Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

[DRAMA] Orange [A Story by Nijyuuichi]

Nijyuuichi

Juru Nilai GHSC
Thread Starter
Joined
Oct 27, 2019
Messages
63
Reaction score
685
Points
83

Nijyuuichi

Juru Nilai GHSC
Thread Starter
Joined
Oct 27, 2019
Messages
63
Reaction score
685
Points
83


ano ne itsunomanika
kizuita n da ai ni
moshi katachi ga atte
sore ga sudeni
watashi no mune ni
hamattetanara

kitto zutto
kyō yori motto
anata no koto o shiru tabi ni
sono katachi wa mō
anata ja nakya
kitto sukima o tsukutte shimau ne

ano ne daisuki da yo
anata ga kokoro no naka de
hirogatteku tabi
ai ga afure namida koboreru n da

kore kara takusan no nakiwarai o
shiru tabi ni fuete iku no
tobideta toko hekonda toko futari ni natteku
toki ni butsukari surihette
soshite mata
umeatte ike ba ī

daisuki na anata ga
soba ni inai toki ni
hora mune ga itaku natte
anata no katachi
mieru ki ga shita n da

“Zaakiiii!!”

ano ne daisuki da yo
nan man kai mo tsutaeyō
atatakaku fueta omoi wa
zenbu ai no katachi desu

“ZAAKIIII!!”
Seruan seorang wanita kembali terdengar begitu nyaring namun renyah, memecah konsentrasiku ketika sedang bernyanyi diiringi nada yang kumainkan pada gitar kesayanganku.
“ZAAKKIIIIIIIIIIIIII!!”
“Iyaa taannn!!! Sebentarrr!!” Teriakku menjawab panggilannya sambil menghela nafas. Aku tidak suka dengan panggilan itu. Namaku adalah Ryuzaki. Ryuzaki Rahmadi lengkapnya. Aku sangat menyukai orang memanggilku dengan sebutan ‘Ryu’. Seperti Kaa-chan biasa memanggilku. Kan terdengar lebih keren dan lebih hhmm... terdengar internasional.

Hanya saja, orang Indonesia malah lebih familiar dengan nama Zaki! Dan tanteku ini adalah salah satu contoh nyatanya. Karena dua konsonan lebih enak di sebut daripada satu konsonan. Begitulah selalu alasannya. Alasan yang tidak masuk akal bagiku.

Aku kembali menghela nafas untuk meredam emosiku karena di sela ketika sedang asik bernyanyi. Dengan terpaksa aku menghentikan kegiatanku ini, dan membereskan gitarku.

Aku segera turun untuk menghampiri tante Irene. Di bawah, aku melihat tante Irene sedang mencuci peralatan masak. Sementara om Rusdi –Rusdi Hartono lengkapnya– sudah berada di meja makan, dimana beberapa jenis makanan telah tersaji di atas meja.

Tanteku ini namanya Irene Rahmadi Hartono. Dia ini adik kandungnya papaku, Jaka Rahmadi. Yang artinya adik ipar dari mamaku, Shimazaki Noriko. Yup, mamaku ini murni berasal dari negeri matahari terbit, dan aku biasa memanggilnya dengan sebutan ‘Okaa-chan’, yang sering aku singkat menjadi ‘Kaa-chan’. Ibu.

Kaa-chan yang memintaku memanggilnya seperti itu, sementara papaku pun juga tidak mempermasalahkannya, karena toh artinya tetap sama saja menurut papa.

Tante ku ini sudah berusia 42 tahun, sedangkan papaku berusia 6 tahun di atasnya. Wajah tante tetap terlihat sangat cantik dan ayu sekali di usianya saat ini. Dengan bentuk wajah oval dan kulit putih khas oriental, serta rambut hitam lurus dengan panjang sedikit di bawah bahu, dengan ikal melingkar di bagian bawahnya.

Tambahan sedikit poni menyamping membuatnya menjadi terlihat semakin manis. Bentuk tubuhnya pun masih terlihat sangat sintal, dengan buah dada yang cukup membusung, serta bagian belakang yang terlihat menonjol. Seolah tidak kalah dari para wanita yang berumur 30 tahun ke bawah.

Jujur, dulu aku sering mandi bersama dengan tante ku ini, waktu masih balita. Andai saja sekarang aku diajak mandi bareng, tentu saja aku akan menyanggupinya dengan senang hati. Aku mulai mengenal kata ‘terangsang’ pertama kali, adalah ketika tanpa sengaja melihat tante sedang berganti pakaian pada pantulan kaca, dimana saat itu tante hanya mengenakan celana dalam saja, tanpa pakaian lain yang menutupi.

Walau hanya dari pantulan, aku bisa melihat kedua bukit kembarnya yang di hiasi oleh puting berwarna kecoklatan, menggantung dengan indahnya. Bagaikan belahan buah melon bulat yang menempel di bagian dadanya. Hmm, yah seperti itulah hiperbola yang kurasakan saat pertama kali melihat bentuk payudara seorang wanita secara langsung.

Hm, tidak secara langsung juga sih, tapi yah ini pemandangan nyata pertama bagiku. Selama ini aku hanya dapat melihat payudara milik bintang-bintang JAV yang sering aku tonton di rumah Ronald, sahabatku di kampus saat ini.

Walau aku hanya melihat pemandangan terindah itu sekejap saja. Namun cukup melekat di dalam ingatanku sampai sekarang.

Tanteku ini merupakan seorang ibu rumah tangga, dan walau sudah hampir 10 tahun dia berumah tangga bersama om Rusdi, sayangnya mereka belum juga dikarunia seorang anak. Tante sebenarnya sempat hamil 5 tahun yang lalu. Namun saat itu dia mengalami keguguran. Dan setelah itu, sampai sekarang tante belum pernah hamil lagi.

Segala usaha dan terapi tentu saja sudah mereka lakukan. Bahkan aku sering mendapat tugas dari om Rusdi untuk menemani tanteku terapi ke sebuah rumah sakit. Sayangnya, hasilnya masih tetap nihil. Alias tanpa hasil. Hingga membuat mereka pun menjadi pasrah.

Padahal mereka berdua sudah diperiksa tingkat kesuburannya, dan tidak ada masalah sama sekali. Entah apa yang menyebabkan tante Irene tidak kunjung hamil juga hingga di usianya yang ke-42 ini.

Sementara om Rusdi bekerja sebagai Auditor. Terkadang om Rusdi suka pergi keluar kota selama 1 atau 2 minggu apabila mendapat tugas untuk melakukan audit di perusahaan-perusahaan lain. Dan aku lah yang selalu mendapat mandat dari om Rusdi untuk menemani tante, selama om Rusdi sedang tugas di luar kota.

Aku sendiri sudah tinggal bersama om Rusdi dan tante Irene sejak masih berumur 12 tahun. Atau tujuh tahun yang lalu, saat kedua orang tuaku tewas secara mengenaskan di tangan seorang supir bus, yang tidak mau mengalah saat sedang menyusul kendaraan lain di jalan raya luar kota.

Padahal kami saat itu sedang pergi berlibur ke daerah Jawa Tengah, untuk melihat sisa-sisa peradaban bangsa kita pada jaman dahulu kala. Papa saat itu memilih menggunakan jalur darat –dibandingkan menggunakan jalur udara– karena menurut papa dengan jalur darat, kita bisa menjelajahi berbagai keindahan nusantara serta keragaman kuliner khas masing-masing daerah yang kami lewati di sepanjang perjalanan.

Itu merupakan sebuah perjalanan yang indah pada awalnya. Hingga berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang terus menghantuiku bahkan hingga saat ini. Entah karena mukzizat atau keberuntungan belaka, aku yang saat itu sedang tertidur di kursi paling belakang, terhindar dari maut, walaupun bentuk mobil MPV hasil produk negeri tempat ibu lahir, yang kami kendarai itu sudah hampir tidak berbentuk lagi.

Aku yang sedang tertidur, hanya sempat mendengar suara ledakan keras, sebelum tiba-tiba aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang aku ingat hanyalah saat aku terbangun, aku sudah berada di tempat tidur, di sebuah rumah sakit, dengan tubuh penuh lebam dan luka.

Saat itu aku yang tidak mengetahui, bahwa aku telah kehilangan kedua orang tuaku –terima kasih kepada sang supir, yang hanya di hukum 2 tahun penjara, sementara aku kehilangan Kaa-chan dan Papa untuk selama-lamanya– terus menangis dan memanggil mereka.

Para suster di rumah sakit serta dokter yang merawatku, berusaha menjelaskan bahwa mama dan papaku sedang di rawat di ruang lain, dan sedang tidur. Aku mengingat nama salah satu suster paling muda di rumah sakit tersebut. Suster Annisa namanya. Orangnya manis, baik dan ramah sekali kepadaku. Dia lah yang berusaha terus mendampingi dan menjelaskan kepadaku, mengenai mama dan papa yang sedang sakit.

Entah mengapa, saat berada di dalam pelukan suster Annisa itu aku bisa merasakan sebuah rasa aman. Rasa nyaman –bukan rasa nyaman karena di peluk oleh wanita cantik– yang membuat aku merasa percaya kepada perlindungannya. Aku bagaikan merasa sedang di peluk oleh Kaa-chan. Sosok suster Annisa terlihat begitu berbeda dibandingkan dengan suster-suster lainnya di mataku saat itu.

Berkat suster Annisa lah aku akhirnya bisa menjadi lebih tenang, bahkan hingga tertidur. Keesokan harinya tante Irene dan om Rusdi baru tiba di rumah sakit untuk menjenguk dan melihat keadaanku. Dari mulut mereka berdualah aku akhirnya mengetahui perihal kematian kedua orang tuaku itu.

Aku yang saat itu masih masih duduk di bangku sekolah, tentu saja tidak bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Aku menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Semua orang berusaha untuk menenangkan diriku. Namun, aku yang sedang dilanda kepanikan serta ketakutan yang luar biasa tentu saja tidak bisa didiamkan semudah itu.

Dan lagi-lagi, suster Annisa lah yang pada akhirnya membuatku tertidur di dalam pelukannya. Mba Nisa, begitu aku biasa memanggil namanya, dengan pelukan hangatnya dan sentuhan lembut jemarinya di kepalaku, entah mengapa mengingatkanku akan sentuhan Kaa-chan.

Perlahan-lahan dengan bantuan serta dukungan mba Nisa, aku pun akhirnya bisa menguatkan hatiku, untuk bisa menerima kenyataan paling pahit dalam hidupku ini. Hanya dalam sekejap, statusku berubah menjadi seorang anak yatim-piatu.

Aku bahkan mulai berani untuk menemui jasad kedua orang tuaku, yang telah terbujur kaku itu. Om Rusdi dan tante Irene memang sengaja menunggu untuk menguburkan jasad kedua orang tuaku sampai aku sudah menemui mereka untuk terakhir kalinya. Air mataku langsung tumpah lagi saat aku bertemu kembali dengan mereka. Hanya saja mereka sudah tidak lagi dapat memelukku dengan erat.

Tante Irene dan om Rusdi pun kemudian mengajakku untuk tinggal bersama mereka. Apalagi mereka belum memiliki anak, jadi mereka justru sangat mengharapkan aku untuk tinggal bersama mereka.

Aku sempat kehilangan segala keceriaan dalam hidupku. Aku tidak pernah tertawa, makan hanya sekedarnya. Hubungan sosialku pun menjadi semakin memburuk, seiring diriku yang terus dilanda kemurungan yang seolah tanpa batas. Sehingga yang kulakukan sepanjang hari, setelah pulang sekolah, hanyalah terus meratapi kehilangan kedua orang tuaku di dalam kamar sendirian.

Butuh waktu hampir satu tahun bagiku untuk bisa benar-benar melanjutkan hidupku. Aku berusaha melupakan dan menghilangkan segala ingatan masa lalu dari kehidupanku saat masih bersama dengan kedua orang tuaku.

Namun begitu, hidupku tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Walau aku mulai bisa tertawa dan berinteraksi sosial dengan lebih baik, tetap saja di dalam diriku seperti terdapat lubang hitam tak berdasar. Aku tidak tahu bagaimana mengisi kekosongan di dalam diriku ini.

Tante Irene dan juga om Rusdi begitu perhatian kepadaku. Mereka menganggapku seperti anak kandung mereka sendiri. Menyayangiku, membiayai hidup dan sekolahku. Aku pun sangat berterima kasih kepada mereka berdua.

Hanya saja, aku belum bisa menganggap mereka sebagai orang tuaku sendiri. Bagiku yang telah kehilangan kedua orang tuaku, tidak ada orang lain lagi yang benar-benar pantas untuk menggantikan posisi Papa dan Kaa-chan.

“Ayo Jak makan dulu.” Ajak om Rusdi untuk makan.

“Iya om.” Aku pun kemudian menarik tempat duduk, dan duduk di hadapan om Rusdi.

“Kenapa muka kamu? Kaya bete banget?” Tanya om Rusdi sambil tersenyum ke arahku.

“Eh? Oh gak kok om. Biasa aja sih aku.” Jawabku santai sambil memaksakan sebuah senyuman pelan.

“Gimana kuliah kamu? Ada kendala? Udah bikin PR belum kamu?” Tanya om Rusdi lagi kepadaku. Ini adalah pertanyaan yang cukup rutin kudapatkan dari om Rusdi setiap makan malam.

“Yah udah mulai sulit sih, tapi masih bisa aku atasin kok om. Aku terus latihan di rumah, atau belajar bareng ama temen-temen kaya biasa om. Tugas kuliah sih udah dari tadi kok om. Biar bisa santai.” Jawabku lagi.

“Nah bagus kaya gitu, Jak. Itu baru namanya laki-laki yang bertanggung jawab. Mengerjakan tugas terlebih dahulu, sebelum refreshing. Iya gak? Hehehe” Ujar om Rusdi sambil tertawa mendengar jawabanku itu.

“Hehehe iya om. Jadi kalo mao maen game juga gak ada beban lagi.” Lanjutku membalas obrolan om Rusdi.

“Zaki mah jangan ditanya Pa. Mandiri banget anaknya. Tau kapan waktunya harus serius belajar, dan kapan waktunya bermain. Buktinya kemarin Zaki jadi 5 besar lulusan terbaik kan di SMA.” Ujar tante Irene menyambung obrolanku dengan om Rusdi, saat dia baru saja selesai mencuci perabotan masak dan bergabung bersama kami.

“Hehehe iya sih Ma. Ya uda yuk, Mama udahan kan nyuci-nya? Yuk makan. Papa uda lapar ini.”

Kami pun kemudian makan malam sambil mengobrol tentang berbagai hal. Dan setelah makan, aku segera membereskan piring-piring kotor untuk kucuci. Sementara tante Irene membersihkan meja makan. Om Rusdi sendiri sudah sibuk dengan TV-nya.

“Jak! Jaki. Sini bentar deh.” seru om Rusdi saat aku hendak naik kembali ke kamar ku, setelah aku menyelesaikan pekerjaan rutinku, mencuci piring-piring kotor.

Kebiasaan kebanyakan orang Indonesia tuh ya kalau memanggil orang yang memiliki huruf awal “Z” pasti berubah jadi “J”. Namaku bagus-bagus Ryuzaki, malah jadi Jaki di mulut om Rusdi. Zaki aja aku sebal mendengarnya, ini malah Jaki. Haisshhh. Untung bukan nyebut Daki.

Aku pun langsung berbalik dan berjalan menghampiri om Rusdi. “Kenapa om?” aku bertanya sambil duduk di karpet sambil membelakangi TV. Yang artinya posisiku saat ini sedang menghadapi om Rusdi dan tante Irene yang duduk menghadap ke arah TV.

“Sori Jak, besok om mau berangkat ke Surabaya. Ada kerjaan audit lagi sekitar 3 harian deh. Kamu gak bisa nebeng om ke Kampus deh. Tapi kamu bisa nebeng ama Ronald kan, kaya biasa? Ama om titip jagain tante ama rumah ya.” Ujar om Rusdi. Sedikit membuatku terkejut hingga menaikan sebelah alisku.

Memang rencananya besok aku hendak ikut om Rusdy ke Kampus, karena dia ada meeting di lokasi yang searah dengan Kampusku.

“Oh gitu. Yah gak pa-pa kok om. Iya aku tinggal dateng ke rumah Ronald aja. Kok dadakan om perginya? Biasanya kan seminggu sebelumnya uda bilang kalau ada audit di luar kota?” Tanyaku.

“Iya ini juga mandatnya baru keluar tadi sore. Mustinya ada orang lain yang pergi, tapi temen kerja om itu sakit tipus. Jadi yah udah mau gak mau om musti gantiin dia dulu. Tante juga cemberut aja makanya tuh, om dadakan gini.” Jawab om sambil menyenggol bahu tante yang terlihat manyun.

“Ihhh... ya iya lah aku ngambek. Kamu tiba-tiba bilang, ‘Mah, besok aku mau audit di Surabaya yah, 3 hari’. Bilang apa dulu kek. Huh!” Gerutu tante Irene sambil mengangkat sebelah kakinya, untuk di lipatkan di bawah pahanya. Dan entah tante sadar atau tidak, bawahan dasternya terentang hingga dengan jelas memperlihatkan segala isi di pangkal paha tante Irene.

Bukan paha mulus nan putih itu, ataupun pemandangan kain segitiga itu yang membuatku terkejut. Tapi jenis kain segitiga itu yang transparan sehingga bulu-bulu rimbun kemaluan tante jelas terlihat di mataku ini.

Omegod!! Dafuk!! Kerongkonganku langsung terasa kering melihat pemandangan yang tersaji di hadapanku ini. Hingga tanpa sadar aku menelan ludahku sendiri. Dan mataku pun seolah tidak bisa lepas dari pemandangan menakjubkan itu.

“Ya abis mau gimana lagi Ma? Papa juga gak mau pergi dadakan kaya gini sebenernya. Tapi si Tono emang lagi tipes, ya terpaksa deh si bos nurunin titahnya ke Papa ma.” Om Rusdi berusaha untuk menjelaskan dan menenangkan tante yang sedang bersungut-sungut. Sementara pandanganku seolah tidak bisa lepas dari jeratan isi di balik kain segitiga transparan berwarna putih itu.

Keringat dingin mulai mengaliri tubuhku. Dan yang lebih gila, Zaki kecil mulai bangun dari tidurnya dan bertransformasi menjadi Zaki yang gagah. Aku sudah berkali-kali menelan ludah, dan berusaha untuk memalingkan pandanganku dari pangkal selangkangan tante Irene.

“Status Papa kan uda Partner di sana. Suruh salah satu anak buah Papa dong buat gantiin si Tono itu. Masa Partner sih yang dikirim gantiin staff, walaupun staff senior.” Tante Irene benar-benar terdengar sewot sekali kepada om Rusdi.

“Yah emang walau pun Partner, kita punya kewajiban juga Ma, terutama waktu kita mengaudit perusahaan-perusahaan besar. Papa juga biasa keluar kota kan? Kenapa Mama kali ini sewot banget sih?” Tanya om Rusdi tidak mau kalah.

“Iya iya iyaa. Ya uda berangkat aja sana lah!” Seru tante Irene, sambil bangun dari duduknya dan berjalan naik ke atas, yang pastinya menuju ke kamarnya.

Aku tertolong. Hmm, maksudnya Zaki junior tertolong tidak terpergok saat sedang terbangun dengan gagahnya di balik celana boxer-ku. Namun sayangnya ada sesuatu yang lebih berbahaya sudah keburu bangkit dari tidurnya. Gairah birahiku. Darahku seolah berdesir dengan cepat, dengan jantung yang berdegup cepat.

“Hmm...aku...ke kamar dulu yah om,” ujarku kepada om Rusdi, berusaha untuk naik ke kamar, untuk menuntaskan gairah liar darah mudaku ini, sambil menatap Kaori Saejima-san yang terlihat begitu seksi dan mata yang sayu, seperti biasa.

“Haaah. Nanti kamu kalau udah punya istri pasti bakalan pusing kaya om gini deh Jak. Yah om kan gak bisa nolak kalo uda direktur yang perintah, Jak. Tante kamu itu, lagi angot kali.” Ujar om Rusdi kepadaku, sehingga menghentikan langkahku, dan membuatku langsung menggerutu dalam hati.

“Om juga biasa pergi ke luar kota, kan Jak? Ya kali ini emang terkesan mendadak gitu sih. Tapi itu juga kan ada alasan yang kuat, kenapa om perginya mendadak kaya gini. Bukan maunya om juga.” Lanjut om Rusdi.

Ealah dia malah curcol pula lagi. Gak tau apa Zaki junior uda minta di belai-belai ama tangan Kaori-san?

“Yah, mungkin tante lagi kangen aja ama om Rusdi.” Ujarku asal bicara. Namun membuat om Rusdi terkejut dan melihat ke arahku. Duh, salah ngomong lagi lah. Pengen cepet malah jadi bikin dia penasaran, kan?

“Kangen gimana maksud kamu, Jak? Kan tiap hari ketemu, tiap hari tidur bareng. Lagian ini kan cuma 3 hari doang.” Tanya om Rusdi penasaran dengan ucapanku tadi. Smart move Ryu. Smart Move.

“Eh...em, yah mungkin....tante lagi pengen manja-manjaan aja kali ama om. Hehehe. Yah gak tau lah. Coba om tanya ama tante dong?” Sabar yah Zaki kecil. Bentar lagi kamu pasti di belai ama tangan Kaori-san. Sebentar lagi. Aku berusaha menutup pembicaraan dengan melemparkan usulan kepada om Rusdi, untuk menghampiri tante Irene, sehingga aku bisa segera kembali ke kamarku.

“Hahahaha. Udah tua gini masih manja-manjaan. Emangnya jaman ABG. Kamu ada-ada aja Jak. Udah, kamu temenin om maen catur aja deh yuk?” WHAATTT??? ##$%@%^^&*!!!!! What The F**k??!!!

“He? Hmm...aku dah rada ngantuk nih om,” aku berusaha untuk menolaknya dengan halus.

“Baru juga makan udah mau tidur aja kamu, Jak. Udah temenin om dulu sini maen catur. Tar buncit perut kamu, abis makan langsung tidur. Udah sekarang jomblo, bisa makin gak laku aja kamu tar.” JLEBBB!!!

Kurang ajar ini om satu. Emang sih, udah jamannya kuliah gini masih aja belum sekalipun merasakan apa yang namanya ‘pacaran’. Haaaahhh. Khansa. Andai saja kamu mau menyadari keberadaanku sedikit saja.

Khansa Adelia Muller. Seorang wanita yang sangat cantik, teman satu angkatanku di Kampus. Khansa merupakan keturunan berdarah Jerman dari papanya. Khansa merupakan bunga Kampus yang jadi pusat perhatian semenjak ia pertama kali masuk kuliah.

Aku bagaikan terhipnotis saat melihat wajah cantiknya. Khas peranakan bule namun masih jelas garis Asia-nya. Dengan wajah yang selalu menampakkan senyuman manis, serta tatapan mata yang akan membuat luluh hati pria manapun yang memandangi wajahnya. Menatap keindahan wajahnya bagaikan sedang memandangi pemandangan alam yang paling indah.

“Ayo ambil papan caturnya. Gak usah lama-lama yuk. Udah lama om gak maen catur ama kamu kan, Jak. Apalagi besok pagi om udah berangkat.” Ujar om Rusdi, yang seolah merupakan sebuah titah Kaisar untukku.

Haaahhhh. Sabar yah Zaki junior. Akan tiba saatnya Kaori-san membelai dirimu hingga akhirnya muntah enak.

Dengan langkah gontai aku pun kemudian berjalan ke arah lemari tempat menyimpan papan catur yang biasa kami mainkan bersama, sambil mengobrol. Walau sekarang ini sebenarnya aku sedang malas sekali bermain catur. Hasratku untuk bermasturbasi seolah sudah tidak terbendung lagi.

Haaaahhh. Nasib anak jomblo.

Ucapan om Rusdi yang katanya hanya sebentar bermain catur denganku, terbukti adalah sebuah....mitos belaka. Nyatanya kami baru selesai bermain catur, saat jam hampir menunjukkan pukul 11 malam, atau sudah 3 jam kami bermain catur. Bayangkan itu.

Zaki junior pun bahkan sudah terlelap sejak lama, tidak tahan akan janji palsu Kaori-san.

“Huuaaaaahhhh!!! Kamu beresin yah, Jak. Om dah ngantuk nih, mau tidur dulu. Kamu jangan maen lagi, Jak. Tidur. Besok kan masih sekolah.” Ujar om Rusdi dengan sopannya menguap di hadapanku, dan dengan santainya menyuruhku untuk tidur.

Dengan sambil malas-malasan aku mulai membereskan pion-pion catur yang berserakan, merapihkan lagi papan caturnya, serta menyimpannya kembali. Namun rasanya malas untuk naik lagi. Rasa kantuk ku bahkan sudah hilang.

Aku mengambil segelas jus jeruk kotak di dalam kulkas, dan meminumnya sambil menonton acara TV -yang sebenarnya juga tidak terlalu aku perhatikan- terus mengganti-ganti channel TV tanpa tujuan jelas.

Setelah lonceng jam sudah berbunyi singkat, yang tandanya sudah jam setengah dua belas malam, barulah aku mematikan TV untuk naik ke kamarku. Gairah yang dipaksa untuk terpendam itu benar-benar tidak enak. Rungsing sekali rasanya. Namun aku juga sudah terlalu malas untuk memulai ritual ‘pencucian keris pusaka’-ku itu sambil menatap wajah Kaori-san.

Dan saat aku melewati kamar om Rusdi dan tante Irene, samar-samar aku mendengar sebuah suara bisikian pelan tante Irene, membuatku langsung merinding. Aku mengira ada dedemit atau setan gentayangan yang sedang mencoba untuk menakutiku.

Sekujur tubuhku langsung menegang. Jantungku berdebar dengan cepat seiring adrenalinku yang membanjiri sekujur relung nadi di tubuhku. Aku memasang telingaku, berusaha mendengarkan suara apapun dan sekecil apapun. Aku juga berusaha menajamkan penglihatanku, kalau-kalau aku melihat suatu penampakan yang tidak jelas bentuknya.

“...... ssssshhhh.......... nnnggggg...... ffiuuuhhh.....”

Aku kembali mendengar suara itu lagi. Mataku langsung berkeliling mencari penampakan-penampakan, dan bersiap untuk kabur.

“........ ooooohhhhh..... aaaaahhhhh”

“Ssst.......... ngan..... eras. Si Jaki masih bang........” Namun tiba-tiba aku mendengar pelan suara bisikan om Rusdi. Dan lagi, om Rusdi seperti menyebut namaku.

Aku kemudian mencoba untuk mendekati kamar om Rusdi dan tante Irene, sambil menempelkan telingaku ke pintu kamar mereka. Mencoba mendengar suara-suara di balik pintu ini.

“.... eehhhmmm.... sssshhhhh.... aaahhhhh... oooohhhhh”

DEGG!!! Mataku melotot seketika saat aku akhirnya menyadari suara-suara yang tadi sempat membuatku ketakutan setengah mati. Aku langsung mengenali suara tante Irene dan menyadari apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar.

Zaki kecil terbangun kembali, sementara darahku langsung berdesir cepat sekali, mengaliri nadi-nadi di tubuhku. Badanku pun terasa menghangat.

Sialaannn!! Rutukku dalam hati dan segera meninggalkan kamar mereka untuk masuk ke dalam kamarku.

Dasar gak sopan. Udah ngalangin niat cuci keris pusaka, sekarang malah dia yang lagi nyuci keris bulukannya. Bakayarou.

Di dalam kamar aku menyalakan laptop ku. Aku mengambil sebuah headset dan langsung aku colokan ke laptopku. Dengan tergesa-gesa, aku mulai menyalakan video penampakan Kaori-san yang cantik dan sayu sekali wajahnya.

Aku pelorotkan celanaku, hingga Zaki kecil pun terbebas dan mengacung keras, bagaikan sebuah monumen nasional yang mengacung dengan tegaknya di tengah ibu kota.

Sambil mendengar desahan-desahan Kaori-san, tanganku dengan lincah mengurut dan mengocok Zaki kecilku. Rasa nikmat membuatku merem-melek. Berusaha membayangkan bahwa aku sedang bercinta dengan Kaori-san.

“Ssssshhh.... aaaahhhh... aaahhhh.... goyang terus Ryuzaki-kun..... ssshhh... aaahhhh.... geli sekali rasanya..... aaaahhh” Aku ingin sekali ada seseorang memanggilku dengan nama Ryuzaki-kun ketika sedang bercinta denganku. Unncchh.

Pinggul Kaori-san yang begitu seksi, terus bergerak-gerak mengikuti arah gerakan pinggulku yang sedang memacu lubang vaginanya yang sudah basah sekali itu. Sehingga menimbulkan suara-suara benturan-becek diantara pangkal kelamin kami berdua.

Kedua payudara bulatnya yang bergerak liar tidak menentu, aku raih dan meremasi hingga membuatnya jadi semakin mengerang dengan keras.

“Kyaaahhh.... Ryuzaki-kun.... kamu.... aaaahhhhh.... geli banget Ryuzaki-kun.... aaahhhhhh”

Tangan Kaori-san meraih dan menjenggut rambutku, saat bibirku bergerak mendekati kedua puting payudaranya yang kemerahan itu, dan langsung melahap serta menghisapnya dengan keras. Tubuhnya tidak pernah berhenti bergerak dengan liar saat sedang aku setubuhi dengan penuh kenikmatan ini.

Aaaaahhhh... aku sudah tidak tahan lagi. Seluruh pasukan benihku telah berkumpul semua di ujung kepala Zaki kecil, dan sudah siap untuk menyerbu keluar. Gerakan pinggulku pun semakin liar menyodoki liang kemaluan Kaori-san yang indah itu.

“Aaaaahhh.... keluarin di dalam aja, Ryuzaki-kun sayang.... ssshhhh.... ohhhhhh. Kita.... aaaahhh... sama-sama..... Ryuzaki-kuuuuunnnn.... aaaaaahhhh”

Tubuh Kaori-san langsung menegang dengan tubuh yang bergetar-getar dengan kuat, seperti orang yang sedang terkena serangan kejang-kejang. Namun liang kemaluannya berkedut-kedut meremasi dengan kuat Zaki kecilku, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi.

“Aaahhhh... Kaori-saaaannn.”

Splasssshhhh.... splassshhhhh.... splasssshhhh....

“........ aki...... zaaaakiiii.....”

Entah berapa kali Zaki kecil ‘muntah-muntah’ di saat aku seperti mendengar suara tante Irene di telingaku. Hadehhh... saat sedang bercinta dengan Kaori-san pun, suara tante yang cempreng itu terus terngiang-ngiang di telingaku.

Nafas langsung memburu. Dan kesadaranku pun mulai pulih kembali saat aku mulai membuka kedua mataku, kembali ke alam nyata. Benih spermaku mengotori celana dan tangan kananku. Dan aku langsung menoleh ke arah pintu, saat sudut mataku menangkap satu gerakan bayangan.

Aku melihat tante Irene sedang berdiri di depan pintu, dengan wajah yang begitu terkejut dan memerah. Pandangan matanya seolah menyiratkan suatu pandangan yang tidak percaya, sehingga membuatku mengernyitkan dahiku, kenapa tante bisa ada disitu?

DEGG!!!!!

DAFUKKKK!!!!!

Itu beneran tante Irene yang sedang berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka, sedang melihat ke arahku yang sedang........... ARRGGHHHH!!!

Dengan gerakan reflek super cepat, aku langsung berusaha menutupi Zaki kecilku yang sudah mulai layu......

GEDEBUKK!!! GUBRAKKK!!!!!

Dan diikuti dengan suara......

BRAKK!!!! KRETAKKK!!!!

Rupanya posisi dudukku yang terlalu bersandar ke belakang, membuat kursi yang aku duduki terjengkang ke belakang, dan menghempaskan tubuhku ke lantai beton, yang di ikuti oleh tertariknya laptop akibat tersangkut headset yang sedang aku kenakan, hingga si ‘lepi’ kesayanganku itu ikut terjatuh juga sebagai tanda solidaritas terhadap pemiliknya.

ANJIRRRRR!!!!

Sakitnya kepalaku yang berdenyut-denyut tidak karuan, serta tubuhku yang seolah remuk terhantam lantai beton, serta betapa nelangsanya diriku saat menyadari satu suara yang mengenaskan terjadi saat ‘lepi’ kesayanganku itu ikut terjatuh. Pecahnya layar monitor LCD Laptopku. Semua itu tidaklah sebanding dengan rasa malu yang menyeruak dengan hebat di dalam dadaku, saat tante Irene memergoki diriku sedang bermasturbasi, bahkan sampai ‘ngecrot’ segala.

“Zaki!!!”

Tante Irene langsung bergegas menghampiriku –sepertinya berniat untuk membantuku... atau.... menertawakanku... entahlah, aku sudah tidak memikirkannya lagi– aku sudah terlalu malu untuk bisa melihat wajah orientalnya yang cantik itu.

Dan satu hal lagi yang menambah penderitaanku. Karena tadi aku terjengkang, sehingga aku tidak sempat untuk memasukan Zaki kecilku lagi ke dalam sangkarnya, sehingga tante Irene langsung bisa memandang Zaki kecil secara langsung dalam jarak dekat, dan tubuhku seolah tidak mampu untuk bergerak menutupi Zaki kecilku lagi saat aku menyadari wajah tante yang terkejut sambil melihat ke arah si kecil imut itu.

Dan akhirnya terjadilah......

“BWAHAHAHAHAHAHAHA”

Sial, bukannya nolongin malah beneran menertawakan kemalanganku ini. Perfect. This is just too perfect.

BRAK!!!

“Kenapa Ma? Bunyi apaan tadi?” SHITT!!! Om Rusdi pun masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kamarku. Just when I think things just can’t get any worse. Namun untungnya sosok tante Irene menghalangi tubuh terlentangku dari pandangan om Rusdi, sehingga Zaki kecilku yang ter-ekspos dengan bebas tidak sampai terlihat olehnya.

Dan walaupun sedang tertawa, tante Irene masih memiliki kabaikan di dalam hatinya. Dengan cepat dan tanpa menimbulkan rasa curiga, tangan tante Irene dengan cepat meraih ujung celanaku dan menariknya ke atas menutupi kembali Zaki kecilku yang akan menjadi sangat memalukan apabila terlihat oleh om Rusdi.

“Hahahaha.... ini loh Pa, si Zaki jatuh dari bangku. Lagian sih dia tidurnya di bangku, jadi kaget pas aku bangunin dia. Udah gitu pake headset segala lagi, ampe laptopnya ikutan jatoh tuh” Jelas tante Irene menyembunyikan fakta yang sebenarnya dari om Rusdi.

“Ya ampun, trus laptopnya rusak gak?” Tanya om Rusdi dengan ‘sopan’-nya. Bukannya menanyakan keadaan keponakannya yang lagi kesakitan ini, malah nanyain laptop duluan.

“Ahahaha... ihhh... si Papa nih. Bukannya nanyain si Zaki gimana, malah nanyain laptop. Kasian deh kamu Zaki. Hihihihi.” Tante malah ikutan meledekku, bukannya beneran memprotes om Rusdi.

“Hehehehe. Yah si Jaki mah palingan cuma benjol. Nah kalo laptop rusak kan repot Ma tar. Belom kalo data-data si Jaki ampe ilang. Kan makin kasian Ma.” Seru om Rusdi memberikan penjelasan. Ehmm... bener juga sih, itu data-data game ama data-data tulisan yang sedang aku buat kalau hilang bakalan repot setengah mati.

Aku memang memiliki satu hobi tersendiri baru-baru ini. Menulis sebuah cerita panas bersambung, yang aku posting di salah satu forum dewasa, website tempat aku menemukan banyak foto-foto bidadari Indonesia yang polos tanpa pakaian. Tempat aku mencari inspirasi saat aku berada di dalam kamar mandi. Halaaaahhh.... dasar alibi efek jomblo sejagat.

“Eh iya tuh, gak tau tuh laptop nya gimana.” Seru tante Irene. Dan aku pun segera berusaha menggerakan tubuhku untuk melihat bagaimana kondisi laptop kesayanganku ini setelah terjatuh.

Oh.... my..... God!!!

DAFUKKKKKK???!!!! @&%[email protected]!!!!!

Aku sampai tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan tubuhku kembali mengejang kaku, saat melihat layar monitor laptopku ada tanda garis tidak teratur, membelah dari ujung kiri ke ujung kanan. Bahkan garis itu membuat cabang lagi menuju ke atas.

TIDAAAAAAAKKKKKK!!!! Ya Allaaaahhhhh cobaan apakah yang Engkau berikan kepada hamba-Mu yang hina dina ini???

“Parah yah Pa kalo pecah gitu layarnya?” Tanya tante Irene kepada om Rusdi.

“Lumayan Ma. Moga-moga sih cuma layarnya aja, gak sampe kena ke IC-nya yang rusak ato hard disknya. Tapi layar monitor aja juga udah mahal tuh.” Jawab om Rusdi seolah menegaskan kemalangan diriku ini. Derita gue deh hikss.....

Dengan langkah gontai, aku kemudian berusaha membereskan segala kekacauan yang terjadi malam ini. Tante Irene juga ikut membantuku, sementara om Rusdi sudah kembali ke kamar.

Hampir tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir tante Irene. Hanya saja aku melihat beberapa kali tante tersenyum geli sendiri. Mungkin saja dia sedang mengingat kembali kejadian bodoh yang aku alamin baru saja tadi. Haaaahh. Beginilah yang namanya apes itu. Derita gue deh.

“Kepala kamu masih sakit Zak?” Tanya tante sambil memegang kepalaku yang tadi terbentur lantai.

“Masih rada sakit sih tan. Benjol kayanya.” Jawab ku dengan rasa malu di wajah.

“Yah tapi kepala bawah udah dapet enaknya kan? Hihihihi. Lagian sih kamu pake maenin itu kamu gitu sendiri. Makanya jangan kebanyakan nonton film begituan tuh, jadi piktor otak kamu kan? Hehehe. Ya udah, tidur dulu gih.” Sialaaaaannn!!! Aku benar-benar tidak tau lagi bagaimana harus merespon ucapannya itu. Aku swalayan kan karena kamu pamerin isi selangkangan kamu ke aku, tan.

Ingin rasanya aku menjawab begitu, namun bibirku tak kuasa membuka mulutnya.

“Eh iya, ganti baju ama celana dulu gih? Itu kamu kan tadi tante liat belepotan tuh ampe kena ke celana kamu juga. Tar di semutin loh malem-malem. Hihihi.” JLEBB!!! Kampreeetttt!!!

Tante langsung berlalu keluar kamarku. Namun dia menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik menghadapku. “Eh iya, tante tuh kesini mau tanya, kamu udah kunci-kunciin pintu di bawah blum yah Zak?”.

“Hmm, udah kok tan, tadi sebelum aku naik.”

“Ohh ya uda deh kalau gitu. Ya uda kamu tidur, jangan maenin itu kamu lagi. Hihihi.” Ya ampun nih tante, kayanya si tante bakalan ngebahas masalah ini terus nih ampe dia bosen ngecengin aku.

Sialaaaannn!!!

Gara-gara selangkangan tante, efeknya jadi benar-benar menyebalkan seperti ini.

Aku langsung mengganti baju dan celana, yang sempat tercecer spermaku tadi, dan kemudian langsung merebahkan tubuhku di atas pembaringan. Berusaha untuk langsung tidur dan melupakan kejadian super menyebalkan ini.

Ha...ha…ha…ha..ha..ha

Astaga....apes bener hari ini sih? Cuma gara-gara kebelet pengen pipis enak, rusak layar lepi kesayanganku. Belum lagi kepergok oleh tante Irene. Malunya itu.... ya ampuuun.


Aku hanya bisa berbaring sambil menatap ke langit-langit dengan pandangan mata hampa. Meratapi nasib sial yang bener-bener sial ini. Bagaikan sudah jatuh, tertimpa tangga trus ketabrak mobil pula.

7 tahun. Sudah 7 tahun aku hidup bersama tante Irene dan om Rusdi. Semenjak kepergian Kaa-chan dan Papa.

Andai saja saat itu kami menggunakan pesawat, tentu tidak akan terjadi kejadian itu, dan aku masih akan tinggal bersama Kaa-chan, bersama Papa, mungkin bersama adik kecilku nanti.

Bukannya aku tidak bahagia tinggal bersama tante Irene dan om Rusdi. Karena walau bagaimanapun tetap lebih nyaman tinggal bersama kedua orang tua sendiri. Aku kadang suka iri melihat teman-temanku yang masih memiliki orang tua. Dan akan menjadi sangat kesal terhadap teman-teman yang suka bersikap kurang ajar dan tidak sopan terhadap orang tua mereka.

Mengeluh banyak aturan dan sebagainya. Mereka baru akan merasakan kesepian yang aku rasakan saat kedua orang tua mereka sudah tiada. Bagiku yang sudah kehilangan kedua orang tuaku, sikap mereka itu benar-benar membuatku muak.

Kaa-chan.... Papa..... aku merindukan rasanya pelukan mereka di saat aku bersedih. Aku berusaha mengingat-ingat kembali seperti apa wajah mereka, suara mereka, cara mereka berbicara dan menyayangiku.

Aku berusaha kembali membayangkan momen-momen bahagia kami sebelum mereka berdua pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Aku masih ingat dengan cukup jelas momen sebelum kejadian maut itu. Saat itu kami sedang dalam perjalanan kembali menuju ibu kota. Kami bercanda dan Papa sering mengajakku untuk bernyanyi lagu-lagu favoritnya. November Rain, Sweet Child O'mine, Knocking On Heaven's Door, Patience dan juga tentu saja Don't Cry.

Sementara Kaa-chan lebih menyukai lagu-lagu yang berasal dari tempatnya lahir. Bahkan ada satu lagu yang selalu ia nyanyikan, seringnya mengajakku ikut bernyanyi walau aku belum benar-benar dapat bernyanyi saat itu.

Papa begitu menggilai lagu-lagu masterpiece milik grup band legendaris Guns N' Roses yang dinyanyikan oleh sang vokalis Axel Rose itu. Bahkan boleh di bilang hampir sepanjang perjalanan kami, lagu-lagu milik GNR itu terus berkumandang di dalam mobil kami. Hanya sesekali Papa membiarkan Kaa-chan mendengarkan lagu favoritnya.

Memang lagu-lagu mereka begitu membuat kami bersemangat sepanjang perjalanan. Aku pun secara tidak sadar juga mulai ikut menggemari lagu-lagu mereka itu.

Namun lagu terakhir yang kami nyanyikan sebelum aku terlelap di bangku belakang, Don't Cry, seolah menjadi sebuah pertanda akan datangnya mimpi terburukku itu.

Dengan lagu itu seolah-olah papa hendak mengatakan kepadaku untuk jangan menangis, saat mereka berdua harus meninggalkanku seorang diri di dunia yang fana ini.

"Oyasuminasai Ryu-chan." Ujar Kaa-chan sambil mengecup keningku sebelum aku beranjak ke bangku belakang untuk tidur, saat waktu sudah hampir melewati tengah malam.

Sementara Papa hanya mengelus kepalaku sambil tersenyum. Walau tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sentuhan tangan Papa membuatku jadi merasa nyaman.

Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari Kaa-chan. Dan suara pertama yang aku dengar saat aku bangun adalah suara seorang wanita berpakaian putih yang tidak aku kenal sama sekali.

"Kaa-chan? Papa? Mana kaa-chan? Mana papa? KAASAAAANNN!!! PAPAAAAA!!!" Aku yang langsung panik karena melihat wajah yang tidak aku kenali langsung menjerit mwmanggil kedua orang tuaku.

Wanita berpakaian serba putih itu pun dibantu oleh dua orang kawannya berusaha untuk menenangkan diriku.

"Sayang, gak pa-pa. Kakak bukan orang jahat kok. Kakak mau obatin adik dulu. Jangan nangis ya adik sayang." Ujar wanita berpakaian putih yang aku baru kenali bahwa dia seorang suster di rumah sakit.

"Mba siapa? Ini dimana? Mana Kaa-chan? Mana Papa?" Ujarku kepadanya tidak bisa menyembunyikan kepanikanku.

"Iya, adik tenang dulu. Papa ama Mama adik hmm... lagi di obatin dulu ama dokter dulu. Sama, adik juga musti si obatin dulu yah? Tuh, kepalanya ada darahnya tuh, musti cepet di obatin dik." Ujar perawat itu berusaha menenangkanku.

"Ga mau. Aku mau Kaa-chan. Aku mau Papa. KAA-CHAAAANN!!! PAPAA!!!" Aku kembali meronta dan menjerit memanggil Kaa-chan dan Papa.

Beberapa orang suster pun tidak bisa meredakan kepanikanku.

"Cup, cup, cup. Ya udah, adik sama kakak aja yah? Yuk nanti kakak anterin adik ke Mama ama Papanya adik. Tapi adik musti mau di obatin dulu yah ama kakak" Tiba-tiba satu orang perawat muda maju mendekatiku.

Wajahnya yang ayu dan terlihat hangat seolah mampu membiusku. Aku membiarkan diriku di peluk olehnya dengan sangat erat. Tangisku langsung pecah di pelukan suster itu. Sementara tangan lembut sang suster terus mengusapi punggungku.

“Huuuuuuu.... Kaa-chan mana? Papa mana? Aku takut.... huuuuuu”

“Iya adik sayang. Papa sama Mamanya adik lagi di rawat ama dokter dulu yah. Nanti pasti mereka langsung dateng ke sini kok. Sekarang, adik ama mba Nisa aja dulu yah? gak pa-pa kan?” Ujar sang suster muda tersebut kepadaku. Dan anehnya aku pun mengangguk setuju ama ucapan suster tersebut.

Pelukan hangat, dan juga usapan tangan yang lembut di punggungku, membuat otot-ototku serta syaraf-syarafku yang tegang saat aku dilanda kepanikan, langsung mengendur dan membuatku jadi mengantuk hingga tertidur kembali di pelukan mba suster yang baik dan hangat yang bernama mba Nisa itu.

Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat aku mulai terbangun lagi, wajah mba Nisa lah yang pertama aku lihat. Senyuman manis dan hangatnya seolah membiusku.

“Gimana adik sayang? Kepalanya masih sakit gak?” Suara lembut mba Nisa benar-benar membuatku merasakan ketenangan dan kehangatan. Namun aku menjawabnya hanya dengan gelengan kepala ringan ke arahnya. Dan itu sudah cukup membuat senyuman manisnya mengembang dengan lebar.

“Papa mana mba? Kaa-chan mana?” Tanyaku kepada mba Nisa.

“Hmm...itu....yah, papa....sama....mama adik....hmmm....eh, kok adik nyebutnya kaa-chan sih? Kaa-chan itu artinya Mama, bukan?” Mba Nisa terlihat bingung menjawab pertanyaanku itu. Bahkan mba Nisa malah bertanya balik kepadaku.

“Iya, Kaa-chan artinya Mama, mba.”

“Hmm. Itu...bahasa apa sih?” Tanya mba Nisa lagi.

“Bahasa Jepang mba.”

“Oh? Emang Mamanya adik tuh orang Jepang?” Mba Nisa terlihat terkejut mendengar jawabanku.

“Iya, Kaa-chan emang dari Jepang kok mba.”

“Oh gitu? Pasti Mamanya adik cantik yah? Anaknya aja ganteng gini nih. Hihihi.” Ujar mba Nisa benar-benar membuatku merasa nyaman berbicara dengannya.

Pintarnya mba Nisa, dia akhirnya malah bisa mengalihkan perhatianku untuk tidak menanyakan keberadaan Papa dan Kaa-chan lagi. Kami berdua jadi mengobrol dengan cukup lama, sampai akhirnya aku melihat tante Irene dan om Rusdi yang datang menghampiriku.

Tante Irene langsung menangis dengan keras saat melihat wajahku, sebelum ia kemudian berlari menghampiri dan memelukku dengan erat. Air matanya membasahi pipiku, saat ia memelukku.

Namun bukan itu yang membuatku terkejut dan terpana. Melainkan kalimat yang di ucapkan oleh tante Irene di sela-sela gerungan tangisannya.

“Maafin tante Zaki sayang...huuuuu....maafin tante ya sayang. Kaa-chan kamu......papa kamu.....huuuuu....uda gak ada sayang....huuuuuuu”

Saat tante mengucapkan kalimat itu, aku masih belum terlalu paham sebenarnya, maksud dari kata-kata tante Irene. Bahkan aku juga tidak mengerti saat mba Nisa menggenggam keras tanganku, sambil terisak juga.

“Biar tante yang jadi pengganti Kaa-chan kamu buat jadi mama kamu ya sayang. Tante janji, tante akan selalu merawat dan ngelindungin kamu, Zaki sayang. Huuuuuu”

Pengganti? Udah gak ada?

Kata ‘pengganti’ itu bagaikan sebuah kepingan puzzle terakhir di kepalaku. Sekujur tubuhku langsung mengejang kaku. Aku bahkan seolah merasakan darahku langsung berhenti mengalir seketika itu juga. Pandangan mataku kosong dan hampa.

Tangisanku pecah kembali. Air mataku kembali membasahi wajahku.

Kaa-chan.....

Papa....

Ga ada??

Aku....tidak bisa lagi mendengar suara lembut kaa-chan-ku. Aku tidak bisa lagi merasakan perasaan aman dan nyamannya tangan papa saat sedang memelukku.

Semua itu.....di renggut dari kehidupanku dalam sekejap saja.

Hingga akhirnya jeritan itu keluar juga dari mulutku. Jeritan lirih seorang anak yang baru menyadari sudah kehilangan kedua orang tua yang paling di sayanginya dan paling menyayanginya itu, untuk selamanya.

Ledakan emosi yang kuat itu langsung membuatku terbangun dari tidurku secara tiba-tiba. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Nafasku ngos-ngosan. Pikiranku yang masih merasakan trauma berat seolah membuat pikiranku belum bisa mencerna dengan baik keadaan di sekelilingku yang gelap.

“Aku....mimpi....cuma mimpi....haaaahh”

Aku langsung menghempaskan tubuhku lagi ke tempat tidur.

Kapan aku tertidurnya? Perasaan aku sedang membayangkan saat-saat kami sedang berlibur itu, sebelum terjadinya kecelakaan maut.

Aku menghela nafas dengan kuat, dan mengusap-usap dengan cepat wajahku ini, untuk menyadarkan diriku sepenuhnya dari perasaan trauma yang terasa begitu membekas di sekujur jiwaku.

Kaa-chan....

Papa....


o o O o o
*Ai No Katachi by GReeeeN
 
Last edited:
Top