Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

[GHSC] [GHSC] 21 Days Error [2020]

ivy_ivares

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 28, 2019
Messages
15
Reaction score
83
Points
13

21 DAYS ERROR

******



******
Aku ingin begini.. Aku ingin begitu...

Ingin ini ingin itu, baanyak seekaaliii...



Haiii teman-teman mesum. Apa cita-cita kalian saat remaja setelah melewati masa underage?

Aku punya cita-cita yang unik. Sebagai lelaki, aku ingin bebas tidur dengan wanita, baik pacar atau yang bukan pacarku, bebas melihat mereka telanjang tanpa membuat mereka marah, bebas membelai tubuh mereka tanpa mendapat bekas gamparan tangan, cubitan, atau bekas tendangan. Aku ingin mandi bareng teman-teman wanita, saling bertukar sabun dan saling membelai tubuh di kamar mandi. Dan yang paling penting, semua kemewahan itu kudapatkan secara GRATIS!

Bagaimana cara mewujudkan cita-cita itu?

Pilihan pertama kalian bisa menjadi banci atau gay. Kalian hanya perlu mempublikasikan di real life dan di media sosial kalau kalian adalah gay atau banci. Cara ini simple dan efektif untuk membuat para wanita nyaman di sampingmu. Mungkin kalian bisa sedikit bercupika-cupiki. Efek sampingnya, kamu akan jatuh cinta kepada lelaki.

Sebagai lelaki yang masuk katagori mesumers, aku tidak mungkin melakukan pilihan pertama. Jadi aku melakukan dengan cara kedua. Berminat ingin tahu caranya?

Ikuti cerita ini!!

<<>>

DAFTAR ISI
I. Perseteruan Antar Kelamin, The Beginning
II. A Few Seconds Therapy
III. Perseteruan Antar Kelamain, The Finale


<<>>​

Ilustrasi



BENNY
***


FREDDY
***


ELFINA
***

I. Perseteruan Antar Kelamin

*
Sinar lampu terang-benderang terlihat dari hotel megah yang berdiri di atas tebing. Cahaya itu hampir mengalahkan indah sinar bulan purnama yang baru saja menyembul dari balik awan. Suara riuh orang berpesta menyamarkan suara ombak yang menghantam bebatuan di pinggir pantai.

Bulan semakin terang memantulkan sinar. Orang-orang mulai meninggalkan tempat pesta makan. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk menghabiskan sisa malam. Lampu-lampu di hotel mulai padam. Suasana menjadi lebih hening.

Beberapa ratus meter dari hotel, terlihat setitik cahaya di antara pepohonan dan semak-semak. Cahaya itu berasal dari sebuah rumah milik penduduk lokal.

“Jangan sakiti saya, Pak. Saya mohon....”

Seorang wanita setengah baya berkulit putih memohon dengan raut wajah memelas. Wanita yang mengenakan dress tipis putih itu bergerak mundur karena terintimidasi lelaki kurus tinggi yang berjalan mendekat ke arahnya. Sebilah pisau berkilat tajam yang digenggam si lelaki membuat nyali wanita itu semakin ciut. Si lelaki kurus bertingkah layaknya orang tidak waras, dia menjilat sisi tajam pisau dengan lidah yang berwarna kehitaman.

“Gimana neng sarah!? Udah cape berlari? Ha ha ha!”

Wanita cantik yang memiliki tubuh sekal padat itu mulai terpojok di sudut ruangan. Dia semakin ketakutan melihat seringai menyeramkan si lelaki.

“Pak Karta! Jangan sakitin saya. Biarkan saya pergi.”

“Bukankah kamu yang sukarela datang ke sini? Kenapa tiba-tiba ingin pergi?” Lelaki bernama Karta melingkarkan tangan kiri ke pinggang ramping Sarah. Sarah menggeliat dan berusaha memberontak.

“Lepaskan saya! Saya akan berikan apa yang bapak mau.”

“Bagus! Pertama, saya akan menikmati tubuhmu yang mulus! Ha ha ha!”

“Jangan Pak! Saya akan berikan bapak yang lain, jangan yang itu...”

Karta menatap tajam wajah Sarah yang mulai dipenuhi keringat dingin. Dengan tangan kiri, dia mendorong tubuh sarah semakin menempel ke tembok. Ujung pisau yang runcing menelusuri pipi dan bibir Sarah. Tubuh sarah bergetar hebat. Dia menatap nanar ke arah lelaki yang memiliki wajah penuh bekas luka itu.

Tangan kiri Karta bergerak lagi, dengan erat dia menggenggam pinggiran dress di atas dada Sarah, kemudian menghetakan dengan keras sehingga tubuh Sarah ikut bergerak ke depan.

Breetttt

Dress Sarah robek terbelah di bagian depan. Wanita itu melintangkan tangan berusaha menutup bagian tubuh yang terekspos. Karta menggerakan pisau, memotong bra yang menahan payudara Sarah. Payudara Sarah menyembul, berukuran sedang, tetapi sangat kencang dan mulus.

Pisau Karta bergerak menyelinap di pinggir celana dalam Sarah, kemudian menggesek pelan memotong celana dalam berbahan satin itu. Sarah berusaha mempertahankan diri dengan merapatkan paha, tetapi itu percuma. Karta dengan mudah melucuti semua pakaian Sarah sehingga wanita itu telanjang bulat.

“Indah sekali tubuhmu Neng, tidak percuma suamimu memberimu uang banyak untuk merawat tubuh! Ha ha ha!”

“Pak.. Jangan, Pak! Biarkan saya pergi..”

Karta terkekeh. Pisau lelaki itu menyusuri permukaan kulit Sarah yang mulus. Mulai dari bibir yang kemerahan, turun ke lereh yang jenjang, menuju payudara yang kencang dengan puting yang indah menggoda. Pisau itu berputar-putar di sana. Tidak melukai, tetapi membuat tubuh perempuan itu bergetar hebat.

“Ha ha ha. Gimana rasanya? Geli?!”

Karta tertawa gembira. Pisau Karta kemudian turun ke perut si wanita. Perempuan itu merapatkan paha sambil menutupi kemaluan dengan telapak tangan.

“Gue udah enggak sabar menikmati memek mulus elo, Neng!””

Suara Karta lembut tapi mengandung hasrat birahi yang tinggi. Tangan kasar lelaki itu menangkup payudara mulus yang menggantung di hadapannya. Meremas dengan keras sampai Sarah meringis kesakitan.

“Jauhin tangan dari memek lo! See-kaa-raang!”” Ucapan itu dibarengi jepitan jari tangan Karta pada puting payudara Sarah. Perempuan itu menggeliat dan menjerit. Air mata membasahi pipinya.

“Ampuuunnn pak.. hik hik ..”

Sarah tidak mampu menahan sakit sehingga terpaksa menjauhkan tangan yang menutup kemaluan. Karta tersenyum sambil menatap kemaluan perempuan yang ditumbuhi rambut yang tertata rapi. Tangan kanan Karta yang masih memegang pisau mengancam leher Sarah. Nafas wanita itu semakin berat karena sudah terpojok dan pasrah.

Tangan kiri Karta mulai menyusuri paha kencang Sarah yang berkilau terkena cahaya lampu. Jari tangan Karta bergerak, membelai dan meremas. Gerakannya lembut tetapi memaksa Sarah melebarkan paha. Kemudian dengan berani lelaki itu mengusap kemaluan Sarah. Mengelus permukaan, mencari lubang, kemudian memainkan jari tangan.

“Pak, jangan...!” Sarah memejamkan mata sambil menempelkan kedua paha rapat. Gerakan itu percuma. Tangan Karta sudah terjepit di antara paha sarah. Jari tengah dan telujuk berada di lubang vagina sarah.

Plek Plek Plek

Suara tangan Karta mengobok-obok kemaluan Sarah terdengar. Sarah menunduk sambil menangis terisak. Dia tidak mampu melawan.
“Masih sempit ternyata! Ha ha ha .”Karta tertawa sambil melepaskan tangan dari kemaluan Sarah. Lelaki itu melempar pisau ke atas sofa kemudian dia mencengkram pinggang ramping Sarah dengan kedua tangan.

“Balikin badan lo !”

Sarah menurut, dia membalikan badan menghadap ke tembok. Karta menekan punggung Sarah sehingga bokong wanita itu sedikit terangkat. Bokong yang membulat dan kenyal terlihat menggairahkan.

Plaaak

Plaaak


Karta menampar bokong Sarah. Sarah memekik. Bokong putih mulus itu bergetar. Karta semakin bersemangat. Dia kemudian membenamkan kepala di bongkahan kenyal itu. Mencium dan mengigit. Tubuh Sarah mengeliat. Karta melebarkan paha Sarah. Lelaki itu kemudian melepaskan celana kolor kumal miliknya, kemaluan sudah tegak mengacung. Penis besar itu ditekan di pelahan pantat sarah, kemudian diarahkan ke vagina wanita itu.

DUG

DUG

DUG


Detak jantung yang cukup keras terdengar dari dada seorang pemuda berambut keriting yang menyaksikan semua adegan itu. Dia telanjang, duduk bersila di atas ranjang, di tengah gelap kamar berukuran 3 x 3 meter. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari adegan Karta dan Sarah.

“Ayoo Mang Karta! Cepat entot Neng sarah!”

Pemuda itu bergumam sambil sedikit mendesah. Tangan kanan berada di atas paha, memegang erat sambil mengocok kemaluan yang sudah tegang dan mengeluarkan cairan. Mata fokus menatap kedepan, ke adegan pemerkosaan yang merupakan adegan favoritnya.

“Ahhh, hsssshhhh”

Pemuda itu mendesah sambil mengocok kemaluan semakin cepat. Keringat mulai membasahi dahi dan sekujur tubuhnya.

BLLAAAMMM

Tiba-tiba gelap gulita. Mata pemuda itu berkedip beberapa kali. Dia tidak melihat apapun karena benar-benar gelap. Layar komputer yang tadi menampilkan adegan pemerkosaan sekarang sudah berubah menjadi hitam.

“Oh Shiiit! Bangsat! Apa-apaan ini!! ”

Pemuda itu seperti orang linglung. Dia masih duduk, posisinya masih sama seperti tadi. Tanganya masih mengocok kemaluan hanya saja sekarang gerakannya menjadi lebih pelan. Dia masih tidak percaya kalau adegan yang merupakan inspirasi untuk meraih puncak kenikmatan tertinggi mendadak hilang. Komputernya kehilangan daya listrik.

Rahang pemuda itu menggertak. Dia melepaskan penis dari genggaman.

Blug Blug Blug

Dia memukul kasur beberapa kali untuk menumpahkan kekesalan hati. Sebentar lagi! Mang karta pasti bisa ngewe tante sarah! Fuuuckkk! Kena tanggung! Kentang yang paling tidak enak dia terima kali ini.

Andai gue punya laptop, enggak mungkin kayaaa gini! Sial!

Dia menggerakan tubuh dengan malas. Meraba sela-sela bantal untuk mencari Handphone. Setelah menemukan benda yang dicari, dia kemudian menyalakan torch di handphone-nya, mengarahkan cahaya lampu ke selangkangannya. Menatap dengan sendu penis yang mulai mengecil. Dia mencoba mengocok kembali, tetapi tetap tidak mau berdiri. Kasian banget kamu gagal crot hari ini!

Dia meletakan handphone di kasur, kemudian mengusap dada yang penuh butir keringat dengan tangan kiri. Momen yang sangat dinantikan untuk coli ternyata berakhir tragis. Dia sudah melakukan banyak hal untuk bahan coli kali ini. Termasuk berkorban kuota internet dan waktu untuk mendownload film HD tentang Karta dan Sarah.

“Huuuuhhhhfffttt.”

Dia menarik nafas panajng. Pemuda itu berusaha sabar menunggu listrik menyala, tetapi dua puluh menit berlalu, listrik belum juga menyala.

“PLN sialan! Bangsaaat! Karyawannya pasti makan gaji buta!” Dia memaki. Ruangan itu mendadak terasa panas dan pengap bagi lelaki itu.

Mungkin gue harus bikin jadwal ulang coli ! Dia mebatin. Dia beranjak malas dari tempat tidur sambil mengenakan pakaian kemudian menyibakan korden dan menatap kelap-kelip lampu hotel yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Oh! Andai saja aku punya genset, aku pasti bisa nonton sekarang! Dia masih belum bisa move on dari film yang di tonton.

Gue mesti nyari udara segar!

Pemuda itu memutuskan keluar rumah untuk menenangkan diri. Ketika dia membuka pintu rumah menuju halaman, angin segar langsung menyambut. Dia merasa sedikit lega dan terhibur. Dia kemudian melangkah menyusuri jalan beraspal selebar tiga meter yang membelah semak-semak menuju hotel. Dia menatap langit, mengagumi keindahan bulan purnama yang dikelilingi taburan bintang.

Pemuda itu kemudian berhenti di dekat sebuah pohon besar di pinggir jalan. Dia ingin buang air kecil. Tangannya meraih ujung celana dan mengeluarkan kemaluan.

SRRRRRRRR

Air kencing mengucur deras menghantam akar pohon.

Sreekkkkk sreeekkk

Tiba-tiba angin berhembus . Dahan dan ranting bergesekan menimbulkan suara berisik. Lelaki itu merasakan tengkuknya dingin seperti dibelai sesuatu. Dia seperti mendengar suara berisik. Dia menoleh tetapi tidak melihat siapa-siapa. Dia melanjutkan kenikmatan membuang air, tetapi tubuh lelaki itu mendadak bergoyang seperti ada yang mendorong.

GEMPA!!

GEMPA!!!


Terdengar suara riuh di kejauhan. Orang-orang dari dalam hotel berhamburan keluar. Si Pemuda keriting seperti orang linglung. Dia terdiam melihat kehebohan itu.

Nguing!!

Nguing !!

Nguiing!!


Alarm Tsunami kemudian berbunyi. Si keriting mulai panik dan berlari ke arah rumahnya. Tanpa dia sadari, sebuah benda berwarna biru mengarah ke dirinya. Benda itu bergerak cukup cepat.

Bruuuukkk

DUaaaggg


<<>>
Dimana ini?

Entah kenapa aku bisa berada di sebuah taman yang penuh bunga warna-warni. Bunga-bunga di sini indah, tetapi bukan selera lelaki sepertiku. Aku bukan penggemar bunga seperti mantan pacarku. Hanya saja, ada yang tidak wajar dan sangat aneh dengan tempat ini. Taman ini tidak berada di atas permukaan tanah, tetapi berada di atas permukaan awan. Bunga-bunga yang bermekaran, tumbuh dari gumpala-gumpalan awan putih yang lembut seperti kapas. Di sekelilingku juga terdapat awan berbagai ukuran yang melayang. Aku tidak bisa melihat permukaan tanah dari sini. Aku seperti berada di langit.

Kok aku ada di sini?

Aku mencoba mengingat peristiwa yang sebelumnya terjadi tetapi aku gagal. Seperti ada yang memblokir akses ke memori otakku.

Eh! Goyang-goyang!

Aku kaget ketika menyadari awan itu tidak diam, tetapi terus bergerak menuju titik cahaya keemasan di kejauhan. Semakin lama, titik keemasan itu semakin besar. Ternyata itu adalah sebuah pintu besar berwarna emas. Menempel pada sebuah awan besar yang berwarna putih. Sepertinya pintu emas itu merupakan pintu masuk ke dalam awan besar itu. Mungkin saja ada ruangan di dalam awan itu.

Aku melihat dua orang lelaki berdiri di depan pintu. Kepala keduanya lunglai ke samping, mata mereka terpejam. Sepertinya mereka tidur.

KRIIIINGGG

Aku kaget ketika mendengar suara yang sangat keras ketika taman bunga yang melayang itu berhenti tepat di depan pintu. Dua orang yang tadi aku lihat juga tersentak. Mereka terburu-buru menoleh ke arahku sambil mengucek mata.

“Ha- haii.., Se- selamat datang...!” Seorang lelaki berkepala setengah botak dan bertubuh gemuk berucap gagap.

“Eh! Kamu kenapa gugup begitu? ” Lelaki tua dengan jenggot putih, bertubuh pendek dengan perut sangat buncit mirip wanita hamil, menegur temannya.

“Hahaha, lama kita enggak kedatangan tamu. Aku jadi grogi,” si setengah botak menjawab sambil menggaruk kepala.

Aku mengamati mereka berdua dengan seksama. Mereka tidak mengenakan pakaian. Hanya ada gumpalan awan berwarna putih menutupi area kelamin mereka. Awan itu mirip rok tetapi melayang.

“Nama kamu siapa?”

“Saya Freddy,” ujarku.

“Oke, perkenalkan saya Miharja, panggil saja saya Eyang Harja,” ucap si tua perut buncit, “kalau dia bernama Wowo,” Harja menunjuk si lelaki setengah botak, “Kami adalah penjaga gerbang ini.”

Aku menganggukkan kepada tanda mengerti.

“Selamat datang di area kekuasaan kami. Kamu beruntung berada di sini. Sangat jarang orang bisa mencapai tempat ini, ” Wowo menambahkan ucapan Eyang Harja.

“Memangnya ini di mana, Om?” ucapku penasaran.

“Dunia antara hidup dan mati, ” Wowo menjawab.

“Oh ya? Emang ada dunia seperti itu?” Aku tidak percaya begitu saja apa yang mereka ucapkan. Paling ini hanya mimpi. Hahaha!

“Sebenarnya ada banyak tempat seperti ini, tapi kamu kebetulan mendapat masalah di zona kekuasaan kami, jadi kamu otomatis dibawa ke sini.”

“Ah, yang bener, Om?” Aku ragu ucapan mereka.

“Eyang Harja, tolong jelaskan, ”Wowo meminta tolong Harja untuk menjelaskan.

Eyang Harja kemudian menatapku sambil berucap, “sekarang kamu adalah arwah. Arwah yang tersesat. Mati susah dan hidup juga susah. ”

“Apa saya sedang koma?” Aku teringat film yang aku tonton tentang orang yang koma. Jadi aku berpikir kalau sekarang tubuhku ada di rumah sakit. Kabel-kabel melintang di atas kepalaku. Sebuah monitor yang menunjukan tanda garis-garis dengan bunyi ‘beep beep’ berada di dekatku.

“Bisa jadi kamu koma, titik, atau tanda tanya. Hahahahaha, ” ucap Wowo sambil tertawa keras. Aku tidak berekasi.

“Hahahaha!” Eyang Harja kemudian ikut tertawa terpingkal-pingkal. Padahal lawakan yang mereka keluarkan tidak lucu menurutku. Garing banget! Jangankan tertawa, nyengir pun aku tidak.

“Saya nanya serius tadi, Om, “ ucapku datar. Mereka berhenti tertawa.

“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Perlu waktu lama untuk mengecek data karena kami tidak ada database bagus. System kami juga belum di update menjadi system digital,” jawab Eyang Harja, “ kami juga tidak punya alat komunikasi untuk menghubungi dimensi lain.”

Entah mereka membuat lelucon atau tidak, tetapi jawaban mereka sangat aneh dan tidak lucu sama sekali. Mungkin mereka sudah lama terisolasi di sini sehingga tidak tahu lawakan yang update. Berbicara dengan mereka sepertinya tidak mudah. Mereka terlihat tidak profesional.

“Dia sepertinya tidak percaya ama kita?” ujar Wowo sambil melirik Eyang Harja.

“Tolong beri saya info yang jelas sehingga saya bisa percaya pada kalian,” ujarku santai dan mencoba lebih serius. Mereka kemudian menatapku tajam. Aku balas menatap matanya.

“Sebenarnya, banyak kemungkinan yang terjadi padamu, saya malas menjelaskan, “ jawab Eyang Harja, “ tetapi yang pasti, peluang kamu untuk hidup dan peluang kamu untuk mati sama besarnya, ” dia melanjutkan. Ucapan Eyang Harja kali ini terlihat serius. Lelaki tua itu memakai bahasa yang cukup formal. Aku mulai sedikit percaya.

“Trus, apa yang harus saya lakukan di sini?”

“Kamu hanya perlu bersabar menunggu takdir. Kamu akan hidup atau kamu akan MATI!”

Mereka memberi penekanan di kata “MATI”. Sepertinya mereka mencoba menakutiku dengan acaman kematian. Aku tidak begitu peduli dengan hal itu. Mati, Ok! Hidup, Ok! Aku hanya perlu menjalani itu. Hidupku selama ini juga sudah penuh warna. Keterpurukkan sampai masuk kubangan gelap terdalam sudah aku lalui. Kegembiraan sampai menembus batas angkasa tertinggi sudah aku nikmati. Bagiku, hidup hanyalah pergolakan emosi.

“Berapa lama saya harus menunggu di sini?”

“Tergantung kondisi tubuhmu di bumi. Bisa sehari, setahun, atau berjuta tahun waktu bumi.”

“Hah?! Serius? ” Menurutku ucapan mereka rada ngaco. Aku hampir saja menjerit karena jengkel.

“Iya, saya serius.”

“Trus, di sini saya ngapain aja selama menunggu?” Aku melayangkan pandangan melihat sekitar tempat itu. Sepi, tidak ada orang selain kami bertiga. Apa pun yang akan aku lakukan di sini pasti akan membosankan.

“Banyak hiburan di dalam,” Wowo menunjuk pintu masuk emas. Berarti dugaanku benar. Di dalam awan besar itu pasti ada ruangan.

“Saat ini, hanya kamu pengunjung di sini. Sekarang tempat kami minim pengunjung. Orang mati kebanyakan langsung masuk surga atau neraka, sudah sangat jarang yang transit di sini. Hahahaha.”

Aku hanya nyengir pura-pura tertarik dengan lawakan tidak jelas mereka.

“Ini jam berapa?” Aku coba basa-basi.

“Di sini tidak ada jam.” Jawaban itu membuatku kaget. Aku harap mereka bercanda.

“Serius?”

“Iya.”

“Kok bisa? Terus kalau ingin tau waktu gimana caranya?” Aku protes. Sepertinya aku tidak ingin berada di tempat ini.

“Nak Freddy.., Apa kamu tau, kalau waktu itu relatif ?” Wowo menjelaskan. “Bagi kami, waktu itu hanya dihitung berupa kenangan, bukan detik, menit, jam, dan tahun. Semakin banyak kenangan yang kamu buat, berarti kamu memanfaatkan waktu dengan benar. Kenangan menanandakan betapa berharganya waktu yang sudah kamu lalui.”

Wow! Si Wowo mendadak puitis. Aku ingin tertawa tetapi takut. Bisa saja dia serius dan tawaku bisa saja menjadi penghinaan baginya.

“Trus kalo pengen tau pergantian hari caranya gimana?”

“Sudah kubilang, di sini tidak ada pergantian hari. Terus menerus terang seperti ini.”

“Haduh! Mampus dah! Saya bisa mati bosan!”

Mereka berdua saling pandang dan serentak berucap,”kamu sudah hampir mati!”

Iya, terserah kalian! Itu jawabanku dalam hati.

“Kamu sebenarnya bisa kembali ke Bumi. Itu bisa membantu menentukan hidup dan matimu. Hanya saja kamu mempunyai waktu dan tubuh terbatas,” ujar Eyang Harja. “Apa kamu ingin mencoba?”

Aku malas menjawab karena bingung dan benar-benar tidak mengerti. Aku menganggap ini semua hanya mimpi. Mimpi yang unik.

“Kalau kamu ingin kembali ke bumi. Kamu akan diberi waktu 21 hari untuk menentukan jalan hidupmu. Kalau sukses, kamu hidup. Kalau kalah, kamu mati. Selain mati, ada hal yang mengerikan lagi yang bisa terjadi. Hal yang tidak ingin aku ucapkan sekarang.”

“Caranya untuk kembali ke bumi gimana? ”

“Mau coba? Kalau mau, kami akan memberimu free trial selama tiga puluh menit. Kalau kamu sudah paham dan tertarik, kami akan beberkan term and condition-nya.”

“Oke, boleh!”

Mereka kemudian membawaku masuk ke dalam ruangan luas yang terbuat dari gumpalan awan. Mereka menyuruhku berbaring di atas gumpalan awan sebesar kasur di rumahku. Awan itu melayang. Aku menyentuhnya, ternyata begitu lembut. Lebih lembut dari springbed-ku di rumah.

“Kamu siap?”

“Yes!”

“Pejamkan matamu, Freddy!”

“Oke!”


<<>>​
“Cowo! ”

"Cewe!"

“Cowoo aja!”

“Tidak! Cewe aja, pasti seru! Hehehe. ”

Apalagi yang mereka perebutkan? Mataku terpejam tetapi telingaku masih peka untuk mendengar obrolan tidak penting antara dua orang aneh itu. Lambat laun, perasaan nyaman hinggap di tubuhku. Aku merasa sangat ringan, seolah melayang.

FLAASSSHHH

Kilat cahaya terang membuatku tersentak. Aku membuka mata. Dua orang aneh itu sudah tidak ada di samping. Kumpulan awan putih juga sudah hilang. Aku sepertinya sudah kembali ke bumi.

Apa tadi hanya mimpi? Dalam sekejap aku sudah berpindah tempat. Ini sangat tidak masuk akal. Hal yang paling logis terjadi adalah aku bermimpi.

Tapi tunggu! Ada hal yang tidak wajar juga terjadi. Aku tidak berada di atas kasur selayaknya orang terbangun dari tidur. Aku berdiri di sebuah lapangan luas. Beberapa batu hitam sebesar tubuh orang dewasa berjejer. Ada beberapa pohon kurus, memiliki dahan kering dan ranting yang terlihat memerihatinkan karena hanya tersisa sedikit daun yang menempel. Tanah yang kupijak bercampur kerikil dan pasir.

Dimana lagi gue?

Aku merasa alam sadarku dipermainkan. Meloncat dari satu tempat asing ke tempat asing lain. Hanya saja, meskipun tempat ini terasa asing, tetapi aku seperti mengenal tempat ini.

Aku mendongak, menatap langit yang berwarna kemerahan, penanda senja akan tiba. Hembusan angin lembut menyapu kakiku. Terasa sangat sejuk. Dorongan kuat dari dalam diri membuatku menggerakkan tubuh.

Kreekk

Kreeek


Suara kerikil ketika beradu dengan alas kaki saat aku melangkah dengan penuh semangat menuju sebuah batu besar tinggi yang berjarak sekitar lima meter dariku. Itu adalah satu-satunya batu besar yang aku lihat. Seorang lelaki memakai celana panjang hitam dan kemeja biru gelap bersandar di batu itu. Dia kurus, berambut keriting, dan kulit hitam. Aku dengan mudah mengenali makhluk jelek itu. Dia adalah Benny.

Aku kemudian berhenti sekitar satu meter dari Benny. Aku yakin dia akan menoleh ke arahku. Hanya saja, keyakinanku salah, kali ini Benny berani bertingkah sombong. Dia menunduk, matanya fokus menatap layar handphone. Dia mengabaikanku seolah aku tidak ada. Hah! Brani sekali bangsat jelek ini!

Aku mengamati Benny si jelek cukup lama. Ada yang tidak biasa dengan dia hari ini, terkesan aneh untuk seorang Benny. Dia wangi. Aku bisa mencium aroma parfum yang lembut. Hanya saja, ini bukan aroma parfum yang biasa dia curi dari backpack ku. Dandanan Benny rapi, tidak berantakan seperti biasanya. Hal lebih aneh lagi adalah rambut keriting menjijikan miliknya, biasanya kering dan acak-acakan tetapi sekarang berwarna hitam mengkilat dan tersisir rapi. Selain itu, ada hal lain yang berbeda dari si jelek ini. Entah itu apa, aku tidak bisa memastikan.

Aku juga aneh kali ini. Aku malas ngomong dan lebih memilih diam. Bibirku seperti susah digerakan. Aku yang biasanya bermain fisik atau berteriak keras kepada Benny, sekarang hanya membisu dan mengeluarkan kata makian dalam hati.

Semenit lebih aku berdiri menatap si hitam kriting, tetapi dia tetap tidak peduli. Dia masih asik dengan handphone dan malah senyum-senyum tidak jelas. Ya Setan! Apa yang merasuki makhluk jelek berbibir tebal ini? Sepenting itu kah handphone sampai dia berani mengabaikanku? Apa perlu handphone itu kurampas, kemudian kulempar ke bebatuan agar hancur lebur?

Aku merasa sangat terhina melihat senyumnya berubah menjadi tawa ketika pandangan matanya masih fokus di layar handphone. Aku sangat berhasrat untuk memukulnya, hanya saja ada sesuatu dari dalam diri yang menahanku sehingga bersabar. Si jelek ini benar-benar keterlaluan. Tanpa sadar, aku mengayunkan kaki menyepak kerikil bercampur debu di bawah kakiku.

Sreeeekk

Dsssshh


Debu membumbung ke udara, kerikil dan pasir melayang berhamburan kemudian menghantam kemeja biru Benny. Kemeja kesayangan yang dia beli dengan berhutang kepadaku. Benny kaget dan menoleh. Alisnya menekuk. Dia berdecak jengkel sambil melirik ke arahku, pancaran matanya menadakan rasa tidak senang tetapi dia takut protes. Aku sudah hapal tatapan mata itu. Tatapan mata pengecut Benny.

Monyet songong! Rasian lo! Hahahahaha .

Aku sangat gembira melihat raut wajah Benny menahan amarah. Intimidasiku berhasil, tetapi aku ingin tetap pasang raut wajah cool. Aku sengaja tidak mengeluarkan suara tawa, aku hanya menatap matanya lekat.

Hanya saja aku masih belum terpuaskan. Sifat jahilku tidak terkontrol dan menuntut kenikmatan lebih. Aku merasa belum mencapai puncak kenikmatan hanya dengan bermain-main seperti itu dengan Benny.

SREEEK

BUUUKK


Kali ini, aku menyepak tanah lebih keras. Debu, pasir, dan kerikil yang terbang berhamburan lebih banyak dibandingkan tadi, beberapa mengarah ke wajah Benny. Benny berusaha menghindar dengan cara memiringkan kepala dan menutup wajah dengan tangan, tetapi tetap saja butiran pasir dan debu mengenai wajahnya. Dia batuk, kemudian mengusap pipi dan dahi dengan telapak tangan untuk membersihkan debu yang menempel.
Hahahahhaha! Aku senang dan hampir puas.

Benny kemudian menoleh, menatapku penuh selidik. Pancaran matanya sangat aneh.

Mau apa lo, Njing? Mau mukul gue? Lakukan Ben!

Aku berteriak dalam hati menyemangati Benny, tetapi itu percuma. Dia tidak bereaksi. Dia tetap diam. Dia hanya menatap dengan pancaran mata yang tidak bisa diterka. Tidak keluar kata makian. Tidak ada gerakan tubuh Benny yang menandakan dia ingin membalas perlakuanku. Benny tetaplah Benny, dia pengecut. Takut kepadaku. Aku tetap superior dihadapan si pengecut ini.

“Fina?!" Benny bergumam pelan.

Fina?! Kenapa dia malah nyebut nama cewe gila itu di depan gue?! Harusnya dia nyebut nama gue, Freddy! Apa gue salah denger?

“Fin.. Fina?!”

Raut wajah Benny serius, nada bicaranya lembut, tidak seperti orang marah karena teraniaya. Aku menjadi penasaran. Apa cewe gila itu ada di sini?
Aku menoleh kebelakang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada perempuan itu. Benny berani bermain-main denganku dengan menyebut nama perempuan itu. Dia hendak menakutiku. Hahaha, Lumayanlah! Elo udah berani sedikit kurang ajar ama gue. Atau Elo memang kangen dihajar, Ben!

Aku kemudian teringat Fina si cewe gila dan apa yang perempuan itu lakukan kepadaku. Benny sepertinya mencoba memancing amarahku dengan menyebut nama perempuan itu. Cewe gila itu adalah satu-satunya kelemahanku. Benny si monyet ini tidak bisa dimaafkan. Dia sudah melanggar pantangan. Aku geram dan ingin mengucek rambut keriting menjijikan lelaki kurang ajar ini.

“Finaa, kamu kenapa?? Kok kayak orang linglung? ” Benny tersenyum melihatku. Senyumnya memuakan. Senyum yang terpaksa dibuat semanis mungkin. Apa dia benar-benar ingin memancing amarahku.

“Finaaaa...”

Oh shaaatt!! Nada bicara Benny mesra sekali. Aku muak! Benar-benar muak! Dia benar-benar ingin menghinaku. Tatapan matanya yang sendu ke arahku membuat amarahku semakin bergejolak. Aku ingin menjejalkan batu-batu besar ke mulut busuk Benny.

Dengan menyebut nama terkutuk ‘Fina’, dia merasa menang? Tidak semudah itu, Benny!

Aku sudah tidak bisa mengendalikan birahi yang menggebu untuk menghajar Benny. Aku ingin menuntaskan hasrat yang tertahan untuk mengobrak-abrik rambut keriting yang berada di atas dahi bertabur bekas jerawat itu.

Hahaha! Mampus lo monyet sialan!

Aku berteriak dalam hati. Tangan kananku mengayun hendak menggapai kepala si jelek ini. Penuh gairah dan hasrat membully yang luar biasa, tetapi kegembiraanku lenyap seketika. Benny dapat menghindar dengan mudah.

Mustahil itu terjadi. Ada yang aneh denganku. Tanganku tidak bisa menggapai kepala Benny. Benny terlalu tinggi. Sejak kapan dia lebih tinggi dariku? Gerakan tubuhku juga aneh, tidak gesit dan lincah seperti biasanya. Tubuhku terasa berat dan tidak luwes. Tubuhku tidak menuruti keinginanku.

Aku mencoba beberapa kali menggapai rambut Benny. Benny kembali dapat menghindar dengan mudah. Nafasku mulai tersengal-sengal. Tubuhku mulai merasa lelah. Aku terlalu cepat lelah. Kenapa ini?

“Fina, kamu kenapa?”

Aku melihat Benny menatapku sambil tertawa. Mungkin dia senang karena aku gagal mengobrak abrik tatanan rambut jelek miliknya.

“Fina, kamu lucu deh kalau marah. Heheheh.”

Shaaaatt! Si jelek ini semakin berani sekali menertawakan Freddy!!. Aku sudah muak mendengarnya menyebut nama Fina.

Amarahku semakin tidak terkendali. Aku membungkukan tubuh, hendak meraup tumpukan kerikil di bawah kaki dan ingin segera kuusapkan ke wajah jelek Benny. Tapi sial, nafsu birahiku yang terlalu menggebu untuk menghajar Benny membuat tubuhku terhuyung. Aku kehilangan keseimbangan.

BRUUUUGG

Aku jatuh, untung saja lutut dan telapak tanganku masih mampu menopang tubuh sehingga aku tidak terguling.

“Awwwhhh, sakiiiittt!”

Aku kaget mendengar suara perempuan mengaduh kesakitan. Aku kembali menatap sekeliling tetapi aku hanya melihat Benny yang terbelalak menatapku. Aku sangat yakin mendengar suara perempuan. Suara itu begitu dekat denganku tetapi aku tidak melihat orangnya. Aku menajamkan pandangan hanya saja tidak melihat siapapun selain Benny yang menjulurkan tangan membantuku berdiri.

“Kamu enggak apa-apa, Fin?”

“ Shiiialan, Ini gara gara elo, Nyett!”

Aku memaki Benny, tetapi aku kembali tersentak ketika mendengar suara perempuan mengalahkan suaraku. Suara itu samar tetapi aku yakin aku tidak salah dengar. Suara perempuan yang menirukan ucapanku sehingga ucapanku tidak terdengar. Sialan! Siapa sih perempuan itu? Apakah itu suara hantu? Hahaha! Tidak mungkin! Aku juga tidak takut hantu.

“Kamu enggak apa-apa, Fina?”

Aku muak dengan ucapan Benny yang formal, seolah dia berbicara dengan makhluk asing, bukan teman baiknya.

Jari kasar Benny menggenggam tangan kiriku dengan erat sambil memberi elusan lembut. Apa-apaan ini, Ben?! Aku berusaha menghempaskan tangan Benny tetapi susah. Tangan lelaki itu cukup kuat menggengam tanganku. Aku melirik tangan jorok Benny yang sering di pakai menggaruk pantat itu. Tangaku terlalu suci di pegang tangan lelaki ini.

Whats? Aku memekik dalam hati. Tanganku aneh, terlihat lebih putih dari biasanya. Aku melihat jam tangan berwarna biru muda di pegelangan tanganku. Jantungku mendadak berdegup keras. Jam itu jam tangan wanita!

Aku kaget dan langsung menghempas tangan Benny dengan kuat. Berhasil! Aku mencoba meraba saku celana mencari handphone. Tidak ada! Celanaku tidak ada saku. Aneh sekali! Aku melirik ke bawah. Oh tidaaak! Aku tidak memakai celana, aku memakai rok. Anjing! Apaa-apaan ini? Kenapa aku baru sadar?

Aku menunduk. Kupandangi jari tanganku yang bergetar hebat. Tangan mungil dengan jari lentik dan halus. Aku menyadari ada sebuah sling bag kecil warna biru dengan tali cokelat melintang di tubuhku. Aku meraba kedalam tas itu. Aku berusaha menemukan yang aku cari, sebuah handphone dengan case berwarna biru. Dapat!

Aku mencari sebuat titik sensor di handphone tersebut untuk meletakan sidik jariku.

Sreeet

Telunjukku menyentuh sensor itu. Handphone menjadi tidak terkunci. Tujuan berikutnya adalah mencari kamera depan dan mengarahkan ke wajahku. Aku menatap layar handphone tanpa berkedip. Jantungku memukul dada dengan kuat. Tarikan nafasku berat. Sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.

Aku terpaku menatap pantulan wajah di layar handphone. Itu bukan wajahku. Bukan wajah Freddy yang ganteng dan cool. Itu wajah orang lain, Wajah wanita yang aku kenal. Wanita terkutuk yang memberikan penderitaan dalam hidupku. Itu wajah Elfina si wanita gila.

Apa yang terjadi dengan tubuhku?

Kenapa tubuhku berganti menjadi tubuh Elfina? Apa yang cewe gila itu lakukin ke gue?

Dimana tubuh Freddy yang keren?


Ploook

Handphone terlepas dari gengamanku. Aku terhuyung. Aku mencoba meraih kesadaran sebisa mungkin. Sebelum aku terjatuh, sebuah lengan melingkar di leher untuk menahan tubuhku. Sepasang mata menatapku penuh cinta.
Benny bangsat, apa yang lo lakuin ama Elfina!!?

Splassshhh

Kesadaranku kembali hilang.

<<>>​
PLOK PLOK PLOK

Aku tersentak mendengar tepuk tangan yang cukup keras. Aku melihat sekitar dan sadar kalau aku kembali berada di negeri awan. Dua orang aneh itu menatapku dengan sorot mata gembira.

“Bagaimana dengan free trial-nya? Kamu tertarik untuk kembali ke bumi?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Wowo. Aku merasa pusing meloncat dari satu dunia ke dunia lain. Aku bingung, entah mana yang nyata.

“Bagaiamana? Senang kan sudah bisa kembali ke Bumi?”

Aku memikirkan kembali kejadian tadi. Kejadian yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin tubuhku berganti menjadi tubuh Elfina.

“Begitulah intinya. Kamu bisa kembali ke Bumi, tetapi jiwamu akan berada di tubuh orang lain.”

Mereka seperti bisa membaca pikiranku. “Bukankah pikiran dan ingatan itu ada di otak. Bagaimana mungkin aku ada di tubuh orang lain, tetapi memakai ingatanku?”

Pertanyaanku membuat Eyang Harja tersenyum sok bijak. Aku percaya sampai sekarang, kalau ingatan dan kenangan seseorang berada di otak orang itu. Bagaimana mungkin seorang yang berpindah raga masih mewarisi kenangan dan ingatannya terdahulu.

“Ingatan itu ada dua. Ingatan jiwa dan ingatan tubuh. Ingatan jiwa adalah ingatan yang kamu bawa sampai saat ini meskipun raga sudah berpisah dengan tubuhmu. Ingatan tubuh adalah ingatan jangka pendek yang masih melekat ketika kamu hidup. Ingatan tubuh bersifat sementara dan tidak melibatkan emosi,” Eyang Harja menjelaskan.

“Ingatan tubuh di sebut ingatan fisik atau ingatan otak. Ingatan Jiwa kadang disebut ingatan roh.” Wowo ikut menambahkan penjelasan.
Aku bingung dengan penjelasan itu. Aku sebenarnya tidak percaya, tetapi kejadian yang aku alami tadi mendorong aku untuk percaya. Aku berusaha meyakini kalau yang terjadi hanya mimpi, tetapi ini terlalu aneh dan nyata untuk sebuah mimpi.

“Kamu tidak bisa mengingat kejadian sebelum kamu berada di sini, iya kan? Itu karena ingatan itu masih dalam proses pembacaan di jiwamu.”

Iya, dia benar. Aku tidak bisa mengingat kejadian kenapa aku bisa berada di tempat ini. Ada beberapa bagian yang hilang dari ingatanku.

“Sebenarnya, ingatan itu masih dalam proses perubahan format di dalam ingatan jiwa kamu. Biasanya perlu waktu 15-30 hari waktu Bumi untuk menyelesaikan proses. Kemudian kamu akan ingat semuanya.”

“Meskipun jiwa saya sudah tidak berada di tubuh saya?”

“Iya, karena sebenarnya ingatan itu sudah dikirim dan masuk ke dalam jiwa kamu. Hanya saja masih masuk ke dalam proses verifikasi lagi dan pemecahan kode enkripsi selama beberapa hari. Cara jiwa membaca ingatan dan cara tubuh membaca ingatan berbeda. Ingatan dalam jiwa memiliki format yang berbeda dibandingkan ingatan dalam tubuh.”

Hmmm, Aku tidak tahu apakah omongan mereka ngaco atau tidak. Aku mencoba percaya dan memahami. Mungkin kalau diumpamakan format file, Ingatan Tubuh memakai format word,exel atau yang lain. Tapi untuk Ingatan Jiwa memakai format pdf. Apa mungkin seperti itu? Entahlah!

“Trus, bagaimana cara saya kembali ke tubuh saya. Tubuh Si Freddy ?” Pertanyaanku membuat mereka terdiam dan saling pandang untuk beberapa saat.

“Kalau kamu diputuskan untuk hidup, kamu bisa kembali ke tubuh kamu,” ujar Wowo. Dia seperti berucap takut-takut.

“Sebenarnya, tubuhmu bisa saja sudah rusak. Maksud saya cacat. Bisa tanpa tangan, tanpa kaki, atau mungkin tanpa penis.” Ucapan Eyang Harja terdengar menakutkan. “Seandainya kamu ingin kembali ke Bumi, kamu bisa menyelidiki dengan tubuh yang kamu pinjam tadi. Tubuh wanita itu.”

“Apa saya bisa memakai tubuh orang lain. Bukan perempuan gila dan lemah tadi?” Aku tidak rela jiwaku berada di tubuh wanita gila itu. Dia sangat lemah secara fisik. Aku juga membencinya.

“TIDAK!!” Mereka menjawab serentak. Kompak amat! Aku sampai kaget.

“Kenapa tidak bisa?”

“Jiwamu yang memilih tubuh itu. Ketika kami memutuskan mengirim roh kamu ke tubuh wanita di bumi, jiwamu memilih dia dengan cepat.”
“Ji-wa-mu memimiliki hubungan yang kuat dengan perempuan itu. Kalian memiliki keterikatan emosi. ”

Hubungan kuat?! Dengan wanita gila itu?! Aku tidak percaya.

<<>>
Aku mondar mandir di ruangan putih karena bingung apakah aku memilih kembali ke bumi atau tidak. Tentu saja aku malas karena aku tidak memakai tubuh asli. Apalagi setelah mereka menyodorkan syarat dan ketentuan yang memiliki ratusan pasal yang harus dituruti kalau aku ingin kembali ke Bumi.

“Apakah saya boleh menanyakan keberadaan tubuh asli saya pada orang lain?”

“Boleh.”

“Apakah saya boleh mengaku kalau yang di tubuh Elfina adalah Freddy?”

“Boleh.”

Aku mengajukan beberapa pertanyaan lagi dan semua pertanyaan di jawab dengan kata “boleh” oleh mereka.

“Terus, yang tidak boleh apa?”

“Kamu bisa baca syarat dan ketentuan yang kami berikan. Di sana juga ada buku panduan.”

Jawaban itu tidak aku suka. Aku malas membaca.

Dari semua syarat dan ketentuan yang aku baca. Intinya seperti ini.

Aku akan memiliki waktu 21 hari. Setiap hari aku hanya memiliki waktu 2 jam di tubuh Elfina, bukan satu hari penuh.

HAH! Yang benar saja! Dengan waktu sependek itu apa yang bisa kulakukan? Apa aku bisa nemuin tubuh asliku?


Hal itu membuat aku ragu untuk kembali ke Bumi. Hanya saja, ada hal aneh yang bereaksi di roh ku ini.

Wait! Elfina kan wanita? Jadi temen dia wanita, dan aku bisa bergaul dengan temen-temen dia. Dia juga temenan ama si bening yang pengen gue cicipi. Hahahaha!

YES! Banyak sekali keuntungan yang akan kudapat kalau aku bisa berada di tubuh Elfina. Daripada memikirkan kerugian, lebih baik memikirkan keuntungan. Kenapa baru terpikir sekarang? Sepertinya tubuh yang pisah dengan jiwaku membuat aku berpikir telat dan lelet.

Benda itu juga ada padanya. Dia pasti masih menyimpan benda yang mebuatku takut itu.
Aku kemudian teringat bagaimana awal mula aku benci kepada cewe gila itu. Aku masih ingat wajah dia yang sok suci ketika berpidato kepadaku saat aku telanjang tanpa baju dan celana, di malam yang dingin, di bawah pandangan mata puluhan orang yang menatap jijik kepadaku. Aku tidak akan melupakan peristiwa itu.

“SAYA SETUJU KEMBALI KE BUMI!! “

“saya mau tubuh Elfina, jangan ganti dengan tubuh yang lain!! hahahaha!!!”

<<>>
Aku ingin begini.. Aku ingin begitu...

Ingin ini ingin itu, baanyak seekaaliii...

Semua semua seeemuaa, dapat dikabulkan, dapat dikabulkan dengan tubuh Elfina...



Bersambung
 
Last edited:

ivy_ivares

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 28, 2019
Messages
15
Reaction score
83
Points
13
selamat atas rilis nya suhu @ivy_ivares
Makasi Om
Komen ndisik moco mburi...
Selamat atas rilis ceritanya @ivy_ivares dalam Gelaran GHSC 2020



:beer:
Mburi endi....

Mburine om @ivy_ivares tah...😁😁


Suwun ya om @ivy_ivares rilis ceritanya mantap mantap

:beer:
Saya perlu nungging gak?;
ikut komeng ah
Iki diteroske howra yoo?
Terus kalau ingin ikut lomba... hahaha
 

ivy_ivares

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 28, 2019
Messages
15
Reaction score
83
Points
13
II. A Few Seconds Therapy

**​

Ruangan putih penuh gumpalan awan yang merupakan tempat tinggalku sekarang sangat unik. Di sini selalu terang dan tidak ada jam sebagai penanda waktu. Aku tidak pernah merasa lapar, tidak pernah makan dan tidak pernah buang air. Bahkan di sini tidak ada cermin sehingga aku tidak bisa melihat wajahku. Hanya saja pikiranku terus bekerja. Kalau aku ingin istirahat, aku cukup merebahkan diri di atas gumpalan awan putih di ruangan khusus. Aku akan tertidur tanpa mimpi dan aku bisa bangun kapan pun aku mau.

Eyang Harja memberiku sebuah benda berbentuk mirip payudara wanita lengkap dengan puting. Di bagian puting terdapat lubang yang akan mengeluarkan sebuah benda sebesar kelereng dan berwarna merah bening yang bernama Butiran Waktu. Benda itu akan keluar selama 21 hari berturut-turut, satu biji setiap 24 jam waktu bumi. Aku harus memakan Butiran Waktu agar bisa kembali ke bumi. Butiran waktu akan memberiku waktu dua jam di dalam tubuh Elfina.

**​

”Elfina , i am coming!” Aku berteriak sambil menelan Butiran Waktu pertama.

SPLASH

Aku terbangun di dalam kamar beraroma wangi menyegarkan. Tubuhku telentang di atas springped dan ditutup selimut lembut warna cream. Aku menatap sekeliling dan melihat beberapa poster lelaki cantik asal negeri ginseng menghias tembok. Jam digital berbentuk kotak di atas meja belajar di pojok ruangan menunjukan pukul 04:13 AM . Dari ciri-ciri itu, aku dapat menebak kalau ini kamar Elfina.

“Aaaaahhhhhhhhh!”

Aku menggeliat penuh gairah dan semangat membara. Kuluruskan kedua lenganku di samping badan dengan tangan mengepal penuh energi. Itu adalah kebiasanku ketika terbangun dari tidur. Aku ingin menyerap semua energi yang ada di bumi. Itu adalah gerakan awal sebelum aku memulai sebuah ritual yang kusebut “ A few seconds therapy”. Ritual penuh kenikmatan yang akan membuatku bersemangat menjalani hari.

Ritual ini sangat simple. Tidak butuh fisik prima atau IQ tinggi untuk melakukan, bahkan tubuhku otomatis melakukan ini setiap bangun tidur saat pagi hari. Caranya gampang, lakukan senam jari terlebih dahulu agar jari tidak kaku, kemudian pejamkan mata dan rasakan setiap tarikan dan hembusan nafas. Biarkan kepala lunglai ke kanan atau ke kiri.

Dengan posisi tubuh terbaring telentang, aku meluruskan kedua kaki sambil mengangkang melebarkan paha. Momen menuju puncak yang paling kutunggu adalah saat sepuluh jari tangan merayap di atas perut, menyingkap pinggiran celana di bawah pusar, dan kemudian tangan menyusup masuk ke dalam celana. Target sangat jelas, benda sakral di antara selangkangan atau disebut juga kemaluan yang imut-imut. Sebelum mencengkram kemaluan, aku menggerakan mulut seperti orang mengunyah makanan sambil memasang raut wajah paling tenteram di dunia.

Yaaaaassshhh!

Aku tersentak, membuka mata sambil melenguh kecewa. Benda sakral yang kucari tidak ada. Daging unik mirip sosis dengan ujung membulat itu menghilang. Aku meraba lebih ke bawah, dua telur lembut dengan bungkus kulit hangat juga tidak ada. Area selangkanganku terasa berbeda. Saat aku menjelajah ke area lebih luas dengan kedua tangan. Aku menemukan gundukan daging dengan lembah penuh hutan rimbun. Aku kemudian sadar kalau aku berada di tubuh Elfina. Itu berarti kelaminku sudah berganti. Penis menjadi vagina. Hal yang pasti terjadi pagi ini adalah ritual kebanggaanku gagal.

Huuuuuaaaahhhmmmmm

Aku menguap panjang dengan mata berkedip beberapa kali. Aku masih belum bisa move on dari kegagalan ritual yang kujalani. Ada alasan kuat kenapa aku menyukai ritualku itu.

A few second therapi sangat penting buatku karena itu adalah caraku bersyukur sebagai seorang lelaki. Kenikmatan ritual masih membekas di otakku. Biasanya ketika tangan menemukan batang kenyal lembek mirip sosis itu, tubuhku akan bergetar karena ada aura kebahagian yang otomatis menjalar dalam tubuhku. Ada dua kemungkinan ketika aku memasukan tangan ke celana, daging itu masih kecil dan lembek, atau sudah membesar karena tegang. Apapaun kondisinya aku akan membelai dengan penuh cinta karena itu adalah hartaku yang paling berharga. Kalau masih kecil, tonjolan daging itu biasanya kujepit di atara jari telujuk dan jari tengah. Aku pijat dengan lembut, kugerakan ke atas dan ke bawah, atau ke kiri dan kanan, yang penting terasa nyaman. Biasanya, ketika batang itu sudah membesar, aku langsung mengalihkan tanganku kepada dua benjolan sebesar telur puyuh yang ada di bawah batang itu. Aku suka menekan pelan kedua benjolan itu dengan jari. Membuat keduanya bergerak saling mengejar, hanya saja aku perlu hati-hati, karena kalau ditekan terlalu keras akan menyebabkan efek enek sampai ke hulu hati.

Haaaahhhh

Aku menghembuskan nafas karena galau. Dengan malas aku menyibakan selimut yang menutupi tubuh, kemudian meloncat dari tempat tidur, berjalan ke arah cermin besar yang menempel di pintu lemari kayu. Aku berdiri sambil berkacak pinggang memandang cermin. Menatap bayangan tubuh penggantiku, seorang gadis yang mengenakan tanktop putih dan celana pendek biru muda.

Tubuhku yang lama dan baru benar-benar kontras. Sangat aneh melihat diriku berubah wujud. Aku mencubit pipiku yang agak cembung sambil tersenyum, pipiku yang dulu berbeda, rahangku lebih kokoh dan pipiku tidak terlalu berisi. Sekarang aku menjadi lebih pendek, mungkin tinggi tubuh baruku ini hanya 165 cm, berbeda jauh dengan tinggi Si Freddy asli yang mencapai 185 cm. Rambutku saat ini hitam panjang melewati bahu. Aku teringat tubuh lamaku yang hampir selalu plontos karena maksimal setiap dua minggu aku potong rambut.

Aku menatap mataku yang cukup bulat dengan kelopak mata agak lebar. Berbeda dengan wajah lamaku yang memiliki mata sipit keturunan china. Aku tersenyum lebar dan melihat deretan gigiku putih dan rapi. Aku tidak suka senyum ini, kemudian aku mencoba tersenyum angkuh dengan menaikan salah satu sudut bibir. Aha! Ini yang keren dan aku suka. Senyum Elfina yang sombong.

Kutarik ke atas celana pendek longgar warna biru muda yang kukenakan. Aku pamer keseksian paha kepada diriku sendiri. Wow keren! Pahaku yang baru ternyata putih dengan kulit mulus kencang. Ada rambut tipis menghiasi paha. Aku melirik ke arah kaki, ada juga rambut yang tumbuh terpola di area betis. Aku langsung bergidik penuh gairah membayangkan rambut yang ada di selangkanganku. Hahaha, lumayan juga tubuh si gila ini!

Pandanganku teralihkan ke tanktop putih yang aku kenakan. Sekarang aku mempunyai dua tonjolan daging di dada. Aku penasaran dengan anggota tubuh yang agak berbeda ini. Aku menarik tank top ke bawah dan melepaskan dari tubuhku. Ternyata Elfina sebelum tidur memang tidak memakai bra. Payudara Elfina yang masuk dalam katagori toge langsung nongol begitu saja tanpa malu. Kedua benda itu begitu riang menyambutku, terlihat dari dua puting yang berwarna merah cerah yang mengacung menantang. Benda ini cukup besar dan mengembung, tetapi tidak membebani tubuhku. Aku pikir wanita akan merasa agak condong ke depan karena payudara, tetapi ternyata tidak. Rasanya biasa aja, mungkin karena menempel dengan pas. Aku meraba payudaraku. Lembut dan kenyal. Sangat berbeda dengan punyaku dulu yang memiliki otot keras.

Aku berdiri tegak di depan cermin menatap bayangan tubuhku. Tubuh setengah telanjang ini sangat mengugah selera. Kulit putih mulus minim cacat dan tanpa goresan. Pinggang ramping berisi sedikit lemak. Perut juga begitu, agak membuncit tetapi tidak ada gumpalan lemak. Aku suka semuanya. Aku terserang birahi melihat casing baruku yang diluar dugaan. Aku jadi terangsang. Mungkin jiwa mesum yang aku miliki tetap melekat. Seandainya aku punya penis, aku bisa saja ngaceng melihat tubuhku sendiri. Rasa jengkel terhadap Elfina sedikit terkikis dari hatiku.

Aku kembali fokus menatap payudara Elfina. Benda ini memang paling unik dan berbeda. Aku mengagumi bentuk yang indah. Hal itu membuatku ingin bereksperimen. Aku teringat sebuah pengalaman tentang payudara. Aku pernah punya pacar yang sangat senang payudaranya dimainkan. Diremas, ditekan, dipencet, dijilat, diemut, dan disedot. Aku ingat bagaimana dia menggelinjang dan merintih kegelian. Kenangan itu mendorongku untuk mengeksplor hal menarik yang tersembunyi payudara Elfina yang sekarang berada di bawah kekuasaanku.

Aku menatap bayanganku di cermin agar kegiatan yang kulakukan terlihat jelas. Kuletakan kedua telapak tangan di payudara. Aku meremas dengan lembut, lalu aku melakukan gerakan telapak tangan memutar, menekan dan, meremas lebih keras. Rasanya geli. Ternyata sensor di benda ini lebih peka daripada yang ada di lelaki. Aku meletakan jari di atas puting, menggosok dengan halus dan lembut. Ajaib! Tubuhku menggelinjang merasakan sensasi nikmat.

Aku semakin bersemangat, kemudian mendorong payudara kiri ke atas. Tujuanya agar puting payudara itu dekat ke bibirku. Aku menunduk sampai dagu menempel di atas dada, kemudian menjulurkan lidah. Menyapu puting payudara, menjilat dan membasahi dengan ludah. Lagi-lagi tubuhku terasa bergetar. Aku tidak tahan.

Cuup cuuup cuuup

Dengan gemas aku memberi kecupan di payudara. Kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan mirip orang India ketika mengatakan,” Nehi nehi”. Sensasi hangat di puting bikin merinding, susah dijelaskan kata-kata. Yang pasti enak.

Aku berhenti mengeksplor payudara dan mengalihkan fokus kebagian tubuh yang lain. Jantungku mendadak berdegup keras menatap pinggiran celana yang kukenakan. Kumainkan pinggiran celana yang elastis beberapa detik, kemudian kumasukan jari tangan di bagian depan celana, tepat di bawah pusar. Aku melihat bayangan wajahku yang tegang di cermin. Mataku berkedip cepat beberapa kali dan wajahku menunjukan ekspresi aneh.

Aku atau Elfina masih memakai celana dalam. Aku dapat merasakan celana tambahan yang kusentuh. Kumasukan tanganku ke dalam celana dalam dan aku meraba area selangkangan.

Aku melihat bayangan di cermin, tanganku bergerak-gerak di dalam celana bagian depan. Aku ingin mengeksplore area selangkangan. Aku meraba permukaan yang tembem, mencoba mencari lubang kemaluan, kucoba masukan jari. Ternyata masih sempit. Aku memainkan tonjolan yang ada di lubang bagian atas. Kuusap dengan ujung jari. Aku mendadak ingin kencing.

Aku sudah pernah menyentuh area itu tadi saat ritual, tetapi aku mengabaikanya karena ingin fokus dengan ritual. Sekarang aku memastikan sekali lagi dengan meraba area yang lebih luas dan ternyata memang rambut kemaluan itu sangat lebat. Aku jadi penasaran ingin melihat.

Dengan penuh semangat aku memelorotkan celana pendek sampai ke lutut. Benar saja, aku melihat bulu kemaluan Elfina yang sangat rimbun. Liar tetapi indah. Aku bergidik, mendadak bergairah.

Kulepaskan celana sehingga aku telanjang bulat. Kuputar tubuh sehingga membelakangi cermin. Aku menoleh, kali ini aku melihat sebuah bokong yang membulat indah. Aku jadi gemas dan mengertakan rahang. Kuremas bokong itu beberapa kali. Aku mengangkang dan menungging, kemudian menampar dengan lembut. Bokong itu bergetar. Aku tidak tahan. Aku ngin bersetubuh dengan Elfina.

Aku kemudian menyadari kekeliruanku sebagai lelaki mesum. Bagaimana mungkin Elfina tidak masuk ke daftar makhluk seksi di kampus? Dengan tubuh indah ini seharusnya dia bisa membuat aku terpesona, bukan benci kepadanya. Aku terpengaruh kesan pertama yang membuatku mengagap perempuan ini perempuan gila dan hanya berniat belajar. Tipikal perempuan serius, tidak menarik. Aku heran kenapa tubuh indah ini dia sembunyikan di balik aneh yang biasa dikenakan. Coba aja dia sedikit berdandan dan nakal, pasti banyak lelaki yang tertarik.

Rasa tidak senang kepada Elfina tetap membekas di kepalaku meskipun sedikit mulai terkikis. Aku menyusun rencana untuk menjahili wanita ini. Sempat terpikir kalau aku ingin menjadikan si gila ini wanita binal dan haus sex, tetapi itu terlalu sadis dan keterlaluan. Aku tidak sejahat itu, aku hanya ingin balas dendam dengan cara yang asik.



<<>>​

Gue semir rambut kemaluannya!

Tujuh warna aja cukup, mungkin mirip warna pelangai!

Gue foto trus pake profil picture di sosmed! Orang-orang pasti penasaran dan bertanya-tanya,”apa itu? Lucu bangat?”


Aku belum bisa move on dari rambut kemaluan Elfina yang rimbun. Aku memantapkan tekad untuk menyemir rambut kemaluan Elfina ketika kembali ke Bumi. Banyak pilihan warna yang bagus, mungkin warna mirip pelangi, warna emas, atau warna putih. Dalam imajinsasiku terbayang ketika Elfina jongkok hendak kencing kemudian membuka celana, betapa terkejutnya ketika dia melihat warna rambut kemaluanya berubah. Bisa saja dia teriak atau malah pingsan karena kaget. Ketika ada orang bertanya, “kenapa kamu teriak?”. Aku sudah membayangkan raut wajah pucat si gila itu menjawab dengan gugup,” rambut kemaluan saya berubah warna!”

Hahahaha! Aku tertawa membayangkan hal itu.

<<>>​

Jam sangat penting. Tanpa jam sebagai penanda waktu memang sangat menyusahkan. Aku tidak bisa tahu waktu di Bumi sehingga ketika aku mampir di tubuh Elfina tetap menjadi misteri. Aku tidak bisa seenaknya datang, sehingga asal tebak saja.

Hari kedua aku terbangun di tubuh Elfina jam 6 sore. Aku memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk membeli semir rambut tujuh warna. Besok aku berniat menjalankan rencanaku memberi warna di rambut kemaluan Elfina. Waktu yang terbatas membuatku harus mengatur waktu sebaik mungkin.

Untuk melancarkan rencanaku dan Elfina tidak curiga, aku mempunyai ide. Kumasukan semir itu kedalam kotak. Kubungkus dengan rapi dan kumasukan ke dalam tasku. Aku kemudian mengetik dan menge-print tulisan,

Fina, Gue titip kotak ini ya. Tolong bawa besok, gue mau kasi kejutan pacar gue. Jangan bahas kotak ini sebelum gue yang duluan nanya. Jangan SMS dan jangan telpon masalah ini. Gue kaga pengen dia curiga.

Thanks

Mel


Ake meminjam nama Melinda dan sangat berharap rencanaku sukses.

<<>>

SPLASH

Hari ketiga ketika aku membuka mata, aku berada di ruang kampus di lantai empat. Aku sendirian, tidak ada orang lain di sini. Ini terasa aneh. Apa yang Elfina lakukan sendiri di ruangan ini? Apa dia tidak merasa kesepian? Apa dia sering melakukan ini? Aku tidak tahu karena seperti biasa ketika dosen sudah keluar, aku juga ikut berhambur meninggalkan ruangan dengan penuh semangat. Ini pertama kalinya aku melihat sebuah ruangan belajar yang kosong. Rasanya sangat sepi.

Aku membuka tas Elfina dengan dada berdebar. Yes! Kotak semir itu masih utuh, aku lega. Aku membuka isinya dan aku tahu kalau aku punya waktu dua jam untuk beraksi. Aku akan mengeksekusi rencana pembuatan karya seni di dalam kamar mandi di lantai empat kampus.

Aku melangkah riang meskipun tubuhku terasa susah digerakkan. Tubuh Elfina jauh lebih lemah dari tubuh Freddy. Aku kemudian masuk ke toilet wanita. Terasa sedikit janggal, tetapi aku suka. Toilet wanita jauh lebih wangi dan bersih dari toilet pria. Aku menatap wajah Elfina di cermin di dekat wastafel. Hemmmm, wajahnya pucat. Aku sebenarnya Rindu wajahku yang aseli. Freddy yang berkepala plontos.

Aku memasuki toilet berukuran 2x2 meter dengan warna keramik biru transparant. Pewarna rambut sudah aku siap sesuai intruksi di buku petunjuk. Aku bersiap untuk tahap berikutnya yaitu telanjang di toilet dan mewarnai. Aku sudah tidak sabar untuk mempersembahakan sebuah karya seni indah kepada Elfina.

Aku memastikan pintu toilet benar-benar tertutup rapat. Aku membuka celana panjang hitam yang kukenakan. Ternyata aku tidak bisa langsung melihat pahanya karena itu bukan satu satunya celana yang Elfina pakai. Ada celana pendek ketat lagi yang dia kenakan. Ribet juga wanita ini. Aku menjadi curiga. Jangan-jangan dia tahu rencanaku menyemir rambut kemaluannya sehingga dia mengenakan celana lain untuk menghalangi? Ah! Tidak mungkin. Aku mencoba membantah pikiran negatifku.

Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Dengan posisi setengah membungkuk dan sedikit menungging, kuturunkan celana pendek itu sekalian dengan celana dalam.

Pluk

Sebuah benda jatuh tepat di belakang kakiku. Aku menoleh kebelakang dan menunduk, menyipitkan mata, melirik sekilas benda berwarna merah itu.

Uang seratus ribuan?! Banyak amat. Uang itu sepertinya digulung jadi satu dan disembunyikan di celana. Gila! Dia memang wanita gila!

Jiwaku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Pikiran negatif melayang-layang menghnantui jiwa. Waduh! Darimana Elfina dapat uang sebanyak itu? Jangan-jangan dia mencuri? Kenapa harus disembunyikan dalam CD?

Aku teringat ketika Elfina sendiri di ruang kampus. Jangan-jangan dia mencuri dari seseorang ketika ruangan kampus sepi. Apakah Elfina sejahat itu? Aku ragu dan niat untuk menyemir rambut kemaluan hampir terlupakan.

Aku menghela nafas panjang. Amanin duit ini sebelum kena air, masalah siapa yang punya bukan urusanku! Tubuh ini terasa semakin lemas ketika membungkuk dengan tangan terjulur ke bawah untuk mengambil benda itu. Dengan cepat jariku mencengkram.

Astaga! Ini bukan duit!

Aku mengejapkan mata beberapa kali. Memfokuskan pandangan pada benda yang aku cengkram dengan erat di tangan kananku. Teksturnya lembut, agak kenyal dan juga berair. Aku lebih mendekatkan ke wajahku dan ternyata berbau tidak enak.

Astaga! Benda apa ini? Pertanyaanku terganggu oleh cairan yang berwarna merah yang merembes di pahaku. Darah!

Shaaat! Siaaal! Ini... Ini pembalut!
Aku langsung melempar benda menjijikan itu kepojok ruangan

Aku menjerit pendek dengan mata melotot menatap tangaku yang basah karena bekas pembalut. Tubuhku otomatis bergerak mundur karena rasa kaget yang luar biasa. Nafasku tersengal. Niat untuk menyemir rambut kemaluan Elfina mendadak hilang entah kemana.

Huuueeegggkkkk

Aku merasa ada sesuatu yang menekan ulu hatiku dan membuat aku ingin muntah. Aku terpojok di sudut toilet dengan keringat membasahi dahi.

Apa aku harus batalin kejutan untuk Elfina? TIDAK!



<<>>​

Hari keempat aku tersadar di ruang kelas yang sama dengan kemarin. Semua teman sepertinya sudah di ruangan dan tidak ada dosen. Kejadian di kamar mandi kemarin masih meninggalkan trauma di hatiku. Hal itu membuatku mendadak mual.

Aku melirik sekeliling, setelah kurasa aman, aku meraba paha kemudian mengarah ke kemaluanku. Ada gumpalan benda tebal di sana dan itu berarti aku masih memakai pembalut. Aku tidak punya informasi berapa lama biasanya wanita Menstruasi. Aku mencari di google dan malah mendapat informasi yang membingungkan.

“Mel, kalo kamu Mens biasanya berapa lama?” Aku berbisik pada Melinda yang duduk di sebelahku. Perempuan cantik berkulit putih dan berhidung mancung itu tidak menoleh, dia sibuk memainkan kuku yang baru diberi pewarna.

“Paling lama empat hari, tapi kadang dua hari udah ilang. Cowokku benci kalo aku Mens kelamaan. Hihihi.”

“Cowokmu takut enggak di jatah, ya?”

Ucapanku membuat Melinda menatap tajam. Dia tidak melepaskan pandangan cukup lama dari wajahku. “Kamu udah mulai berani bicara nakal ya, Fin?”

Ternyata aku keceplosan berucap. Aku memilih diam karena takut salah.

“Makanya, kamu cari pacar. Jadi tau gimana reaksi pacarmu ketika kamu bilang lagi Mens. Hihihi. Lucu deh.” Melinda semakin bersemangat berbicara. Wanita ini cantik dan aktif. Gaya berpakaiannya juga keren. Aku mendadak ingin mandi bareng dengan Melinda. Dengan tubuh Elfina, siapa tau aku bisa merayu.

“Mel, kita mandi bareng yuk!” Aku keceplosan lagi.

“Kapan? Ada kolam renang yang baru dan bagus?”

“Maksudku mandi di kamar mandi, Hehehe.”

“ Hah! Kamu kangen kayak dulu saat kita mandi bertiga? Hihihi,” Dia berbisik riang,” tapi jangan ngambek dan nangis lagi di kamar mandi kaya dulu. Sinta jadi kapok ngerjain kamu.”

Wah! Ternyata ada rahasia aneh di antara para wanita.

Sudah cukup info yang aku peroleh mengenai berapa lama wanita itu menstruasi. Aku menyerahkan semuanya kepada Elfina. Aku hanya perlu mengecek dengan meraba selangkangan. Kalau ada pembalut berati masih mens. Simple sekali!

<<>>​

Hari kelima sampai ke sepuluh, aku mendapatkan beberapa kejadian unik. Aku pernah mandi bareng teman-teman wanita. Tidur bareng dengan mereka. Melinda juga agak gila, dia senang tidur hanya memakai bra dan celana dalam. Aku sudah sempat mengabadikan photonya dan menyimpan di dalam sebuah google drive rahasia miliku. Hehehehe.

Aku tidak tahu password hp, pin kartu kredit, dan hal yang berhubungan dengan memori kepala Elfina. Sensor sidik jari yang digunakan di handphone sangat membantu. Aku bisa melakukan beberapa modifikasi di hp perempuan ini tanpa dia ketahui. Aku bisa mengecek chat whatsapp dan beberapa media sosial lainnya.

Ada satu hal yang sangat membuat aku penasaran yaitu panggilan telpon. Ada nama orang yang cukup aku kenal sering menghubungi Elfina.

Benny!

Ada hubungan apa diantara mereka. Aku mencoba mencari di sisa chat tetapi tidak menemukan petunjuk. Mereka jarang chating penting dan mungkin hanya ngobrol via suara saja.

Benny adalah salah satu partnerku yang membenci Elfina, tetapi kenapa akhir-akhir ini mereka sepertinya sering berhubungan?

<<>>​

Aku menatap butiran kesebelas yang dikeluarkan benda berbentuk payudara itu. Pikiranku masih terganggu dengan hubungan Benny dan Elfina. Kulempar benda berwarna merah itu ke atas dan kemudian kutangkap dengan mulutku yang menganga.

Hoop

Aku menelan benda itu.

SPLASH

Aku membuka mata dan shock. Aku seperti tersetrum listrik tegangan tinggi di puting susu. Rasanya asing dan menjengkelkan, tapi ada sensasi haru. Aku tidak percaya kalau aku bisa berada di kamar ini. Kamar yang dulu hampir setiap hari kusinggahi, yaitu kamar kost Benny. Aku rindu tetapi juga mendadak benci dengan kondisi ini.

Kenapa Elfina bisa ada di sini? Apa Benny mengajaknya kemari?

Benny tidak ada di kamar. Aku mendengar suara air mengucur di kamar mandi di dalam ruangan itu. Aku menebak Benny berada di kamar mandi.

Sebenarnya aku malas melirik sekeliling, tidak banyak yang berubah dengan kamar itu. Masih terkesan kumuh. Warna cat asli kamar dinding kamar itu adalah biru langit, tetapi sekarang sudah di dominasi warna bercak cokelat dan hitam karena mengelupas dan jamuran akibat lembab. Aku menatap ke pojok atas ruangan, biasanya banyak laba-laba bersarang di sana, tetapi sekarang tidak ada. Benny sepertinya sudah membersihkan sarang laba-laba itu. “Aku menghormati makhluk hidup lain seperti menghormatimu, Freddy.” Dia sangat sering mengucapkan kata itu ketika kusarankan untuk membersihkan sarang laba-laba.

Aku menatap ke langit-langit kamar dekat bohlam lampu terpasang. Di plavon masih tercetak bekas air yang rembes karena atap kos itu sempat bocor. “Itu karena gue coli, terus sperma muncrat ampe ke plavon, jadi gue enggak enak komplin ama bapak kos buat benerin itu.” Aku masih ingat alasan Benny ketika aku bertanya masalah itu. Dia selalu punya alasan untuk menutupi rasa malas.

Saat aku manatap isi kos, barang –barang terlihat lebih tertata. Kabel yang biasa berantakan di atas lantai keramik sekarang sudah lebih rapi. Celana dalam dan baju yang biasanya bertebaran menghias kasur sudah tidak ada, mungkin semua sudah mengungsi ke dalam lemari. Sprei baru warna merah terang menutup kasur setinggi 30 cm dari lantai. Sebuah komputer yang sering kami pake maen game dan menonton bokep masih ada di pojok ruangan, di dekat lemari reot yang sudah membungkuk terserang jamur.

Suara air di kamar mandi tidak terdengar lagi. Pintu kamar mandi terbuka dan Benny keluar. Rambutnya masih keriting dan semakin panjang. Sebuah senyum lebar di arahkan ke padaku. Senyum yang tidak pernah di berikan kepada lelaki bernama Freddy. Tumben sekali dia tersenyum seperti ini. Senyum genit memuakan yang ditujukan kepada wanita yang tidak aku suka.

Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak tahu apa tujuan Elfina ke sini. Apa karena undangan Benny atau karena niat dia sendiri. Hmm.. Entahlah!

Aku menatap sejenak ke arah Benny yang mengenakan pakaian olahraga. Jersey tim sepak bola kesayangannya dipadukan dengan celana longgar pendek selutut. Itu adalah celana milikku yang sering aku pakai ketika bermain futsal.

“Kamu kelihatan bingung. Kelamaan nunggu aku mandi , ya?”

“Tidak kok!” Sepertinya aku terbuai suasana sehingga berbicara lembut ala wanita.

“Tadi kamu bilang mau cerita, cerita apa?”

Cerita apa? Aku mengulang kata-kata itu untuk diriku sendiri. Sudah pasti aku bingung mempersiapkan jawaban. Apa aku harus mengikuti alur atau membuat alur sendiri?

“Aku kangen,” kujawab saja sekenanya.

“Kangen? Kangen sama aku?”

“Iya,” aku membenarkan. Aku kangen Benny. Aku juga kangen ruangan ini. Hanya saja sekarang aku kesini dengan wujud Elfina. Itu membuat aku marah.

“Hahaha, kamu ternyata bisa bercanda juga ya.”

Benny tertawa, wajahnya menunjukan rasa senang. Hal itu terbalik denganku, aku merasa tidak senang tetapi aku menunjukan ekspresi senang di wajah Elfina. Lumayanlah, wanita memang enak kalau diajak ackting drama penuh kepalsuan seperti ini.

“Kamu punya kipas angin, gak?” Aku teringat kipas angin tua penuh debu milik Benny yang biasa berada di sudut ruangan. Kipas angin yang sering berisik ketika dinyalakan itu sudah tidak ada, mungkin dia sudah pensiun atau memang sengaja disembunyikan oleh Benny.

“Enggak ada, Fin,” ujar si keriting jelek. Aku tahu dia berbohong, tetapi karena aku bertamu sebagai Elfina, aku tidak akan mengobrak-abrik kost tersebut hanya karena masalah kipas angin.

“Di sini panas, enggak apa-apa kan kalau aku buka jaket? ”

“Ga apa-apa, Fina.”

Aku merasa aneh, dengan tubuh ini, mendadak aku menjadi lebih sopan. Biasanya aku tidak pernah minta ijin untuk membuka baju ketika berada di kamar super gerah ini. Apa mungkin sifat sopan Elfina mempengaruhi pikiranku juga?

Benny menatap tubuhku ketika aku menggeliat berusaha melepaskan jaket warna hitam yang senada dengan celana panjang hitam yang aku kenakan saat ini. Jaket terlepas, aku kaget melihat bajuku yang ternyata cukup seksi. Benny juga terbelalak serta langsung membuang muka ketika melihat pakaian yang aku kenakan. Aku memakai kaos ketat yang membuat payudaraku terlihat begitu menonjol, bahkan bra yang kupakai juga tercetak di baju yang elastis ini. Kebetulan kaos motif garis biru dan orange ini memiliki dua buah kancing, satu di dekat kerah baju dan satu lagi tepat di belahan payudara. Aku tidak menyangka kalau aku mengenakan pakain yang membuat payudaraku terlihat begitu seksi. Jiwa mesumku memberontak ingin terpuaskan. Aku jadi penasaran apakah payudara ini membuat Benny tergoda.

Aku tahu Benny sesekali melirik tetapi dia malu. Hahaha, dia memang selalu seperti ini kalau berhadapan dengan wanita. Sange dan malu-maluin. Aku tahu dia sudah mulai gelisah, terbukti dengan kedua kaki yang diangkat dan menyilang untuk menyembunyikan area selangkangan. Pasti penisnya sudah berkedut.

Aku membuka dua kancing kemeja bagian atas sehingga belahan payudaraku terlihat. Aku mengabil lembaran kulit buku yang tebal. Kukipaskan ke arah kemejaku. Tentu saja kulit leherku terekspos dan menantang. Si mesum Benny semakin gelisah. Kutatap mata Benny. Aku liat jakunnya bergerak. Bibir pucat yang dahaga sapuan lidah wanita sudah dijilat beberapa kali.

Aku bersandar di tembok di dekat pintu yang sudah tertutup. Aku sengaja menutupnya karena merasa tidak senang kepada tetangga yang sempat melirik beberapa kali ke sini. Mungkin dia heran karena Benny membawa wanita ke kost-nya. Sebagai Freddy, aku sering berbicara dengan lelaki bernama Anton itu. Aku menjulukinya Triventill karena dia memiliki tahilalat di samping puting dada kanannya, ukuranya sama dengan putingnya. Ada juga bulu hitam panjang keriting sebanyak tiga biji di bawah tahilalatnya.

Aku akan membuat alurku sendiri!!

Aku tidak peduli lagi apa tujuan Elfina ke sini. Aku merasa marah dan jengkel kepada mereka berdua. Kepada hubungan mereka yang penuh misteri.

“Benny, rambutmu lucu. Boleh aku pegang?”

Benny mendekat, kemudian duduk di hadapanku dan menyodorkan kepala. Kurang ajar! Dulu aku sering memprotes rambut keriting jelek Benny. Aku ingat reaksi Benny saat itu, dia pasti menjauh karena takut aku akan mengacak-caka rambutnya.

Sekarang dengan tubuh Elfina, Benny menjadi jinak. Aku menaikkan tangan berjari lentik miliku sambil mengacak-acak rambut Benny. Aku tertawa dan Benny juga tertawa. Aneh! Biasanya dia jengkel kalau Freddy yang melakukan hal buruk pada rambutnya. Wajahnya pasti cemberut, tetapi sekarang wajahnya gembira campur sange. Aku sengaja menyentuh bibir bawahnya dengan jari. Dia langsung menatapku sambil mencondongkan tubuh, wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Aku merasakan hembusan nafasnya membelai hidung. Ya Setan! Aku berhasil menggoda Benny. Maafkan lelaki jalang yang bersemayam di tubuh gadis cantik ini.

“Fina, kamu cantik sekali...” ucap Benny dengan gugup. Ya, Elfina memang cantik! Aku menjerit marah dalam hati. Kurang ajar! Berani-beraninya Benny berkhianat kepadaku dengan mendekati Elfina. Aku akan memberinya pelajaran.

Aku membiarkan Benny mendesak tubuhku. Bibirnya yang kering dan hitam mulai menyentuh bibirku yang merah dan basah. Jujur aku merasa mual tetapi kutahan. Mana mungkin aku terangsang berciuman dengan Benny. Lelaki terjorok yang aku kenal.

Mataku melotot ketika Benny mengulum bibirku penuh nafsu. Aneh juga rasanya berciuman dengan mata melotot seperti ini. Aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir, untuk merangsangnya memang diperlukan ciuman pembuka. Aku meladeninya juga. Ternyata bibirnya tidak seburuk yang aku bayangkan, ada sensasi dingin dan wangi . Aku yakin dia pasti sempat memodifikasi mulutnya dengan pasta gigi, parfum, atau mungkin pewangi. Meskipun begitu, berciuman dengan lelaki tetap saja membuat getar-getar tidak nyaman di hatiku.

Benny semakin bernafsu memaksa membuka bibirku. Dia hendak memasukan lidah ke mulutku. Pengalaman yang minim membuat giginya terantuk beberapa kali dengan gigiku. Aku dapat melihat mata si jelek ini yang terpejam begitu menikmati permainan yang baru baginya ini.

Bayangan ketika Benny mengemut pentol bakso berlumuran kecap dan saos, serta bayangan ketika dia bernafsu memakan durian, buah yang sangat aku tidak suka, mendadak melintas di memoriku. Aku merasa jijik sehingga menjauhkan kepala dan melepaskan ciuman.

Dia kaget dan heran. Ada keraguan dan ketakutan terpancar di matanya. Aku tidak mau ini berlangsung lama. Kujambak rambut keriting si jelek ini, kepalanya kutarik mendekat dan kubenamkan di leherku. Benny langsung bersemangat bukan main. Lidahnya menyapu leherku. Aku merinding juga, ada rasa geli bersensasi. Apalagi lidah si Benny agak kasar, tetapi tetap saja aku tidak begitu bernafsu. Aku tidak berminat bercinta dengan lelaki meskipun sekarang aku memiliki tubuh wanita.

Daripada bosan dengan jilatan Benny di leher. Aku memilih duduk santai sambil meraba mencari ketombe dan kutu di rambut keritingnya. Gerakan tanganku yang menyibakan rambut berberapa kali mungkin dikira gerakan wanita terangsang. Dia mulai berani kurang ajar membelai punggungku dengan jarinya yang agak kasar. Aku tidak peduli dan menganggap diriku dipijat. Hanya saja ketika tangannya mulai menelusup ke dalam baju dan menyentuh perut, aku mulai menggeliat menggeser tubuh menjauh.

Dia menatapku, ada pancaran mata takut dan sange berbaur jadi satu. Rencana awalku memang sengaja memberinya kentang, tetapi entah kenapa mendadak aku merasa kasihan padanya. Sebagai teman baik, sudah sewajarnya aku memberi dia pengalaman tentang wanita meskipun itu melalui tubuh Elfina yang kupinjam sementara. Hanya saja di lain sisi, aku merasa bersalah kepada Elfina. Mungkin kalau dikasi ngemut toket Elfina boleh lah! Oke, Lanjut, Ben!

“Kamu cantik sekali,” ujarnya sekali lagi dengan suara bergetar menahan nafsu. Rayuan si Benny benar-benar monoton. Tadi sudah diucapkan sekarang diucapkan lagi. Tetapi itu tidak masalah, aku cukup berpura-pura gembira.

Benny mencondongkan muka hendak menciumku, lagi-lagi targetnya adalah bibir. Aku yang masih merasa jijik mencoba menghindar dengan memalingkan wajah. Kupeluk leher lelaki itu dan kubenamkan kepalanya di dadaku yang masih terbungkus baju. Aku pasrah, bukan karena terangsang tetapi karena mulai malas meladeni.

Kepala Benny bersandar di dadaku yang empuk cukup lama. Dia sepertinya gemas sehingga mengigit baju yang membungkus payudaraku.

“Ahhhh,.. shhh,”

Aku menggeliat dan mendesah pura-pura menikmati. Benny semakin bersemangat menjilat dan mengigit bajuku. Aku sebenarnya ingin tertawa. Aku tidak merasakan apa pun selain payudara yang tergencet kepala Benny. Mungkin Benny tidak tahu kalau bra yang kupakai memiliki lapisan cukup tebal, dan mengira payudaraku yang keras sehingga dia terus menyedot dan menjilat bajuku.

Aku menunduk sehingga bisa melihat kelakuan Benny dengan jelas. Bujuku sudah basah karena ludah bekas jilatan. Benny sepertinya menyadari itu sehingga dia menghentikan kegiatanya dan menatap bajuku yang basah.

Benny menarik ujung bajuku ke atas. Aku melemaskan badan, membiarkan Benny beraksi sendiri. Aku dapat mendengar deru nafasnya ketika bajuku telah terlepas. Aku menyilangkan kedua tangan di atas payudaraku yang masih terbungkus bra. Sok jual mahal. Dan lagi-lagi Benny menyosor bibirku, tentu saja aku menghindar lagi. Untung saja aku bisa mengontrol emosiku sehingga tidak kutonjok bibir jelek lelaki ini.

Dia membelai bibir bawahku dengan jari tangan. Kulirik kuku jempolnya, ternyata ada sedikit kotoran. Untung saja aku cukup mengenalnya sehingga waspada, hampir saja aku mengigit jari itu karena jengkel.

Aku mengakui kalau Benny bergerak cukup gesit juga untuk status lelaki noob. Tanganya sudah memegang jari tanganku dan berusaha menyingkirkan dari payudaraku. Aku masih berusaha mempertahankan kehormatanku dengan membiarkan tangan itu melintang. Benny tidak menyerah, dia membenamkan kepala di leherku. Jemari tanganya menyusuri punggung meraba karet bra. Ku biarkan saja kelakuanya. Dia tarik berulang kali dan bra yang kukenakan tidak juga terlepas. Wajah Benny mengkerut penanda heran.

“Kamu cari ini?”

Aku menunjuk kait bra yang berada di depan, di antara kedua payudaraku. Aneh juga model bra ini. Benny tersenyum malu.

“Boleh kulepas?”

“Boleh.” Aku tidak mau buang-buang waktu lagi, aku takut waktuku di tubuh Elfina akan segera habis sehingga kubiarkan Benny melepas Bra itu.

Payudaraku yang indah terhidang di depan wajah Benny. Benny mulai berkeringat. Tangannya gemetar ketika menyentuh payudaraku. Dia kemudian mulai meremas dengan lembut. Aku merasa deg-degan ketika bibir Benny mulai monyong dan mencium payudaraku. Ketika menyusuri permukaan kulit, rasanya lumayan geli. Yang luar biasa itu ketika mulut Benny menyedot puting. Aku tanpa sadar menggelinjang. Kurang ajar! Kalau aku tidak bisa mengontrol diri, bisa-bisa perawan Elfina hilang di tangan si jelek ini.

Benny sangat gembira memainkan payudara, meloncat dari payudara kiri ke kanan dan terus diulangi. Aku beberapa kali merasa tersetrum listrik kenikmatan. Aku melirik celana Benny, penisnya sudah menjulang tinggi di balik celana. Benny mulai semakin berani. Tangannya mengelus celana hitam yang aku kenakan. Dia membelai pahaku. Gawat! Aku harus menghentikannya. Ben, jangan masukin tangan kamu ya. Aku lagi M. Aku ingin mengucapkan itu, tetapi kuurungkan.

Aku akhirnya berucap,” Kamu buka baju, dong!”

Benny seperti orang kesetanan membuka baju. Setelah bajunya terlepas, dia menatapku. Dia menunggu apa yang akan aku lakukan. Aku membelai dada Benny yang rata. Tulang rusuk lelaki itu terlihat cukup menonjol karena dia sangat kurus. Kumainkan dan kucubit pentil di dadanya sehingga dia menjerit beberapa kali. Aku mencubit dan juga mencium serta memainkan lidah. Dia meloncat penuh nuansa nikmat. Aku menghentikan servisku setelah merasa kelelahan.

“Kamu cantik sekali. Kalau Freddy tau kamu secantik ini, sudah pasti kamu akan jadi korbannya. Aku enggak mau itu terjadi. Dari dulu aku sengaja buat dia membenci kamu.”

Oh my devil! Kenapa dia menyebut namaku? Mendengar pengakuan itu membuat darahku tiba-tiba mendidih. Gue mesti ngasi pelajaran si jelek kurang ajar ini!

“Kamu punya kondom?” tanyaku.

“Eh, enggak.,” dia menjawab dengan gugup.

“Kalao enggak ada kondom, aku kocok aja penismu. Aku enggak berani ML tanpa kondom.”

Ucapanku membuat Benny terkejut. Raut wajahnya agak aneh. Dia mungkin tidak menyangka kalau Elfina akan berucap seperti itu. Mungkin dia menganggap Elfina wanita baik-baik. Dan memang Elfina adalah wanita baik-baik. Hanya saja yang dihadapi Benny sekarang bukan Elfina, tetapi Freddy. Freddy yang sedang marah. Hahaha!

“Gimana, mau kukocok atau udahan aja?”

“Iya, boleh.”

“Boleh apa?’

“Kocokin aja,” Benny menjawab pasrah. Pasrah tetapi masih kurang ajar karena tangannya langsung meremas dan menangkup payudaraku.

Aku berniat memberi pelajaran dan pengalaman berharga kepadanya. Aku mendorong si jelek ini ke tempat tidur. Dia duduk duduk di kasur saat aku memelorotkan celana yang dipakai sampai lutut. Ketika penisnya mencuat, perasaanku menjadi tidak menentu. Antara geli, jengkel, dan ingin ketawa. Penisnya termasuk katagori hitam, ujungnya bengkok ke kanan.

“Anumu gede, kamu pasti sering ML, ya? Biasanya yang gede di senengin tante-tante.” Aku sengaja memuji agar dia senang.

Dia tersenyum bangga,” Kadang-kadang aja.”

Aku ingin ngakak mendengar jawabanya. Si jelek ini sombong juga. Aku tahu dia belum pernah berhubungan badan dengan wanita. Aku mengenalnya sangat lama. Mungkin dia merasa jengah dan mulai menganggap Elfina wanita nakal sehingga dia menjadi bertingkah sok laku agar tidak diremehkan.

“Emut dong Fin,” ujar Benny sambil memegang pangkal penis dan menggoyangnya.

“Berani bayar berapa?”

“Kubayar dengan cinta.”

“Enggak mau, aku belum pernah blow job.” Aku muak dengan ucapannya yang sok romantis. Aku jengkel. Seenaknya saja dia main perintah. Mana mungkin aku bisa mencium penis si jelek ini.

Aku memegang penisnya. Aku merasa risih, bagaimananpun juga hatiku tetaplah hati lelaki dan aku buka gay. Kukocok penisnya pelan, Benny mendesah.

“Kamu punya minyak zaitun atau olive oil?”

“Enggak. Buat apa?” Dia memandangku heran.

“Buat pelumas. Biar enak kalau dikocok, lebih berasa.” Aku membohonginya.

“Gak usah pake minyak. Kocok aja.”

“Gak enak ngocoknya.”

“Minyak goreng ada. Mau?”

“Bukan yang habis dipake goreng telur, kan?”

“Bukan. Aku ambilin di kulkas kalau kamu mau.”

“Aku ambil sendiri aja.”

Obrolan kami lancar sekali, tidak seperti orang yang sedang sange. Momen inilah yang aku tunggu. Aku ingin memberinya kenikmatan lebih. Aku kemudian bergergas ke dapur mini ala kost murahan milik Benny yang letaknya bersebelahan dengan kamar mandi. Kubuka kulkas, kuambil minyak goreng dan kutuang ke dalam mangkuk plastik, kira-kira seperempat mangkuk.

Tujuan utama sebenarnya bukan minyak goreng. Aku pergi ke samping kulkas, dan mencari tas kecil yang berada di antara deretan sepatu. Kubuka resleting tas tersebut. Binggo! Apa yang kucari kutemukan yaitu Balsem otot Geliga. Itu adalah balsem yang biasa kami gunakan ketika bermain futsal. Aku sudah tahu efeknya kalau menyentuh kulit.

Aku melirik Benny, dia sedang tertunduk menatap penis. Aku merasa aman dan mengambil kira-kira satu sendok makan balsem dan mencampur dengan minyak goreng. Aku khawatir bau balsem yang menyengat akan membuat Benny curiga. Untung saja bau balsem tersamarkan oleh minyak goreng yang tercampur. Untuk menutup supaya semakin tidak terlihat, aku mengambil bongkahan kecil es batu dan meletakan di mangkok yang sama. Aku mengoleskan sedikit minyak goreng bercampur balsam di payudaraku untuk tester. Seperti yang aku duga, sensainya luar biasa. Panas, perih, dingin.

Aku duduk di hadapan Benny sambil melontarkan senyum menggoda. Dia membalas senyumku dengan senyum penuh nafsu. Kuraup es dalam mangkok dan mengoleskan di ujung penis Benny, dia mengigil. Kukocok pelan penis menjijikan miliknya, dia mendesah sambil meremas payudaraku.

Semakin lama waktu berjalan semakin intens kocokanku. Benny mulai hilang kendali dan menggelinjang. Minyak bercampur balsam mulai kuoleskan sedikit demi sedikit. Aku mengocok semakin cepat. Benny menikmati dengan mata merem melek. Kutumpahkan semua minyak goreng bercampur balsem di sekujur area kemaluan Benny, juga di dekat anus lelaki itu. Aku mengusap dengan liar dan merata. Raut wajah Benny agak berubah, sepertinya dia merasa ada yang tidak wajar. Hanya saja sepertinya dia kalah oleh nafsu.

“Ahhh.. ahhh,” dia mendesah sambil merem melek.

Aku semakin bersemangat melakukan pijitan dan kocokan. Benny berubah semakin liar, dia menggerakan pantat naik turun mengimbangi kocokan tanganku. Dia menubruk tubuhku. Lidah lelaki itu bergerak liar di leher dan seputar payudaraku. Mengecup, mengigit dan menjilat.

“Ahhhhhhggggggttt”

Dia mengejang dan spermanya menyemprot ke payudaraku. Aku membiarkan saja. Dia kemudian rebah telentang di tempat tidur.

“Udah?”

Dia mengangguk dengan mata terpejam. Penisnya lemas belepotan minyak. Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuh. Telapak tanganku terasa lumayan panas ketika terguyur air. Aku tahu itu adalah efek dari balsam.

Ketika aku kembali dari kamar mandi, aku melihat ada yang berubah dari Benny. Dia tidur telentang sambil mengangkang dan menggunakan kertas untuk mengipasi selangkanganya. Butiran keringat mulai terlihat di dahinya.

“Kamu tadi ambil minyak di mana? Bukan minyak bekas kan?” Benny menatapku curiga.

“Enggak kok. Emangnya kenapa, Ben?”

“Perih,” dia meringis.

“Maap, mungkin aku ngocoknya terlalu keras, ya? Punya kamu imut, jadi aku enggak tahan,” ucapku sambil memasang wajah memelas. Benny menjadi luluh.

Dia kemudian bangkit dan berjalan mengangkang ke kamar mandi. Tidak berapa lama aku mendengar suara air mengguyur sesuatu terus menerus. Aku yakin dia mengguyur penis miliknya yang kepanasan. Hahahaha!

Dia kembali dari kamar mandi dengan berjalan semakin mengangkang. Dia kemudian mengambil sebuah kipas angin rongsok. Menyalakan dan mengarahkan angin ke selangkangan. Dia tidak mempedulikanku. Dia mengabaikan Elfina.

Bersambung..
 
Last edited:
Top