Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

[MISTERI] TELUH PENGASIHAN

Nicefor

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 3, 2019
Messages
112
Reaction score
1,264
Points
93
Cerita yang dikemas dalam bentuk cerita bersambung ini adalah merupakan cerita fiksi belaka. Jika ada nama dan tempat, serta kejadian yang sama, atau mirip terulas dalam cerita ini, itu hanyalah secara kebetulan saja. Bagi para pembaca yang mempunyai saran dan kritik yang membangun (baik dari sisi tampilan, kualitas tulisan, bahasa, dan lain-lain) bisa disampaikan melalui kolom komen yang ada. Pada akhirnya, semoga cerita sederhana ini bisa menghibur para pembaca semuanya.

INDEX:
PART 1
Page 1
PART 2 Page 2
PART 3 Page 4
PART 4 Page 7
PART 5 Page 9
PART 6 Page 10
PART 7 Page 11


----- ooo -----

PART 1

Rahmat masih mengusap pipinya yang merah akibat tamparan keras wanita tersebut. Dia tidak menyangka kalau Desi akan menamparnya, lebih-lebih lagi di depan orang banyak. Rahmat merasa malunya lebih tebal dari rasa pedih di pipinya. Laki-laki yang berusia 27 tahun itu sudah terlalu sakit hati diperlakukan sangat rendah oleh Desi. Rahmat bukan yang pertama kali pipinya mendapat tamparan, tetapi kali ini begitu sangat menyakitkan karena wanita pujaannya itu berkata kata kasar dan menampar mukanya berkali-kali. Saat-saat inilah mulai muncul dendam dalam hati Rahmat kepada Desi.

Sesungguhnya Rahmat sudah cukup lama tertarik pada wanita yang usianya di atas empat tahun darinya itu. Desi yang berusia 31 tahun itu sudah berkeluarga, memiliki suami dengan dua orang anak. Namun Rahmat sangat bernafsu bila melihat wajah Desi yang baginya sangat sensual walaupun tanpa pulasan make-up berlebihan, dan dia tahu di balik pakaian gamis yang selalu dipakainya itu, tersirat tubuh yang mengoda. Rahmat sadar kalau Desi mustahil tertarik padanya karena dia bukanlah pria yang tampan terlebih dia hanya seorang pegawai biasa di kantor Desi bekerja.

Tetapi itu semua tidak menjadi penghalang bagi Rahmat untuk menyukai wanita yang selalu memakai pakaian tertutup tersebut. Bahkan saat bersetubuh dengan para pelacurnya, Rahmat selalu membayangkan Desi sebagai lawan mainnya. Fantasi yang selalu dibayangkan oleh Rahmat saat bersetubuh adalah Desi yang berpakaian seksi, ketat dan singkat, ber-make up tebal, bergincu merah dan berperangai binal. Dan akhirnya Rahmat malah terobsesi untuk memiliki wanita itu karena Desi selalu saja menolaknya.

Rahmat sebenarnya pria yang cukup mapan. Sebelum bekerja di perusahaan swasta ini, ia pernah berkeliling dunia sebagai awak kapal pesiar. Sampai saat ini, Rahmat memilih untuk membujang karena menurut pandangannya lebih bebas. Dan karena seleranya kepada perempuan yang berpenampilan seksi dan binal, hampir setiap minggu Rahmat ‘melancong’ ke tempat pelacuran. Laki-laki itu sanggup menghabiskan malam bersama pelacur-pelacur langganannya.

Uang sebenarnya bukan masalah bagi Rahmat. Dia memiliki warisan yang sangat banyak dari orangtuanya yang setahun lalu meninggal dunia. Belum lagi peninggalan kebun kelapa sawit di kampung halamannya yang berhektar-hektar membuat hidup Rahmat sangat berkecukupan. Pekerjaan Rahmat di perusahaan swasta ini hanya sekedar untuk status semata. Dia bekerja hanya karena tidak ingin disebut pengangguran di kota metropolitan ini.

“Gue gak akan pernah lepasin loe, Desi ... Gue pastiin loe bakal tunduk ama gue nanti.” Bisik hati Rahmat dengan amarahnya yang kian menebal. Terbersit pikiran untuk menculik dan memperkosa wanita itu, namun itu bukan seleranya. Rahmat tidak suka melakukan hubungan seks dengan paksa. Saat sedang berpikir, tiba-tiba dia teringgatkan sesuatu, atau lebih tepatnya, seseorang.

Buru-buru Rahmat mengambil smartphone dari dalam kantung celana lalu mencari nama dalam daftar kenalannya. Jari jemarinya sangat lincah menekan menu kontak di layar smartphone, ia mencari nama seseorang yang telah lama tidak berjumpa. Tak lama sorot matanya tertuju pada sebuah nama, senyum pun mengembang. Rahmat menggeser tombol deal pada ponsel pintarnya, menunggu nada sambugan dari sana.

Hallo ... Mas Bro ... Apakabar ente ...?” Sapa seseorang pada Rahmat.

“Kabar baik, bro ... Loe sehat?” Kata Rahmat.

Sehat ... Ada apa nih ... Tumben nelpon gue ...”

“Gue perlu bantuan dikit ... Anterin ke paranormal yang pernah loe tawarin sama gue.”

Ha ha ha ... Akhirnya loe nyerah juga ... Percaya ama gue deh ... Cinta ditolak, dukun bertindak ...”

“Bukan gitu, bro ... Gue pengen cepet-cepet ngewe dia aja nih ...”

Ha ha ha ... Boleh ... Kapan?

“Besok, gimana?”

Berangkat ....!!!

Setelah berbincang-bincang sebentar, sambungan telepon pun terputus. Rahmat sangat senang bisa menghubungi dan membujuk temannya saat bersama-sama menjadi awak kapal pesiar. Rahmat teringat cerita temannya yang bernama Herman mengenai kehebatan seorang paranormal di daerah pesisir selatan pulau. Sang paranormal memiliki kehebatan dalam ilmu pengasihan. Sebenarnya Rahmat tidaklah begitu mempercayai tentang perkara seperti itu, namun saat ini perlu kiranya dicoba untuk mendapatkan Desi.

“Kalau cara biasa gak mempan ... Boleh juga pake cara halus ... Apa salahnya dicoba.” Rahmat bergumam sendiri sambil mengusap kejantanannya dari luar celana.

Segera saja Rahmat bergerak mengurusi cuti di bagian manajemen perusahaan. Rahmat mengambil cuti tiga hari sehingga ia mempunyai lima hari off kerja karena cutinya dimulai dari hari jumat sedangkan hari sabtu dan minggu memang hari libur. Dengan lima hari off, dirinya akan leluasa melaksanakan niatnya. Ijin pun dikeluarkan pihak perusahaan. Setelah itu, Rahmat meneruskan pekerjaannya sampai jam kerja usai.

###

Di Tempat lain ...

Desi merenung di meja kerjanya, sedikit menyesali apa yang telah ia lakukan pada Rahmat. Desi tidak menyangka kalau laki-laki itu berani merabai bokongnya. Selama ini, ia bisa menahan banyolan-banyolan Rahmat yang terkadang ‘jorok’. Namun kali ini sangat diluar dugaan, laki-laki itu sangat kurang ajar karena berani meraba dan meremas bokong. Desi yang sudah habis kesabarannya menampar muka dan memaki-maki laki-laki itu di depan umum. Bila dipikir balik, Desi merasa menyesal juga karena bertindak kasar pada Rahmat. Namun demi maruahnya, dia terpaksa juga bertindak.

Desi sudah lama menahan kesal atas perbuatan Rahmat yang tiada henti menggodanya. Desi tidak mungkin melayani Rahmat sementara ia berstatus istri dengan dua orang anak. Dia memiliki keluarga yang sangat bahagia. Suami Desi adalah seorang pegawai BUMN yang sangat mencintainya. Kehidupan keluarganya tenang dan penuh kasih sayang. Betapa pun kesal tidak pernah terjadi percekcokan, semua diselesaikan secara baik-baik.

Desi yang telah berusia 31 tahun memang memiliki wajah cantik dan menarik. Bahkan ada yang menganggap kecantikannya bertambah seiring dengan bertambah usianya. Desi yang berpenampilan muslimah memang menjadi perhatian siapa saja. Perangainya anggun dan juga tenang setenang air. Jarang mengumbar kata, hanya bicara seperlunya. Tidak terlalu jauh kalau dikatakan Desi lebih sesuai menjadi seorang model atau pun artis sinetron dengan rupa paras yang dimiliknya.

Desi sendiri sebenarnya lebih menyukai penampilan yang sesuai dengan statusnya sebagai muslimah dan isteri orang. Dia lebih suka mengenakan baju yang labuh, lebar, untuk menutup segala lekuk tubuhnya. Baginya, hanya suaminya saja yang boleh mengetahui bentuk badannya. Jilbab memang sentiasa di kepalanya, baik jilbab instant mahupun jilbab labuh. Wajahnya bersih dari pulasan make up, kalau ada pun hanya sekedar bedak tipis dan sedikit lapisan lipstik pink tipis, cukup sekedar untuk menghilangkan kumal di wajahnya.

Desi bangkit dari meja kerjanya, jam telah menunjukan waktu pulang kerja. Wanita itu segera menuju ruangan kerja Rahmat namun laki-laki yang dicarinya telah pulang. Dengan perasaan menyesal Desi keluar dari ruangan kerja Rahmat. Sepatutnya dia harus lebih bersabar tadi. “Aku harus meminta maaf kepada orang itu kalau ketemu dia nanti,” Pikir Desi dalam hati.

Keesokan harinya, Desi mencari Rahmat lagi untuk memohon maaf atas perbuatannya kemarin. Malangnya, Desi mendapatkan kabar kalau Rahmat telah mengambil cuti selama 3 hari. Terdetik rasa risau dalam hati Desi, mungkinkah orang itu sakit hati akibat perbuatannya kemarin. Rasa berdosa mulai menghantui perasaannya. Sepanjang hari dia gelisah, risau dengan keadaan Rahmat. Dia berharap orang itu cepat kembali bekerja selepas cutinya, supaya dia bisa memohon maaf.

###


Di Tempat Lain ...

Malam yang kian pekat terus dilalui mobil yang ditumpangi. Kabut juga kian kental menutup pandangan. Curahan sinar lampu mobil sedikit terhambat sehingga keremangan malam kian memperlihatkan kesombongannya. Deru mesin mobil terus bernyanyi seiring berputarnya roda. Tidak lama, Rahmat dan Herman sampai di tujuan. Sebuah desa yang sangat terdalam letaknya dengan infrastruktur terutama jalan yang sangat parah.

Sebuah rumah berukuran sedang bertingkat dua berdiri di pinggir jalan tempat mobil terparkir, di sampingnya ada sebuah surau. Kedua bangunan ini berwarna hijau muda sebagai pemanis. Keramik yang berwarna putih mengkilat menawarkan sapaan, yang juga menggambarkan pemiliknya selalu menawarkan kebersihan. Bergegas Rahmat dan Herman ke rumah tersebut dan tanpa ragu mengetuk pintu walau hari telah menjelang subuh. Tak seberapa lama pintu pun terbuka.

“Aeh ... Jang Herman ... Masuk ... Masuk ...!” Ucap laki-laki setengah baya sembari membuka lebar-lebar pintu rumahnya.

“Sehat Abah?” Sapa Herman kepada si pemilik rumah.

“Sehat ... Kemana saja Jang Herman teh ... Lama sekali gak ke sini ...” Ucap laki-laki setengah baya sembari menerima jabatan tangan Rahmat. Kemudian mereka duduk di kursi tamu.

“Sibuk abah ... Ini juga ke sini karena diminta teman saya ...” Jawab Herman sambil memberikan kode pada Rahmat.

“Nama saya Rahmat, abah ... Saya ada perlu sama abah.” Kata Rahmat dengan memberikan dua bungkus rokok kretek kesukaan tuan rumah.

“He he he ... Pastilah gak jauh-jauh masalah awewe ...” Laki-laki paruh baya itu sudah mencium gelagat.

Sebuah perbincangan ringan seputar dunia kerja mengawali obrolan mereka. Lambat laun mereka bertiga pun terhanyut ke dalam gelak tawa. Perbincangan-perbincangan seru pun mulai berkembang. Sampai pada akhirnya Rahmat mengutarakan niatannya menemui si pemilik rumah yang bernama Abah Yayan. Tak lama, Rahmat mengikut Abah Yayan, menuju ke sebuah ruangan di ujung tingkat dua rumah itu. Setelah sampai di depan ruangan itu, Abah Yayan berhenti sejenak, mulutnya kumat-kamit membacakan sesuatu, sebelum menghembuskan nafas ke kiri dan ke kanan bahunya. Setelah itu barulah dia membuka pintu dan mempersilahkan Rahmat masuk ke dalam.

Melangkah masuk ke ruangan itu, bulu kuduk Rahmat berdiri. Ruangan itu kosong, hanya berisikan sebidang tikar di lantai, dan ada sebuah meja kecil yang menempatkan sebuah patung berbentuk satu makhluk aneh. Di hadapan patung itu kelihatan juga bekas kemenyan yang masih berasap. Di dinding terlihat juga beberapa bingkai gambar yang mengandungi tulisan bahasa aneh, yang kelihatan seperti bahasa Sansekerta.

“Duduklah!” Perintah Abah Yayan, sambil dia sendiri duduk selepas mengambil bekas kemenyan yang tadinya berada di depan patung di atas meja. Rahmat pun duduk mengadap Abah Yayan. Kembali paranormal setengah baya itu komat kamit sambil menutup matanya dan sesekali meniup kemenyan.

“Hhhhmm ... Abah udah liat perempuan yang kamu mau ... Agak sulit Jang Rahmat ... Perempuan ini kuat agamanya ...” Abah Yayan mulai bicara pelan-pelan sambil memperhatikan riak wajah Rahmat.

“Tolong lah abah ... Berapa pun saya bayar ...” Pinta Rahmat memelas.

“Bukannya gak boleh ... Tapi susah ... Niat Jang Rahmat ini sangat beresiko karena perempuan itu bini orang ... Kalau tiba-tiba perempuan itu memang tergila-gila sama Jang Rahmat, gimana kalau suaminya tau?” Ucap Abah Yayan.

“Saya gak peduli abah ... Saya cuma ingin perempuan tergila-gila sama saya ...” Jawab Rahmat tegas tanpa ragu.

“Baiklah ... Abah cuma menjalani keinginan Jang Rahmat saja ... Segala resiko Jang Rahmat tanggung sendiri ...” Kata Abah Yayan yang dijawab langsung dengan anggukan kepala Rahmat.

Abah Yayan memulai ritualnya dengan membaca mantra. Harum asap kemenyan memenuhi ruangan itu. Keheningan yang awalnya biasa saja, perlahan dihiasi dengan desau angin yang entah datang dari mana. Angin semakin besar, menerpa tubuh keduanya dari segala sisi. Tiba-tiba terasa aura mistis yang sangat kuat dalam ruangan itu. Saat itu pula mata Abah Yayan terbuka.

“Harus sedikit-sedikit untuk menaklukan perempuan itu Jang ... Kita harus pelan-pelan, tidak bisa langsung ...” Kata Abah Yayan yang suaranya agak berubah.

“Maksud abah gimana?” Tanya Rahmat heran.

“Perempuan itu harus rusak dulu, meninggalkan agamanya. Setelah itu, barulah Jang Rahmat bisa menguasainya ...” Jelas Abah Yayan.

“Saya ikut abah saja ...” Respon Rahmat.

“Kalau Jang Rahmat setuju, harus sepenuh hati, jangan setengah-setengah ... Karena kalau sudah dimulai tidak bisa dicabut lagi ...” Jelas Abah Yayan lagi.

“Aku gak pernah setengah-setengah abah ... Apapun akan saya lakukan demi perempuan itu ...” Tekad Rahmat sangat bulat.

“Dengarkan baik-baik! Cari tiga benda yang pertama segenggam tanah kuburan bayi perempuan yang tidak boleh lebih dari seminggu. Kedua, tiga ekor ayam jantan hitam dan yang terakhir pakaian si perempuan yang sudah kena keringatnya, apa saja yang penting sudah terkena keringat dia.” Jelas Abah Yayan lagi.

“Siap abah ... saya akan persiapkan ...” Tandas Rahmat bersemangat.

“Persiapkan benda-benda itu saat bulan purnama ... Berarti tinggal empat hari lagi dari sekarang ... Kalau lewat dari itu berarti Jang Rahmat harus menunggu bulan purnama berikutnya ...” Ucap Abah Yayan sembari berdiri dan mengajak Rahmat keluar Ruangan.

“Ya abah ... Saya usahakan secepatnya ...” Jawab Rahmat.

Abah Yayan dan Rahmat kembali ke lantai satu rumah bergabung dengan Herman. Tak lama Rahmat dan Herman di rumah paranormal tersebut. Keduanya langsung berpamitan kepada Abah Yayan setelah memberi sejumlah uang kepadanya. Sepanjang perjalanan Rahmat banyak berdiam diri. Pikirannya terus merencanakan untuk menyediakan semua benda yang diperlukan oleh Abah Yayan, terutama benda yang ketiga yaitu pakaian Desi yang terkena keringatnya.

###

Rahmat seperti dinaungi dewi fortuna dalam mengumpulkan barang-barang yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginannya. Sehari setelah kepulangan dari tempat Abah Yayan, ia mendapatkan kabar ada bayi perempuan meninggal di wilayah tempat tinggalnya. Pada malam harinya, Rahmat mengambil tanah kuburan dengan sukses. Barang kedua berupa tiga ekor ayam jantan berbulu hitam tak sulit mendapatkannya. Rahmat dapat membelinya di masyarakat yang memiliki ayam tersebut. Barang ketiga, Rahmat berhasil mencuri sapu tangan Desi di meja kerjanya, itu pun Rahmat menyuruh seorang temannya.

Setelah terkumpul barang-barang yang disyaratkan, cepat-cepat Rahmat meluncur ke tempat kediaman Abah Yayan karena malam ini adalah malam bulan purnama. Rahmat tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Dengan semangat sangat tinggi, Rahmat memacu kendaraannya selama enam jam perjalanan tanpa henti, takut malam purnama terlewatinya. Beruntunglah laki-laki itu, saat sampai di rumah Abah Yayan jam menunjukkan 23.30 malam.

“He he he ... Jang Rahmat memang bersungguh-sungguh mendapatkan perempuan itu ... Baru empat hari sudah membawa persyaratannya ...” Kata Abah Yayan sambil tersenyum saat Rahmat membuka semua barang-barang ritualnya. Seperti kali pertama dia datang, Rahmat diminta masuk ke ruangan ritual, duduk bersila menghadap paranormal itu.

“Semua barang sudah ada ... Abah ingin Jang Rahmat berpikir lagi sebelum abah memulainya ... Kalau abah sudah mulai, Jang Rahmat tidak boleh berhenti di tengah jalan, paham?” Tanya Abah Yayan sangat serius.

“Saya paham abah ... Saya beli semua resikonya ...” Jawab Rahmat tenang dan yakin.

“Baiklah ... Kita mulai ...!” Abah Yayan memulai ritualnya dengan membaca sebuah mantra berbahasa Sunda Kuno pelan-pelan.

Rahmat menduga Abah Yayan tengah berkomunikasi entah dengan siapa. Suasana menjadi mencekam saat Abah Yayan membaca mantra dengan keras, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang. Semilir bau kemenyan yang menyengat pun ikut memberikan suasana mistis yang kuat. Ayam jantan berbulu hitam satu per satu disembelih, dikeluarkan darahnya yang dituangkan dalam sebuah baskom besar. Tak lama, Abah Yayan memasukan tanah kuburan dan sapu tangan ke dalam baskom berisi darah ayam tersebut. Beberapa menit berselang, keluar api dari baskom tersebut membakar semua material yang ada di sana. Lama kelamaan api membesar namun kemudian mengecil dan terus mengecil. Rahmat melihat kejadian tersebut dengan mata jarang berkedip, terlebih saat api itu hilang, matanya membulat sempurna karena apa yang dilihat di baskom adalah sebuah boneka kecil sebesar kelingking. Selain boneka, ada juga jarum dan sebongkah besar batu kemenyan. Semua kejadian ajaib itu tidak luput dari matanya.

“Ini semua adalah benda-benda yang harus Jang Rahmat pergunakan ... Setiap tengah malam Jang Rahmat harus melakukan ritual ...” Ucap Abah Yayan kemudian menjelaskan cara-cara ritual yang harus Rahmat kerjakan setiap malam selama tujuh malam berturut-turut. Tidak lupa Abah Yayan mengajari Rahmat sebuah mantra pendek yang langsung bisa Rahmat hapal saat itu juga.

“Bagus ... Bagus ... Sekarang abah mau ngasih hadiah untukmu ...” Ucap Abah Yayan sambil manggut-manggut.

“Hadiah apa abah?” Tanya Rahmat penasaran. Wajahnya menunjukkan riak risau, memandang tepat ke arah Abah Yayan.

“He he he ... Jangan banyak tanya ... Banun dan buka celanamu ...” Abah Yayan terkekeh melihat riak wajah Rahmat itu.

Rahmat terkejut mendengan perintah paranormal itu. Selama ini, dia tidak pernah berbugil di depan laki-laki lain. Rahmat bingung dengan apa yang akan diperbuat paranormal ini, terdetik rasa curiga dalam hati Rahmat. Namun dia tetap bangun, melorotkan celana panjangnya ke bawah, dan kemudian celana dalamnya juga. Sekarang Rahmat sudah separuh bugil, mempertontonkan batang penisnya yang masih mengkerut dihadapan paranormal tersebut.

Abah Yayan mengambil sesuatu dari kotak yang terletak di sisinya. Sirih yang sudah dilipat, berisi sesuatu di dalamnya. Abah Yayan memasukkan sirih tersebut dalam mulutnya, mengunyah, sambil mulutnya berkomat-kamit membacakan sesuatu, mantra, dalam bahasa Sunda Kuno. Tiba-tiba Abah Yayan meludahkan isi mulutnya ke arah batang penis Rahmat. Sontak, Rahmat terkejut dengan perbuatan paranormal tersebut. Seluruh bagian batang penisnya diseliputi dengan sisa-sisa sirih yang berwarna merah kekuningan, hasil semburan Abah Yayan. Serta merta Rahmat merasakan penisnya panas, seolah-olah seperti direndam dalam air panas. Mukanya berkerut kesakitan.

“Tahan ... Sebentar lagi hilang panasnya ...” Kata Abah Yayan yang melihat perubahan wajah Rahmat.

Selang beberapa saat, seperti yang diomongkan oleh Abah Yayan, kepanasan yang dirasai oleh Rahmat mulai mereda, tetapi yang lebih memeranjatkan Rahmat adalah semua sisa-sisa sirih tadi turut hilang, langsung tiada bersisa di batang penisnya.

“Abah ... Buat apa tadi?” Tanya Rahmat, masih dalam keadaan terkejut dan keheranan.

“Nanti juga Jang Rahmat akan tau ... Kalau ada waktu, boleh dites kontolmu itu. He he he ...” Jawab Abah Rahmat, sambil tertawa kecil. Rahmat pun hanya mengangguk kecil.

Singkat cerita, Rahmat pun pulang dengan barang-barang serta mantra hasil ritual. Rahmat teringat kalau dirinya harus melakukan ritual sendiri sesuai ajaran Abah Yayan selama tujuh malam berturut-turut. Kendaraan melaju sangat kencang, kembali ke kota tempat tinggalnya. Rahmat berkendara tanpa lelah hingga enam jam telah terlampaui. Pancaran sinar matahari pagi menyambut kedatangan Rahmat di rumahnya. Saking lelahnya, Rahmat langsung tertidur sangat pulas.

###

Rahmat terbangun karena mendengar suara sayup yang memanggil-manggil namanya serta ketukan pintu. Dengan agak malas-malasan, Rahmat bangkit dari tempat tidur, terus langsung menuju pintu depan rumah. Setelah pintu terbuka, Rahmat menghela nafas kesal karena orang yang membangunkan tidurnya adalah tetangganya yang sering meminjam uang tanpa membayar.

“Ada apa Mbak Sumi ...?” Tanya Rahmat lesu.

“De maaf ... Mbak mau pinjem uang lagi ...” Kata wanita yang memakai daster belahan rendah yang membuat mata Rahmat sedikit lebih fokus saat melihat payudara di balik kutang lusuh Sumi. Pikiran mesum langsung bermunculan di kepala Rahmat.

“Yang kemarin aja belum bayar ...” Kata Rahmat tahan harga.

“Ya nanti sekalian mbak lunasi, sekarang darurat sekali ...” Sahut si wanita mulai salah tingkah.

“Hhhhmm ... Masuk dulu ...” Pinta Rahmat sembari membiarkan wanita itu masuk lalu menutup pintu.

“Berapa mbak mau pinjemnya?” Tanya Rahmat sesaat setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.

“200 ribu, De ...” Jawabnya lirih.

“Aku mau ngasih pinjem ... Tapi ada syaratnya ...” Rahmat mulai mengeluarkan akal bulusnya.

“Apa syaratnya?” Suara si wanita sangat menggoda kelelakian Rahmat. Gelanyar hasrat di tubuhnya yang membuat darah Rahmat mendesir.

“Syaratnya ... Tetek mbak aku pegang-pegang selama lima menit ...” Ucap Rahmat.

“Ihk ....!” Sumi terperanjat sembari menutup dadanya dengan tangan.

“He he he ... Gak usah pinjem deh ... Aku akan beri cuma-cuma kalau mbak Sumi mau teteknya aku pegang.” Ucap Rahmat santai. Wanita itu memandang sejenak kepadanya. ”Nih uangnya ... Aku tambahin 50 ribu ...” Goda Rahmat. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, dengan sedikit keraguan akhirnya mengambil uang yang Rahmat letakkan di meja lalu memasukannya ke dalam saku daster.

Rahmat tersenyum penuh kemenangan. Langsung saja menarik tangan si wanita untuk duduk di sampingnya. Kemudian tangan kanannya mulai meraba payudaranya. Si pemilik payudara memejamkan mata karena risih. Baru pertama kali ada pria yang menyentuh payudaranya selain suaminya. Tanpa disadari sebelumnya, usapan dan remasan tangan Rahmat di payudara itu menimbulkan getaran-getaran syahwat yang membakar birahi Sumi. Beberapa menit berselang, wanita yang berusia 33 tahun itu mulai menikmati remasan Rahmat.

Sumi akhirnya terhanyut oleh permainan Rahmat malah kini merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala di dalam tubuhnya. Rahmat mendekatkan wajahnya, bibir tebalnya menyentuh lembut bibir Sumi yang kemerah-merahan dan lembut. Sumi pasrah, menikmati lumatan lembut dari Rahmat yang tengah mengulum bibirnya. Sumi bahkan membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah Rahmat masuk ke dalam mulutnya, menjamah bagian dalam mulutnya, membelit lidahnya dengan mesra seperti sepasang ular yang tengah memadu kasih. Kedua tangan Rahmat kini bergerak ke bawah membelai setiap jengkal tubuh Sumi, ia menyentuh dan membelai bongkahan pantat Sumi yang terasa kenyal dan padat.

“Eehmmpss…. Hmmmpss…” Suara lenguhan Sumi saat tangan Rahmat meremas dengan lembut bongkahan pantatnya. Rahmat melepaskan ciumannya.

“Kutambah 300 ribu kalau mbak mau ngewe denganku.” Bisik Rahmat tak tanggung-tanggung. Sumi yang mendengarnya seperti dilecut semangatnya. Wanita itu kini bukan menginginkan uang Rahmat saja tapi lebih dari itu, Sumi sudah sangat terangsang dan memang ingin melakukannya.

Wanita yang sudah lupa jati dirinya itu secara perlahan mulai bergerak turun ke bawah, berlutut di hadapan Rahmat. Jemari lembutnya mulai membelai tonjolan yang ada di celana Rahmat. Dengan perlahan jemari lentik itu membuka pengait celana Rahmat. Lalu perlahan Sumi menarik turun celana bersama celana dalamnya. Sedetik kemudian, batang penis Rahmat melompat keluar dari dalam sarangnya, terpampang di hadapan Sumi baru setengah ereksi.

Tangan Sumi meremas, mengusap lembut batang penis yang berada di depan mukannya, sambil lidahnya mulai menjilat batang penis itu, dari pangkal hingga ke kepala, kemudian turun kembali hingga ke kantung telur. Sesekali dia memasukkan kepala penis lelaki itu ke dalam mulutnya, hanya ujung saja, untuk mengoda, mengusik penis tersebut. Penis Rahmat semakin membesar, mengeras, dan terus membesar, jauh lebih besar lagi, sehingga kepala penis itu hampir tidak muat untuk memasuki mulutnya. Ini kali pertama Sumi mengalaminya, dan dia sedikit terkejut.

“Gede banget ....” Lirihnya di sela mempermainkan penis Rahmat.

Rahmat sendiri sangat terkejut dengan perubahan batang penisnya itu. Tidak ada yang berbeda ketika penisnya dalam keadaan separuh keras, namun apabila mengeras, batang penisya bertambah panjang, hampir 5 sentimeter dari ukuran batang penisnya sebelum ini. Bukan hanya panjang, malah lebih tebal sampai-sampai jemari mungil Sumi tak mampu menggenggamnya. Rahmat akhirnya paham apa yang dimaksudkan oleh Abah Yayan, hadiah untuk dirinya. Rahmat tersenyum gembira, sebelum menarik tubuh Sumi yang sedang asik memasukkan batang penis Rahmat ke dalam mulutnya.

Rahmat merebahkan Sumi terduduk di atas sofa sementara dirinya berlutut persis di depan wanita yang telah kerasukan setan birahi itu. Tangan Rahmat menarik celana dalam Sumi dan dengan bantuan pahanya yang bergerak naik maka dengan mudah melepaskan celana dalam tersebut. Maka terpampanglah lembah keramat milik Sumi di hadapan mata Rahmat. Rahmat pun mulai mengarahkan penis besarnya, mendekat liang vagina Sumi, dan semakin mendekat.

“Aahh ...!” Pekik Sumi. Rahmat tersenyum dan terus mendesakkan penis besarnya ke dalam vagina Sumi sambil menikmati jepitan otot otot Sumi.

“Oohh .... oohh ... oohh...” Erang Sumi. Rahmat pun mulai dengan goyangan saktinya, mendorong dan menarik, membuat tubuh Sumi mengelinjang dan mulutnya mendesah-desah. Gerakan Rahmat pun semakin cepat, dan Sumi semakin menikmati gerakan Rahmat.

Terdengar erangan Sumi menahan derita birahinya saat Rahmat menggoyangkan penis besarnya di liang vagina Sumi. Rahmat sangat bersemangat menggenjotkan tubuhnya, menusuk-nusukan penisnya ke liang vagina Sumi. Bibir vagina Sumi sampai ikut tertarik ked alam dan keluar mengikuti gerakan penis besar itu. Rahmat mulai mempercepat goyanganya, tak lama Sumi sudah mengangkat pinggulnya ke atas dan kemudian mengejang.

“Aaaahh ... aku gak kuat lagi ... ooooooohhhhhh ...!!!” Erang Sumi. Rahmat semakin mempercepat gerakkannya dan Sumi menjerit sambil tangannya mencengkram kuat sofa. Tubuhnya mengejang lagi dan Sumi mendapat orgasmenya. Tubuhnya lemas dan tersungkur di sofa itu. Rahmat membelai-belai rambut halus Sumi.

“Aahh ... enak banget ...” Desah Sumi pelan.

Sesaat kemudian, setelah tenaga Sumi pulih, kembali mereka bergumul. Rahmat duduk di atas sofa sementara Sumi duduk mengangkang di hadapannya sambil memeluk tubuh Rahmat. Pinggul Sumi bergoyang yang disambut dengan goyangan Rahmat di bawah. Mulut Rahmat pun menyedot puting susu Sumi yang membuat Sumi semakin kenikmatan.

“Aahh ... aahh ... aahh ...” Suara Sumi terus mendesah nikmat. Sepuluh menit kemudian Sumi pun kembali mengejang dalam kenikmatan. Rahmat tetap memeluknya dengan erat dan terus menggoyang pinggulnya yang membuat tubuh Sumi mengelinjang menahan nikmat dan ngilu. Rahmat terus menggoyang, hingga mencapai puncak kenikmatannya. Sperma Rahmat meluncur, menyiram liang vagina Sumi. Dan kedua mahluk itu saling terpuaskan.

BERSAMBUNG

Cerita ini alon-alon asal kelakon ...
Terima kasih atas segala perhatian ...
Dapat menghibur adalah harapan ...
Maaf bila ada kekurangan dan kesalahan ...
Jangan lupa kritik dan saran ...
Selalu jaga kesehatan ...
 
Last edited:

Panglima_Cicak

Panglima Tempur
Moderator
Joined
Sep 30, 2019
Messages
2,405
Reaction score
11,165
Points
113
Location
Kota Cete
Last edited:

Darkoffside

Anak GoCrot
Joined
Oct 8, 2019
Messages
218
Reaction score
990
Points
93
Sdh duluan hadir iki kangmas panglima cicak
 

Mbuhwes

Anak GoCrot
Joined
Oct 1, 2019
Messages
386
Reaction score
2,431
Points
93
Makasih jeweran nya bang..
Untung masih dapet jatah mejeng di pejwan..
 

bajul_kesupen

BAYI BAJUL
Joined
Oct 1, 2019
Messages
251
Reaction score
2,016
Points
93
Hadir panglima.

Makasih cerita barunya suhu @Nicefor

:ampun::ampun::ampun:
 

Penthoel_11

Anak GoCrot
Joined
Oct 2, 2019
Messages
144
Reaction score
1,121
Points
93

Hadiiirrrr....
 

virangle

TUKANG CILOK
Joined
Oct 16, 2019
Messages
604
Reaction score
2,567
Points
93
Location
Belakang Mekdi
Jujur suhu Nicefor bagus banget ceritanya yang dibuat selalu TOP dah.. Cuma sayang ada kekurangan suhu.. Mulustrasi dikasih donk.. Hiks
Dari jaman majapahit itu namanya masih majamanis, sampe sekarangpun Subes satu ini masih bingung untuk upload gambar.

Pakde numpang dagang cangcimen di pejwan ah. Mumpung ada menu baru.

"Teluh asin, teluh dadar, teluh ceplok"
 
Top