gw bikin antagonis pelakor :he:
 

ZinggasCrot

Anak GoCrot
Joined
Nov 30, 2019
Messages
146
Reaction score
697
Points
93
Apa yang berubah di remake ini?

- Penyederhanaan plot. Sub plot Jupri ama Gold Heist gw delete. Porsi URSA ditambah dikit. Karakter Jupri kena PHK. Nadia Lando masih ada.
(sumpeh ini bikin puyeng, hahaha)
- Perubahan susunan bab cerita. Timeline dirapihin.
- Perbaikan narasi/dialog biar lebih jelas. (dulu emg rada ngawur)
- Karakter Michy diperbaiki, yg dulu agak ngawur
Agak bingung ama polling yg lama, kok banyak yg suka Cheksa ya? padahal itu gw bikin antagonis pelakor :he:
Ketika melihat pict foto.. Ah seperti itu rupanya toh..

Demikian sepertinya om brad :deff:
 
Top