Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

LAST PROMISE 2 (THE SECRET)

Gugur_Setetes

Balita GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
81
Reaction score
819
Points
83
Location
ryan9933
Rahasia, setiap manusia pasti mempunyai suatu rahasia. Baik itu rahasian yang di rahasiakan diri sendiri, ataupun sebuah rahasia yang tidak dia mengerti namun ada yang mengerti.

Rahasia tetaplah akan menjadi sebuah rahasia, sampai yang mengetahuinya mengungkap akan rahasia itu.




The Secret, coretan kisah fiksi dari penulis yang masih belajar.

Mungkin akan mengecewakan, tapi tidak ada salahnya untuk di baca.

Selamat menikmati cerita yang apa adanya ini.

•>

•>


Index :

Part 0 : Prolog [Page 1]

Part 1 : Kehangatan Malam
Part 2 : Hari Pertama Di Kota
Part 3 : Diantara Mereka
Part 4 : Kawan Dan Lawan
Part 5 : Cerita Masa Lalu
Part 6 : Hukuman Dari Wanita Penggoda
Part 7 : Kebohongan & Hinaan
Part 8 : Melebihi Manusia Biasa


•>

•>
 
Last edited:

Gugur_Setetes

Balita GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
81
Reaction score
819
Points
83
Location
ryan9933
-PROLOG-





Angga Riyan Yudistira

Pov Riyan.



Yatim piatu, julukan itu yang aku sandang sedari kecil. Kedua orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari tempat kerja mereka. Mobil yang mereka kendarai, hancur berkeping-keping setelah di tabrak sebuah truk tronton. Kedua orangtuaku tewas di tempat kejadian karena luka yang begitu parah.

Saat kedua orangtuaku meninggal, usiaku baru sepuluh bulan. Cerita tentang kejadian yang menimpa kedua orangtuaku, semua aku dengar dari kakek dan nenekku yang merawatku sejak kepergian kedua orangtua ku.

Kakek dan nenek ku yang tidak lain adalah orangtua ibuku, merekalah yang merawatku dari kecil sampai sekarang. Di sebuah desa yang cukup jauh dari keramain kota, mereka merawatku dan mendidikku dengan begitu baik. Namun sayang, kini aku tidak lagi dapat merasakan kasih sayang baik dari kakek ataupun dari nenekku.

Tepat tiga tahun yang lalu, kakek meninggal karena memang sudah berumur, dan hari ini tepat di mana aku lulus dari SMA, nenekku menyusul kakek ke surga. Kini tinggal aku sendiri sebatang kara menjalani hidup, meski kata nenek aku masih punya keluarga dari Ayahku, tapi keberadaan dan keadaan mereka aku sama sekali tidak mengetahuinya.

“Hei kampret jangan bengong, kesambet setan alas kamu nanti!” seru suara yang begitu aku kenal terdengar menyapaku dari arah belakangku.

Setelah acara pemakaman nenekku dan tahlilan selesai, semua orang yang tadi ramai di rumahku, kini sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini aku yang hanya sendirian di rumah cuma bisa berdiam sendiri sambil mengingat setiap kenangan dengan kakek maupun nenekku.

“Kamu to Gus, aku kira siapa!” kataku saat aku menoleh kebelakang dan mendapati Bagus, temanku dari kecil sedang berdiri di belakangku.

“Sedih ya sedih, tapi ya jangan terus-terusan ngelamun, yang ikhlas. Si mbahmu itu sudah bahagia berkumpul dengan kakekmu di surga sana” tutur Bagus sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Aku memang sedih Gus, namun sejujurnya aku sudah ikhlas melepas kepergian nenekku” jawabku.

“Lah, terus kenapa dari tadi kamu diam saja, mirip kebo berendam?.Kalau memang ada yang membebani fikiran kamu, cerita saja ke aku, siapa tau aku bisa bantu kasih solusi!” kata Bagus.

“Haahh” sejenak aku menarik nafas panjang. “Kamu tau kan kemarin kita baru saja lulus SMA, dan kamu tau juga kemarin nenek aku meninggal. Jujur Gus, aku sekarang bingung mau nentuin apa yang harus aku lakuin kedepannya. Keluarga sudah gak punya, saat ini pikiranku benar-benar buntu!” ungkapku.

“Orang sepintar kamu, yang mendapat nilai ujian nasional terbaik seluruh negeri masih bisa bingung gara-gara itu!. Ayolah Riyan, tuh sudah ada tiga universitas ternama ngerebutin kamu buat jadi mahasiswa mereka, bahkan mereka menjamin beasiswa kamu sampai lulus. Coba apa lagi yang membuatmu bingung?” tanya Bagus.

“Bukan masalah milih universitas mana yang saat ini membuat aku bingung, Gus!” jawabku.

“Lah kalo bukan itu, terus apa yang membuat kamu bingung?”.

“Aku tuh bingung, seandainya aku nanti lanjut kuliah, siapa yang bakalan ngurus rumah dan semua ternak peninggalan nenek. Sedangkan kamu tau kan ketiga universitas besar itu ada di ibu kota yang tempatnya sangat jauh dari desa ini!. Jadi mana mungkin aku bisa pulang pergi langsung dari rumah ke kampus!”.

“Itu yang kamu bingungin!. Kalo itusih masalah seoele Yan. Begini saranku, soal ternak, mungkin kamu bisa menjualnya, ya hitung-hitung untuk biaya tambahan kuliah kamu. Kalau soal rumah sih!”.

“Biar Pakde yang jagain dan ngerawat ini rumah, Yan!” suara serak seorang laki-laki terdengar dari arah belakangku dan Bagus.

“Loh Bapak!” sapa Bagus ke ayahnya, saat dia menoleh ke arah belakang dan mendapati ayahnya berjalan menuju ke arah kami.

“Maksut perkataan Pakde mau jagain rumah ini tuh gimana ya?. Kalau di suruh bayar, aku yo gak mungkin mampu!” tanyaku ke Pakde Joko, ayahnya Bagus.

“Iyo iku, maksutnya bapak apa tadi coba, mau jagain rumah segala!” imbuh Bagus.

“Begini-begini, Riyan kamu kan mau kuliah jauh, ternak-ternak peninggalan nenek kamu lebih baik kamu jual, terus ituh kandang ternak kosong kan, nah itu nanti Pakde sewa buat tempat ternak Pakde. Nah sebagai biaya sewa, Pakde akan ngerawat rumah ini sebaik mungkin. Lagian, simbah kamu itu sudah Pakde anggap orangtua sendiri, dan kamu itu juga sudah Pakde anggap anak. Tanpa si mbah kamu yang dulu memberi modal Pakde untuk bikin peternakan, mungkin Pakde cuma jadi buruh serabutan yang hidup serba kekurangan. Ya, mungkin dengan menjaga rumah ini, Pakde bisa sedikit membalas jasa si mbah kamu” tutur Pakde Joko.

“Tuh kan beres masalah kamu, sekarang kamu tinggal siapin semua keperluan kamu untuk kuliah!” kata Bagus yang justru terlihat begitu bersemangat.

“Wes-wes, besok-besok saja di siapin keperluannya!. Sekarang kamu istirahat saja, biar Pakde sama Bagus malam ini nginap sini nemanin kamu” kata Pakde Joko.

“Tidur bertiga saja Pakde, di ruang tengah. Nanti di gelar karpet di sana!” usulku.

“Yo wes, kamu ambil bantal dulu sana, biar Bagus sama Pakde yang gelar karpetnya!”.

“Siap Pakde” jawabku seraya aku segera berjalan ke arah kamarku.

Di kamarku cuma ada dua bantal, dan tidak ada guling. Kurang satu bantal lagi, tidak ada salahnya juga kalo aku mengambil satu lagi bantal di kamar nenekku, biar semua tidak tidur cuma beralas karpet.

Setelah aku memberikan dua bantal ke Bagus dan ayahnya, aku-pun bergegas berjalan menuju kamar nenek. Di dalam kamar nenek, sejenak aku mengamati kamarnya. Sama sekali tidak ada yang berubah dari kamar nenekku, semua masih sama dan tertata rapi. Namun, saat aku sudah mengambil sebuah bantal dan hendak keluar, aku melihat sesuatu di atas meja kecil yang biasanya nenek gunakan untuk menaruh gelas air minum. Sebuah kotak yang terbuat dari kayud dengan sebuah amplop berwarna coklat tepat berada di atasnya, kedua benda itu yang aku lihat tersusun begitu rapi di atas meja.

Rasa penasaranku tiba-tiba timbul. Aku urungkan niatku keluar kamar nenek, dan segera aku mengambil kotak beserta amplopnya. Dengan duduk di atas ranjang, aku mulai melihat-lihat kotak dan amplop yang sepertinya berisi sebuah surat.

Dengan rasa penasaranku, aku membuka dan melihat isi dari amplop coklat. Secarik kertas dengan tulisan yang sekali melihatnya aku sudah begitu yakin itu tulisan nenekku. Tanpa berlama-lama aku membaca isi tulisan yang hanya beberapa baris itu.

~<>~

Tidak banyak yang bisa nenek tulis untuk kamu, Riyan cucu nenek. Nenek cuma bisa berpesan, jadilah orang yang baik dan penyabar. Tolonglah orang yang membutuhkan, dan jauhi setiap keburukan.

Saat kamu baca surat ini, ada sebuah kotak tepat di bawah nenek meletakkan surat ini. Ambillah dan pergunakan isi kotak itu sebaik mungkin. Isi kotak itu adalah seluruh warisan dari mendiang kedua orangtuamu.

Seperti nenek bilang di awal kalau nenekmu ini tidak bisa banyak menulis. Cuma itu pesan yang bisa nenek kasih untuk kamu. Jangan sedih, nenek sudah bahagia dengan kakekmu.

~<>~​

“Dasar nenek, dari dulu sampai sekarang itu-itu mulu pesannya!” kataku dalam hati dan tak terasa aku kembali meneteskan air mata yang segera aku seka dengan punggung tanganku.

Aku kembali melipat kertas yang berisi pesan dari nenekku dan memasukkannya ke dalam amplop yang tadi menjadi wadahnya. Kini di hadapanku tersisa sebuah kotak yang seperti nenekku tadi bilang di surat yang ia tulis, kalao di dalam kotak ini ada warisan mendiang orang tuaku.

Dengan detak jantung berdebar-debar, perlahan aku membuka kotak itu dan melihat isi di dalamnya. Dua buah buku tabungan dan dua ATM terdapat di dalam kotak. Satu buku tabungan aku ambil, dan aku buka. Angga Riyan Yudistira, namakulah yang tercantum di buku tabungan yang aku buka, buku tabungan yang satunyapun juga atas namaku. Dengan kedua tangan gemetar, aku membalik secara bersamaan halaman kedua buku tabungan yang ada di tanganku. Sebuah nominal yang sama persis tercetak di kedua buku tabungan yang membuat kedua mataku melotot melihat jumlah nominalnya.

Aku letakkan kembali dua buku tabungan ke dalam kotak, dan aku mengambil dua buah ATM yang di antara dua ATM tersebut terselip selembar kertas berukuran kecil. Ada dua baris angka tertulis di kertas itu yang aku yakini sebagai nomor pin tiap-tiap ATM. Dua tiga kali aku membaca tiap baris angka, dan begitu saja aku sudah mengingatnya karena memang daya ingatku yang lumayan baik.

Setelahnya, aku kembali memasukkan kedua ATM ke dalam kotak, dan menutup rapat-rapat kotak tersebut. Kertas kecil yang berisi angka-angka tidak ikut aku masukkan, aku justru menyobek-nyobek kertas itu sampai jadi sobekan kecil dan membuangnya, dengan demikian cuma aku yang tau apa yang tertulis di kertas itu.

“Lama banget kamu itu ngambil bantal saja, tuh lihat bapak sampai sudah tidur!” tutur Bagus yang baru saja melihatku sampai di ruang tengah tempat kita mau tidur.

“Masuk ke kamar nenek, sedikit banyak membuatku teringat mendiang nenekku Gus” kataku beralasan.

“Lek kelingan terus nangis meneh ngono?. Tak nikahin kamu nanti lek cengeng terus!”.

“Moh aku kok nikahi, burungmu cilik, gak ono rasane, hehehehe”.

“Kampret malah ngece, wes ndang turu, wes wengi iki!” kata Bagus.

“Iya, ini juga mau tidur” kataku, dan segera aku meletakkan bantal yang aku ambil dari kamar nenekku untuk mengganjal kepalaku.

Tak begitu lama setelah aku merebahkan tubuhku, aku mendengar nafas halu Bagus yang menandakan dia sudah tertidur. Akupun tidak bisa membohongi diriku yang memang sudah lelah dan mengantuk, dan tidak beberapa lama akupun memyusul Bagus dan Ayahnya tidur.

•>

“Semua sudah siapkan?” tanya Bagus yang pagi ini akan mengantarkan aku ke terminal.

Seminggu setelah kepergian nenekku, aku putuskan untuk pergi ke ibu kota menuju sebuah universitas yang aku pilih sebagai tujuanku menimba ilmu. Seperti saran Bagus, semua ternak peninggalan nenek akhirnya aku jual, tetapi aku menjualnya ke orangtua Bagus, dan selama aku tidak di rumah, ayah Bagus dan Bagus sudah berjanji akan menjaga dan merawat rumahku.

Setelah memastikan semua keperluanku sudah masuk di tas yang aku bawa, aku naik ke motor yang dikendarai Bagus. Tidak lupa di dalam tasku juga ada kotak dan surat yang nenek tinggalkan untukku.

“Beres Gus, yuk berangkat!” jawabku, dan setelah pamit ke kedua orangtua Bagus, aku akhirnya berangkat ke terminal dengan di antar Bagus.

“Aku berangkat ya Gus, nitip rumah!” pamitku ke Bagus saat bus yang aku tumpangi akan segera berangkat.

“Ok siap,, kamu yang hati-hati!. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai, nomer Hpku sudah kamu catat kan?” tanya Bagus.

“Sip Gus wes tak catet, hati-hati kalau pulang!” kata-kata terakhirku sebelum pintu bus tertutup dan akhirnya bus berjalan menuju ibu kota yang menjadi tujuanku.

Sebenarnya aku ingin mengajak Bagus kuliah bersamaku, dengan uang di buku tabungan warisan orangtuaku, lebih dari cukup untuk membiayai kuliah kami berdua sampai lulus. Tapi dasarnya Bagus, dia lebih milih bantu-bantu ayahnya ngembangin usaha ternaknya.

Perjalanan dari daerahku ke ibu kota tujuanku ditempuh dalam 8 jam, jumlah penumpang di dalam bus tidak terlalu banyak. Sekirar 60% tempat duduk yang terisi penumpang, dan karena itu akupun duduk sendirian di tempat duduk paling depan.

“Mas sudah sampai!” suara seseorang membangunkanku yang sempat tertidur, dan suara yang barusan membangunkanku ternyata suara kernet bus.

“Oh iya mas, terimakasih sudah di bangunin” kataku seramah mungkin.

Tepat pukul empat sore aku sampai tujuan. Dengan menggendong tas ransel super gedeku, aku keluar dari bus. Sebuah alamat tempat kos yang sudah di sediakan pihak universitas, kini menjadi tujuanku selanjutnya.

Setelah berjalan keluar dari terminal, aku menemukan pangkalan ojek. Seorang lelaki sedikit berumur langsung mencuri perhatianku, karena dia berada di pangkalan ojek itu sendirian.

“Ojek Pak!” panggilku ramah ke lelaki tersebut.

“Oh iya mas, masnya mau bapak anter kemana?” balasan yang tak kalah ramah dari bapak tukang ojek.

“Ke alamat ini pak!” kataku, dan akupun menunjukkan kertas bertulisan alamat kosanku ke bapak tukang ojek.

“Oh ini mas, dekat kampus gede itu mas. Wah masnya ini pasti mahasiswa baru ya?” tanyanya padaku.

“Hehehe, iya pak, mahasiswa baru, ini baru juga datang dari kampung” jawabku.

“Ya sudah, mas naik dulu, ini helmnya. Gak jauh mas itu tempatnya dari sini!” kata bapak tukang ojek seraya menyerahkan helm padaku, dan aku segera naik ke motornya.

Tidak sampai 15 menit, aku sudah sampai di tujuanku. Sebuah tempat kos yang menurutku terlihat begitu luas dan mewah.

“Berapa pak?” tanyaku ke tukang ojek.

“Sepuluh ribu saja mas, hitung-hitung penglaris” jawabnya.

Saat aku melihat isi dompetku, cuma ada uang lima puluh ribu dan seratusan. Tanpa berfikir panjang, aku ambil satu lembar uang lima puluh ribu dan aku kasih ke bapak tukang ojek.

“Wah mas, bapak gak ada kembalian ini. Masnya ini penumpang pertama bapak hari ini” tutur bapak tukang ojek.

“Sudah, kembaliannya buat bapak, itu rejeki bapak!” ungkapku dengan menyertakan sebuah senyuman.

“Waduh, terimakasih ini mas!”.

“Iya pak, ya sudah saya masuk dulu, bapak hati-hati kerjanya!”.

Setelah urusan dengan bapak tukang ojek selesai, aku mulai masuk ke halaman kosanku. Kata pihak universitas yang beberapa hari lalu menghubungiku, aku cuma perlu menunjukkan KTP ke pengelola kos-kosan untuk mengambil kunci kamarku. Tapi aku tidak tau dimana dan siapa pengelola kos-kosan ini. Saat aku bingung, aku melihat dua orang wanita yang begitu menawan turun dari lantai dua yang sepertinya diperuntukkan untuk kosan wanita. Mau tak mau aku harus tanya ke mereka.

“Mbak maaf boleh nanya?” sapaku ramah ke mereka berdua yang disambut tatapan sinis salah satu wanita.

“Lo manggil apa barusan?” suara ketus terdengar dari wanita yang barusan menatap sinis kearahku.

“Itu mbak, saya mau nanya!” aku masih mencoba tetap ramah.

“Mbak, mbak, mbak, emang tampang gue ini mirip mbak-mbak!. Duh sana orang kampung, jauh-jauh, alergi gue sama makhluk kayak elu!” sindir wanita itu begitu ketus padaku.

“Baru juga sampai kota, sudah ketemu orang seperti ini, sabar Riyan, sabar” kataku membatin.

“Ehm, gak usah elo ambil hati, kawan gue memang gitu orangnya. Tuh orangnya juga dah pergi!” kata wanita yang satunya.

Karena kelamaan bengong, aku sampai tidak sadar kalau wanita judes tadi sudah pergi. Kini tinggal aku dan seorang wanita yang terlihat lebih bersahabat dari pada temannya tadi.

“Elo pasti mau nanya pengelola kosan ini kan??.... Tuh di ujung sana dekat kamar nomor satu ada ruangan, mbak Mita nama pengelola kosan ini, elo kesana ja, gue cabut dulu, daripada teman gue balik lagi, hihihihi!” ucap wanita yang terdengar begitu ramah dan tanpa sempat aku berucap satu katapun dia sudah begitu saja pergi.

Ruangan ujung dekat kamar nomor satu, sepertinya ini” gumamku. “Tok...tok....tok.... Permisi!” seruku di depan pintu masuk.

“Ya masuk!” suara seorang wanita terdengar dari dalam ruangan.

“Cklek!” bunyi pintu yang aku buka. “Permisi, benar di sini tempat pengelola kosan ini?” tanyaku ramah ke seorang wanita yang sedang duduk di kursi dekat sebuah meja dengan pandangan mata menatap ke arahku.

“Iya, saya Mita pengelola kosan ini. Masnya ada perlu apa?” wanita itu balik bertanya padaku.

“Begini mbak, ini saya mahasiswa baru universitas Mandala Jaya. Kemarin pihak universitas memberikan alamat kosan ini dan menyuruh saya untuk menemui pengelola kosan ini” jawabku.

“Oh, iya benar, beberapa hari yang lalu pihak universitas memang kemari dan menyewa satu kamar kos untuk mahasiswanya yang bernama,-” wanita itu berhenti berkata, dan kini dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu di laci meja yang berada di dekatnya. “Mahasiswa bernama, Angga Riyan Yudistira. Apa itu kamu?” tanyanya setelah dia menemukan secarik kertas.

“Iya mbak, itu saya. Silahkan di cek ini KTP saya!” aku mengeluarkan KTP ku dari dalam dompet dan menyerahkannya ke mbak Mita, wanita yang sering melihat aneh ke arahku.

“Ok, cocok. Ehmmmm!” wanita itu bergumam, namun matanya terus mengamatiku dari atas ke bawah, dan anehnya dia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ini kunci kamar kamu, kamar kamu no 1 tepat di samping ruangan ini” ungkapnya seraya dia menyerahkan sebuah kunci padaku. “Kosan di sini berbeda dengan kosan di tempat lain. Sebagian besar mahasiswa yang ngekos di sini merupakan anak dari kalangan orang terpandang, jadi fasilitas kosan di sini mirip seperti fasilitas di apartemen” imbuh mbak Mita yang disertai sebuah senyuman manis.

“I,iya mbak, terimakasih informasinya, kalau begitu saya permisi pergi ke kamar saya!” selesai pamit, aku mulai berjalan keluar ruangan Mita.

“Rubah penampilan kamu biar terlihat lebih kekinian, supaya kamu tidak jadi bahan cibiran penghuni kosan wanita di tempat ini. Mau kamu kutu buku sekalipun, perhatikan penampilan kamu!” suara mbak Mira terdengar dari arah belakangku.

Sejenak aku berhenti dan menoleh ke arahnya hanya untuk memberikan senyuman padanya, dan kemudian aku melanjutkan langkah menuju kamarku.

Kamar nomor satu. “Cklek!” aku membuka pintu dan masuk ke kamar yang akan aku tempati untuk beberapa tahun ke depan.

Sebuah tv yang menempel di dinding tempat tidur yang nyaman, dapur kecil yang sudah komplit dengan peralatan dapur, serta sebuah kamar mandi sudah tersedia lengkap di kamar ini.

Setelah menaruh tasku di lantai kamar, aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. “Haahhh, dari tempat inilah hal baru dalam hidupku akan di mulai, baik atau buruk, senang atau sedih, mungkin akan terjadi di tempat ini” kataku membatin.

•>

•>



Sherli Angelia Putri

Pov Angel.


Kesal benar kesal, baru kemarin aku tiba di kosan setelah liburan, ini sore-sore sudah di suruh ke kampus buat bantu acara penyambutan mahasiswa baru.

Sudah dari pagi capek belanja buat keperluan kuliah, sekarang lagi mau istirahat justru di suruh ke kampus, gak ngerti apa tuh orang di kampus!, sialan tuh semuanya.

“Cit, yuk ikut gue ke kampus!” ajakku ke teman satu kamarku yang sudah menjadi sahabat baikku sejak SMA.

“Iya bawel, gue juga ada panggilan. Kita kan sama-sama anggota organisasi kampus” tutur Citra.

“Bagus deh kalo gitu!” kataku. Dan dengan pakaian santai, sertasebuah tas kecil terpampang di lengan kiriku, aku berjalan keluar kamar.

Rasa kesal yang tengah aku rasakan saat ini, membuatku begitu buru-buru saat berjalan menuruni tangga kosanku yang terletak di lantai dua. Baru juga menuruni anak tangga, ada seorang lelaki dengan dandanan jadul, memanggilku menggunakan panggilan yang membuatku semakin kesal.

“Lo manggil apa barusan?” tanyaku dengan suara lantang ke seorang lelaki.

“Itu mbak, saya mau nanya!” jawabnya yang terdengar sok ramah.

“Mbak, mbak, mbak, emang tampang gue ini mirip mbak-mbak!. Duh sana orang kampung, jauh-jauh, alergi gue sama makhluk kayak elu!” kataku yang semakin emosiku karena mendengar perkataan laki-laki dihadapanku.

Tidak ingin berlama-lama berurusan dengannya, aku-pun segera melangkahkan kaki menjauh dari hadapannya.

“Cit buruan napa elo buka mobil!” dengan kesal aku memanggil Citra, namun tak kunjung ada jawaban, dan saat gue menoleh ke belakang ternyata Citra sepertinya baru selesai berbicara dengan lelaki kampungan tadi.

“Apa?, Segitunya elo ngelihatin gue, cemburu ya gue ngobrol sama cowok tadi?” tutur Citra sesaat setelah dia berdiri tepat di sampingku.

“Cemburu, ih jijik banget!, cemburu kok sama cowok kampungan kayak gitu!” ungkapku.

“La kalau gak cemburu, ngapain elo ngelihatin gue mulu dari tadi?. Sudah mendingan jujur saja, elo cemburukan?, bilangnya sok ngejelekin cowok kampung, padahal di hati ingin memilikinya” cibir Citra.

“Mending elo segera masuk ke mobil, kita ke kampus sekarang juga, dan gak usah elo bahas cowok nyebelin tuh lagi!” karena emosi, aku justru ngebentak sahabatku sendiri.

“Hihihihi, tadi bilangnya cowok kampung, sekarang cowok nyebelin, besok-besok jadi cowok tersayang, tercinta, termuachhh, hihihi” lagi-lagi Citra mencibirku, namun aku sudah gak peduli lagi. Aku cuma ingin segera ke kampus beresin urusanku, biar cepat pulang dan aku bisa istirahat.

•>

•>



Mita Gisela Alisya

Pov Mita.


Lelaki polos yang begitu menarik. Dandanannya memang ketinggalan zaman, namun bagiku wajah dan kulitnya yang bersih seolah memancarkan aura tersendiri.

“Ah sial, apa gara-gara lama ngejomblo, aku jadi tertarik dengan ABG. Mita, Mita, sadar diri napa, dia tuh cocoknya jadi adek kamu, jangan mikir untuk jadiin dia kekasih” kataku membatin.

“Angga Riyan Yudistira....” perpaduan nama yang menarik. Yudistira, seorang pangeran dalam kisah pewayangan, siapa kamu sebenarnya?. Beberapa hari yang lalu, untuk pertamakalinya aku dapat kunjungan langsung dari pihak universitas yang diwakili temanku hanya untuk mencarikan kamar kos yang akan di tempati mahasiswa baru universitas tempat dia mengajar.

Anak yatim piatu, dan dibesarkan sepasang kakek dan nenek yang sekarang sudah tiada. Cuma sedikit info lelaki itu yang aku dapat dari universitasnya, itupun senada dengan info yang di terima pihat universitas dari SMA asal lelaki itu.

“Hahhh!” siapapun kamu, aku melihat kamu itu lelaki baik, dan aku yakin kamu itu juga cerdas.

“Ahhh sial!, cuma dengan memikirkannya saja, mengapa membuatku jadi begitu bergairah?”.

•>

•>


Sekian dulu, kritik dan saran selalu di nanti.
 

Gugur_Setetes

Balita GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
81
Reaction score
819
Points
83
Location
ryan9933

virangle

TUKANG CILOK
Joined
Oct 16, 2019
Messages
604
Reaction score
2,545
Points
93
Location
Belakang Mekdi
Mejeng di pejwan Babang ganteng.

Mulustrasi tokoh utama lebih pas yang ini ketimbang yg dsana. Kalo yg dsana kayak sakit cacingan. Hehehe... ups maaf.
 

Gugur_Setetes

Balita GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
81
Reaction score
819
Points
83
Location
ryan9933

virangle

TUKANG CILOK
Joined
Oct 16, 2019
Messages
604
Reaction score
2,545
Points
93
Location
Belakang Mekdi
Ikut komen di Page one ah, biar ikut terkenal

Mau komen ilustrasi takut dibullly
Gak jadi komen ah

Yg last promise gak dibawa kesini sekalian om ?
Last pronise udah disini kok. Tuh di prefix TAMAT.

Setelah di jorogin (digusur) Mbah Kung @N4W1
 

Gugur_Setetes

Balita GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
81
Reaction score
819
Points
83
Location
ryan9933
Top