Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

GANTENG-GANTENG ANAK PEMBANTU

4Scott

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
370
Reaction score
3,909
Points
93

GGAP Exclusive Cover​

Saktiawan Sanjaya a.k.a Awan adalah seorang remaja asal Bukittinggi, Sumatera Barat. Saat ini, remaja yang masih duduk kelas 2 SLTA dari kampungnya sumatera barat tersebut mencoba mencari pengalaman baru untuk sekolah di kota Bandung, karena perintah dari sang Ibu yang bekerja di Kota tersebut. Ibunya (Arini), merupakan seorang pembantu yang bekerja di keluarga kaya raya bernama Agus Wijaya (pemilik perusahaan ternama Wijaya Group), dengan seorang istri yang bernama Lina. mereka mempunyai seorang putri yang sangat cantik, bernama Renata Wijaya, usianya lebih besar 1 tahun dari Saktiawan Sanjaya.

Kepindahan Awan sendiri ke kota Bandung bukan tanpa sebab. Pertama, karena kakek dan nenek yang selama ini mengasuh Awan dikampung wafat saat ia masih kelas 1 SLTA. Karena alasan itulah sang ibu meminta Awan untuk pindah sekolah di Kota tempat ia bekerja, disamping bisa lebih dekat dengan anaknya, juga bisa memberikan pendidikan yang lebih baik lagi, karena melihat anaknya punya potensi yang sangat 'baik' dalam pelajarannya.

Ayahnya, jangan ditanya dulu, karena sosok ini masih jadi 'misteri' sampai saat ini, bahkan Arini ibunya Awan masih merahasiakan seperti apa sosoknya.

Kedepannya, awan akan menghadapi kisah yang menarik dengan wanita-wanita di sekelilingnya sekaligus tantangan kehidupan yang tidak mudah.

Silahkan mampir juga ke Threat Ane lainnya :
Rumah No. 202 (Petualangan mendebarkan Frans menemukan kedamaian di rumah barunya. #Ceweknya Seksi Abyss :he: ) #Tamat
Bukan Zainudin & Hayati ( Romance cinta Zainudin dan Hayati yang dipadu dengan comedy apik ala anak kuliahan, pasti nyesal kalau sampai terlewat kan :fyi:) #Tamat

GGAP Story List :
CHAPTER 1 : HERE I AM
CHAPTER 2 : A Letter from The First Love
CHAPTER 3 : Seorang Wanita dan Tatapan Misteriusnya
CHAPTER 4 : Awan dan HP Bututnya
CHAPTER 5 : Will You Remember Me ?
CHAPTER 6 : SEMOGA SAJA MASIH SEMPAT 1
CHAPTER 7 : SEMOGA SAJA MASIH SEMPAT 2
CHAPTER 8 : AKU HANYA ANAK SEORANG PEMBANTU
CHAPTER 9 : BULLY
CHAPTER 10 : JATUH SAKIT
CHAPTER 11 : ELEKTRA
CHAPTER 12 : Ibu dan Kepingan Rahasia Masa Lalu
CHAPTER 13 : SEBUAH UJIAN UNTUK NAIK LEVEL
CHAPTER 14 : PESTA ULANG TAHUN BERDARAH
CHPATER 15 : AMUKAN AMARAH
 
Last edited:

4Scott

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
370
Reaction score
3,909
Points
93
HERE I AM


SAKTIAWAN SANJAYA


RENATA WIJAYA


BU ARINI(IBU AWAN)



AGUS WIJAYA


BU LINA (ISTRI AGUS WIJAYA)​

“SELAMAT DATANG DI BANDARA INTERNASIONAL HUSEIN SASTRANEGARA”, terdengar suara pramugari lewat pengeras suara, sebagai pertanda pesawat telah mendarat di Bandara kebanggaannya orang bandung.

Akupun mulai bersiap-siap mengemasi barang, ketika akan mengangkat tas terlihat sebuah surat dan kado antik dari kotak kecil.

Akupun tersenyum, sekejap ingatanku terbayang ketika sahabat-sahabatku mengantar ke Bandara Internasional Minangkabau untuk melepas kepergianku beberapa jam sebelumnya. Kenapa BIM!, karena aku berasal dari Bukit Tinggi Sumatera Barat, sebuah negeri yang kental akan budaya daerahnya. Negeri yang kata orang-orang adalah Negeri yang paling elok budaya dan keramahan masyarakatnya.

“Selamat jalan sob, jangan lupain kami yah” ucap salah seorang sahabatku sambil memelukku.

“g terasa yah, baru kemaren kita main layang-layang bareng, sekarang malah ambo yang ngantar kau untuk merantau ke tanah seberang sobat”, ucap sahabatku yang lain ketika memelukku.

“si juki bakalan rindu kau sob”, (Juki = Nama kerbau peliharaan sahabatku ini yang biasa kami kembala bersama saat pulang sekolah).

“kami kehilangan sumber contekan karena kepergianmu sob”, ucap temanku yang lain

Dan satu per satu teman-temanku ikutan memeluk dan memberi pesan serta kenang-kenangan. Tak terasa mataku berkaca-kaca, teringat susah senang yang aku lalui bersama mereka selama ini. Aku juga terharu para sahabatku kompak mengantar kepergianku, dan dibela-belain buat numpang di mobil pickupnya bang somad, salah satu tetanggaku, yang kebetulan berdagang buah di pasar kota Padang.

“Maaf cuma bisa memberi ini” ucap seorang wanita sambil memberi sebuah kado kecil dan sebuah surat padaku.

“eh Nisa ?” ucapku kaget. Kulihat Nisa didampingi dua sahabat karibnya yang ternyata ikut mengantar kepergianku juga, entah kesininya dengan apa. Nisa itu adalah kembangnya didesaku, selalu jadi buah bibirnya anak-anak dikelasku, eh gak hanya di kelas aja ding, tapi rata-rata anak-anak di sekolahku selalu membicarakannya. Selain parasnya yang ayu, orangnya juga ramah pada semua orang. Dan yang paling penting dia itu selalu juara 2 dikelasku, tapi juara 1 selalu aku dong. 3 tahun berturut-turut, juara umum coy, hehehe g sombong sih, ciyuss.

“hem hem”, kompak teman-teman, sambil godain kami. Asem jadi salting gini kan. Bukannya apa atau gimana, selama sekolah Nisa itu orangnya sangat menjaga kesopanannya, jadi ketika dia ikut mengantar aku ke bandara, rasanya jadi gimanaa gitu.

“Ya Nisa”. Kulihat wajahnya agak bersemu merah.

Dua teman yang ikut menemani Nisa membisikkan sesuatu, entah apa, yang jelas Nisa jadi kelihatan malu-malu. Wajahnya jadi tambah bersemu merah, alamaak cantiknya wanita di depanku ini.

“apaan sih!” bisik Nisa pelan, teman-temannya agak menjauh memberi kesempatan pada Nisa untuk berbicara padaku.

“Awan..” terlihat ia agak grogi

“...”

“Aku Cuma mau kasih ini”, terlihat ditangannya sebuah kado dalam kotak kecil serta sebuah surat dalam amplop berwarna pink.

“apa nih Sa ?” tanyaku.

“Surat ini Nisa tulis semalam, tapi bacanya nanti saat Awan sudah sampai di sana ya” jawabnya sambil tersenyum

“Makasih yah Sa” jawabku sambil menerima hadiah dari Nisa, ketika mengambil tak sengaja tanganku menyentuh tangan Nisa yang putih. Halus kulit tangannya, membuat hatiku berdesir indah. Sejenak kami salip tatap.

Banyak kata yang ingin kuucap sebenarnya, tapi entah kenapa ketika menatap matanya jadi tertahan, dan Nisa pun kulihat demikian.

“Nisa” ,“Awan”, panggil kami berbarengan.

Kami sama-sama tersenyum.

“Eh mau ngomong apa” tanyaku.

“hmnn..” Mata nisa terlihat agak berkaca-kaca, dia sepeti ingin mengucapkan sesuatu.

“eh nggak,.. ba.. baik-baik disana yah, jaga kesehatannya”. aku tahu bukan itu sebenarnya yang akan ditanyakannya, tapi entah kenapa Nisa tidak jadi mengucapkannya, mungkin dia juga canggung seperti apa yang kurasakan saat ini.

“hiuffftt..” Nisa mengeluarkan nafas dari mulutnya, dan memberanikan diri mengucapkan “Satu lagi,.. ada seseorang yang menantimu disini” lanjutnya agak lirih. Terlihat rona kemerahan di wajahnya.

“Seseorang.. maksudnya ?” tanyaku heran

“hmmm itu, anu.. hmnn maksud Nisa, teman-teman Awan menanti disini” jawabnya mengalihkan tanyaku dan terlihat rona kemerahan di wajah cantiknya.

“ooh” jawabku singkat

Kulihat jam ditanganku, sudah saatnya masuk ke ruang tunggu.

“sudah mau berangkat yah ?” tanya Nisa padaku sambil memperhatikanku

“iya Nisa, aku berangkat dulu yah”

“iya”, tatapannya seolah berat melepas kepergianku

Aku mengkode teman-temanku berdiri tak jauh dari kami, kalau aku akan segera masuk keruang tunggu pesawat. Kulihat Nisa, temannya serta para sahabatku melambaikan tangannya.

Saat akan memasuki ruang tunggu, kudengar langkah kaki agak cepat kemudian terdengar suara teriakan Nisa, “AWANNN, BERJANJILAH SUATU SAAT KAMU AKAN KEMBALI, AKU DISINI MENUNGGUMU”, dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi ditahannya. Akhirnya dengan keberanian yang dikumpulkannya sedari tadi dia mengucapkan juga kata itu.

Sontak air matakupun ikut mengalir, “IYA, AKU JANJI”. Jawabku lantang, Sambil melambaikan tanganku padanya
Asem, ngapain pula aku berjanji, kayak bandung-padang itu dekat aja. Hidupku akan bagaimana disana nantinya aja aku masih gamang dan belum terpikirkan sampai saat ini.




“SILAHKAN PERIKSA KEMBALI BARANG BAWAANNYA KETIKA AKAN MENINGGALKAN PESAWAT”, suara Pramugari lewat pengeras suara menyadarkan aku dari lamunanku.

Yah, disinilah aku sekarang, Bandung!. Setelah mendarat dan Ketika turun dari tangga pesawat mau masuk ke terminal kedatangan aku jadi kebingungan mau lewat mana keluarnya.

“Mau kemana dek”, kata seorang wanita di dekatku. Sekilas kulihat dia sedikit lebih tua dariku

“Ini kak, saya bingung mau keluarnya lewat mana yah”, jawabku

“Baru pertama naik pesawat yah ?” tanyanya dengan sedikit mengangkat alis matanya sebelah kiri

“Iya kak baru pertama kali”, jawabku sambil tersenyum padanya

“pantes dari tadi aku perhatiin kamu clingak clinguk g jelas gitu, hehehe”

Asem bilang clingak clinguk gak jelas katanya, kalau lihat bukannya bantuin dari tadi malah diliatin, batinku

“maklum kak, baru kali ini naik pesawatnya, biasanya juga naik angkot kalau dikampung mah” jawabku merendah

“hihihi, kamu tuh lucu juga yah”

“ya udah, yuk ikut aku aja kalau begitu, wajar sih kalau pertama kali mang sering bingung”, katanya mengajakku sambil jalan di depanku

“ya kak” kataku sambil mengikuti langkahnya

“oya, kamu ke bandung ngapain ? sekolah ?”

“Iya kak”

“Nah tuh, kita tunggu barangnya disini, kamu tadi ada barang masuk bagasi kan ?” katanya saat kami sampai di tempat pengambilan barang bagasi.

“iya kak, wah kok bisa sampai disini yah barangnya, padahal tadi kan masih dipesawat yah barangnya, mana muter gini, kalau telat ngambilnya bisa ilang nih barangnya”, jawabku dengan polosnya.

“hahhahaha, yah gak begitu juga kali.” Katanya sambil tertawa

“kamu lihat tuh, tar kalau penumpang telat ambil barang yang kaluar itu tuh, barangnya akan muter lagi lewat arah yang sebelumnya” katanya sambil menunjuk ke tempat keluar barang.

“Bisa begitu yah, canggih yah”

“hahhaa.. tar kalau kamu sering-sering bepergian naik pesawat gini mah dah g heran lagi”

“oya, dari tadi ngobrol malah belum kenalan, Aku Rini, kamu ?” katanya sambil menjulurkan tangannya padaku

“Saktiawan Sanjaya, panggil aja Awan kak, kalau kakak kuliah atau kerja disini ?” kataku membalas uluran tangannya

“Kerja. Mang aku keliatan wanita kantoran yah” katanya sedikit mengelembungkan kedua pipinya

“Gak sih, kan aku gak tau kak” sambil meliriknya yang kini berdiri disebelahku

“iya juga sih, tapi mang wajahku setua itu sampe kamu bilang aku dah kerja gitu ?” katanya sambil melipat kedua tangannya di bawah dada
Aduhhh, salah jawab aku, susah ini nih kalau wanita sudah merajuk

“Gak gitu kak, kakak tu cantik, pake banget malah, hihi” kataku coba meralat kata-kataku sebelumnya

“Kan ada juga tuh wanita masih muda, kuliah, tapi juga kerja, atau kerja sambil kuliah, eh sama yah, hehehe”

“hahahhaa”, asem malah ketawa orangnya, udah bikin orang jadi salting begini

“kamu tuh polos yah awaan, aku kan Cuma bercanda doang kok. Iya..” katanya mengantung jawabannya

“Hah, iya apa kak ?”

“Aku tuh masih kuliah, ini juga baru masuk kuliah. Tapi disini aku ikut mama yang kebetulan dinas di kota ini juga” katanya sambil senyum padaku.

“kalau kamu baru masuk sekolah atau masih mau nyari-nyari sekolah dimana ?” tanyanya

“Sekolah kak, pindahan sih tepatnya, Ibu yang daftarin. Jadi aku tinggal masuk sekolah aja.

“loh bukannya orang dah mulai masuk sekolah yah ?” herannya

“iya kak, ini kemaren ngurus-ngurus surat pindah dari sekolah yang dikampung, jadinya telat datang kesininya”

“trus udah tau sekolahnya dimana tar ?”

“Kalau itu belum tau kak, kemaren sama Ibu disuruh ngirim semua persayaratannya aja, karena sudah memenuhi persayaratan yang diminta sekolah jadi langsung diterima juga, tapi belum sempat tanya juga sama Ibu sekolahnya apa, lagian diterangin juga lom tentu ngerti juga aku, lah disini aja juga baru kali ini”

“ooh begitu ceritanya”

“Oya, kamu sudah ada yang jemput belum wan ?” kata kak Rini ketika kami akan melangkah ke luar

“Mungkin sudah kak, tapi g tau juga, liat tar deh”

“hmm kalau belum, nanti ikut kakak dulu aja, tar biar kakak yang anter ke tempat Ibumu” katanya

“Oya, kakak mintak nomormu dong wan, biar bisa kontak-kontakan tar, sapa tau kamu butuh teman buat pemandu dikota Bandung” katanya sambil memegang hpnya.

“Nomor kakak aja, biar aku misscall”

Kamipun bertukar nomor hape

“Makasih ya kakak Cabai” kataku sedikit mencandainya

“eh kok cabai” protesnya sambil menatapku dengan agak sedikit menyipitkan matanya

“iya kakak cabai, Cantik dan Baik hati, hehehe”

“ihh kamu yah dah berani bercanda sekarang, tapi makasih yah dedek gancu” balasnya dengan pipi yang sedikit merona merah

“Apaan tuh gancu kak ?” tanyaku

“Gancu, dedek Ganteng dan Lucu, hehhee”

“eh dek, aku duluan yah, sepertinya mamah ku dah jemput tuh. Oya, kalau kamu lom ada yang jemput cepat kabari kakak yah, tar biar sama kakak aja, okey”, kemudian kak Rini berjalan agak cepat didepanku.

Ketika keluar dari Bandara aku lihat di pintu keluar untuk penumpang, disana kulihat ibuku menjemputku didampingi seorang perempuan cantik disebelahnya yang tak kutahu siapa, mungkin dia seusiaku.

“Ibuuu”, teriakku. Sambil sedikit berlari dan memeluk Ibu.

“Nak” jawab ibuku, sambil memelukku, tak terasa air mata kami mengalir dengan derasnya, semua rindu kami salurkan melalui sebuah pelukan yang dalam.

Oh Ibu, betapa dalam kerinduan ini padamu, yah dari kecil mungkin hanya beberapa kali kami bertemu. Bisa kalian bayangkan, dari kecil aku hanya dibesarkan oleh kakek dan nenek, karena kehidupan dikampung yang sulit, ayahku sendiri tidak tahu kemana, ibu ataupun kakek dan nenekku juga tidak pernah bercerita perihal ayah kepadaku, jadi sejak usiaku 4 tahun Ibu memutuskan merantau, agar kehidupan anak semata wayangnya ini jadi lebih baik. Selama itu pula, hanya beberapa kali Ibu pulang mengejengukku. Ibu bekerja di Bandung, sebagai pembantu, ya sekali lagi demi bisa menyekolahkan aku, setidaknya itu alasan yang sering diucapkan kakek dan nenek padaku ketika aku menanyakan apa pekerjaan Ibuku di rantau. Tiap bulan ibu selalu mengirimkan uang belanja, untuk bekal keperluan sekolah dan biaya bulanan kami dikampung.

“kamu sudah besar sekarang nak, makin tinggi dan gagah” kata ibu sambil mengusap-usap kepalaku.

“Awan rindu Bu” ucapku sambil mengangkat kepalaku, kulihat air mata ibu berlinang.

“gimana perjalannya tadi nak”

“lancar kok bu, cuman yah agak canggung, baru pertama kali ini naik pesawat soalnya, mau keluar dari pesawat aja juga bingung mau lewat kemana tadi, untung tadi ada perempuan yang nunjukin awan, kebetulan juga dia mau kuliah disini katanya”, jelasku panjang lebar

“trus, dimana dia nak ? ibu mau terimakasih ma dia”

“hmnnn..” sambil melihat kearah kak rini pergi tadi

“udah pergi sepertinya bu. Tadi ada yang jemput katanya..” karena tidak kutemukan keberadaannya
Keasikan melepas rindu dengan ibu, dan saling memberi kabar masing-masing, membuat kami tidak menyadari adanya seorang gadis yang sejak tadi berdiri di sebelah ibu. Kulihat matanya juga berkaca-kaca, ada air mata yang mengalir dipipi putihnya.

Sadar aku melihat kearah gadis disampingnya, ibu pun mengenalkannya kepadaku

“oh ya nak kenalin, ini Non Renata, anak majikan tempat Ibu bekerja”

“Ibu ini apa loh, masih aja bilang majikan, Ibu kan dah bagian dari keluarga Ren” jawabnya sambil menghapus air matanya.

“Saktiawan panggil aja awan Non” jawabku mengulur tangan padanya

“ini juga nih, malah ikutan ibu panggil non segala”, jawabnya dengan agak sewot, ketika menjawab uluran tanganku

“Ranata, kamu boleh panggil Ren atau Rena, hihihi”, jawabnya sambil memandangku agak lama.
Eh, baru kusadari, dari tadi ia terus memandang lekat padaku dengan tatapan yang sangat ‘misterius’. Padahal baru kali ini kami bertemu, karena tadi perhatianku tertuju pada Ibu sehingga tidak terlalu memperhatikannya.

“Iya, non, eh ren” jawabku agak sungkan, karena bagaimanapun dia adalah anak majikannya Ibuku.

“yuk Bu, kita berangkat sekarang aja, kasihan pak Usman kelamaan nunggu diparkiran, kangen-kangenannya bisa dilanjutin dirumah aja nanti, hihihi” ajak ren pada Ibu, ketika tersenyum tampak lesung pipit dan gigi gingsulnya gadis didepanku ini, makin menampakkan kecantikannya, aku hanya menunduk sambil membawa barang-barangku mengikuti arah langkah Renata. Ibu berjalan disampingku sambil mengapit lenganku. Aku sempat melihat-lihat sekitar mencari-cari keberadaan kak Rini, tapi masih tak kutemukan tanda-tanda keberadaaanya, nanti ajalah kukabari kalau aku sudah ada yang jemput padanya. Dalam hati aku berterima kasih padanya, kalau gak ada dia bisa-bisa muter seharian aku keliling bandara kayak orang bego, hehehe.

Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku mengagumi kehindahan kota bandung, bangunan-bangunan tinggi tampak disepanjang jalan yang kami lalui, serta kendaraan yang seperti tiada habisnya, aku yang dikampung melihat orang punya mobil aja, sudah terlihat paling kaya. Itupun hanya satu-satu orang yang punya. Bahkan bang Somad tetanggaku, walaupun Cuma punya mobil pickup l300 dan kerjaannya Cuma berdagang sudah dianggap orang berada. Maklum dikampungku masih termasuk pedalaman. Untuk kesekolah atau kekabupaten ditempatku, kami biasanya hanya naik angkot atau bendi (bendi=delman), mungkin kampungku termasuk terlambat dalam pembangunan. Jadi melihat kendaraan berseliweran seperti ini aku seperti terkagum-kagum. Belum lagi mobil yang kunaiki ini, sebuah sedan mewah, yang tak kutahu apa mereknya, yang jelas pasti mahal lah. Diatapnya aja ada ‘kaca’nya, sehingga aku bisa melihat keindahan langit kota bandung dari dalam mobil.

Ibuku yang menyadari keadaanku hanya tersenyum. Sambil tetap memeluk lenganku dibangku belakang.

“Tar juga kamu terbiasa dengan kehidupan disini” kata Ren sambil melirikku dari kaca spion depan.
Sekali-kali kalau kuperhatikan Renata sering curi-curi pandang lewat kaca depan, ketika lirikan kami bertemu, dia seperti mengalihkan pandangannya kearah lain. Apa ada yang salah dengan muka ku kali ya.

****

Malamnya, ketika kami duduk diruang tamu.

“Gimana perjalanannya wan? Lancar aja kan?” ucap pak Agus Wijaya. Pak agus ini ayahnya Renata sekaligus majikan ibuku. Disebelahnya duduk Bu Lina, istri pak Agus. dan Renata duduk disebelah kiri Mamanya sambil memeluk Ibunya, tampak sekali kalau renata sangat dimanja dan disayang oleh orang tuanya.

“lancar pak”, jawabku dengan sedikit menunduk

“hahhaa. Kamu biasa aja wan jangan kaku gitu ah, Mbak Arini (nama Ibuku) sudah kami anggap keluarga sendiri, sekarang ada kamu, jadi makin melengkapi keluarga ini” kata pak agus coba mencairkan suasana, kulihat bu Lina dan ren hanya senyum-senyum disebelahnya.

“iya pak” jawabku mencoba rileks sambil mengangkat wajahku

“nah gitu dong” kata pak Agus dengan senyum khasnya

“ngomong-ngomong selamat datang di Bandung, gimana kesanmu disini” tanya pak agus

“megah pak, banyak kendaraan bagus-bagus disini, beda sekali dengan kampungku” jawabku polos

“hahahhaa” semua yang diruangan jadi tertawa mendengar jawabanku

“Dirumah ini nanti, ada beberapa asisten rumah tangga, security dan nanti biar Ibumu atau ren yang mengenalkan yah, tapi sama ren dah kenalan kan tadi ?” kata pak Agus sambil melihat Renata yang duduk di sebelah ibunya, Ren nya sendiri malah senyum-senyum melihatku.

“Sudah pak”

“Awannya pemalu yah pa”, kata ren pada Papanya.

“namanya juga baru, yah wajarlah”, jawab pak agus kalem

“oya, mulai besok senin kamu dah mulai masuk sekolah ya, sekolah yang sama dengan Ren. Saya yakin kamu bisa beradaptasi dengan sekolah disini nantinya, untuk semua persyaratannya sudah dibantu urusin sama mamanya ren” terang pak Agus sambil sedikit menegakkan posisi duduknya.

oh sudah diurusin bu lina, pantesan semuanya lancar aja, batinku.

Saya hanya diam sambil menyimak baik-baik setiap kata pak agus ditemani oleh ibu yang duduk disebelahku.

“Semua persyaratannya yang kamu kirim sebelumnya sudah lengkap nanti paling tinggal data di sekolah aja yang perlu diisi sebagai formalitas, ditambah kamu selalu berprestasi dari sekolah sebelumnya”.

“Awan ini juga peringkat satu di sekolah sebelumnya loh pah”, sela bu Lina sambil memujiku

“Kamu memang anak yang menarik dan pastinya membanggakan orang tua mu ya Awan” jawab pak Agus sambil menatap Ibu.
Ibu hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku.

“Oya satu lagi, ini saya sudah bicarakan dengan Ibumu sebelumnya. Kamu juga kami angkat sebagai anak kami, jadi nanti siapapun yang tanya, baik di sekolah atau diluaran sana nanti, kamu adalah bagian dari keluarga besar Wijaya, jadi kamu gak usah canggung ataupun minder nantinya bergaul dengan lingkungan baru disini” terang pak Agus serius.

“Pak..” tampak ibuku ingin bicara dengan mata berkaca-kaca, sepertinya ia masih tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Pak Agus. Walaupun Pak agus dan istrinya juga telah menyampaikan hal ini sebelumnya pada Ibu.

“Iya mbak, kan kemarin sebelum awan datang kita sudah bicarakan ini” potong bu Lina

“Tapi bu,.. Saya bekerja disini, dan anak saya sudah bapak dan ibu bantu untuk sekolah disini saja sudah sebuah kehormatan bagi kami, tapi mengangkat anak saya jadi bagian keluarga ini, rasanya ini terlalu berlebihan pak, bu” isak ibuku dengan tatapan seolah tak percaya.

“Ibu ini loh, selalu aja bagitu” kali ini Renata yang menjawab

“Selama ibu disini aja, Ren serasa jadi punya dua mama yang menyayangi Ren. Kasihan Awan kan Bu, selama ini kan Ibu jauh, jadi sudah sepantasnya Awan mendapatkan yang lebih baik ketika disini, kalau papa dan mama mengangkat Awan bagian keluarga kita, kan biar Awan bisa mendapat yang terbaik juga dari kami, iya kan pa ma? Tanya ren ke orang tuanya.

“Iya nak” jawab papa dan mama ren

“Jadi gimana nak Awan, kamu gak keberatan kan ?” tanya pak Agus padaku

Aku melihat ibu yang duduk disebelahku, walau masih ada keraguan di wajahnya, beliau hanya menganggukan kepala. “Kalau Bapak dan Ibu sudah memutuskan demikian, saya akan terima dan akan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan saya” ucapku mantap. Ren tampak sangat senang dengan jawabanku.

“kalau kamu setuju, mulai sekarang kamu manggilnya jangan pak bu lagi dong, panggil aja papa dan mama kayak Ren manggil kami” ucap bu Lina sambil tersenyum

“iya bu.. eh ma” jawabku canggung

“nah kalau begitu, kedepannya kamu bisa saling bantu dengan Ren. Papa harap kalian bisa saling menjaga layaknya seorang saudara, karena ren satu-satunya anak kami, perempuan lagi. Nah sekarang, kalau kamu butuh apa-apa baik tentang sekolah atau keperluan disini, bisa minta bantuan ma ren yah” lanjut papa Agus.

“ya udah, kamu bisa istirahat sekarang. Karena besok kamu sudah mulai sekolah. Nanti kamarmu disebelah kamar mbak Arini yah, nanti biar ditunjukin sama Ren kamarmu yang mana” tambah pak Agus

“iya pa” jawabku

“nak antarin awan dulu kekamarnya yah, papah sama mamah ada yang masih ingin kami bicarakan dengan Mbak Arini.” Suruh pak Agus pada Renata.

“Yuk wan” ajak ren berdiri sambil menarik tanganku, pak Agus dan bu Lina yang melihat kelakuan anaknya yang langsung memegang tanganku, hanya senyum-senyum sambil mengeleng-gelengkan kepala.

Ibuku masih duduk diruang tamu, sepertinya masih ada yang ingin dibicarakan pak agus dan bu lina ke ibuku

Ren menarikku ke lantai dua rumah ini, dan sekali lagi aku hanya terpana melihat rumah ini, semula kukira aku akan tidur dilantai 1 rumah ini, karena dilantai 1 terdapat beberapa kamar yang lumayan besar yang ditujukan untuk tamu dan dibagian belakang rumah ini merupakan kamar yang biasanya yang dikhususkan untuk para pembantu. Karena dirumah ini ada beberapa pembantu, satpam, dan tukang kebun. Tapi ternyata Ren membawaku ke sebuah kamar dilantai atas, yang menurutku sangat luas sekali, bahkan ada kamar mandi juga dibagian dalamnya.

“eh beneran, kamarku disini Ren ?” tanyaku seolah tak percaya sambil melihat ke sekeliling kamar. Jujur aku masih sedikit canggung ketika mengobrol dengan Ren kalau harus bertatapan langsung dengannya, apalagi sekarang Cuma kami berdua dikamar ini, walau pintu kamar masih terbuka.

“Iya kenapa, suka kan ?” tanyanya.

“hmnnn gimana yah, ini mah kebesaran kamarnya, kamarku dikampung sangat kecil sekali, bahkan dikampung aku sudah biasa tidur didipan kayu (dipan=Kasur), kadang malah tidur di surau (mushola)” ucapku polos sambil duduk diatas kasur, kasur ini terasa empuk banget, aduh mimpi apa yah semalam. Diangkat menjadi bagian dari keluarga ini aja sudah gak terbayang sedikitpun olehku, sekarang diberi fasilitas kamar yang menurutku ini sangat-sangat ‘mewah’.

Melihat aku yang terkagum-kagum, ren hanya tersenyum manis.

“Seperti kataku dimobil tadi, nanti kamu juga akan terbiasa dengan kehidupan disini”, ucapnya sambil menatapku

“Oya, kamar ibu disebelah kamar ini, dan kamarku di depan yah” Jelas Ren padaku sambil matanya tak lepasnya menatapku. Aku jadi heran sendiri dengan keberanian gadis didepanku ini, walau baru kali ini bertemu, kadang dia sangat ‘nakal’, seperti tadi misalnya bahkan di depan orang tuanya dia dengan santainya menarik tanganku padahal kan ada papa dan mamanya disitu. Apa karena papanya bilang kami saling ajag seperti ‘saudara’ ya. Suatu hal yang sangat ganjil dan tabu kalau dikampungku. Yang sangat menjaga tata krama dan kesopanan, didepan Renata semua itu seakan tidak ada batasannya. Senang ? ya jelas senanglah. Apalagi ceweknya secantik Renata. Apa gak keblinger aku, hehe.

“atau kamu mau tidur dikamarku ? hehehe” ucapnya dengan santainya sambil sedikit menggigit bibir bawahnya, damn! gaya ren sangat menggoda sekali.



Aku hanya bengong melihatnya dengan keringat dingin yang keluar dengan melownya dikeningku.

“hahahha” kudengar ketawanya saat menutup pintu kamarku dan kemudian masuk ke kamarnya yang ada didepan kamarku.

#hadeeh hari pertama datang ke Kota ini sudah menghadapi godaan seperti ini, setiap wanita di kota ini begini, bisa minta cepat kawin aku.... hahhahaa
 

4Scott

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
370
Reaction score
3,909
Points
93
A Letter from The First Love


Saktiawan Sanjaya


Renata Wijaya


Bu Arini​


Didalam kamar, sekali lagi kuperhatikan kamar ini, wah ini mah bukan kamar lagi, seperti berada dalam istana aja rasanya. Akupun menata pakaian dan barang-barangku kedalam lemari, walau sudah kumasukkan semua pakaianku, kedalam lemari masih aja slot kosong didalamnya karena saking besarnya lemari ini. Buset dah, kalau jadi orang kaya begini ternyata, kalau dikampungku, lemari besar begini dijadiin kasur plus lemari bisa kayaknya, hehehee.

Ketika akan membuka tas kecilku, kulihat sebuah kado dan surat dari Nisa. Penasaran kubuka suratnya.


“Surat ini Nisa tulis semalam, tapi bacanya nanti saat Awan sudah sampai di sana ya” jawabnya sambil tersenyum

Teringat kata-kata Nisa sebelumnya, tanganku agak sedikit bergetar ketika akan membaca surat ini


Annisa Azzahra​

“Dear Saktiawan Sanjaya.

Sebelumnya Nisa mohon maaf karena lancang memberikan surat ini ke Awan. Maaf jika hanya melalui surat ini Nisa bisa mengungkapkan semua rasa dan asa.

Masih ingatkan kata-kata guru bahasa indonesia kita dikelas waktu itu ? “Jika semua rasa tidak bisa terucap melalui lisan, maka ungkapkanlah melalui sebuah tulisan” mungkin hanya melalui surat ini Nisa punya keberanian untuk mengungkapkan semua rasa dan asa yang tersimpan selama ini.

Ketika pertama kali Nisa mengenal apa itu cinta, Nama seorang ‘Saktiawan Sanjaya’ terpatri kuat disana. Masih ingatkan ketika Awan menolong Nisa pas ‘kejadian’ waktu itu, hari dimana seharusnya akan menjadi neraka bagi kehidupan Nisa, namun Awan datang bagai Malaikat yang mengepakkan sayapnya dan menyelamatkan Nisa dari malapetaka itu. Sejak itu, sebuah nama ‘Awan” terpatri kuat di hati Nisa. Ya, dirimulah, Awan ku yang memberikan arti mendalam tentang keteduhan, tentang rasa yang namanya ‘Cinta’ dan parahnya dirimu membuatku ketergantungan dan selalu merindukan kehadiranmu. Nisa mencoba menolak hadirnya rasa ini tapi semakin Nisa mencoba menolaknya, semakin Nisa tidak berdaya dibuatnya. “Saktiawan Sanjaya”, Lihatkan, bahkan hanya dengan menuliskan nama awan saja membuat jantung ini bergetar dengan hebatnya. Tapi, nisa terlalu malu untuk mengungkapkannya. Awan tau sendiri kan, diadat kita sangat tabu untuk seorang wanita mengungkapkan perasaannya pada seorang lelaki.

Semakin hari perasaan itu semakin meraja dihati, tanpa Nisa bisa mencegahnya lagi. Tapi, dasar awan nya aja yang tidak peka atau Nisa nya yang terlalu lemah akan keadaan ini. Bahkan ketika menatap Nisa pun, awan selalu menunduk. Tidakkah ada Nisa menarik perhatian awan walau hanya sedikit. Semula Nisa kira awan cuma begitu sama Nisa, atau lebih buruk lagi, awan jadi memandang rendah Nisa karena ’kejadian’ itu. Ternyata kepada semua wanita dikelas kitapun awan juga begitu, Nisa jadi lega. Disaat semua pria di sekolah kita, seperti berlomba untuk mendekati nisa, bahkan para pemuda dikampung kitapun mencoba untuk mendekati Nisa. Mungkin mereka hanya melihat rupa Nisa, Awan malah selalu menjaga pandangan dan selalu menghormati Nisa tanpa mencoba merayu Nisa seperti pemuda lainnya. Dari situ Nisa jadi semakin yakin, kalau Cinta Nisa tidaklah salah pilih. Nisa mencintai pemuda yang hebat. Awan tidak hanya selalu juara 1 di Kelas kita, hmnn tidak tidak, seorang Awan yang selalu jadi juara umum di sekolah, juga telah jadi juara di hati Nisa."

Aku jadi teringat kejadian waktu itu, yah kerjaan si badrel dan kawan-kawannya dari desa sebelah desa kami. dia sangat tergila-gila pada Nisa tapi sepertinya Nisa tidak mengubris perasaannya, jadi sampai nekat merencanakan perbuatan keji yang akan merusak masa depan Nisa. Untung teman-temanku melihat gelagat tidak baik itu, jadi aku dan kawan-kawan bisa menggagalkan rencana jahat mereka. Hmnn jadi saat itu yah dia mulai menyukaiku, aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya.

Kemudian aku lanjutkan membaca surat nisa

"Awan, kamu telah mencuri hati Nisa dan membuat Nisa tak berdaya karenanya.

Dan tanpa Nisa sadari, Awan menjadi tujuan yang akan selalu Nisa ikuti, melihat sosok awan yang selalu serius ketika belajar, sosok awan yang selalu bisa memberi rasa nyaman ketika berada didekatnya. Namun, ketika Sri sahabat terdekat Nisa memberi tahukan, kalau awan akan pindah sekolah ke Bandung. Saat itu dunia terasa gelap, entah kenapa Nisa seperti kehilangan semangat hidup dan Nisa pun sempat jatuh sakit beberapa hari, dan itu juga alasan kenapa Nisa tidak masuk sekolah beberapa hari menjelang kepindahan awan. Ingin Nisa menyusul awan untuk sekolah ke Bandung, tapi itu suatu hal yang tidak mungkin Nisa lakukan. Emang Nisa siapanya awan, dan hal yang paling Nisa takutkan, jika rasa ini hanya bertepuk sebelah tangan.

Ketika awan akan berangkat, Nisapun nekad minta diantar Sri dan Yuni untuk ikut mengantar kepergian awan ke Bandara. Mungkin Awan dan teman-teman awan heran melihat kehadiran nisa tanpa memberi tahu sebelumnya dan melihat Nisa yang tidak seperti biasanya. Nisa berharap dengan kenekatan ini, awan tahu perasaan Nisa yang sebenarnya. Nisapun tidak berharap awan akan membalasnya, dan jika awan pun memiliki rasa yang sama maka syukur Nisa yang terhingga pada sang pencipta. Bahagianya jika bisa menuliskan sejarah hidup bersama orang yang dicinta. Jikapun tidak, setidaknya Nisa bahagia sekaligus lega karena bisa mengungkapkan rasa yang selama ini terkumpul di dada pada seseorang yang Nisa cintai.

Sejak kita sekolah dasar dulu, Nisa sudah yakin kalau awan itu spesial. Seorang Awan yang punya tatapan yang meneduhkan dan selalu memberi rasa nyaman ketika didekatnya. Walau awan tidak terlalu suka menonjolkan diri, dan biasa tampil kalem dan apa adanya, bahkan semua orang disekolah dan kampung kita sangat menyayangi awan. Entah awan sadari atau tidak, awan seperti magnet yang membuat setiap orang merasa senang dan aman ketika ada didekat awan. Dan magnet itu pulalah yang membuat Nisa tidak bisa berhenti untuk memikirkan Awan.

Hmnn.. jadi kepanjangan gini yah suratnya. Nisa hanya bisa berdoa kepada Tuhan, moga suatu saat nanti diperkenankan bersua dengan awan lagi. Tetaplah jadi awan yang hebat, awan yang baik hati, awan yang pantang menyerah, awan yang selalu haus akan prestasi. Nisa yakin, kalau awan pasti bisa meraih apa yang awan cita-citakan. Dan Nisa juga berjanji, disini juga akan berjuang meraih cita-cita Nisa untuk jadi seorang Dokter, agar suatu saat bisa mengobati dan membuka rumah sakit dikampung halaman kita, seperti janji masa kecil kita dahulu.

Oya, dalam kotak kecil, ada hadiah kecil dari Nisa. Nisa ingat awan sangat suka bermain musik Suling Padi (sejenis terompet yang terbuat dari daun padi). Jadi nisa membelikan sebuah hadiah sederhana ini, Nisa harap bisa mengingatkan awan akan Nisa ^_^

Mungkin kakek dan nenek Awan sudah tiada, bukan berarti awan tiada tempat untuk pulang, karena disini tanah kelahiran dan kampung halaman awan, disini ada sahabat-sahabat yang tulus menyayangi awan. dan Disini,, Nisa menunggu pulangmu, tempat dimana Nisa mengenal arti cinta pertama dan Nisa harap juga jadi cinta Terakhir Nisa :)

Bye Awan

Dari seorang wanita yang tulus mencintaimu

Annisa Azzahra”

Tanpa sadar air mataku keluar membaca setiap kata dalam surat Annisa. Bodoh, kenapa baru sekarang aku tahu kalau Nisa juga punya rasa padaku. Bodoh! Mungkin hanya itu kata yang bisa ku umpatkan berulang kali pada diriku. Jika ada seorang wanita yang selalu menggetarkan hatiku ketika menyebut namanya, itu adalah dirimu ‘Annisa Azzahra’, cinta pertamaku. Bodoh, walaupun aku mempunyai rasa pada seorang Annisa, mana mungkin aku berani menatap ataupun coba merayunya, aku hanyalah seorang remaja miskin, ayah ku tak tahu siapa dan dimana, ibuku pun jauh di rantau, dengan tau Ibuku seorang pembatu aja orang sudah memandang rendah padaku, jadi mana berani aku memandang atau mendekatimu Sa. Mungkin memang beginilah jalan takdir yang disiapkan semesta untukku, namun satu hal yang kusesalkan, karena aku belum sempat menjawab perasaan Annisa. Tanpa adanya surat ini, mungkin selamanya aku tak pernah kalau Nisa punya rasa juga padaku. Aku hanya pungguk sedangkan Nisa adalah rembulan. Tapi aku berjanji dalam hati, suatu saat aku akan datang padanya, jika rasa itu masih ada, akan kujawab langsung semua rasa yang kamu ungkapkan melalui surat ini.

Kubuka sebuah kotak hadiah, didalamnya ada sebuah harmonica yang sangat cantik. Makasih Nisa, awan akan menjaga ini.

“Belum tidur nak ?” aku dikagetkan dengan suara ibuku yang tiba-tiba aja sudah berdiri disebelah tempat tidurku

“eh awan kenapa ?” ketika melihat mataku agak merah dan masih ada sisa air mata yang tak sempat kuhapus semua

Ketika melihat ditanganku ada surat dan sebuah harmonica, ibu jadi mengerti kenapa aku terlihat bersedih.

“Karena ini yah ?”, aku meletakkan surat dan beberapa hadiah dari teman-temanku serta hadiah dari Nisa ke rak lemari

“awan pasti punya teman-teman yang hebat yah disana” tanya ibu lembut.

Aku hanya diam, sambil menatap ibu manja.

“Bu, boleh gak awan tidur sama ibu malam ini, awan kangen” rajukku.

“hmnn, apaan sih anak ibu, jadi manja gini”

“yah, kan kita dah lama gak jumpa, ibu gak tahu sih betapa awan rindu sama ibu” sambil tidur dipelukan ibu.

“ih malu atuh, tar di lihat sama Ren gimana ? diketawain Awan nanti” kata ibu sambil mengelus kepalaku

“Biarin lah bu,” jawabku cuek

“Dulu waktu dikampung melihat anak sebaya awan jalan sama orang tuanya, atau ketika mengambil rapor mereka didampingi orang tua, awan juga ingin begitu, tapi awan sadar, ibu jauh di rantau. Dan Ibu merantau karena untuk awan juga kan!” sambil memejamkan mata, mengingat masa-masa ketika dikampungku.

Ibu terlihat menangis “maafin ibu nak, ibu yang tak ada disamping awan”.

“eh ma.. maaf bu, bukan maksud awan membuat bersedih” rajukku, aku paling takut membuat ibu bersedih.

“Gak nak, ibu hanya sedih karena tidak ada disaat awan butuh ibu. Ibu sayang sama awan, dan ibupun sangat bangga padamu nak, di saat ibu tidak ada, awan bisa bertahan dan bahkan selalu mengharumkan nama keluarga kita dengan prestasi-prestasi awan disekolah, ayah (kakek) selalu cerita ke Ibu tentang awan ke Ibu kok dan ibu janji, mulai saat ini Ibu akan selalu menemani Awan”

“itu semua karena kakek bu, kakek selalu memaksa awan belajar, memaksa awan untuk bisa mandiri”, aku jadi teringat ketika kakek yang selalu memarahiku ketika aku tidak melakukan perintah kakek ataupun ketika aku nakal tidak mengindahkan perintah kakek dulu.

“itu kan karena Ibu yang minta sama Kakekmu nak, Ibu minta pada kakek untuk mendidik awan menjadi kuat, karena akan banyak rintangan kehidupan yang akan awan hadapi kelak” jawab ibu sambil tersenyum.

Walau agak sedikit kurang paham dengan maksud perkataan ibu yang terakhir, aku anggukan kepala untuk mengaminkan ucapan Ibu.

“Iya bu, awan tahu kok. Kakek keras ke awan agar awan kuat dan bisa mandiri, gitukan bu!” sambil bangkit dari pangkuan ibu

“Ren boleh tidur sama ibu kan ?” tanya ren yang tiba-tiba sudah ada dalam kamarku, pintu kamarku yang terbuka ketika ibu masuk tadi. Eh, orangnya langsung nyelonong masuk aja dan duduk disamping kanan ibu sambil memeluk Ibuku manja.

Ibu yang melihat Ren, Cuma bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.

“gak ahh. tadi awan yang minta tidur sama ibu, sekarang ren juga ikutan, terus ibu tidur sama siapa dong” kata ibu bercanda

“Ibu mah gitu, sudah ada awan sekarang, jadi ibu g mau temani ren tidur lagi yah, Aku kan kangen di tidur di boboin sama ibu” katanya masang wajah cemberut

“gini aja deh, kalau begitu ren tidur dikamar ibu, awan tidur disini yah”

loh loh kenapa ibu malah seperti menuruti keinginan Ren yah.

“lah kok gitu bu, kan aku yang lebih kangen sama ibu” protesku

“yah mana bisa toh nak, Ren kan perempuan, yah gak bisa lah awan tidur bareng, gak muhrim” terang ibu.

“hahaha rasain, week” tawa Ren senang

“Ya udah tidur dulu gih, besok mau sekolah pagi loh” perintah ibu

“Ya buu” jawabku lemas

“Malam ini tidur ma Guling aja dulu yah, hihihi” kata Ren dengan tawa kemenangannya.

Akupun hanya bisa geleng-geleng sendiri.

Saat aku melihat ke rak lemari, disana masih ada surat dan hadiah dari teman-temanku yang masih belum sempat kusimpan, Eh tadi Ren lihat gak yah surat ini, untung ketika Ibu datang surat dan hadiah pemberian nisa sudah ku tarok di atas rak lemari yang agak tinggi. Kalau Ren lihat, bisa-bisa ditertawakan nih apalagi sampai mewek karena ini, mengingat kebiasaan gadis itu yang suka mencandaiku, bisa-bisa dibully aku tar, hadeeh.



POV Renata

Hai, namaku Renata. Sekarang aku kelas 3 di salah satu SLTA Internasioanal di kota Bandung. Kata orang yang mengenalku, mungkin aku akan dibilang seorang Gadis yang manja dan cengeng. Mungkin juga sih, itu dikarenakan orang-orang yang melihatku sebagai anak satu-satunya dari keluarga Konglomerat Wijaya. Secara fisik, tinggiku 165cm dengan kulit putih. Sedikit cubi sih, tapi kalau kata teman-temanku, justru disitulah yang membuatku terlihat seksi. Mungkin turunan dari mamah kali yah. Cukup segitu dulu perkenalan tentang aku yah.

Dirumah aku punya beberapa pembantu, dengan satu kepala pembantu, namanya Ibu Arini, usianya sekitar 45 an. Dia sudah mengabdi belasan tahun dikeluargaku, bahkan sejak aku masih balita. Tapi aku dan keluarga lebih dekat secara personil dengan Ibu Arini, bagiku sosok nya lebih sebagai seorang Ibu yang tidak pernah aku dapatkan dari mamaku, beliau sangat perhatian, selalu jadi pendengar segala curhatku, termasuk kapan aku pertama kali dapat datang bulanpun, beliau yang pertama tahu. Bukan karena mamaku cuek atau tidak perhatian kepadaku. Mungkin karena Mamah adalah sosok wanita karir yang sangat tekun, mamah sama papah sepaket dua paket, karena kesibukan mereka dengan pekerjaannya, tidak heran jika perusahaan kami jadi seperti sekarang. jadi aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bu Arini Pembantuku. Tapi herannya, aku malah lebih terasa sangat dekat sekali dengan bu Arini. Kadang kami seperti teman, kenapa aku memanggilnya Ibu, bukan Bibi atau Mbok seperti aku memanggil pembantu kami yang lainnya, itu dikarenakan anak Bu Arini yang memanggilnya begitu. Seiring kedekatanku dengan Bu Arini, kekagumanku pada sosoknya yang penyayang, juga membuat ku kagum dengan anaknya. Yang membuatku kagum, meski bu Arini jauh-jauh bekerja disini, tapi anaknya selalu berprestasi loh. Sering aku ikutan mendengar ketika Ibu sedang telponan dengan anaknya, yang bernama ‘Saktiawan Sanjaya’. Nama yang bagus dan berkharisma, apa orangnya juga setampan namanya yah. Ibu pernah melihatkan foto Awan (panggilannya) kepadaku. Dari kekaguman tersebut aku jadi penasaran ingin berjumpa langsung dengan orangnya, kira-kira bagaimana reaksinya yah bertemu denganku nantinya, jadi gak sabar menunggu saat itu tiba, hayalku membuatku senyum-senyum sendiri.

Akhirnya kesempatan untuk bertemu dengan sosok yang membuat aku penasaran selama ini kesampaian juga. Ketika ibu mendapat kabar, dari kampungnya kalau ayah (kakek Awan) satu-satunya meninggal dunia, beliau sempat ijin beberapa minggu pulang ke kampung halamannya. Ketika kembali kesini, beliau bercerita kalau awan anaknya mungkin akan di sekolahkan disini dan meminta ijin papah dan mamah untuk membolehkan Awan sekolah disini, karena disana tidak ada lagi yang akan menjaganya, ibu ada sih keluarga jauh, tapi merasa kurang percaya untuk mempercayakan awan ke keluarganya tersebut. Gayung bersambut, Papah dan Mamah menyambut baik keinginan ibu, bahkan Papah berjanji untuk menanggung semua keperluan biaya sekolah awan disini. Mendengar kabar itu, aku senang sekaligus sedih, untuk seorang Awan yang bahkan aku belum bertemu dengannya.

Aku jadi kepikiran keadaan awan saat ini, pasti saat ini ia sedang sedih-sedihnya. Kakek satu-satunya yang menjaganya selama ini telah tiada, Apa awan akan tegar yah, aku berdoa dalam hati, “semoga kamu kuat yah wan”.

Ketika Ibu bercerita bahwa hari ini awan akan datang, aku sangat senang. Pagi-pagi aku dah siap-siap, bahkan papah sama mah pun heran melihat sikapku pagi ini yang tidak seperti biasanya. Gimana gak senang, sosok yang secara diam-diam kukagumi hanya melalui cerita Ibu selama ini ataupun mendengar suaranya melalui telpon saja, akan kulihat hari ini.

Singkat cerita, tibalah kami di Bandara. Ketika pertama kali berjumpa, aku melihat seorang remaja yang tegap dan tinggi dengan kulit putih bersih menghampiri kami, aku menatapnya dalam-dalam. Tatapannya tajam dan meneduhkan. oh my god! aku jatuh cinta!. Itu yang kurasakan pertama kali. Entah kenapa jantungku berdetak lebih keras dari biasanya. Tapi kesalnya, sedikitpun dia tidak melihatku, pandangannya hanya terpaku pada sosok Ibunya. Aku maklum sih, mungkin kerinduannya yang selama ini hanya bisa berbicara melalui telpon tanpa bisa bertemu. Hikss hikss.. jadi terharu melihat mereka, tanpa sadar air mataku ikut meleleh, ketika melihat mereka berpelukan dan saling melepas rindu. Awan, kamu memang gagah segagah suaramu yang hanya bisa kudengar selama ini, dan satu hal yang pasti, kamu telah berhasil mencuri hatiku.

“oh ya nak kenalin, ini Non Renata, anak majikan tempat Ibu bekerja” kata Ibu mengenalkanku pada awan

Degh degh.. jantungku masih berdetak kencang ketika melihat cara nya memandang, namun aku berusaha setenang mungkin agar tidak terlihat grogi didepannya.

“Ibu ini apa loh, masih aja bilang majikan, Ibu kan dah bagian dari keluarga Ren” jawabku sambil menghapus air mata yang tah kapan mengalir di pipiku.

“Saktiawan panggil aja awan Non” jawabnya mengulur tangan padaku

“Apa sih, malah ikutan ibu panggil non segala”, jawabku agak kesal ketika menjawab uluran tangannya. Pegangannya tangannya terlihat tegap dan walau agak sedikit kasar terasa telapak tangannya, menggambarkan kerasnya kehidupan yang dihadapinya.

“Ranata, kamu boleh panggil Ren atau Rena, hihihi”, jawabku sambil tersenyum dan memandang lekat wajahnya.

Ketika diatas mobilpun, aku sempat melirik awan melalui kaca spion depan. Aku jadi senyum-senyum sendiri saat melihat awan seperti tak henti-hentinya kagum dengan keindahan kota Bandung, benar-benar polos anak ini. Ya wajar juga sih, karena ini pengalaman pertamanya datang ke kota besar yang masih asing baginya.

Akupun jadi tak tahan untuk menyapanya, “Tar juga kamu terbiasa dengan kehidupan disini” kataku sambil melirik awan dari kaca spion.

Kulihat Awan hanya tersenyum, sepertinya ia masih segan atau sungkan denganku. Duh Awaan, kamu gemesin banget sih.

Ketika sampai dirumah, hari sudah agak larut malam. Karena tadi saat keluar dari Bandara hari sudah agak sore. Saat sampai dirumah, rupanya papah dan mama sudah ada dirumah menunggu kami, untung tadi sempat makan dulu dijalan, karena aku khawatir kalau awan belum makan, jadi kami sempatkan makan di jalan sebelum sampai kerumah.

Setelah selesai berbincang dengan papah dan mamah, aku menunjukkan kamar awan dengan agak menarik tangannya untuk mengikutiku, papah dan mamah sampai geleng-geleng kepala melihatku. Aku juga heran sendiri, kalau dekat dengannya malah jadi gregetan sendiri jadinya.

Bahkan aku sengaja sedikit menggodanya ketika keluar kamarnya,

“Oya, kamar ibu disebelah, dan kamarku di depan yah” sambil menatap sedikit nakal padanya.

“atau kamu mau tidur dikamarku ? hehehe” ucapku dengan santainya sambil menggigiti bibir bawahku, lalu aku berlalu kedalam kamarku, ketika menutup pintu, aku bersandar dibalik pintu kamarku. Aku tak tahu akan bagaimana tanggapan awan tentang diriku nantinya, duh mukaku terasa merah

“Duh Ren apasih yang lo lakuin”, tanyaku ke diriku sendiri. Sambil tersenyum sendiri. Biasanya aku paling jaim kalau ketemu orang baru. Entah kenapa kalau dengan Awan aku yang tak tahan untuk mencandainya.

Kulihat jam didinding kamarku sudah jam 12 malam, aku belum bisa tidur, mungkin karena saking bahagianya hari ini, duh awan, entah kenapa dekat dengan dirimu aja bisa bikin aku sebahagia ini.

Aku coba keluar kamar, awalnya ingin ke kamar Ibu agar bisa tidur dan cerita sama Ibu, tapi kulihat pintu kamar awan yang ada persis depan kamarku sedikit terbuka, terlihat Ibu malah ada di dalam kamar awan.

Kesempatan nih, jadi bisa godain awan lagi, mumpung ada ibu, jadi ada alasan buat masuk kamarnya. Gak mungkin kan, kalau tiba-tiba masuk ke kamar awan dengan sengaja. Bisa di suruh nikah dini aku sama mamah dan papah. Hihihi.

Samar-samar kudengar sedikit pembicaraan mereka, awalnya jadi agak ragu untuk ikut masuk kedalam kamar, mungkin mereka ingin bersama dulu untuk melepas rindu, tapi kakiku tanpa kusadari malah berjalan kedalam kamar Awan. Kulihat awan agak kaget dan bangkit dari pangkuan ibunya sambil melihatku dengan ekspresi agak kaget.

“Ren boleh tidur sama ibu kan ?” tanyaku pada Ibu sambil melirik awan.

Ibu hanya geleng-geleng kepala, mungkin Ibu juga heran dengan sikapku yang tiba-tiba manja padanya.

“gak ahh. tadi awan yang minta tidur sama ibu, sekarang ren juga ikutan, terus ibu tidur sama siapa dong” kata ibu bercanda.

“Ibu mah gitu, ada awan sekarang, jadi ibu gak mau temani ren tidur lagi yah, Ren kan kangen tidur di boboin sama ibu” kataku pura-pura cemberut

“gini aja deh, ren tidur dikamar ibu, awan tidur disini yah” jawab ibu mengalah, hihhi berhasil lagi godain awan dengan membajak ibunya nih, tar ahh aku tanya-tanya lebih banyak tentang awan pikirku

“lah kok gitu bu, kan aku yang lebih kangen sama ibu” Awan protes pada Ibunya

“yah mana bisa toh nak, Ren kan perempuan, yah gak bisa lah awan tidur bareng, gak muhrim” terang ibu.

“hahaha rasain, week” kataku sambil julurin lidahku sambil mengejek awan

“Ya udah, tidur gih! besok mau sekolah pagi loh” perintah ibu pada Awan

“Iya bu” jawab Awan lemas. Terlihat dari matanya, sepertinya masih ingin berlama-lama dengan Ibu, maaf yah wan, hanya ingin mencandaimu, besok-besok deh, Ren sendiri yang akan menemanimu, hihihi. Pikirku.

“Malam ini tidur ma Guling aja dulu yah Awan” kata ku dengan tawa kemenangan

Tidak sabar rasanya menunggu hari esok, tentunya akan lebih sering bersama awan, tapi kalau kuperhatikan awan masih terlihat agak culun dengan penampilannya yang sederhana seperti saat ini. Bayangkan aja, tadi ketika ia datang cuma paket jaket yang sudah lusuh dan sepatu yang sudah kusam. Tapi walaupun begitu, dasarnya sudah ganteng mah tetap ganteng pake pakaian apa aja kok, paling tinggal dipoles dikit akan lebih terlihat aura ketampanannya. Aku janji akan kubuat awan jadi lebih good looking, sehingga gak akan malu-maluin kalau dibawa jalan keluar.

Tapi, aku jadi agak sedikit ragu juga, apa nanti awan gak akan melirik wanita lain yah kalau dia dah ngerti menata penampilannya sendiri kelak. Tapi, what ever lah, aku harus optimis akan membuatnya jadi suka padaku. hmnnn jadi gak sabar untuk menunggu hari esok.



#inilah janji seorang renata, jadilah awanku dan aku akan jadi satu-satunya wanitamu
 

4Scott

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
370
Reaction score
3,909
Points
93
SEORANG WANITA DAN TATAPAN MISTERIUSNYA


Pak Agus



Bu Lina​

POV Author
Drrtt dttt bunyi derikkan sebuah kasur dalam sebuah kamar, tampak diatasnya sepasang suami istri sedang memadu kasih, tubuh keduanya mengkilat dengan keringat yang sama-sama membanjiri tubuh keduanya.

“Mamah diatas... ahhh” desah sang suami

Si istri membalikan badan ketas suami tanpa melepas kelamin mereka... kemudian si istri mulai menggoyang badannya turun naik. Si Suami tanpak merem melek menahan nikmatnya goyangan sang istri.

Plok plok plok ketika pinggul si Istri naik turun diatas tubuh si Suami

“ahhh jangan kencang-kencang Mah, Papah bisa gak tahan nih” bisik si suami

“ahhh tapi ini terlalu nikmat pah...” si istri malah makin mengencangkan goyangannya maju mundur ala goyang itik..

“ahhh hot banget sih kamu mah” kata si Suami sambil sesekali mencoba mengimbangi goyangan pinggul si Istri

Tangan sang suami memegang kencang pantat si istri, perlahan tangannya naik keatas menelusuri tubuh mulus si istri yang sedang banjir keringat. Perlahan jari-jari si suami mulai meremas kedua payudara sekal si Istri..

“ahhhh.. montok banget nih susu..” tidak tahan, si suami agak menegakan badannya dan dengan gemasnya mengemut kedua payudara istrinya secara bergantian..

“ahhh terus pah, nikmaaatt ahhhh” desah si Istri.

Dahsyatnya goyangan si istri, mebuat si suami serasa mau meledak

“ahh papah gak tahan mah, mau keluaarrr”

“ahh bentar Pah.. Mamah masih jauh nihhh” desah sang istri sambil meningkatkan tempo goyangannya.

“aaaahhhhhhhhh...”

Croooottt crroooottt crrooottt

Sang suami sampai pada puncaknya, hingga memuncratkan sperma yang sangat banyak kedalam liang peranakan si istri..

Si Istri yang masih belum dapat puncaknya, menggerakan pinggulnya makin intens untuk mengejar puncak kenikmatannya...

“aahh ahhh ahhhh.... mamah juga keluar paahhhhh” kedua matanya sampai tampak putihnya saja menandakan saking nikmatnya puncak orgasme yang didapatnya. Si Istri bahkan sampai terbaring lemas di atas tubuh Si Suami.

“haahhh haahhhh hhaaahhh” sesaaat lamanya hanya terdengar deru nafas keduanya, sambil menikmati puncak persetubuhan yang mereka lakukan.

Setelah beberapa saat lamanya, si istri bergeser kesamping, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang keduanya sambil berbaring di dada suaminya.

“mamah kok makin hot aja sih” kata si suami pelan sambil mengelus kepala si istri yang berkeringat sambil masih memejamkan matanya. Entah kapan dia mengingat terakhir kalinya dia menikmati puncak kenikmatan seperti yang ia raih barusan.

“Papah sih jarang nyentuh Mamah” jawab sang istri manja.

“maaf yah Mah...” bisik si suami sambil menyiumi kepala si sitri.

“tapi beneran deh mah, memek mamah makin kencang aja, papah jadi gak kuat” bisik si Suami.

“Papah suka ?” tanya si istri sambil mengangkat kepalanya melihat wajah si suami.

“suka bangeett” jawab si Suami sambil mengelus wajah cantik istrinya tersebut.

“Tapi papah kok cepat banget sampainya, untung tadi mamah dah mau sampai juga” jawab si istri dengan sedikit memanyunkan bibirnya.

“hehe maaf mah, abisnya papah dah gak tahan dengan goyangan mamah, mana memek mamah jepitnya kencang banget, itu aja papah dah coba tahan-tahan, ternyata muncrat juga”, jawab si suami sambil tersenyum agak malu.

“Makanya papah olahraga dong, nih dah makin gelar gini, kalau papah bugar kan kita bisa sering-sering bercinta kayak gini, hihiii” sambil si istri menciumi puting suaminya..

“ahh..” desah si Suami yang merasakan geli pada putingnya.

“oo,, Jadi ini salah papah! salah teman-teman papah!” kata suaminya sambil bercanda

“ihh papa jangan lebay deh”, keduanya tersenyum bahagia.

“oh ya pah..”

“hmnnnn...” jawab sang suami sambil mengelus kepala si istri.

“Papah yakin mengangkat Awan jadi anak angkat kita ?” tanya si istri agak serius.

“Yakin mah, kenapa ?” tanya balik si suami.

“Gak pah, lagian mamah masih heran aja sama papah, kita baru kali ini lihat Awan langsung, tiba-tiba Papah langsung mengangkatnya sebagai anak angkat kita, yah walau kita tahu mbak Arini sudah lama mengabdi dengan kita dan gak usah diragukan lagi loyalitasnya, tapi dengan Awan kita kan gak tahu besarnya dikampung seperti apa!, lingkungan kayak gimana!”

“Mamah sangsi gituh ?”

“Gak sih pah, Cuma mamah heran aja ma papah, gak biasanya gitu”, tanya si Istri heran.

“Gak usah heran sayang, kan jauh-jauh hari kita dah diskusikan masalah ini juga. Walau papah agak sedikit ragu awalnya. Tapi, mamah lihat deh tatapan awan, cara dia melangkah, menatap kita, entah kenapa ketika melihat jauh ke matanya, papah tahu dia anaknya berprinsip dan bisa dipercaya”

“kalau melihat tatapannya, papah jadi teringat teman papah dahulu, orang yang membantu papah pertama kali. Orang yang memiliki tatapan yang sama dengan Awan. Tajam, namun penuh misteri. Sayang ia terlalu ambisius dan suka melakukan apa saja untuk meraih tujuannya. Kebalikannya dengan awan, sama-sama memiliki tatapan yang tajam, namun entah mengapa kalau melihat kedalam matanya, yang papa rasa justru ketenangan, tatapannya bisa membuat orang percaya sepenuhnya kepadanya.

“iya pah, tatapannya tajam sekaligus menentramkan, andaiiii mamah masih muda... hihihiii” jawab si istri agak nakal.

“hmnnn mudanya mamah kan dah sama papah dulu,. hahaha” kata si Suami dengan bangganya.

“ini kan misal paahhh” jawab si istri gak mau kalah.

“hmmm mulai deh ganjennya istri papah” pura-pura cemburu.

“hihii bercanda pah” jawab istrinya sambil membelai mesra pipi si suami

“Tapi beneran deh mah, lihat aja si Ren anak kita sampai lengket gitu sama awan, lihat aja tatapannya gak mau lepas dari sosok awan”

“iya yah pah, jarang-jarang loh lihat anak kita begitu, itu siapa namanya anak teman papah”

“Daniel anaknya pak abas maksud mamah ?”

“iya itu, kan malah terang-terangan deketin Ren, ehhh anak kita malah acuh aja... hahaha jadi ketawa sendiri mama kalau ingat-ingat waktu Daniel deketin ren”

“Iya mah, papah jadi sempat gak enakan sama pak Abas waktu itu. Tapi tentang jodoh, papah gak mau maksa anak kita mah, biarlah dia milih dengan siapapun pilihannya, asal Ren bahagia”

“hmmnn setuju pah”, jawab si Istri setuju dengan putusan si Suami.

“Balik tentang tadi, papah yakin Awan punya potensi untuk jadi orang besar, asal kita bisa mengarahkannya dengan benar, mungkin suatu saat anak itu bisa bermanfaat bagi kita”

“yah semoga pah”

“yaudah tidur mah, papah capek, pagi-pagi kita harus ke Singapur buat ngurus deal proyek yang disana”

“hmnnn yakin nih papah mau tidur” goda si istri nakal sambil mengelus kelamin suaminya yang sudah terkapar lelah.

“ahhh mamah, jangan mulai deh, dah lemes nihhh, gak puas-puasnya apah”, menjawab godaan si sitri, karena masih lemas banget sepertinya.

“hmnnn bangun yah papah juniorr”, si istri malah makin mengocok burung si suami, tapi apadaya si burung lemas tanpa daya setelah satu ronde yang panjang dan melelahkan baginya.

“auh ahh gelap”, jawab si suami sambil memejamkan matanya

“hihiiii”, si istri hanya bisa tersenyum sambil memeluk tubuh suaminya dan mencoba tidur walau masih kentang sepertinya.

*****
POV Arini


Bu Arini


Surti



Inah​

Jam 3 pagi aku terbangun, setelah cuci muka. Aku melangkahkan kaki kedapur, sebelumnya kusempatkan untuk membangunkan surti dan inah untuk siap-siap menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah ini.

Entah kenapa hari ini aku sangat senang sekali, mungkin karena kedatangan anakku satu-satunya. Setelah sekian lama kami terpisah jarak dan waktu, kesempatanku bertemu dengannya hanya beberapa kali, itupun dalam waktu yang tidak lama ketika aku pulang kekampung halaman. Sedih rasanya tidak bisa melihat bagaimana ia tumbuh, bahkan untuk menyuapinya makanan aja ketika ia kecil bisa dihitung beberapa kali saja. Untung ada ayah dan ibuku yang bantu merawatnya.

Ibu meninggal setahun yang lalu, beberapa bulan setelah itu ayah ikut pergi menyusul ibu, aku ijin pak agus dan istrinya pulang beberapa minggu. Perasaan sedih yang sangat mendalam kurasakan kehilangan sosok orang tua yang telah melahirkanku, mereka adalah sosok orang tua yang sangat sederhana. Teringat, ketika masih remaja aku salah melangkah dalam menjalani sebuah hubungan, aku bahkan sampai tega meninggalkan kedua orang tuaku hanya demi ikut pria tersebut, aku menjalani nikah siri dengannya, karena ternyata orang tua lelaki tersebut tidak setuju kalau anaknya akan menikahiku yang hanya dari keluarga sederhana, disamping itu orang tuanya juga telah memilihkan pasangan untuknya. Namun karena kebulatan tekad cinta kami, kami nekad menjalani hidup berdua, walau hidup di sebuah kontrakan yang sangat-sangat sederhana. Setiap hari kami lalui dengan kebahagiaan, walau hidup dengan apa adanya, karena bagi kami, bisa menjalani setiap detik waktu bersama pasangan yang dicinta adalah kebahagiaan yang tiada duanya.

Aku masih ingat, saat tahu pertama kali aku hamil, tidak terbayang betapa bahagianya wajah suamiku. Bahkan semua penghasilan suamiku hari itu yang didapatnya dari kerja serabutan, dihabiskan untuk membelikan kue-kue kering yang sangat banyak, kemudian dibagikan ke tetangga-tetangga sekitar dan setiap orang yang dijumpainya ketika dijalan. Kami sangat bersyukur dengan berkah kehamilanku saat ini, aku masih ingat dengan sangat jelas, tidak lepas senyum dari wajahnya seharian itu.

Katika perutku semakin membesar, aku dibuat syok dengan sebuah kenyataan yang paling pahit dalam hidupku, yaitu kabar hilangnya suamiku. Dari sore aku menunggu kepulangan suamiku, bahkan hingga larut malam tidak juga kujumpai sosoknya. Aku sangat cemas, khawatir dengan keadaannya, kenapa sampai larut suamiku juga belum pulang.

Untungnya aku punya tetangga-tetangga yang baik, mereka ikut menghibur dan menguatkan aku. Bahkan, mereka banyak yang ikut mencari suamiku ketempat kerjanya karena hingga esok harinya ia masih belum pulang keontrakan kami. Kecemasanku makin menjadi-jadi, karena beberapa hari setelahnya suamiku masih belum juga pulang. Para tetangga ikut membantu melaporkan hilangnya suamiku ka kantor polisi, namun hingga beberapa minggu setelahnya, beritanya masih juga nihil.

Melihat keadaanku yang semakin lemah, uang ditangan juga sudah tidak ada. Untuk kebutuhan makan sehari-hari para tetangga sepakat untuk membantuku. Hingga akhirnya mereka mengusulkan aku untuk pulang sementara, kekampung halaman. Agar biar ada keluarga yang menjaga jelang kelahiranku. Sementara mereka terus mencari kabar keberadaan suamiku.

Katika pulang ke kampung. Awalnya, kukira orangtuaku tidak akan mau menerima kehadiranku, karena bagaimanapun aku menikah tanpa restu dari mereka. Tapi begitulah orang tua, sesalah-salahnya anak melangkah, namun kasih sayang orangtua pada anaknya tidak pernah tergantikan, sebesar apapun salah anaknya. Itulah yang kulihat dari kedua orangtuaku, bahkan mereka tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahanku. Mereka menyambutku dengan penuh kasih sayang.

Bahkan ketika anakku lahir kedunia ini, mereka yang paling sibuk sendiri, mulai dari memanggil dukun beranak (saat itu belum ada bidan desa), serta mengurus semua keperluanku. Tidak terlukis, betapa bahagianya mereka saat itu.

“Lihat yah, cucu kita laki-laki.. kesampaian juga nih ayah punya keturunan laki-laki” tatap ibuku penuh haru.

“Iya bu, ini akan jadi penerus keluarga Abu Fikri, dia akan kuat dan tangkas seperti kakeknya” kata ayahku penuh bahagia.

Begitulah kebahagiaan ayah dan ibuku saat itu.

“Coba deh bu, dah pas belum bumbunya nih” tanya Inah membuyarkan lamunanku.

“eh.. iya nah” kataku sambil mencicipi nasi goreng yang sedang dibuatnya.

“hmnnn kurang garamnya dikit ini, bumbu olahan tadi sudah di masukin kan ?” tanyaku, karena seperti biasanya, aku yang mengolah bumbu masakan jadi mereka berdua ini yang bagian memasaknya.

“Sudah kok bu” jawab inah sambil menuangkan sedikit garam kedalam nasi goreng yang sedang dimasaknya.

“hmmmnn si Ibu, jadi senang banget sampe melamun gitu” celetuk surti disamping Inah sambil senyum-senyum tengil.

“loh aku lo belum lihat anak bu Arini” kata Inah sambil masak.

“hmmn anaknya bu Arini ganteng baanget loh nah” kata surti sambil mencuci piring disamping bu Arini.

“beneraan ?” tanya Inah penasaran.

“ihh benerrr, aku aja jadi pengen nikah lagi lihat wajah gantengnya”

“ihh mau dong lihat orangnya”, jawab inah sambil senyum-senyum.

“eeleh eleehh, kalian ini, kerja-kerja masih sempat aja ngerumpiin cowok, gak lihat apa ibunya masih disini malah ngomongin anaknya” jawabku sambil ketawa lihat tingkah mereka.

“Ibuuuu..” jawab mereka kompak sambil tersenyum

“hadeeehhh ada-ada aja kalian nih, dasar ABG lawas”

“ihh Ibu, ABG lawas kita dibilangnya” jawab Inah manyun.

***
POV Awan


Saktiawan Sanjaya (Awan)


Renata Wijaya (Ren)
Hoaammm.. pagi ini aku terbangun dengan badan sedikit pegal, kulihat sekeliling, aku sedikit kaget, kok tidur diatas tempat tidur yang bagus dan sangat empuk begini. Dengan ruangan yang sangat asing bagiku, astaga aku baru ingat kalau saat ini tidur di rumahnya majikan Ibuku.

Kulihat jam di dinding kamar jam 3.40.

Aku siap-siap dulu. Sejenak Kulihat hape jadulku, ada beberapa sms dan panggilan tidak terjawab, aku lupa kalau dari kemarin hape ku silent.


Kak Rini​


From Kak Rini 081xxxx

“Awan jadi dijemput ibumu ?”

“Jadi ketemu ibunya ?”

“Awaann kok g di bales ?”

“kamu gak apa” kan, gak nyasar kan dek?”


Ada beberapa sms dari kak Rini ternyata, kusempatkan balas pesannya.

“Udah sampai kak, ini baru bangun, maaf yah kmren hpnya di silent jdnya g tau kalau kk sms”, balasku, send.

Ting tingg..

Loh cepat kali balasnya, gak tidur nih apa si mbak-mbak, pikirku

“hmnnn kk kira kamu kenapa-napa”

“hehee aman kok kk cantik”
balasku

“yaudah siap-siap sana gih, jangan sampai telat. hari pertama sekolah loh”

Duuh perhatian kali dia, pikirku

“oke kk”

“bye dedek gancu, kalau kamu butuh apa-apa jangan lupa hubungi kk yah, awas loh”

“iih masih aja dipanggil gitu”

“hehehee”
balasnya
Dan masih ada beberapa sms lainnya dari teman-temanku, kusempatkan balas satu-persatu pesan mereka dan mengabari kalau aku sudah sampai tempat ibu dan baik-baik saja. Sekalian mau mengabari Nisa rencananya, ups! Aku lupa, nomornya berapa yah. Aduuh kenapa gak minta pas di Bandara kemaren yah, sesalku. Sudahlah, nanti tanya teman-teman aja, sapa tau ada nomornya Nisa, pikirku.

Aku keluar kamar, kulihat ibuku tidak ada dikamarnya. Katika turun kelantai bawah ternyata beliau lagi masak di dapur. Kulihat ibu lagi memberi arahan kepada kedua wanita yang masih muda. Yang satu sedang masak nasi goreng, dan wanita satu terlihat sedang mencuci piring disebelahnya

“Pagi buuu..” panggilku

“eh anak ibu sudah bangun, gimana tidurnya ? nyenyak ?” tanya ibu sambil senyum melihatku

“Iya bu, nyenyak banget, kasurnya empuk, hehehe”

Dua cewek yang ada disamping terlihat sedang bisik-bisik sambil cekikikan.

“kalian ini kenapa ?” tanya ibu

“gak ada bu! ini nih, si Inah katanya naksir anak bu Arini” jawab wanita disebelahnya sambil senyum-senyum jahil.

“iih mbak ini loh, katanya mbak tadi yang naksir anaknya bu Arini, pake bilang mau tambah su.a.. hmmppphhh” wanita yang pertama tadi langsung menutup mulut wanita yang lebih muda itu sambil melotot padanya.

“hadeehh kalian ini ada-ada aja” kata ibu geleng-geleng.

“oya nak, kenalin ini Surti dan itu yang pake Jilbab namanya Inah, baru 4 bulan disini. kalau surti ini dah senior kerja disini” jawab Ibu mengenalkan mereka padaku.

“Hai mbak-mbak” sapaku sambil tersenyum kemereka

“haiii” jawab mereka kompak sambil melambaikan tangan kanannya dengan senyumnya yang malu-malu.. hahaha.

“mereka ini, katanya naksir kamu loh nak” kata Ibu sambil senyum usil.

“eh ngak-nggakk, gak ada itu bohong ibu mas” jawab surti grogi.

“iya ibu ini, ada-ada aja loh”, jawab Inah menunduk malu dengan muka merona merah.

“haleeehh, tadi aja gak ada orangnya kalian berani manggil ibu mertua segala” jawab ibu, sepertinya keluar tanduk usil dari kepalanya.. hahhaa.

“aduh inaahh nasi gorengnya perhatiin dong, tar gosong loh” ibu sedikit teriak ke wanita yang bernama Inah

“eh iya iya buk” jawab mbak inah salting.

“kamu juga Surti, kamu nyuci piring kan tugasnya tadi, kok malah dipegangin aja tuh piring, kapan bersihnya” Tegur Ibu ke Asistennya yang bernama Surti.

“eh iya bu, kamu sih Nah gangguin” jawab surti melemparkan kesalahannya ke Surti.

“loh kok aku?” jawab Inah protes.

“hahhaaaa...” lucu-lucu juga asisten ibuku, bisa nih kapan-kapan godain mereka

Tiba-tiba...

“AWAAANN” terdengar teriakan Renata dari kamar atas.

“tuh kamu dipanggil, sana gih siap-siap, tar telat sekolahnya” kata ibuku menyuruh siap-siap.

“ya bu, awan keatas dulu yah bu” pamitku ke Ibu.

“keatas dulu yah mbak”, kataku ke asisten ibu.

“ya mas, marii” jawab mereka dengan kompaknya sambil melambaikan tangannya.

“loh mari kemana mbak ?” tanyaku heran, kan aku pamit keatas kok malah mereka yang ngajakin, heranku.

“mari itu maksudnya silahkan maass” jawab mereka gemes,

“ooh” itu toh maksudnya

***

“Kamu kemana sih awaan, baru juga hari pertama dah ngilang-ngilang aja” jawab Renata sewot saat aku sudah didepannya.

“itu,, tadi lagi ngobrol sama ibu dibawah” jawabku agak kikuk depan Ren.

“hmmnn kamu mandi gih, tuh pakaiannya dah Aku tarok diatas tempat tidur” sambil menunjuk keatas tempat tidurku, dan disana terlihat satu stel pakaian sekolah yang sudah dilipat dengan rapi.

“Awas yah kalau dalam 10 menit kamu belum siap”, tunjuknya kehidungku sambil dengan gaya sedikit melotot gemas menatapku

“oke siap bos” jawabku pake pose hormat

“ingat, yang cepat yah” katanya sebelum keluar dari kamarku, terlihat Renata seperti menahan senyumnya ketika keluar dari kamarku.

Ketika dikamar mandi aku sempat bingung, aduh mana bak airnya, mana Cuma ada tempat duduk (closet) begini, gimana mandinya pikirku. Cuma ada tempat cuci tangan kecil (westafel) gak mungkin kalau mandinya dari air sini, hmnnn aku buka tempat duduk (closet) yang ada didekatku, terlihat ada lubang dengan air sedikit didalamnya, gak mungkin disini deh sepertinya, pikirku polos. Biasa mandi di kali sih, jadi bingung pas mandi kamar mandi yang lux begini, wkwkkw.

Aku cari-cari ada dua kran putar di dinding, penasaran aku putar aja keduanya kearah kanan..

Sssuuuuurrr... air keluar dari ‘corong’ air diatasnya, tapi kok panas yah..

ait aitt.. panas panass..

Aku kaget sambil meloncat dari tempat keluar pincuran air tersebut, asem apa orang kaya mandinya suka panas-panas begini yah, airnya bisa panas begini gimana caranya pikirku heran. Setelah kulihat sekeliling, ternyata ada tombol puter disamping kran yang aku puter sebelumnya, ternyata posisinya di posisi Hot. Oalah ini toh, penyebabnya, sambil menertawakan ketololanku.

Karena sedikit ‘insiden’ tersebut, aku jadi sedikit lama dikamar mandinya. Dan ketika selesai berpakaian, ren tiba-tiba nyelonong masuk kekamarku.

“Hah belum selesai juga ?”, teriaknya.

“maaf Ren, habisnya tadi aku cari-cari bak mandinya gak ketemu”, jawabku polos.

“adooohh kenapa gak nanya sih”, katanya gregetan.

“yah gak mungkin lah, kan aku Cuma handukkan, gimana keluarnya”.

“hahhh beneran” tanyanya sambil melihat kearah bawahku.

Duhhh nih anak bayangin apaan sih, reflek sambil menutupi bagian bawahku malu.

“hihiii yaudah cepat”

“lah ini kan udah”, jawabku sambil berdiri dan balik badan didepannya, karena memang aku sudah berpakaian lengkap.

“hmnn sini duduk” kata ren sambil menyuruhku duduk didepan kaca yang ada dikamarku.

Kemudian ren mulai mengoleskan sebuah krim ketelapak tangannya, yang gak kutahu apa..

“ih apaan nih” protesku, ketika Mulai mengoleskan krim tersebut kewajahku.

“udah diem aja, nurut napa. Ni aku kasih pelembab biar wajahnya keliatan seger terus sepanjang hari” katanya.

“duh dah kayak wanita aja, tar belum apa-apa sudah ditertawakan sama orang-orang diluaran sana aku”, jawabku protes karena masih lom bisa menerima dengan make over ala Ren padaku.

“udah deh, jangan rewel, patuh aja napah, atau aku panggilin Ibu nih” ancam Ren padaku.

Adoohh terpaksa nurut dah ini.

Tak lupa Ren juga memberi jel pada rambutku, kemudian disisir rapi.

Kukira dah selesai, tiba-tiba ren mengeluarkan sebuah botol dari kotak hitam diatas meja,

“taddaaaa...” katanya sambil tersenyum. Kukira apa, karena dari botolnya saja terlihat mewah dan elegan, seperti mahkota raja aja tutup botolnya, dan...

Ssssttt ssstt,

Ren menyemprotkan sesuatu ke pakaianku, yang baru kutahu ternyata itu botol parfum, hmmnn wanginya sedap banget, gimana gak klepek-klepek kalau cewek dekat-dekat aku nih.

Kulihat merknya Caron Poivre, sepertinya parfum mahal ini.

“loh apa nih Ren ?” tanyaku heran.

“hadiah buat kamulah” jawabnya enteng.

“apa gak kemahalan ini” menatapnya seakan masih tidak pecaya.

“biasa aja kali, yaudah yuk sarapan dulu, kasihan papah dan mamah nungguin kita” ajak ren cuek.

Sejenak sebelum keluar kusempatkan berkaca kembali melihat penampilanku, ketika melihat name tag yang ada di bagian dada seragam sekolahku, baru kusadari satu hal, disana tercetak nama :

“SAKTIAWAN S. WIJAYA”

Tak terasa, hatiku larut dalam rasa haru. Segitu seriusnya pak Agus ingin mengangkat aku menjadi anaknya, bahkan menyandingkan nama besarnya di belakang namaku. Maka, dalam azzamku bertekad, suatu saat! yah suatu saat, aku akan mengingat kebaikan beliau dan keluarganya dan semoga kelak bisa membalas kebaikan mereka.

Pagi itu kami makan, tanpa didampingi oleh pak Agus dan Istrinya, ternyata pas aku mandi tadi, mereka telah pergi duluan. Kata Ibu, pak Agus dan Istrinya pergi ke Singapur untuk mengurus pekerjaan mereka yang disana.

Setelah sarapan aku, pamit dan salim sama Ibu. Anehnya Ren, kulihat juga ikutan salim pada Ibu, entah karena biasa begitu atau hari ini aja karena mengikutiku, entahlah, aku hanya tersenyum saja melihatnya.

Kami diantar oleh pak Usman supir Pribadi keluarga Wijaya kesekolah. Ketika sampai digerbang sekolah, sekali lagi aku dibuat terkagum dengan kemegahan sekolah tempat aku akan menimba ilmu ini. Dari dalam mobil kulihat gedung sekolah ini terdiri dari beberapa lantai.

“Udah ahh, jangan gitu banget lihatnya”, tegur Ren yang duduk di sebelahku.

“eh iya..”

“oh ya nih” kata Ren memberikan sebuah amplop coklat kepadaku.

“Apa nih Ren”, tanyaku heran

“tau tuh, papah yang nitip tadi, buat kamu” katanya kalem

Ketika ku buka, kulihat isinya segepok uang, ada label pengikatnya, Rp. 5000.000.-

“eh gak salah nih Ren” ucapku kaget, seumur-umur jarang-jarang aku memegang uang sebanyak itu.

“Biasa aja kalii, gak usah kaget gitu napa!” kata Ren cuek.

“Itu tadi papah nitip, katanya buat belanja kamu”

“Kebanyakan ini Ren”

“Udah terima aja, terserah deh mau dipake buat apa, mau dihabisin dalam sehari juga gak papa” Jawab Ren santai, malah senyum-senyum dia.

“Yuk ahh, turun. Keburu ditutup gerbangnya tar. Sekalian aku temanin ke ruang TU buat isi administrasinya” Kata Ren sambil membuka pintu disampingnya.

Baru aja langkah ini masuk ke gerbang sekolah, terdengar teriakan beberapa orang siswi.

“NATAAAAA”, kulihat beberapa cewek menggerubungi Ren.

“ihh apa sih kalian ini, lebay deh pake teriak-teriak segala”

“hahhahaa” mereka malah kompak tertawa lihat respon Ren.

Sepertinya teman-teman dekatnya, tampak mereka masih asik ngobrol-ngobrol ringan dengan Ren sambil tertawa-tawa

“hemnn heemmn” celetuk salah seorang cewek ketika melihat aku yang masih berdiri disamping Ren.

“eh girl, kayaknya kita ganggu Nata deehh” katanya sambil melirikku.

“eh” kata temannya yang lain agak kaget juga melihatku.

“eh ini..” Ren agak grogi ketika teman-temannya pada melihatku.

Terlihat mereka bisik-bisik bertiga, sambil senyum-senyum

“Gila, cakep nih gandengan lo Nata, hihihii”

“ih iyaa, gak bilang-bilang kalau dah punya gebetan sekarang”

“hhmmnnn dah main rahasia-rahasiaan sekarang ma kita”

“Kenalin ke kita-kita dong Nat”, kata mereka ke Ren

“iyaa ihhh” celetuk temannya yang lain

“Apaan sih kalian, dia ini...” kata ren menunjukku

“kalian dah JADIAN yah, WHATT” potong salah satu temannya, dengan ekspresi pura-pura kaget.

“hadeehh belom juga ngomong, dah main samber aja” kata Ren sewot.

“tar deh ku jelasin, mau ke TU dulu keburu bunyi bel masuk”

“yuk Wan”, ajak Ren sambil menarik tangan kananku.

“ih Nataa gitu deehh” kata teman-temannya sambil memandang kami yang mulai jalan menjauh dari mereka.

Tangan kami masih bergandengan ketika masuk ke ruang TU, sepertinya Ren masih belum sadar. Aku yang hanya mengikuti arah tarikan Ren malah jadi deg-deg an sendiri. Terasa tangan halus Ren menyentuh telapak tanganku. Apa semua tangan wanita itu halus begini, pikirku.

Ketika sampai di depan seorang staff TU

“Eh..” Ren seperti baru tersadar ketika tangannya masih mengenggam tanganku, reflek dia melepaskan tanganku. Kulihat pipinya agak sedikit merona merah

“ih kamu sengaja yah pegang-pegang tanganku”, tunjuk Ren padaku. loh kok malah aku yang salah.

“Lah kan kamu tadi Ren yang main tarik aja sampai kesini” membela diri.

“ihh alasan, bilang aja sengaja, iya kan!”jawab Ren gak mau kalah.

“aiisss...” aku hanya-hanya garuk-garuk kepala yang gak gatal, bingung harus jawab gimana kalau sudah begini.

“ya sudah, kamu tunggu sini yah, aku tinggal ke kelas dulu. tar dipanggil sama ibuk yang didepan itu”, katanya sambil pergi agak sedikit berlari keluar dari ruang TU, sekilas kulihat ada semburat rona merah dipipinya.

Beberapa detik kemudian..

Braakkk... terdengar pintu ditutup agak keras dari sampingku.

Reflek kulihat kesamping, dari atas pintu yang bertuliskan BK, tampak seorang cewek keluar dengan emosi tertahan diwajahnya. Gayanya agak tomboi, namun cantik.


“Apa lihat-lihat ? gak pernah apa lihat cewek masuk ke ruang BK ?” ucapnya judes.

Aku hanya diam dan mencoba tersenyum ramah menatapnya.

Tiba-tiba dia langsung pergi begitu saja, masih terlihat seraut wajah kesal ketika ia lewat didepanku.

Hmmmnn wanita yang aneh, pikirku.

“Saktiawan S. Wijaya” terdengan suara staff TUnya memanggil namaku.

“eh iya, saya Buk”, jawab ku berdiri dengan mendekat ke depan mejanya.

“Ini persyaratanya sudah lengkap yah, nanti kamu langsung masuk aja kekelas, sesuai rekomendasi dari pak Kepala kamu masuk kekelas 2 IPA 1. Untuk kelasnya tar di antar sama pak Ujang satpam kita”, sambil menyerahkan beberapa lembar kertas, kulihat ada map sekolah lengkap dengan kelasnya.

“eh gak usah buk, biar saya sendiri aja” tolakku ramah.

“oh ya udah kalau begitu, dan ini kunci loker kamu” sambil menyerahkan sebuah 2 buah kunci yang ada nomornya padaku.

“didalamnya sudah ada seragam olah raga, dan satu stel seragam sekolah” lanjutnya.

“ada pertanyaan lagi ? katanya tersenyum ramah.

“hmnn gak ada buk, sementara cukup jelas infonya”

“oke deh. Oh ya, nanti panggil mbak aja jangan ibuk begitu, kesannya aku dah tua banget”, katanya sambil tersenyum manis padaku.

“oh oke mbak... aku masuk kelas dulu yah” ijin pamit padanya .

“oke, semangat belajarnya yaahh” katanya sambil mengangkat tangan kanannya dengan pose memberi semangat.

Sambil jalan kulihat ruang kelasku ada dilantai 2 dibagian tengah. Di jadwal, pagi ini ada kelas matematika, gurunya bu Shinta. Saat sampai depan kelas, ternyata pelajaran baru saja di mulai.

TOK.. TOK.. TOK..

Sseeett,

Semua mata melihat padaku yang berdiri di pintu masuk kelas. Aku jadi grogi ketika akan melangkahkan kaki masuk kedalam.

“Permisi buk, saya siswa baru, ini surat pengantar dari TUnya” kataku sambil menyerahkan surat yang kudapat dari staf TU sebelumnya.

“oh iya”, jawab bu Shinta sambil mengambil surat yang kuberikan. Terlihat dia memperhatikan sejenak surat yang kuberikan.

“Kamu siswa pindahan dari Sumatera Barat itu yah” kata bu Shinta, sambil melirikku sebentar.

“Iya buk”

“Okey, silahkan perkenalkan diri” suruh bu Shinta.

Sejenak kuarahkan pandangan kesekeliling ruangan sambil memperhatikan wajah-wajah yang akan menjadi temanku selama sekolah disini kedepannya. Sekilas kuperhatikan, ada berbagai macam ekspresi dari mereka. ada yang senyum-senyum sendiri melihatku

“Waahh calon pacar gue nih”

“Hmnn maconya”

“Type cowok gue banget nih”

“Lihat aku dong lihat aku dong”

“oh my god, tatapannya itu loh bikin meleleh”

Itu bisik-bisik halus yang kudengar dari beberapa cewek yang ada depanku, yang cowok-cowok sebagiannya malah melihat suram, kalau bisa kugambarkan..

“Sok cool loe” “Tai dah! musnah kesempatan gue ngecengin cewek-cewek disini” “Sok kegantengan, tapi mang ganteng sih, wah bisa gak laku aku kalau ada dia disini” “Njir, cowok kayak gini yang matiin pasaran gue nih”

Aku memperkenalkan diri sesuai data yang dimasukkan kesekolah, sebagai Saktiawan S. Wijaya. Lengkap dengan pangilan dan tempat asalku. Ketika selesai memperkenalkan diri, ada-ada aja celetukan dari cewek-cewek di kelas.

“Bisa minta nomer Hpnya gak?”

“dah ada cewek belum yaah?”

Tanya mereka sambil senyum-senyum.

“Aduh bisa gak jadi Ibuk ngajar kalau kalian tanya-tanya begini” kata bu shinta menengahi. Kemudian bu Shinta menyuruhku untuk duduk.

Kebetulan hanya ada sebuah bangku kosong di baris kedua dari belakang sebelah kiri.

Disana kulihat ada seorang wanita berkacamata duduk disebelah bangku yang kosong, karena tidak ada tempat kosong lainnya, jadinya aku duduk disana. Sekilas kulihat namanya, Sherla H. Aku tersenyum ramah pada teman sebangkuku ini. Dia hanya menggeser sedikit bangkunya, walau ia terlihat agak grogi tapi dia sama sekali tidak melihat padaku.

3 jam pelajaran matematik kami lalui, bu Shinta terlihat sangat profesional dalam menjelaskan materi yang disampaikannya. Sampai 15 menit jelang bel istirahat, bu Shinta memberikan sebuah chalenge pada kami.

“Okay class, sesuai kesepakatan awal ketika pertama ibuk masuk kelas ini, ibu akan memberikan chalenge pada kalian, dan... sebagai rewardnya, kalian akan terbebas otomatis dari tugas dipertemuan berikutnya plus nilai A ditangan kalian. Bagaimana, kalian siap ?” tanya bu Shinta.

“siap bu” jawab semuanya antusias.

Tampak bu Shinta pun mulai menuliskan sebuah soal di papan tulis depan kelas.

“Okay, siapa yang bisa jawab silahkan maju kedepan” kata bu Shinta sambil melihat kami satu persatu.

“loh kami kan belum belajar materi itu buk” tanya salah seorang siswa

“iya buk, gimana kami bisa jawab pelajaran yang belum kami pelajari” jawab salah seorang siswa yang lainnya.

“justru itu kan tantangannya! Kalian itu siswa unggulan, kalian harus siap dengan semua tantangan pelajaran yang telah atau belum kalian pelajari, buktikan dong jika kalian tepat sebagai siswa pilihan di sekolah ini” kata bu Shinta dengan senyum agak merendahkan.

“Gimana, ada yang bisa ?” tanya bu shinta, karena beberapa saat lamanya belum ada yang maju

Tiba-tiba ada seorang cewek yang duduk di bangku paling depan mengangkat tangannya.

“oke Karin, silahkan” kata bu Shinta senang karena akhirnya ada yang menjawab chalenge yang diberikannya.

Cewek yang bernama Karin, kulihat dengan tenang menulis jawaban soal yang diberikan. Setelah beberapa saat lamanya.

“hmmnn oke, analisa yang bagus, tapi sayang jawabannya belum tepat. Ada yang ingin coba perbaiki”

“hiuufff” cewek yang bernama Karin kulihat sedikit menghela nafasnya, mungkin dia juga kurang puas karena belum berhasil menjawab soal di depan dengan tepat, tampak ia sedang menulis-nulis sesuatu dikertas depannya, mungkin masih penasaran mencoba menjawab soal tersebut di tempat duduknya.

“boleh saya coba buk ?” kataku sambil mengangkat tangan kananku.

“oh anak baru, silahkan kalau mau coba ?” kata bu Shinta, dengan senyum yang agak meremehkan. Mungkin dia berpikir, apa aku akan bisa menjawab chalenge yang diberikannya, apalagi aku baru masuk kekelasnya setelah telat 2 minggu dari waktu awal tahun ajaran baru.

Dengan tenang aku maju kedepan, mengambil spidol yang ada di meja bu Shinta, kemudian mulai menulis jawaban tepat disamping jawabannya Karin, tidak sampai 2 menit waktu untukku menuliskan jawaban didepan.

“sudah bu”, jawabku santai.

“hah, sudah ?” tanya bu shinta seakan tak percaya.

Kemudian tampak bu Shinta memperhatikan jawabanku dengan seksama, serta dengan raut wajah seakan tak percaya.

“Jawabannya tepat, tapi kok rumusnya begini ?”, tanya bu Shinta heran.

“ada yang salahkah memangnya buk ?” jawabku dengan balas tanya pada bu Shinta.

“Gak salah, selama jawabannya benar. Tapi, ibu heran saja, karena selama ini belum pernah ibuk belajar rumus matematika manapun seperti yang kamu tulis didepan, rumus apa yang kamu pakai” tanya bu Shinta heran.

“Trachtenberg”, jawabku singkat dan padat.

“Hah apa ?” tanya bu Shinta seolah ingin memastikan kembali jawaban yang didengarnya.

“Trachtenberg” ulangku.

“Apa itu ?” jawab bu Shinta, merasa asing dengan istilah yang kugunakan.

“Metode Trachtenberg lebih tepatnya bu.”

“hmnnn...” gumam bu Shinta sambil agak mengernyitkan alisnya sambil berfikir apa ia pernah belajar atau mendengar metode seperti yang aku sebutkan barusan.

“itu adalah sebuah metode matematik dalam memecahkan setiap permasalahan, dulu yang mengajarkan tetangga saya bu, beliau tamatan S3 Al Azhar Mesir, beliau yang mengajarkan metode itu pada saya, sekarang beliau aktif dakwah dan mengajar di Madrasah dikampung saya bu” mencoba menjelaskan pada Bu Shinta.

Kulihat ekspresi bu Shinta masih penuh tanda tanya, seolah masih meragukan jawabanku.

“Sederhananya begini bu, setiap kehidupan kita pada dasarnya adalah matematik, setiap langkah, gerakan bahkan sampai ketika kita berbicara saat inipun adalah matematik. Selama ini kita hanya menterjemahkannya dalam bentuk verbal saja. Padahal dalam otak kita sudah tersimpan jutaan pola matematika. Contoh sederhananya, ketika kita ditanya, berapa jumlahnya 2+2 ? otomatis kita akan menjawab 4, apakah itu butuh rumus ? tidak. Secara spontan kita akan menjawab 4. Begitulah pola kerja metode Trachtenberg, untuk memecahkan masalah-masalah tersebut menjadi matematik”

Kulihat bu Shinta hanya tersenyum, tampak ia seperti membayangkan sebuah rencana dikepalanya yang entah apa.

“hmm oke, untuk sementara jawaban kamu bisa Ibu terima, silahkan duduk kembali”

Ketika akan duduk ke kursi tempatku duduk, Kulihat semua orang melihat dengan pandangan kagum dan senyum-senyum sendiri, bahkan para cewek di bangku tengah dan belakang tampak saling berbisik dan tersenyum manis padaku. Tak terkecuali Sherla, cewek sebangku yang duduk disebelahku.

TING TING..

Bunyi bel menyudahi kelas matematik bu Shinta hari ini, terlihat semua teman-temanku ikut keluar ruangan setelah bu Shinta meninggalkan ruangan.

Kulirik, teman sebelahku, Sherla.

“hai..” katanya dengan senyum agak canggung.

Belum sempat aku berbicara dengannya, tiba-tiba...

“Awaann, kok kamu pinter banget sih”, terlihat beberapa cewek mengerubungi ku

“lihat gak ekspresi Karin tadi bo’.. oouuhh baru kali ini aku lihat ada yang lebih pintar dari Karin” kata salah satu cewek lainnya.

“Iya yah, dia kan selalu nomor 1 sejak kelas satu dulu” jawab cewek disebelahnya

“itu karena soalnya yang sulit kali” jawab cewek yang duduk tepat didepanku.

“Sulit kok bisa Awan menjawabnya, berarti mang Awan lebih pintar dong”, jawab teman yang duduk disampingnya tak kalah antusiasnya.

Dan masih banyak celetukan yang keluar dari kaum hawa dikelasku ini

“husshh husshh, kalian inih gak bisa lihat cowok cakep dikit aja langsung dikerubutin kayak gula” jawab cowok yang duduk dibelakangku, dari namanya diseragamnya kulihat namanya Radit, dan teman sebelahnya yang bernama Novi pun ikut menyahut.,..

“iya, kalian gak menghargai kami yang ganteng duduk dibelakang ini apa”, sahutnya

“wooo, ganteng dari hongkong” kompak para cewek.

“dah pada rusak nih mata cewek, kita yang ganteng-ganteng gini gak kelihatan apa”, jawab si Radit seperti gak mau kalah karena di olokin para cewek tersebut.

“iya e lur” kata cowok yang bernama Novi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

“Kecepetan 10 tahun mah, kalau kalian ngaku ganteng, mending gue sama Awan.. week” kata seorang cewek yang bernama Siska sambil memepet tempatku duduk.

“weee gue laporin BK lu pade, berani jahilin anak baru” ancam si Novi

Si Radit langsung menarik tanganku mengajak keluar kelas, “yuk kabur bro, wkwkw” ajaknya sambil tertawa.

Aku yang sebenarnya agak sedikit risih karena dikerubungi para cewek tersebut, ngikut keluar sambil sedikit berlari mengikuti langkah si Radit dan Novi keluar ruangan

“woiii setaannn, malah bajak Awan dari kita, kejaarr” teriak para gadis

“iya, mana gue lom dapat nomornya lagi” teriak teman disebelahnya.

“eh tungguiin”, kata yang lainnya.
...

Hosshh hosss

Tampak Radit dan Novi terengah ketika sudah agak jauh dari kelas, saat ini kami ada dekat toilet kampus di jalan menuju kantin sekolah yang ada dilantai 3.

“Gila! Paket pelet apa sih loe bro, sampe segitunya di gilai wanita” kata si Novi.

“iya, jarang-jarang gue lihat tuh cewek-cewek histeris begitu ma cowok, gue aja yang ganteng begini lom pernah segitunya tuh cewek ma gue” sahut Radit sambil menarik napas pelan.

“alahh, kayak lu ganteng aja!” cibir Novi

“Kalau dilihat dari monas sih iya”, lanjutnya

“Kampret lu, gak bisa nyenengin temen dikit napa” sewot Radit.

“hahahaa..” tawa kami bertiga

“btw, gue Radit” memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tanganya padaku setelah lancar pernapasannya karena sesak lari dari para cewek-cewek dikelas tadi.

“Awan” sambil mejawab uluran tangannya.

Radit ini orangnya lebih tinggi sedikit dariku dan kulitnya agak sedikit gelap.

“nah yang gendut sebelah gue ini Novi” tunjuknya,

“Taik lu, giliran gue lu bilang gendut. Ini maco coy, bisa gak lu bedain!” katanya sewot ke Radit. Asik-asik nih orang berdua, pikirku

“oya, kemana nih sekarang kita bro”, tanya Novi.

“Perpus yuk!” jawabku spontan.

“HAH!!” jawab mereka seolah-olah kaget dengan jawabanku.

“Haisss pait-pait lo” kata si Radit.

“iya nih, gak asik lo bray! Awal-awal semester begini hindari dululah tempat-tempat kayak begitu!” jawab Radit.

“Mending kantin bro” usul Novi

“dasar kebo, makan aja yang dipikirin” kata Radit

“eit eit jangan salah, gue ngajak Awan ke kantin biar kenal syurganya sekolah kita”

Radit mendengar itu langsung cerah wajahnya.

“bener-bener bro, ayok lah kalau begitu” ajaknya penuh semangat.

“gimana Wan” tanya Novi.

“Aku ikut aja” kataku sambil mengangkat jempolku tanda setuju

***

Saat masuk kekantin, lagi-lagi aku kagum dengan sekolah ini, kantinnya bagus begini kayak restoran aja pikirku.

Sejak aku masuk kedalam kantin ini, aku benar-benar merasakan ada yang aneh, seperti ada mata yang memperhatikanku, sejenak aku mengarahkan pandanganku ke sekeliling ruang kantin, tapi tak kutemukan orang yang menatapku tersebut, mungkin hanya perasaanku saja, pikirku.

Novi mengajak kami duduk di bangku bagian pojok.

“lihat bro, bokong everywhere” senyum si Novi dengan tampang mesumnya.

“hehehe tau aja milih posisi yang bagus loe bray” puji Radit

“Beginilah kalau otot perut dan otak digabungin” sahut Novi dengan bangganya

“hahhaha” tawa kami bertiga

“eh pada mau makan gak” Tanya Novi

“Gue minum ajalah” jawab Radit, “lu Awan ?”

“Yah minum juga deh”

“ya udah, kalau gitu gue pesenin teh botol aja tiga” usul Novi.

“Sip” jawab kami mengacungi jempol ke Novi tanda setuju.

Tak lama novi datang dengan tiga Teh Botol, dan duduk di depan kami.

“eh itu kan Karin dari kelas kita tadi yah?” kataku sambil melihat Karin dan teman-temannya yang duduk beberapa meja dari kami.


Karin​

Sejenak kulihat ia melihat kearah ku, tapi kemudian cuek dan melanjutkan obrolannya dengan teman-temannya seolah tidak melihat keberadaan kami.

“wiisss tapi parah loe bro, beneran” kata Novi melihatku.

“lah, kok parah! Napa emang ?” tanyaku.

“loe tau gak bray” sahut si Radit yang duduk disebelahku.

“Karin itu dari kelas 1, selalu juara kelas, dan itu bukan sembarang kelas, kelas unggulan bray. Doi satu sekolah juga sama gue waktu di SMP dulu”, terang radit.

“Kamu kenal dekat dong dengan Karin Dit”, kataku penasaran.

“hmnnn, gak juga sih. Sekedar kenal iya, tapi gak kenal dekat juga. Kalau menurut gue sih bray, dia itu tipikal cewek yang suka milih-milih dalam bergaul”

“ooh” jawabku pelan sambil melirik ke Karin

“Napa? Loe naksir ma dia” Tanya Novi

“uuhh jangan deh bray. Makan ati dah kalau loe nekat macarin doi, lihat aja penampilannya begitu, bisa kempes dompet loe, kecuali kalau bokap loe kaya, mah kagak masalah” sahut Radit

“eh lihat bro, Vina tuh” tunjuk Novi ketika melihat beberapa cewek yang baru masuk kantin.

“Makin cantik aja tuh Vina, gile makin montok aje” kata Radit sambil menoleh kepintu masuk.

“weee, Anna dan Hanna bro” kata Radit menunjuk 2 orang cewek yang duduknya tak jauh dari kami.

“wewww makin bening aja sikembar, gue iklas deh kalau mereka berdua jadi pacar gue” sahut di Radit, sambil memandang mereka dengan seringai nakalnya.

“jangan kan loe, gue juga mau dodol!, gue pendem dikamar keduanya kalau perlu, gak bakal gue biarin keluar kamar”, sahut Novi bersemangat.

“Emang kuat ?” olokku spontan sambil katawa

“Asem ngejek loe bray, sekali nyeletuk pedes lu ah”

“hahaha..” Aku dan Radit tertawa

“Novi.. Radiitt, kalian yah, berani-beraninya melarikan Awan dari kami” kata salah seorang cewek dikelasku tadi sambil berdecak pinggang tepat di belakang Novi. Dibelakangnya disusul oleh 4 orang teman-teman geng-nya.

“Awas dit, sana jauh-jauh... hussshh husss, gue mau duduk sebelah Awan” kata temannya mengusir Radit untuk menjauh, si Radit jadi manyun begitu jadinya, hahhaa.

Tiba-tiba dua orang cewek cewek langsung duduk mengapitku dari kiri dan kanan, sontak aku kembali dikelilingi cewek-cewek centil dari kelasku.

“eh Sherla ngapain masih berdiri disitu, duduk sini” panggil salah seorang cewek disampingku. Dari mereka berlima baru Sherla yang baru aku kenal karena ia teman sabangkuku, walau belum sempat berkenalan dan hanya tahu lewat nama yang ada diseragamnya.

“eh iya, jawabnya pelan” kalau kuperhatikan, Sherla ini tipikal gadis yang pendiam.

“Awas Novi, geser sana, kasih Sherla duduk tuh” kata cewek yang duduk di sebelah kiriku.

“adoohh, gue lagi yang diusir. Asem kalian nih, gangguin orang lagi senang-senang aja”, kata Novi protes. Walau di bibir protes tapi dia bergesar juga kesamping, jadinya Radit dan Novi malah duduk paling ujung, dan aku dikelilingi cewek-cewek ini lagi.

“yeee sama cewek-cewek cantik harus ngalah dong”, kata mereka kompak.

Kuperhatikan mereka malah saling senyum-senyum. Sementara Radit dan Novi jadi merengut pasrah karena terpaksa duduk dibangku ujung meja kami.

“Kenalin gue Lina” kata cewek yang duduk di samping kiriku, Lina ini yang paling cubby diantara kelima kawanan ini, dengan rambut sebahu, ketika tersenyu terliham sebaris gigi putih yang membuat senyumnya terlihat lebih cantik.


Lina​

“gue Siska”, ucap cewek disamping kananku sambil tersenyum, ketika tersenyum tampak sedikit lesung pipit dipipinya, serta rambutnya yang kemerahan.

Siska​

“Gue Veby” kata cewek yang duduk disebelah Siska sambil mengangkat tangan kanannya dengan memutar pelan telapak tangannya. Veby ini agak montok juga sebenarnya tapi sedikit lebih pendek sedikit dari Lina.

Veby​

“Hai.. Gue shiren” kata cewek yang duduk di depan Siska sambil tersenyum, Shiren ini ceweknya langsing, tinggi dan kulitnya Hitam Manis dengan Tahi lalat imut tepat dibawah bibirnya.

Shiren​

“kalau itu namanya Sherla”, tunjuk Lina pada Sherla yang duduk tepat di depanku. Sherla kuperhatikan hanya diam saja, sambil sedikit menunduk. Sherla anaknya cantik gak kalah dengan kelima kawannya, ditambah dengan kacamata yang dipakainya, entah kenapa kalau melihat cewek berkaca mata aku melihatnya lebih terlihat aura kecantikannya kelihatan smart aja begitu lihatnya.


Sherla​

“Sherla tuh mang agak pemalu orangnya” cerocos Siska disebelahku. Sherla yang dibilangin tampak makin merah wajahnya sambil merunduk malu.

Selanjutnya mereka malah nyerocos kesana kemari, aku hanya diam saja sambil jawab sesekali ketika ditanya oleh mereka. yang parah, kedua temanku Novi dan Radit malah jadi seperti obat nyamuk aja duduk diujung. Walau masih terlihat tidak terima, tapi mereka hanya bisa pasarah sepertinya, karena cewek-cewek ini yang ambil kendali sekarang, hahaha parah-parah.

Ketika aku melihat ke arah dalam kantin, tampak beberapa orang duduk sambil berbicara santai, dari gaya mereka yang kalem tampaknya mereka dari orang-orang berada atau paling tidak populer disekolah ini, karena disekitar tempat duduk mereka kulihat tidak ada yang berani duduk disana. Disana tampak 2 orang cewek dan 4 orang cowok, semula aku tidak terlalu memperhatikan mereka, sampai akhirnya...

degh!!

Tatapanku beradu pandang dengan seorang wanita yang tepat berada ditengah.

Degh degh.

Entah kenapa ketika melihatnya jantungku jadi berdebar sangat kencang. Dan masih ketika kami masih saling bertatapan, tampak wanita misterius tersebut memperhatikanku dengan sangat seksama, dari tatapannya seolah menelanjangiku sampai kedalam diriku, sebuah tatapan yang sangat dalam.
Baru kusadari, inilah perasaan yang kurasakan ketika akan masuk kesini sebelumnya. Aku sendiri tidak bisa mengambarkan apa yang kurasakan ketika melihatnya, beberapa saat lamanya aku terpaku melihatnya. Kucoba tersenyum padanya, hinga tiba-tiba aku dikagetkan dengan panggilan Radit, dari ujung meja.

“sstt ssttt woi bro, jangan lihat dia begitu, waduuuh cari gara-gara nih anak”, hardik Radit panik ketika menyadari arah pandanganku,

“eh iy.. iya bro”, jawabku agak sedikit kaget

Kulihat teman-teman yang lain juga pada diam, bahkan rombongan Lina yang dari tadi ceriwis malah terlihat agak pucat.

“eh pada kenapa?” tanyaku heran melihat ekspresi mereka yang sepertinya sangat takut begitu melihat rombongan di dalam tersebut.

“Kamu gak tahu mereka siapa Awan ?”, tanya Siska yang duduk disampingku.

“Gak, kenapa mangnya” tanyaku yang tambah heran dengan sikap mereka.

“aduuhh cari mati lu bray”, jawab Novi sambil menatapku khawatir

“Itu yang kamu tatap barusan namanya Angel, kakak kelas kita, doi anak kelas 3 IPA 1”, Jawab Lina.


Angel​

“Bokapnya itu termasuk 10 orang terkaya di Negeri ini, dan loe tahukan kita sekolah dimana, ini sekolah Swasta yang dimiliki oleh Bapaknya”, lanjut Lina

“iya, makanya gak ada yang berani dekat-dekat dengan mereka, kecuali kalau mereka yang mengundang kita untuk duduk bersama mereka”, Veby ikut menjelaskan.

“Dulu waktu kelas 1, pernah ada kakak kelas kita yang nekad menggoda kak Angel, dan lu tau apa yang terjadi padanya ? tanya Shiren menimpali, sambil berbicara agak berbisik, takut terdengar dengan orang lain.

Aku mengangkat bahu, sambil menunggu Shiren melanjutkan bicaranya.

“Sehari berikutnya, dia ditemukan babak belur, digang dekat rumahnya, bahkan keesokan harinya, tanpa ada permsalahan yang jelas dia malah dikeluarkan dari sekolah, sadis kan! Bahkan sampai sekarang tidak ada yang berani mengungkit kasus tersebut”, kata Shiren sambil bergidik ngeri membayangkan kejadian tersebut.

Dan benar saja, tampak laki-laki yang duduk disamping wanita yang bernama Angel tersebut berdiri mau menghampiriku. Tapi wanita yang bernama Angel tersebut menahan pria tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi teman-temannya ikut melihat ketempat kami duduk.

Aku sebenarnya tidak terlalu khawatir akan peringatan yang disampaikan Shiren sebelumnya, justru yang menjadi perhatianku, perasaan aneh yang menerpaku setiap bertatapan mata dengannya. Tak lama, merekapun tampak cuek kembali, mungkin karena apa yang di bicarakan wanita tersebut, sehingga mereka tampak seperti tidak mengubrisku lagi, walau kulihat cowok yang sempat berdiri tadi masih terlihat tidak senang melihat kearahku.

“sssttt ssttt”

Terdengar Radit seperti bersiul untuk mengalihkan perhatian, sontak kami melihat kearahnya.

“lihat tuh bro” kata Radit menunjuk kearah pintu masuk kantin.

“eh itu kan...” kataku tertahan.

“wuiihh Kak Renata brayyy” kata Novi semangat.

Ya, itu Renata dan teman-temannya tadi pagi yang baru masuk ke kantin.

“Cantik banget braayy” kata Radit.

“Calon Pacar gue tuh” Kata Novi menimpali.

“yang bener tuh, Calon Istri Gue tuh”, jawab Radit gak mau kalah.

“Hadeehh dasar cowok, gak pernah lepas dari bahas Cewek”, kata Siska seperti tidak senang karena tadi aku ikutan melihat ke arah Renata

“Yah wajar dong kita bahas cewek, itu tandanya kita normal”, kata Novi dengan tengilnya.

“Yup betul”, kata Radit mengangguk disebelahnya.

“woo.. apanya yang normal, wong dari kelas satu kalian itu Cuma berdua aja, nempel terus kayak perangko, jangan-jangan kalian itu homo tingkat akut dan berlagak doyan cewek untuk menutupi diri kalian aslinya”, jawab Lina mengejek, dan geng cewek ini kompak tertawa, kecuali Sherla yang masih kalem-kalem aja sepertinya.

“Woo ngehe’ kalian”, jawab Novi dan Radit kompak.

“Hahhaa” lagi para cewek ini dengan senangnya menertawai Radit dan Novi.

Sekilas kulihat, Ren dan teman-temannya ngumpul di meja Karin. Loh apa Ren kenal dengan karin yah, pikirku.

Ketika melihatku, Ren tersenyum sambil mendekat kearahku.

“Kak Renatanya tersenyum, ke gue bray. Oh my god, cantiknya, gue mau deh, nyuciin sepatunya asal dia tersenyum kayak gitu ke gue tiap hari”, kata Novi dengan ge-er nya.

“Eh kak Renatanya kesini bray” lanjut Novi sumringah.

“hmmnn pasti mau menemui gue nih, oh kak Renata, akhirnya doi sadar juga kegantengan gue” kata Radit dengan pede-nya.


“Ganteng pala lu peang, pasti karena ada gue disini nih”, jawab Novi seperti gak mau kalah.

Cewek-cewek disampingku, hanya senyum tengsin. Mungkin dalam hati mereka juga mengakui kecantik Ren, sehingga tidak berani banyak-banyak komen.

Saat duo Radit dan Novi senyum-senyum ge-er.

“Hai Say”, kata Ren sambil memelukku kepalaku dari belakang

“uhhuuukk” aku yang lagi minum tersedak karena tiba-tiba Ren memelukku dan manggilku ‘Say’.

“HAAHHH..” semua temanku melongo seakan tak percaya, Renata yang dikenal sebagai salah satu primadona di sekolah ini tiba-tiba saja memeluk seorang siswa baru sepertiku. Sontak aku menjadi perhatian semua orang dikantin, termasuk rombongan Karin yang duduk ditengah. Tidak terkecuali Angel dan teman-temannya yang duduk didalam kantin.

#Cobaan yang sangat mendebarkan dihari pertamaku sekolah, entah apa lagi yang akan terjadi esok hari.
 
Last edited:

4Scott

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
370
Reaction score
3,909
Points
93
AWAN DAN HP BUTUTNYA

POV Author
“Kamu yakin nak ?” Ucap seorang wanita diseberang telphon.

“Belum 100% mom, perlu aku pelajari lebih lanjut”.

“Dekati dia, terserah bagaimanapun caranya. Yang jelas jangan sampai papah atau.. kakekmu mu tahu, kalau tidak kita tidak akan bisa mengorek tentang dirinya lebih jauh, atau lebih parahnya, ‘dia’ akan disingkirkan”. jelas wanita diseberang telphon dengan intonasi yang serius.

“Ya mom, akan kulakukan”

“Tapi, satu pesan mami. Jangan sampai dia tahu tujuanmu yang sebenarnya, mengerti ?”

“okay mom, noted it”

“Satu lagi, sekali-kali pulanglah. Jenguk nenek, dia kangen dengan mu”.

“Ya mom, tar deh aku pulang. Sekarang lagi sibuk disekolah soalnya”.

“ya sudah, mami tutup telpnya, jaga kesehatanmu disana ya, bye”, kata wanita diseberang mengakhiri percakapan mereka melalui telphon.

“bye mom“. Jawab si Wanita Sambil menutup panggilan telphonnya.

POV Awan


Saktiawan Sanjaya


Renata Wijaya​

Gara-gara seorang Renata yang tiba-tiba memelukku siang itu di kantin sekolah, kini semua orang disekolahan mengira aku adalah pacarnya. Gak tau deh harus senang atau sedih atas ‘status’ tak sengaja yang melekat padaku saat ini . Dimana Seorang Awan, si anak baru tiba-tiba jadi terkenal seperti artis. Semua orang jadi tiba-tiba kenal denganku, mulai dari adik tingkat hingga sampai semua kakak kelas. Aku jadi berpikir, setenar itu kah seorang Ren ? Aku senyum-senyum sendiri memikirkannya. Senang ? ya jelaslah bo’. Gimana gak senang, jadi pasangannya salah seorang yang populer disekolah ini. Sekaligus jadi dilema coy! bagaimanapun juga, itu semua hanya anggapan orang-orang yang hanya menilai sekilas tentang apa yang terjadi dikantin siang itu. Pada kenyataannya, aku hanyalah seorang anak pembantu di rumahnya Ren, walau Papah Agus dan Istrinya bermurah hati mengangkat aku sebagai anak mereka. tapi, tetap saja kenyataan yang sebenarnya tidak bisa dirubah. Kalau aku hanyalah seorang A-N-A-K P-E-M-B-A-N-T-U, catat itu!.

Parahnya, Ren malah cuek saja saat hal tersebut kutanyakan padanya sepulang kami dari sekolah.

“Ngapain dipikirin sih kata-kata orang”

“Cuek aja kali, lagian suka-suka aku dong mau manggil siapa dengan apa, atau mau meluk siapa kan!” kata Ren dengan cueknya.

“Lagian kamu sama papah disuruh jaga aku kan!”

Aku loh disuruh jaga, kalau gini bukan jaga lagi namanya, udah bermain api. Gimana kalau papah Agus atau mama Lina tahu, bisa diusir aku dari rumah kalau ketahuan memeluk anaknya, eh dipeluk ding. Tapi, mereka mana mau tahu. Kan ceritanya tetap aja meluk anaknya. Bisa-bisa nelangsa dijalanan aku, seperti ceritanya Zainudin “Teroesir”, pikirku.

“Lagian kamu juga kegatelan”. Kata Ren sambil merengut disebelahku.

“Loh kok aku ?” tanyaku heran.

“Gimana gak gatel, baru hari pertama sekolah dah ngumpul aja ma cewek-cewek, mana lima lagi”, kata ren agak sinis ketika mengucapkan kalimat terakhir.

“oi oi, bukan aku yang bawa mereka yah. Mereka yang nyamperin, beda kali!”, kataku membela diri.

“halahhh, pake gak ngaku lagi. Buktinya, mereka nempel banget ma kamu kan ?” Tuduh Ren padaku.

“loh Ren, kami loh duduknya delapan orang kemaren, ada Novi ama Radit juga”, kataku coba menjelaskan situasinya.

“Kalau iya mereka teman barumu, ngapain gak duduk disebelahmu, malah duduk disebelah cewek-cewek gatel itu”, kata Ren menyudutkanku.

“hmnnn itu..” duh jadi bingung jelasinnya, karena kemaren memang Lina dan kawan-kawannya yang tiba-tiba datang memaksa untuk duduk disebelahku.

“Apa!, gak bisa kan jelasinnya kan” kata Ren manyun.

“Mulai besok, kamu harus diawasin benar-benar biar gak sembarangan deketin cewek-cewek lagi. Baru juga sehari, apalagi dah sebulan atau setahun kamu disini, bisa-bisa satu sekolah diembat”. Kata Ren dengan sadisnya.

Njiirr mang aku kolektor cewek apa!.

“hiuuufftt ...” aku manarik nafas menenangkan diri, sampai harimau sumatera sama harimau jawa mantenan, gak akan selesai-selesai bahas ini nih, pikirku.

“Maaf”, Kataku coba mengalah.

“Ngapain minta maaf ?”, kata Ren sambil memandang keluar mobil.

Tuh kaann.. tadi dia yang nyalah-nyalahin karena aku dekat-dekat sama teman-teman cewek kemaren, giliran aku dah ngalah minta maaf, dengan enaknya dia bertanya, “Ngapaen minta maaf ?”, kan tuman namanya.

“Ren... Sebenarnya aku ini apa mu loh ?”, tanyaku coba melunak.

“Kamu.. Ihhhh, gak peka banget sih jadi cowok”, katanya dengan wajah sedikit merona merah.

“Aku gak peka dimananya coba..?”

“tau ahh..” katanya sambil melengah keluar dengan wajah yang semakin merona merah.

Aku sempat deg..deg serrr melihatnya, entah kenapa setiap melihat Ren dengan wajah merona merah begitu jantungku jadi berdetak dua kali lebih kencang. Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta yah!, tidak, tidak, rasaku masih untuk Nisa, pikirku coba untuk menolaknya.


Pagi ini, entah kenapa aku merasa canggung dan malu sendiri ketika datang kesekolah, walau aku masih terhitung sebagai anak baru. Tapi beda halnya dengan apa yang terjadi pagi ini, setiap orang jadi tiba-tiba kenal denganku.

“Kak Awaaann”, panggil Segerombolan cewek-cewek kelas satu ketika aku lewat depan kelas mereka.

“Hai Awaann”, sapa beberapa anak kelas 2, yang tak kutahu kelas apa, ikutan menyapaku ketika jalan didekat mereka.

Tak ayal, semua orang yang kulewati jadi menyapa sepanjang jalan menuju kelasku. Aku hanya menyapa sekedarnya. Njiirr, belum juga jadi pacarnya Ren, sudah begini tanggapan orang-orang padaku, mang susah yah kalau dekat dengan orang se-populer Ren. Aku yang sudah terbiasa apa adanya dan paling tidak suka menonjolkan keberadaanku, tiba-tiba jadi seperti mendadak selebritis, jujur aku sedikit jengah dan merasa kurang nyaman dibuatnya. Jika seandainya ada pilihan antara menjadi orang yang terkenal atau pria yang biasa-biasa saja!, maka aku pasti akan lebih memilih menjadi pria yang biasa-biasa saja.

“oiii ini, Romeo kita dah datang”, Sambut Radit ketika aku masuk kelas.

Prokk prokkk,

Si Radit dan Novi berdiri sambil tepuk-tepuk tangan, dan alhasil bisa kalian tebak sendiri, sebagian siswa di kelas ikutan berdiri menyambut kehadiranku.

Aku bak Pangeran Harry yang datang disambut oleh para pengawalnya ketika masuk ke kelas kecuali Karin dan kawanannya yang masih cuek dan masih tidak menganggapku ada. Ketika akan melewati meja Karin yang ada didepan, Orangnya malah memalingkan muka kearah lainnya, loh kenapa nih anak yah, apa masih marah karena kejadian kemaren yah!.

Herannya, lima sekawan yang biasanya centil. Hari ini justru terlihat lebih kalem dan tidak kecentilan lagi mendekatiku seperti hari sebelumnya, tapi mereka tetap ramah kepadaku sih.

“Hai La..” sapaku pada teman sebangku ku yang cantik ini.


Sherla​
“Awan..” Sherla tersenyum ramah kearahku.

“Kampret!, Gue laporin kak Renata nih kalau loe goda-godain Sherla”, ucap Radit dari belakang.

“Asem, siapa juga yang godain, ini loh aku Cuma nyapa Sherla aja, gak mungkin kan aku diem-diemin sama teman sebangku ku”, balasku membela diri.

“ahhh modus loe”, kata Novi.

Hahahaa.. aku hanya senyum-senyum lihat ulah celotehan sahabat-sahabat baruku ini. Tapi kok Sherla malah jadi memerah gitu wajahnya yah! Lina, Siska, Vebby dan Shiren kuperhatikan juga kalem-kalem aja. Dari tadi kuperhatikan mereka hanya senyum-senyum aja melihatku.


Lina


Veby


Siska


Shiren​
“Awan..” Panggil Novi, tampak serius di wajahnya.

Aku melihat kebelakang

“Loe serius, beneran dah jadian ma Kak Renata bro ?” tanyanya lagi.

“Aku mau jelasin itu, kalian dah maen samber aja kayak bebek”, jawabku ambigu.

“hehehe sorry bro, tapi gini bro...” si Novi agak mendekatkan wajahnya padaku.

“Hmnnn”, kataku sambil mengernyitkan sebelah alis mata, karena heran melihat kedua sahabatku ini yang tiba-tiba terlihat serius. Sherla melirik kearah kami sebentar, sepertinya dia sudah tahu apa yang mau dibicarakan dua temanku ini.

“Loe tahu Bowie ? anak kelas 3 IPS ?” tanya Novi.

“Siapa itu ?” tanyaku heran, karena aku memang tidak kenal dengan nama yang disebut Novi barusan.

“Loe harus hati-hati sama dia bro”, kata Novi mengingatkan.

“Alasannya ?”

“Gini bro”, si Radit menjelaskan.

“si Bowie itu sudah lama naksir dengan Kak Renata. Bahkan menurut isu-isu yang beredar, dia dari kelas 1 sudah ngejar-ngejar kak Renata. Tapi sepertinya, dia selalu ditolak”

“Gimana gak ditolak, tampang seram begitu. Daripada jadi cowoknya, lebih cocoknya jadi bodyguardnya kak Renata itu, wkwkwk” sela si Novi sambil tertawa.

“Asem, bentar dulu bray, gue lagi jelasin duduk perkaranya ke Awan nih”, kata si Radit sambil sedikit tertawa mendengar guyonan si Novi barusan.

“hehehe lanjut-lanjut bray”, kata Novi.

“Jadi gini bro” Kata Radit melanjutkan.

“Asal lu tahu, si Bowie itu anak Geng Motor Tengkorak, dia dah biasa dengan dunia kekerasan. Pernah dulu Kak Renata dekat dengan seorang cowok waktu doi kelas 2. Dan loe tahu apa yang terjadi ma tuh cowok ?” tanya Radit.

Gue hanya diam dulu sementara, dengan serius mendengar penjelasan Radit. Mungkin nanti bisa kutanyakan ke Ren kebenarannya pikirku.

“Tuh cowok, dikeroyok sama si Bowie dan teman-temannya pas pulang sekolah. Dan alhasil sampai sekarang cowok-cowok disekolahan ini jadi gak berani terlalu dekat sama kak Renata”, lanjut Radit.

“Trus, masalahnya sama Aku apa ?” tanyaku cuek.

“Asuuu, santai gitu jawabnya”, sela Novi gregetan.

“Makanya kami heran, waktu kak Renata, terang-terangan meluk loe dikantin kemaren bro”.

“Bukannya kami gak senang dengan kebahagian loe bro”, kata Novi menyela.

“Kami khawatir, itu akan membuat Bowie menjadi kan loe target yang harus disingkirkan karena loe jadi batu sandungan baginya buat dapetin Kak Renata. Walau kami juga kesal sih sebenarnya, karena cewek idola kami, loe embat, hehee”, kata Novi, walau terlihat bercanda tapi tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya.

“Iya, mulai sekarang loe jangan jauh-jauh dari kita Wan”, terdengar suara cewek dari bangku depan, ternyata si Veby.

“Iya betul itu. Kalau ada apa-apa, kita bisa bantuin jaga loe”, kata Lina yang duduk di sebelahnya.

“Yah paling tidak kita rame-rame terus, Bowie gak berani deketin loe”, lanjutnya.

Asem, kukira mereka kalem-kalem tadi kenapa. Ternyata mereka menyimak juga pembicaraan kami. Hahhaha!.

“Iya, di Share WA Awannya aja, jadi kalau ada apa-apa kita bisa bantuin”, Kata Siska yang duduk sebelah mejaku.

“Iya, betul itu, setuju gue”, kata Shiren menimpali disebelah Siska.

“woo bilang aja kalian masih mau dekatin Awan, pake modus khawatir ma minta WA segala”, kata Radit mengejek.

“Husshh jangan bawel, udah kalian diem aja”, kata Siska.

“ya udah Wan, mana WAnya sini kita simpan”, lanjut siska lagi sambil memegang Hpnya.

“Eh WA tu apa ?, hehehe”, kataku sambil garuk-garuk kepala.

“WhatsApp bro, masa kagak tahu loe”, kata Novi dibelakangku.

“Iya, jaman begini masih kagak tahu WA. Jangan pura-pura kagak tahu deh”, kata Vebby dari depan menimpali.

“Beneran aku kagak tahu, Hpku Cuma begini”, kataku sambil mengeluarkan HP nokia 3310 kesayanganku dari dalam Tas.

“What the fu*k”, kata Radit dan Novi seperti terkejut begitu.

“alamaaakk”, kata lima sekawan kompak seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Masih ada yah HP beginian kata Shiren, kirain dah masuk museum”, kata Shiren agak sedikit menahan tawanya.

“Asem kalian nih, yang penting kan fungsinya. Masih bisa dipake buat komunikasi”. Jawabku santai.

“Hahaha, bro brooo. Loe keren-keren begini masih ada sisi jadulnya juga, kerasukan apa tuh Kak Renata sampai mau sama loe”, kata Novi sedikit mengejekku.

“Iya nih, mang kalian pacarannya Cuma sms sama telponan aja gitu, hahahaa”. Kata Siska ikutan mengejekku.

“Ya gak lah, kalau mau bicara kan bisa langsung temuin orangnya, tinggal buka pintu kamarnya aja”, kataku spontan, lagian kan kami tinggal serumah, ngapain harus telponan, pikirku.

“HAH! Kalian tinggal serumah yah ?”, kata Lina kaget.

“eh serius loe bro ?”, kata Novi dan Radit kompak.

“Eh.. g.. nggak gitu, maksudku kan bisa bicara langsung kalau disekolah, lagian kan pulangnya bisa bareng juga, jadi ngapain harus telponan segala”.. huffftt! Bisa ditanya macem-macem nih kalau mereka tahu aku aku tinggal serumah dengan Ren, apa gak Geger satu sekolahan ini kalau tahunya aku tinggal ‘serumah’ sama Ren, pikirku.

“ooohh begitu”, kata mereka.

Hufftt.. untung mereka percaya dan gak tanya macam-macam lagi kataku membathin.

“Ya sudah mana nih nomor loe Wan”, kata Siska.

Dan kemudian kami saling berbagi nomor telpon.

“Hoii, teman-teman, pak Tomo dah datang”, kata Irene si Ketua Kelas mengingatkan.

Dan pagi itu kamipun belajar kelas Kimia yang diajar pak Tomo.

Tengg.. Tenggg..

Bel Istirahat pertama berbunyi, Radit dan Novi mengajak kekantin untuk istirahat. Entah kenapa aku tiba-tiba jadi kebelet buang air kecil.

“Kalian dulu, aku mau ke toilet dulu sebentar”, sambil menyuruh mereka untuk duluan.

“Ya sudah! cepat yah bray, kami tunggu dikantin”, kata mereka duluan pergi kekantin.

Keluar dari kelas, aku sedikit terburu-buru menuju toilet. Katika masuk, semua toilet sedang terisi. Asem, mana dah kebelet banget nih.

Terpaksa aku naik kelantai tiga, ke toilet yang ada disana. Ketika lewat, banyak tatapan aneh melihatku yang tiba-tiba lewat depan mereka. mungkin mereka merasa aneh melihat ada anak kelas 2 yang berani naik kelantai 3. Hasilnya bisa kalian tebak sendiri, banyak tatapan tajam dari cowok-cowok kelas tiga.

Aku mencoba senyum ramah kepada mereka, tapi mereka tetap diam dengan tatapannya yang tajam. Asem, apa salahku yah! Karena sudah gak tahan, aku langsung masuk ke salah satu toilet yang ada di ruang paling ujung lantai tiga.

‘Aaahhh leganya’, setelah berhasil membuang setiap tetes urin yang sudah menyesak sedari tadi di markas kantung kemihku.

Ketika keluar, aku mencuci tangan dan wajahku di westafel yang ada didepan pintu toilet.

Saat sedang mencuci muka, kulihat ada 3 orang siswa, anak kelas Tiga sepertinya, masuk kedalam toilet. Tampak salah seorang dari mereka, mengunci pintu toilet. Dan mereka tersenyum dengan bengisnya padaku.

“Jadi loe, si anak baru yang berani-beraninya merebut Renata dari Gue”, kata orang yang berdiri ditengah. Kalau diperhatikan, sepertinya dia ini pimpinannya.

Dari nama dadanya “Bowie”.. hmnn aku jadi teringat kata-kata Radit dan Novi ketika dikelas tadi. Kalau orang ini adalah anak geng motor yang selama ini selalu mengejar-ngejar Ren. Mengingat itu semua, aku jadi geram sendiri. Karena ku pikir, Ren pasti jadi terkungkung kebebasannya selama ini, karena ada orang yang mengesalkan seperti yang nama nya Bowie didepanku ini. Aku jadi ingin memberi pelajaran pada orang yang belagu seperti mereka ini.

“Terus mau kalian apa ?”, kataku tak kalah dingin. Rasanya tak perlu banyak basa-basi berbicara dengan orang-orang seperti mereka, pikirku.

“Sepertinya dia lom tahu berurusan dengan siapa Bos!”. Kata orang berbadan besar, yang berdiri disamping kanan Bowie.

“Kita hajar aja Bos”, kata teman disebelahnya yang berbadan agak ceking.

“Ya sudah kalian selesaikan”, kata Bowie menyuruh kedua temannya untuk menghajarku.

Keduanya langsung berpencar, orang yang berbadan besar langsung berjalan memutar arah kesampingku dan si Ceking didepanku, mereka pintar juga langsung memecah arah supaya konsentrasiku pecah. Tapi, aku tetap tenang memperhatikan gerakan keduanya. Yang jelas aku tidak akan memulai serangan duluan, jadi aku mulai dengan memperhatikan gerakan keduanya.

Dan cowok yang berbadan gemuk, tiba-tiba mengunci badanku dari belakangku. Kampret kuat juga kunciannya. Kulihat si Ceking memulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Dengan tenang, aku memasukan jari-jari tangan kananku seperti gerakan cakar, tepat dirusuk cowok yang berbadan gemuk. Kemudian aku tekan jari-jariku kebagian dalamnya dengan kuat.

“Arrgghhhh...” teriak pria yang berbadan besar kesakitan dirusuk kanannya sehingga mengendorkan kunciannya padaku, dan disaat si Ceking melayang tinjunya kearah wajah.

Bugghhhh.. tinjunya masuk dengan telak ke wajah temannya sendiri, karena kunciannya yang melemah aku jadi punya kesempatan untuk merunduk dan bergeser kesamping.

“Arrgghhh..” tampak cowok yang berbadan besar tersebut terjengkang kebelakang, sambil mengeluarkan darah segar dimulutnya.

Ugghhh, pasti sakit tuh.

“Bangsaattt...” Maki si Ceking, kemudian sambil sedikit meloncat ia mengarahkan sebuah tendangan kearah dadaku. Dengan memanfaatkan arah gerakan si Ceking, aku dengan tenang menarik kakinya dan melemparkannya ke dinding.

Braaakkk, dan si ceking pun ikutan terhempas ke dinding toilet.

“Bajingaannn...” teriak Bowie dengan emosi yang sudah tinggi di ubun-ubun, sepertinya tidak terima dengan temannya yang dengan mudahnya aku tumbangkan. Kemudian dengan sedikit berlari dia akan menyerudukku. Tujuannya untuk menghempaskanku ke Dinding.

Aku mengambil air dari westafel yang masih mengalir dari kran yang tadi belum sempat kumatikan karena kedatangan Bowie dan temannya.

Dalam jarak sepersekian detik, aku layangkan air tersebut, tepat ke mata Bowie, ia yang tidak menyangka akan hal tersebut, jadi kehilangan keseimbangan. Dengan gerakan cepat aku aku bergeser kesamping arah datangnya Bowie, dan mengarahkan kaki kiri kedepan menyikut kaki Bowie. dan...

Bruukkk... braakkkk...

Bowie yang kehilangan keseimbangan jadi ikut nyungsep ke dinding menyusul kedua temannya. Belum puas rasanya kalau Cuma membuat mereka numpuk begitu, aku merengsek maju untuk menyelesaikan mereka, tapi..

Braakkk... terdengar pintu didobrak paksa dari luar. Sehingga membuatku mengentikan langkahku.

Kulihat seorang cowok masuk, dan dia agak kaget melihat kondisi di dalam toilet.

“Assuu, tau begini gue gak perlu buru-buru kemari”, katanya sambil melihatku.

Sepertinya dia tidak di pihak Bowie pikirku, karena tidak kurasakan ada maksud jahat dari matanya. Aku baru ingat, hmnn dia ini kan yang duduk sama Angel di kantin kemaren. Dan dia yang sepertinya kesal denganku, karena ia sempat berdiri dengan tidak senang mau mendatangiku, karena ditahan sama Angel jadi ia tidak jadi mendatangiku waktu itu. Tapi, kenapa ia sekarang seolah berada dipihakku.

“Kalian bertiga keluar”, katanya sambil menunjuk Bowie dan kedua temannya.

Saat Bowie dan kedua temannya akan keluar dari toilet.

“Ingat! Sekali lagi kalian macam-macam di sekolah ini, kalian kan ber urusan dengan Gue, cam kan itu!”, katanya dengan dinginnya.

Sepertinya Bowie tidak berkutik dengan cowok di depanku ini, karena mereka langsung pergi begitu saja setelah diancam oleh cowok ini.

“gue Roy”, katanya sambil menjulurkan tangannya padaku.

“Awan”, jawabku sambil menjulurkan tangan agak ragu.

“Yuk ikut gue”, katanya mengajakku.

“Kemana ?”, Tanyaku heran.

“Udah ikut aja, tar loe juga akan tau sendiri”, katanya sambil melangkah duluan keluar toilet.

Aku diam dan memperhatikan kondisi toilet yang lumayan berantakan abis di’seruduk’ oleh Bowie dan teman-temannya tadi.

Menyadari pandanganku.

“Dont worry, tar ada yang beresinnya, yuk!”, lanjutnya mengajakku.

Aku mengikuti langkah Roy, tampak ia akan memasuki ruang Kepala Sekolah. Kukira ia akan masuk kedalam nya, ternyata ia masuk kedalam pintu yang ada disebelahnya. Aku sempat was-was juga, khawatir juga kalau Roy merencanakan sesuatu yang tidak terduga, aku harus tetap waspada, kalau-kalau Roy berniat untuk mencelakaiku, dan ketika ia membawaku melewati sebuah lorong kecil memanjang didalam ruangan tersebut. Masuk kedalam aja lantainya dilapisi karpet tebal dan lampu hias dinding disepanjang lorong yang kami lewati. Saat sampai di ujung lorong, Roy membuka sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati berwarna hitam kecoklatan. dan saat sampai dalam ruangan, aku kembali terpana dibuatnya. Shit! Kok bisa ada ruangan semewah ini dalam gedung sekolah, apa ini ruang khusus untuk orang tertentu saja yah, terlihat dari interiornya yang serba lux dan elegant, tanyaku dalam hati. Dan rasa heranku terjawab sudah ketika kulihat dua Orang wanita sedang duduk diatas sofa mewah yang ada dalam ruangan tersebut.


Wanita pertama, aku tahu dia adalah Angel dan yang satu lagi, aku belum mengenalnya, yang jelas kuingat dia juga ada bersama Angel saat di kantin sebelumnya.


Angel​
“Kekhawatiran loe terlalu berlebihan Ngel” kata Roy.

Kulihat Angel hanya melirik ke Roy.

“Iya, bahkan gue gak perlu ikut berkeringat sedikitpun untuk memberi pelajaran pada Bowie dan kawan-kawannya. Mereka sudah KO duluan sama si Awan ini saat gue datang. Padahal gue pengen lihat perkelahian seru, atau paling tidak si Awan ada bonyok-bonyoknya dikitlah” kata Roy agak bercanda.

Assemm, nih orang mau nolong atau niatin gue celaka sih sebenarnya, pikirku.

“Woow berarti dia hebat dong, cocok lah”, kata perempuan yang duduk disebelah Angel sambil tersenyum. Dan Angel hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan dari Roy.

Melihat aku yang masih diam dari tadi, Angel mengulurkan tangannya padaku.

“Hai, aku Angel, kelas 3 IPA 1” katanya memperkenalkan diri.

“Awan” balasku, wait. Kalau dia kelas 3 IPA 1 berarti dia juga sekelas dengan Ren dong, pikirku.

“Kalau sama dia, kamu dah kenal kan tadi”, kata Ren menunjuk Roy.

Aku hanya mengangguk, mengiyakan.

“Kalau itu, Raisya. Adiknya Roy, dia baru kelas 1. Mereka ini sepupuku”. Tampak Raisya tersenyum manis padaku. Raisya, ini kalau kuperhatikan juga cantik, tidak kalah dengan Angel kurasa. Tapi mungkin karena usianya yang masih dibawah Angel dan Roy, jadi masih terlihat ada kesan manjanya.


Raisya​
“Oya, maaf silahkan duduk” kata Angel lagi, menyadari kami yang masih berdiri sedari tadi.

Angel ini tipikal wanita yang sangat menjaga penampilan, etika dan tata bahasanya. Kalau boleh kugambarkan, penampilannya tak ubahnya ala wanita-wanita aristokrat atau bangsawan, dimana mereka sangat menjaga sekali gaya dan tata bahasanya.

Angel melihat Roy dan Raisya, sadar dengan arti tatapan Angel padanya, maka Roy dan Raisya ijin keluar ruangan. Sekilas kulihat Raisya tersenyum kecil padaku ketika akan keluar dari ruangan.

Aku menatap Angel sebentar penuh tanya.

“Tadi, aku lihat kamu lewat di lantai tiga. Ketika kamu jalan ke toilet, kulihat Bowie dan teman-temannya mengikutimu ke toilet. Karena melihat gelagat yang tidak baik dari mereka, jadi kusuruh Roy untuk melindungimu”, terang Angel seolah membaca apa yang ada dipikiranku saat ini.

“Tapi, sepertinya benar apa yang dibilang Roy tadi. Kalau hanya aku saja yang mengkhawatirkanmu terlalu berlebihan”, lanjut Angel kalem.

“Jadi, kamu mengkhawatirkan aku ?” tanyaku yang heran dengan sikap Angel. Seorang Angel, anak dari 10 orang terkaya mengkawatirkan aku yang hanya anak baru di sekolah ini, gak banget gitu loh kesannya, pikirku.

Angel hanya tersenyum kecil sambil menatapku dalam.

Degh!

Benar, detak jantung yang berdebar kencang ketika menatap matanya. Rasa itu kini kurasakan lagi saat ini. Tidak pernah aku merasakan perasaan ini pada orang yang baru kutemui, apa itu cinta! Entahlah, aku tak tahu. Dekat dengan Ren, perasaanku juga degh degh an, tapi jelas ini sebuah rasa yang beda antara aku dengan angel atau dengan apa yang kurasakan ketika dekat dengan Ren. Penasaran, harus kutanyakan ini padanya.

“Jadi, kenapa kamu mengundangku kemari ?”

“Kenapa ? ada yang aneh”, tanyanya balik.

“Ya, aku rasa tidak semua orang bisa untuk masuk kedalam ruangan ini, dan... kurasa itu juga termasuk untukku”, tebakku.

“Memang”, jawabnya singkat dan membingungkan. Kan Asem namanya, hadeehh!

“Terus, kenapa kamu mengajakku kemari ?”, cecarku penasaran.

“Ada masalah ?” katanya balik tanya padaku.

Asem, percakapan macam apaan ini. Uffttthh! Sepertinya aku harus bertanya dengan cara lain nih, pikirku. Namun sebelum sempat aku bertanya lebih lanjut padanya.

“Jadi, sejauh mana hubungan mu dengan Renata Wijaya”, tanya Angel mendahuluiku.

“Maksudnya ?”, tanyaku heran. Karena ini tidak berhubungan sama sekali dengan pertanyaan yang kuajukan sebelumnya.

“Saktiawan S. Wijaya”, kalian sama-sama memakai nama Wijaya. Itu bukan suatu hal yang ‘biasa’”. Kata Angel sambil tersenyum misterius. Wanita didepanku ini bukan wanita sembarangan. Disaat orang-orang menyangkanya aku adalah kekasihnya Ren, yah tidak bisa disalahkan juga sih, karena siapapun yang melihat seorang Renata memelukku seperti kemaren pasti akan mengira kalau Aku dan Ren punya hubungan khusus. Walaupun pada kenyataannya jauh panggang dari api. dan aku penasaran sejauh apa dia mengetahui tentangku.

“Kalau Kamu sudah tahu sejauh itu, seharusnya kamu sudah bisa menyimpulkannya”, kataku sambil sedikit menegakkan badanku agar terlihat lebih santai duduk di depan seorang gadis misterius bernama Angel ini.

“Tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mu”, dengan mata sedikit meredup dan intonasi yang lebih lembut dari sebelumnya.

Degh! Benar-benar wanita yang berbahaya nih. pikirku.

Tapi melihat tatapannya seperti itu, aku seperti tersihir. Jujur kuakui betapa cantiknya wanita depanku ini, rambutnya yang hitam lurus, matanya yang bulat, ketika pandanganku makin turun ke hidungnya yang mancung dan mungil, bibirnya yang ahhh.. Astaga! Apa yang kupikirkan.

“Awan, ternyata matamu nakal juga yah Anak Baru” panggilnya mangagetkan dari keterpesonaanku padanya.

“Yah apa tadi ?” tanyaku.

“ahh forget it” Katanya.

Aissh benar-benar wanita yang aneh.

“Oya, kamu mau sarapan apa ?”, tawarnya padaku.

“Oh tidak usah aku belum lapar”, tolakku halus. Benar-benar wanita yang susah dimengerti. Perntanyaannya berubah-ubah, aku jadi sulit menebak, sebenarnya apa yang diinginkannya dariku.

“Please, temani aku sarapan”, tatapannya seolah-olah memohon padaku agar bersedia untuk menemaninya. Tatapan itu lagi, ahhh!

“ah baik lah” tanpa kuasa untuk menolaknya.

Dan kulihat Angel tersenyum dengan senang menampakan barisan gigi putihnya. Bahkan ketika dia tersenyumpun membuatku makin terpesona akan kecantikannya.

“Jadi kamu mau sarapan apa ?” tanyanya padaku.

“Terserah kamu aja, aku ikut pilihanmu”, jawabku tanpa berani menatapnya lebih lama lagi.

“oke, bentar yah”, katanya sambil memanggil seseorang melalui telphone genggamnya.

Tak lama, makanan yang dipesan Angel datang diantar oleh seorang pelayan. Hmnn, semula aku kira Ibu kantin yang akan mengantar makanannya kemari, ternyata ini orang yang berbeda. Apa dia mempunyai pelayan khusus untuk ruangan ini yah, heranku.

Didepanku sudah terhidang dua piring makanan seperti mie goreng begitu, tapi mienya tebal dan ada ‘saos’ yang agak banyak dipinggirnya.

“Silahkan dimakan”, kata Angel mempersilahkanku.

Kulihat diatas meja hanya ada sebuah sendok Garpu dan Pisau, ada serbek putih yang terlipat dengan cantik dibawahnya. Sendoknya mana ?, gimana makannya nih, pikirku. Sejenak kulihat, Angel melirik memperhatikanku.

Untuk menutupi grogiku, aku mempersilahkan Angel duluan.

“Silahkan, Ladies First” Sambil mempersilahkan Angel untuk makan duluan. Gila aja, kalau aku yang mulai duluan makannya. Keliatan katrok nya coy, wkwkwk. Kan malu-maluin.

Tampak Angel mulai makan hidangan yang ada didepannya dengan pelan dan elegan. Sambil melirik cara Angel makan, aku mengikutinya perlahan. Sekilas kulihat ada senyum tipis di sudut bibirnya.

Ketika selesai sarapan, Angel terlihat mengambil serbek putih didepannya, kemudian mengarahkannya ke wajahku.

“Eh...”, ternyata ada sisa saos di ujung bibirku, dan Angel membersihkannya dengan sangat pelan. Damn.. itu kalo reader yang suka minta update secara barbar di forum ini berada di posisiku, pasti dah crot duluan diperlakukan begini, apalagi oleh wanita secantik Angel.. wkwkwkw.

“Hmnn makasih”, kataku pelan padanya.

Angel hanya tersenyum manis didepanku.

“dan.. makasih buat mie gorengnya”, ucapku dengan polosnya.

“hihiii” Angel menutup mulutnya, seperti menahan tawanya untuk tidak keliatan terlalu kentara menertawakan kepolosanku.

“Itu namanya spaghetti” ucapnya pelan, dan masih menyisakan sedikit senyum disudut bibirnya.

“Iya kah? Terlihat seperti mie goreng bagiku”.

“yah terserah kamu lah, hahahaa”, katanya sambil tertawa.

Loh mang ‘mie goreng’ kan itu!, njiirr malunya ditertawakan sama Angel begitu.

Ting ting

Bunyi nada sms dari Hpku, reflek aku mengeluarkan HP bututku di depan Angel. Kulihat ada sebuah notifikasi sms masuk.

Belum sempat kubaca, kulirik Angel agak mengernyitkan keningnya, memandangku heran.

“Baca dulu aja, siapa tahu penting”, kata Angel tersenyum padaku, kali ini senyumnya seolah-olah melihat diriku dengan aneh.

“hmnn nanti saja”, jawabku

“Yakin ? jawab aja, aku gak papa kok”, lanjut Angel.

“Gak papa, bisa nanti saja”

“So...” katanya menggantung.

“hmnnn apanya”, tanyaku heran.

“Sudah jelas sekarang kamu bukan pacarnya Renata Wijaya”, kata Angel tiba-tiba.

“Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu ?”

“Semua terlihat dengan jelas saat ini”, katanya singkat.

Ahh jawaban yang sangat mengesalkan.

“Ya sudah, kalau kamu sudah menyimpulkan begitu, berarti aku bisa permisi dulu, terima kasih untuk makannya”, jawabku sambil berdiri dari kursi dengan terlebih dahulu mendorong nya sedikit kebelakang.

“Wait..” katanya menahan langkahku sebelum keluar.

Aku berpaling kepadanya dengan sedikit kesal tentunya.

“Tapi, itu tidak otomatis membuatku berhenti untuk penasaran padamu”, lanjutnya sambil tersenyum.

Njirr, apa maksudnya coba.

“Mang kenapa kalau seandainya kamu tidak lagi penasaran padaku ?”, kataku sambil menatapnya tajam.

“Itu artinya, aku akan melenyapkanmu”, kata Angel tersenyum dengan sadisnya.

Sejenak bulu tengkuk ku berdiri ngeri mendengar kata-katanya. Asem, bisa sadis ternyata dia. Ternyata ada sisi devil dari seorang Angel, yang bahkan orang sepertiku juga bisa dibuat merinding dengar kata-katanya.

“So, tetaplah membuatku penasaran, agar aku selalu memperhatikanmu”, lanjutnya dengan senyum cantiknya kembali.

“Terserah kamu”

Kemudian aku melangkah keluar ruangan private ini.

Asem, perasaanku jadi nano-nano begini jadinya. Lom hilang keterkejutanku hari ini,

***


Karin​
“Nih..” kata seorang cewek tiba-tiba berdiri disamping mejaku sambil menyodorkan sebuah teh kotak.

“Karin..”, sapaku heran.

“Jangan Ge-er yah, itu tadi cewek mu yang ngasih, karena dia tidak melihatmu ada dikantin, jadi dia menitipkan ini padaku”, jawabnya agak ketus.

“Cewekku ?”

“Kak Renata, mang siapa lagi”, kemudian tanpa ba-bi-bu, dia pergi begitu saja yang masih terheran-heran.

“Kampreett”, kata Radit yang baru datang ke kelas bareng Novi

“Ditungguin dari tadi dikantin, gak datang-datang malah asik pacaran sama juara kelas kita”, kata Radit tengil dan suaranya yang cukup keras untuk didengar oleh orang-orang seisi kelas.

Karin yang duduk didepan bersama Irene si ketua kelas, melihat kearah kami dengan ekspresi tidak senang.

“Anjritt tu mulut gak bisa di rem apa”, kataku kesal.

“hehehe maap-maap bro” kata Radit dengan kode isyarat mengunci bibirnya.

“mang kemana loe tadi bro, kak Renata sampai nanyain loe ke kita tadi”

“Ada sedikit insiden tadi di toilet”.

“Hah! Loe di pukul sama Bowie? dikeroyok ? dimana-dimana, bilangin gue”, tanya Radit agak emosi.

“Njiirr cari gara-gara tuh orang, tenang bray, gue panggilin teman-teman gue yang juga anak-anak motor kalau dia berani nyentuh loe”, kata Novi gak kalah emosinya.

Dalam hati aku salut juga rasa persaudaraan kedua teman baruku ini, walau mereka asal jeplak aja.

“Hah, siapa yang dikeroyok ? loe Awan ?”, kata Siska dan teman-temannya yang baru datang.

“Benar Awan ?”. kata Sherla padaku khawatir.

Loh jarang-jarang aku lihat sherla bicara, hmnnn sesuatu nih, hehe.

“Siapa yang dikeroyok!, nih mereka aja yang lebay bilang aku dikeroyok”, kataku sambil menunjuk duo Radit dan Novi.

“Aku gak apa-apa kok, la”

“Beneran ?”, katanya memperhatikanku dengan seksama, tampak sekali kalau ia sangat mengkhawatirkanku.

“Iya, lihat aja, gak papa kan!”, kataku sambil tersenyum padanya.

“Selamat siang anak-anak”, kata pak Ucok Guru Bahasa Indonesia baru masuk kedalam kelas.

Kompak teman-teman yang sedang kumpul di mejaku kembali ke bangkunya masing-masing.


POV Author

Sementara itu, sesaat setelah Awan keluar dari ruang Privatenya Angel. Tampak Roy sepupu Angel masuk kedalam ruangan.

“Gimana Ngel”, tanya Roy pada Angel yang masih duduk dalam ruang tamu yang serba lux tersebut.

“Benar kata loe Roy, anak itu bukan sekedar anak sembarangan. Saat ini aku masih belum bisa menguak tentang siapa dia yang sebenarnya”. Terang Angel seperti sedang memikirkan sesuatu.

“hahhaha, makin menarik aja nih. Gak seru juga kan! kalau anak itu bisa kita baca dengan mudahnya”, kata Roy sambil tertawa.

“Tadi saat lu samperin ke toilet, apa yang loe lihat dari si Awan ?” Tanya Angel sambil melihat Roy serius.

“Jujur gue juga kaget, perasaan baru beberapa menit si Bowie dan kawan-kawannya masuk ke toilet”.

Angel hanya menyimak perkataan Roy sambil memikirkan sesuatu.

“Loe tau, apa yang gue lihat di dalam toilet ?”, tanya Roy.

Angel hanya mengernyitkan alisnya.

“Bowie dan kedua anak buahnya terbaring bergelimpangan di pojok ruang toilet. Padahal loe tahu sendiri, mereka itu anak-anak geng motor yang lumayan di segani di kota ini dan mereka bukan sekedar bocah, yang sembarangan orang bisa merobohkannya denga mudah. Gilanya, gue gak lihat sedikitpun luka ataupun lecet dari tubuh si Awan. Pakaiannya pun tidak lusuh atau kotor sama sekali, entah bagaimana caranya dia sampai bisa merobohkan mereka bertiga, bajingaann”, terang Roy greget.

“dan Jujur yang buat gue merinding...” kata Roy gantung sambil membayangkan kejadian yang ditemuinya di toilet beberapa saat sebelumnya.

“Tatapan mata Awan yang sangat tajam setelah merobohkan Bowie dan kedua temannya, itu membuat gue jadi merinding lihatnya. Itu tatapan seorang yang sudah sangat biasa dalam dunia kekerasan, tajam dan mematikan. Penasaran gue sama tuh bocah, suatu saat gue harus uji sendiri kemampuannya. Gak puas gue kalau belum lihat langsung kemampuannya”, kata Roy sambil tersenyum simpul.

“Itu terserah loe, yang jelas saat ini kita harus benar-benar cari tahu tentang siapa Awan yang sebenarnya. Karena gak mungkin kalau dia hanya sekedar anak angkat dari Bapak Wijaya saja, pasti ada sesuatu yang kita belum tahu. Dan ‘orang itu’ tidak menginginkan ada yang lebih dulu tahu selain ‘dia’”. Kata Angel agak pelan ketika menyebut orang yang dimaksudnya.

“ya udah yuk kekelas dulu, lagian kita masih banyak waktu untuk menyelidikinya”, ajak Roy santai sambil melangkah keluar dari ruangan.

Merekapun berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

***
Kulihat jam di dinding ruang pustaka. Jam 15.30.

Hmnnn masih 30 menit lagi jelang Ren pulang, pikirku.

Disinilah aku saat ini, karena kelas 3 pulang lebih lambat 1 jam dari kelas 1 dan 2. Jadi, dari pada boring aku mengisi waktu dengan baca-baca buku diperpus, suatu hal yang jadi kebiasaanku dari dulu sejak sekolah dasar. Entah kenapa, membaca jadi salah satu hobi yang paling menyenangkan bagiku. Jika sudah berhadapan dengan yang namanya buku, aku bisa menghabiskan waktu hinga berjam-jam lamanya. Disampimg itu, aku juga merenungkan kejadian-kejadian yang kualami hari ini. Mulai dari ‘pengeroyokan’ yang dilakukan oleh Bowie CS. Sampai diundangnya oleh Angel melalui Roy sepupunya ke ruangan yang menurutku teramat sangat aneh. Bagaimana tidak aneh, kenal juga tidak, tiba-tiba saja diundang ke ruangan VIP sekolah ini, dari situ aku jadi tahu jika pemilik sekolah ini punya ruang khusus yang hanya diperuntukan bagi keluarga pemilik sekolah ini, sepertinya.

Ketika sedang asik-asiknya membaca, ada seseorang yang masuk dengan sangat tergesa-gesa kedalam.

“hosshhh hosss disini loe ternyata bro, gawat bro, gawat”, katanya sambil ngos-ngosan.

“Apanya yang gawat dit ?”, karena tiba-tiba radit datang dengan wajah yang terlihat seperti mencemaskan sesuatu.

“hosshh cewek lu bro, cewek loe.. hossh hosshh” katanya sambil masih ngos-ngosan.

“Cewek ku ? cewekku yang mana ?” tanyaku heran.

“Anjiirrr yah Kak Renata lah, mang siapa lagi! Cewek loe ada berapa sih mangnya, taik lah”, kata Radit sewot.

“wkwkwkw”, sambil ngakak lihat eskpresi si Radit.

“Adik-adik, kalian bisa baca aturan di dinding itu ?”, kata seorang penjaga perpustakaan sambil menunjuk dinding.

“Maaf bu”, jawab kami bersamaan.

“Lu sih bro. hadeeh malah jadi kelupaan gue mau ngomong apa. Eh, iya. Gawat bro!”, Kata Radit sambil memegang jidatnya.

“Gawat napa ?”.

“Kak Renata, sedang digangguin oleh Bowie dan teman-temannya di depan gerbang sekolah”, kata Radit agak pucat.

“HAH! KALERAAA”, teriakku emosi.

Sontak aku langsung berdiri dan berlari keluar ruangan. Terdengar ibu penjaga perpus mengomel-ngomel kembali ketika kami keluar dari ruangan, karena suaraku yang keras barusan dan sedikit menimbulkan kegaduhan, juga karena kami lari dengan terburu-buru keluar ruangan tanpa sempat merapikan kembali buku-buku yang kubaca diatas meja. Tak kuhiraukan omelannya, karena dipikiranku saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan Ren. Berbagai pikiran buruk sempat melintas dipikiranku, Awas saja kalau si Bowie bajingan itu berani menyakiti Ren, kan kubuat dia menyesal seumur hidup, pikirku geram.

Aku berlari sepanjang lorong menuju gerbang sekolah, bahkan taman yang ada depan kelas paling ujung aku lompati begitu saja, tak kuhiraukan pandangan siswa-siswa disekitar itu, yang memandang heran melihatku berlari keluar seperti orang kesetanan. aku tidak sempat memikirkan hal lain saat ini selain keselamatan Ren. Dan itu membuat jantungku berdetak lebih cepat, memompa adrenalinku meningkat lebih tajam.

Tidak kulihat Radit dibelakangku, entah tertinggal jauh dibelakang atau kemana, aku juga tidak peduli. Dan benar saja, ketika aku sampai didepan gerbang sekolah. Di depan warung yang ada dipojok jalan ujung sekolah tempat yang biasanya jadi tempat nongkrong siswa-siswa dari sekolahku ketika pulang sekolah, disana tampak banyak siswa berseragam sekolah serta motor yang berkumpul depan warung tersebut. Mungkin ada belasan siswa yang berkumpul disana. Pas kulihat Bowie sedang menarik-narik tangan Ren, aku mendekati mereka dengan cepat.

“Lepasin tangan kotor kamu dari Ren”. Hardikku.

“Wuihh pengawalnya datang tuh”, kata salah seorang siswa yang berkumpul di belakang Bowie.

“Kita habisin aja, sekalian gue mau balasin dendam tadi pagi”, kata seorang cowok ceking. Ini cowok yang menemani Bowie mengeroyokku tadi pagi di toilet.

“Udah kita habisin aja dia bang, belagu nih orang”, kata cowok lainnya yang berdiri disamping si Ceking.

Kulihat Ren berlinang air mata ketakutan, melihat kondisi Ren seperti itu aku jadi makin emosi.

“Hehehe punya nyali juga loe datang kesini sendiri”, kata Bowie menyeringai.

“Aku tidak suka mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya. Lepasin Ren sekarang atau...”

“Atau apa ? hah!”, kata Bowie menantangku.

“Atau akan kubunuh kalian satu persatu dan kuhancurkan jasad kalian, sampai tidak seorang pun bisa mengenali jasad kalian lagi”, Suaraku mulai meninggi dan berat, nafasku mulai cepat karena emosiku yang sudah sampai kepala, dan kedua mataku mulai memerah.

Tiba-tiba pegangan Bowie terlepas begitu saja, karena itu Ren bisa melepaskan diri dan berlari kebelakangku sambil memegang tangan kananku, terlihat Ren sangat ketakutan sekali, dan air mata mengalir deras di kedua pipinya. Bajingan berani sekali mereka membuat Ren ketakutan seperti ini.

Teman-teman gengnya Bowie berkumpul dibelakangnya, sambil menunggu perintah dari Bowie. Aku yang sudah terlanjur emosi, melangkah kedepan, tujuanku jelas! akan membuat perhitungan dengan Bowie dan teman-temannya, saat akan maju Ren malah memegang tangan kananku dengan erat. Dimatanya masih terlihat ketakutan, namun disaat bersamaan dia juga mengkhawatirkan keselamatanku.

Saat situasi mulai memanas, tampak Radit diikuti belasan siswa datang menghampiri kami. Jujur aku tidak kenal dengan orang-orang yang dibawa Radit, tapi sepertinya mereka berada dipihakku.

“Syukurlah gue belum terlambat”, kata Radit yang baru tiba, dan kini ia berdiri disebelahku diikuti oleh teman-teman yang dibawanya ikutan berdiri disekeliling aku dan Ren.

“Bowie Bowiee.. lagu loe masih gak berubah juga yah”, kata seseorang yang ikut bersama radit barusan. Kepalanya botak dan sedikit ada codet di kening kirinya.

“dan Loe.. masih aja suka ikut campur urusan orang lain Ilham”, kata Bowie sinis.

“Kayak banci aja loe, masih suka main kasar dengan cewek. Kayaknya kita perlu adu kuat lagi nih seperti ‘waktu’ itu”, kata pria yang dipangil Ilham oleh Bowie barusan.

Tampak teman-teman dibelakang Bowie saling pandang, mungkin tidak menyangka dengan kehadiran musuh bebuyutan mereka disekolah akan tiba memberi bantuan yang tidak terduga seperti ini.

“Belum saatnya Ham, nanti akan ada saatnya kita berhadapan.. yuk mundur”, perintah Bowie pada teman-temannya. Mungkin dia khawatir juga jika sampai pecah tawuran di depan gedung sekolah, karena itu pasti akan membuatnya berurusan dengan pihak sekolah. Sepertinya baik Ilham atau Bowie tahu akan hal itu.

“dan Loe”, kata Bowie menunjukku.

“Urusan loe ma gue belum selesai, ingat itu baik-baik”, ancamnya dengan tatapan penuh dendam.

“dan buat loe Ren, loe harus jadi milik Gue. Dan Jika gue gak bisa milikin loe, maka gak ada seorangpun yang bisa miliki loe, ngerti!” Ancamnya pada Ren.

“Kenapa gak sekarang aja!”, kataku coba memancing emosinya, lagian aku juga belum puas rasanya jika belum bisa melampiaskan emosi yang sudah terlanjur naik ini. Ren makin memegang tanganku dengan erat, dari pegangan tangannya terasa gemetar.

Bowie hanya tersenyum sinis dan tatapan yang membara penuh dendam, kemudian berlalu dari tempat itu diikuti oleh teman-teman gengnya.

“Njiirr, tegang banget rasanya”, kata Radit mengusap keringat dikeningnya.

“Sorry bro, tadi gue harus manggil abang sepupu gue dulu”, kata Radit sambil melihat kearah Ilham.

“kenalin bro, ini Ilham, sepupu Gue”.

“Hai! Salam kenal bro”, kata Ilham sambil menjulurkan tangannya padaku.

“Awan, salam kenal juga”, jawab ku sambil membalas uluran tangannya. dan aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil pada teman-temannya Ilham yang berdiri didekat kami.

“Gila, besar juga nyali loe berani datangin Bowie dan teman-temannya seorang diri”. Tanya Ilham seolah masih gak percaya kalau aku langsung mendatangi Bowie dan teman-temannya seorang diri tanpa membawa bantuan sama sekali.

Gue hanya tersenyum tanpa menjawab.

“Hai Ren, loe gak apa-apakan ?” Tanya Ilham pada Ren. Namun karena Ren masih terlihat shock karena kejadian barusan, dia hanya memeluk lengan kananku dengan erat, sesekali masih terdengar isakan dari suaranya.

“Yaudah bro, gue ma Ilham cabut dulu”, kata Radit mengkode Ilham dan kawan-kawannya sambil memberi kami waktu untuk berdua, karena kondisi Ren yang terlihat masih shock dengan kejadian barusan.

Aku hanya mengangguk pada Radit dan Ilham.

“Gue hanya ingatin pada loe Wan!”, kata Ilham coba mengingatkanku.

“Hati-hati sama Bowie, dia tipikal orang yang nekat dan bisa melakukan segala cara untuk dapetin apa yang dia mau. Selama ada gue, loe bisa minta bantuan apapun ke Gue, karena loe sohibnya adik gue, berarti sekarang gue anggap loe juga sohib gue. Tapi, kalau diluaran sana ketemu dia seorang diri, saran gue mending loe menghindar saja, karena dia punya banyak kawanan yang gak segan-segan untuk membabat musuhnya dengan sadis”, kata Bang Ilham mengingatkan sambil berlalu diikuti oleh teman-temannya yang lain.

“Yuk kita masuk ke gedung sekolah dulu yah Ren” ajakku pada Ren.

Ren mengikutiku tanpa melepas pegangan tangannya. ketika akan melangkah masuk sekolah, terlihat seorang wanita melihat dari lantai tiga gedung sekolah. Itukan Angel! Pikirku, apa ia melihat kami dari tadi. Tak kuhiraukan lebih lanjut, kubawa Ren duduk dibangku taman sekolah. Disini suasananya lumayan adem, ditambah adanya pohon mahoni yang lumayan besar dibelakang bangku taman, bisa meneduhkan setiap orang yang duduk dibawahnya.

Ketika duduk, Ren menyandarkan kepalanya dibahu kananku. “Aku gak nyangka, kenapa Bowie tiba-tiba jadi nekat begitu.. hikss”, tiba-tiba Ren bercerita tentang kejadian yang menimpanya tadi. Aku hanya diam, membiarkan Ren bercerita, mungkin dengan begitu bisa membuat dia tenang.

“Tadi, kami pulang lebih cepat, karena Guru yang ngajar kelas tambahan tidak datang. Awalnya aku kekelasmu, karena kelasmu dah kosong, aku pikir mungkin kamu dah nungguin di dekat parkiran seperti biasa. Gak tahunya disana ada Bowie, dia maksa-maksa buat ikut dia. Katanya ada sesuatu yang sangat penting yang mau dibicarakannya. Aku gak nyangka tiba-tiba dia maksa begitu. Aku takuutt Awaann... Hikss hikss” Ren jadi terhisak kembali.

“Sudah tenang Ren, ada aku disini. Tak akan kubiarkan seorang pun menyakitimu”, entah keberanian dari mana, aku rengkuh bahunya Ren kedalam pelukanku. Aku bisa menghirup wangi tubuh Ren yang membuatku nyaman. Hmnnn.

“Janji...”, kata Ren menegakkan wajahnya melihatku.

“Iya. Aku janji! Bahkan dengan nyawaku, akan kujaga kamu”, ucapku mantab sambil menatap mata Ren dalam.

Ren menutup bibirku dengan telunjuknya.

“Ssstt.. aku senang kamu mau menjagaku, tapi kumohon jangan mengucapkan kata itu”

“Kata yang mana ?” tanyaku heran. Mang ada yang salahkah dengan kata-kataku barusan yah.

“Menjagaku dengan mempertaruhkan nyawamu”.

“Tapi aku serius Ren”, ucapku sambil memegang kedua tangan Ren.

“Tidak! Aku tidak mau kalau kamu harus mempertaruhkan nyawamu. Cukup dengan menjaga saja. Karena..”, terlihat Ren menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.

“Karena aku tidak mau hidup, jika seandainya kamu harus tiada di dunia ini”.

Njirr segitukah arti diriku dimata Ren. Tapi aku tidak mau ke ge-eran dahulu, aku sadar kok dengan siapa diriku.

Kuusap sisa-sisa air mata dari sudut matanya.

“Aku janji! tak akan kubiarkan lagi siapapun menyakitimu, mambuat air mata Ren mengalir seperti ini”, sambil membersihkan sisa-sisa air mata dipipi Ren dengan kedua jempolku.

“Ssstt.. aku tidak ingin mengingat kejadian tadi lagi”, ucap Ren sambil kembali menyenderkan kepalanya kebahu kananku.

Kubiarkan Ren menenangkan diri beberapa saat lamanya. Jujur aku juga bingung harus bicara apa disaat seperti ini, dan entah kapan kedua tangan kami saling mengenggam erat, dan itu lagi-lagi berhasil membuat detak jantungku berdetak kian cepat. Sesaat lamanya kami hanya diam, hanya detak jantungku yang terdengar berdetak kencang.

“Kalau gitu, biar kamu gak sedih dan bisa melupakan kejadian tadi, gimana kalau hari ini aku temani jalan-jalan, terserah deh mau kemana”, tawarku pada Ren.

Eh dia langsung menegakkan kepalanya, dan mulai terlihat senyum di bibirnya yang indah.

“Kalo gitu temani aku jalan-jalan ke Mall yah”, katanya langsung berdiri dan menarik tanganku.

Loh kok jadi langsung semangat gitu yah, heranku. Padahal barusan sedih banget. Ternyata memang benar teori jancok’i ala milenial, ketika wanita sedang diam dan gelisah, silahkan bawa belanja, dijamin gelisahnya akan berpindah ke anda. Sial! Hari ini aku membuktikannya langsung.

Kebetulan disaat yang bersamaan pak Usman datang menjemput kami di gerbang sekolah.

Saat diatas mobil, Ren kelihatan ceria seperti biasanya. Bahkan kali ini ia tidak segan-segan memegang tangan kiriku dan menyandarkan kepalanya dibahu kiriku. Kulihat tatapan heran dari pak Usman melalui keca spion yang ada didepan.

Aslinya aku agak risih juga awalnya, namun karena Ren yang kelihatan biasa-biasa aja, jadi kucoba untuk santai saja. Tangan Ren terasa lembut dan halus, membawa desir-desir indah sampai ke hatiku terdalam.

“ke TSM dulu yah pak”, perintah Ren pada pak Usman.

“Oke siap Non”, jawab pak Usman patuh.

Sampai di Mall, Ren tidak langsung belanja, malah mampir dulu ke sebuah Salon yang ada dilantai atas. Awalnya kukira, Ren akan salon dulu. Gak tahunya dia malah nyuruh aku untuk di make over sama mbak-mbak salonnya. Yah jelas aku protes!. Tapi tau sendiri lah Ren, kalau sudah ada kemauannya, bisa seenaknya. Ujung-ujungnya aku hanya menunduk pasrah mengikuti kemauannya.

“Mbak bikin cakep cowok saya yah”, kata Ren pada mbak-mbak yang akan mencukur ranbutku. Aku agak kaget sekaligus senang juga di bilangin aku ‘cowok’nya, asem antara kesal dan senang ini namanya, hehehe.

“Mau dicukur gimana mas ?” tanya mbak salonnya padaku.

“Terserah mbak ajalah, dibotakin juga terserah”, kataku pasrah.

“Hihiii.. cowok mbaknya lucu juga yah kalau pasrah gitu”, kata mbak salonnya.

Ren hanya tersenyum senang dengar mbak salonnya bilang begitu.

Saat rambutku mulai dicukur, Ren mendekat sambil sedikit berbisik kearahku.

“Kutinggal bentar yah”

“Loh kemana Ren ?”, kataku melirik Ren.

“Bentar doang kok. Awas jangan nakalin yang nyalonnya”, kata Ren memperingatiku.

“Sepuluh menit, tar aku balik. Awan duduk manis dulu aja disini, biar di salonin jadi makin cakep”, kata Ren mengerling nakal.

Tidak lama setelah selesai cukur rambut dan krimbat. Ren datang dengan membawa sebuah sebuah bungkusan ditangannya. Ada tulisan toko ponselnya, hmnnn Ren beli ponsel baru lagi?. Padahal Hpnya saja masih baru begitu, heranku.

Ren mengajakku belanja pakaian yang ada dilantai dua. Herannya dia malah mengajakku ke area khusus pakaian pria.

“Eh, kok kesini Ren”, tanyaku heran. Karena kupikir dia yang akan belanja sebelumnya.

“Iya, aku mau beliin pakaian buat cowok spesial yang telah nyelamatin aku hari ini”, sambil mengandeng tanganku melihat-lihat pakaian-pakaian pria terbaru.

“Eh gak usah, aku kan mau temanin kamu belanja bukannya mau belanja”, kataku mencoba menolak.

Ren langsung diam, dan cemberut lagi. Hadeehh keluar lagi deh jurus ngambeknya. Kayaknya dia sudah fasih benar ‘jurus’ ini untuk membuatku tak berdaya dan menurut padanya.

“Ya udah, ayuk lah”, kataku pelan menuruti keinginannya.

“Nah gitu dong!, lagian pakaian kamu itu-itu aja”.

Jadilah hari itu, kami belanja-belanja, lebih tepatnya Ren yang belanjain sih. Dan bisa ditebak, aku bolak balik kamar pas setiap beberapa menit karena banyaknya Pakaian yang dikumpulin Ren untuk aku coba.

“Gak cocok, gak cocok”,

“nah itu pas”,

“warnanya terlalu gelap”,

“jangan itu, warna terlalu ngejreng”,

“nah iya itu, keren”,

“Ahh kebesaran, ganti yang nomor dibawahnya”,

“Nah itu cocok”,

“Tuh kan kamu ganteng banget pake itu”.

dan banyak lagi kata-katanya Ren ketika aku mencoba semua pakaian yang dpilihkannya buatku. Bahkan pelayannya hanya geleng-geleng lihat kami sambil senyum-senyum sumringah, dan dengan semangatnya mbak-mbaknya malah menawarkan koleksi-koleksi terbaru di shop mereka, jadi deh tuh waktu 3 jam gak terasa berlalu begitu saja saat kami shoping.

“Mbak, bungkus semuanya yah”, kata Ren pada pelayan toko.

“Eh serius Ren, mau dibeli semua ini ?”, tanyaku kaget.

Gilaak.. ini kalau dikumpulin, kira-kira aku baru bisa beli ini dihitung dari waktu aku masih kecil hingga usia sekarang baru bisa dapatnya segini banyak. Buset dah, bayar pake apa nih pikirku cemas, tanpa sengaja keluar keringat dingin dengan syahdunya membasahi pakaianku.

Ren yang menyadari kondisiku.

“Awan Kenapa ? Kok pucat gitu”, kata Ren sambil mengusap keringat yang keluar di dahiku. Mungkin dia heran juga, padahal ruangan ber-AC, kok aku malah berkeringat seperti ini.

Gimana gak pucat coy!, belanja segini banyak, apalagi kulihat tadi label harganya rata-rata ratusan ribu keatas. Gak ada yang 3 100ribu begitu! kayak pakaian murah di Pasar Atas Bukittinggi tempat aku sering belanja pakaian. Gimana gak lemas aku mikirin gimana bayarnya.

“Gak kebanyakan nih Ren”, kataku mengalihkan tanyanya, sapa tau bisa ditinggal sebagian, jadi uang yang kemaren dikasih papanya Ren bisa cukup untuk membayar belanjaannya.

“Pasti mikirin masalah bayarnya yah ? hihihi”, kata Ren seolah membaca apa yang kukhawatirkan.

Aku hanya senyum malu mengagguk kepala pelan.

“Tenang aja, kan Ren yang ngajakin Awan buat belanja, jadi Ren yang bayarin”, katanya santai.

“Tapi..”, kataku tertahan. kan malu kalau cewek yang bayarin cowok, dimana letak harga diriku coba.

“Udah, gak ada tapi-tapian, yuk!”, katanya sambil mengandeng lenganku menuju meja kasir.

“Berapa semuanya Mbak ?”

“Semuanya Rp. 15.300.000,- mbak”. Jawab penjaga kasirnya tersenyum ramah pada kami.

“APA ?”, kataku kaget mendengar harganya.

“Ihhh biasa aja kali, gak usah kaget gitu napa”, bisik Ren padaku.

Aku hanya bisa nyengir. Anjrit dah, uang segitu mending beliin motor tuh.

“Nih mbak”, kata Ren sambil menyerahkan kartu kreditnya.

Selesai membayar semua belanjaan, kalian bisa bayangkan gimana menderitanya aku ketika keluar dari Mall ini. Kedua tanganku penuh dengan belanjaan, sedangkan Ren asik aja jalan didepanku sambil bernyanyi-nyanyi riang.

Bahkan pak Usman saja sampai melongo melihat banyaknya bawaanku.

“mas Awan memborong nih!”, kata pak Usman sambil tertawa.

“Bantuin toh pak, malah diketawain”, pak Usman dengan sigap membuka bagasi dan membantuku memasukan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, sampai penuh bagasi belakang dengan belanjaan kami.

Ketika didalam mobil Ren banyak bercerita tentang sekolah, bahkan gosip yang beredar tentang kami disekolah, bahkan sahabat-sahabatnya jadi heboh bahas kejadian kemaren di kelas, terang Ren padaku dengan semangatnya.

Saat sedang asik bercanda dengan Ren, ada sms masuk. Kubaca pesan yang dikotak masuk ternyata dari Fadil temanku dikampung dan beberapa pesan dari Kak Rini yang belum sempat kubalas sejak siang tadi. Tapi, sebelumnya kubuka sms dari kawanku Fadil terlebih dahulu, karena ada info yang sangat kutunggu darinya.

Fadil 081***** :

Kurang aja kawan ma, jauah-jauah marantau, dak kaba kawan yang ditanyo do, eh malah kaba cewek yang ditanyo, tau bana ambo yang dapek hadiah istimewa dari Bidadari Kampuang, samo kawan langsuang lupo, hahaha. (Kurang ajar loe sob, jauh-jauh merantau, bukan kabar teman yang ditanyain, malah kabar cewek yang ditanya, tau lah gue yang baru dapat hadiah spesial dari Bidadari Kampung, jadi langsung lupa sama temannya)

Panjang banget sms Fadil, sampe aku harus membuka dua sms, maklum HP jadul, daya tampung terbatas, jadi buka sms segini masuknya jadi dua sms. Hehehe.

Tapi kok baru balasnya sekarang yah, kemaren kan aku ngirim smsnya pagi. Oh, aku baru ingat. Dikampungku kan susah sinyal, jadi kalau mau dapat sinyal harus pergi agak keatas bukit. Disana tempat aku biasa ngumpul kalau lagi santai sama kawan-kawan.

Nomorku 081*** :
“Kalau kawan lah jaleh sehat, kalau ndak baa caro baleh sms ko” (Kalau kawan sudah jelas sehat, kalau nggak gimana bisa balas sms gue)

Fadil 081***** :
“pandai sajo kawan ngeles ma, eeh Midun”. (Bisa aja loe ngeles, eeh Midun)

Nomorku 081***** :
“Kirim lah capek haa, kacak” (Kirim cepat yah, Kacak)

Fadil 081***** :
“hahaha, sabanta ndan, ambo tanyo ka Aldo dulu, kebetulan lai disabalah ambo urangnyo ko aa” (Sebentar kawan, gue tanyo Aldo dulu, kebetulan orangnya disebelah gue)


*Panggilan Kacak dan Midun biasa kami pakai kalau sedang bercanda.

Aku jadi senyum-senyum berbalas pesan dengan sahabatku walau hanya lewat sms bisa sedikit mengobati kerinduan pada sahabatku dan yang paling mendebarkan karena sebentar lagi akan dikirimi nomornya Nisa, aku membayangkan nantinya akan bisa berkomunikasi lagi dengan Nisa.

Keasikan berbalas sms dengan sahabatku, tanpa kusadari tatapan Ren yang mulai cemberut disebelahku.

“Gitu aja terus, penting yah HP daripadaku ?”, kata Ren kesal padaku.

“Eh maaf Ren, ini lagi balas pesan temanku dikampung”, jelasku pada nya.

“Alesan aja, bilang aja dari cewek-cewek centil yang kemaren kan ?”, tuduh Ren. Kayaknya masih aja cemburu pada lima sekawan yang kemaren duduk bersamaku dikantin.

“Serius! gak kok Ren. Lagian kan dah kujelasin, kalau kemaren itu hanya teman, gak lebih”. Kataku membela diri.

“Mana. coba lihat sini ?”, katanya mengulurkan tangan meminta Hpku.

Aku dengan polosnya langsung memberikan Hpku padanya, tanpa curiga sama sekali.

Dan bertepatan saat sebuah sms masuk,

Ting ting

Pasti itu Fadil yang mengirimkan nomor Nisa tuh, pikirku senang.

Saat itu, kami melewati sebuah jembatan.

“Pak Usman berhenti sebentar”, perintah Ren pada pak Usman.

Pak Usman menepikan mobilnya diatas jembatan, kemudian Ren membuka pintu jendela mobil.

Wuussshhh

Ren melemparkan sesuatu ke bawah jembatan. Eh itu Hpku kan yang dibuang barusan.

“REN... Arrgghhh”, teriakku kesal.

Aku mau keluar dari mobil, anjrit pintunya dikunci lagi! gimana bukanya nih, tanyaku bodoh. Karna tidak tahu bagaimana membuka pintu mobil saat itu.

“Argghh Ren kenapa dibuang, kamu sudah Keterlaluan”, Umpatku kesal.

Aku marah iya, kesal iya.. Kenapa begitu teganya Ren membuang HP kesayanganku satu-satunya. Ufftthh.

Dan yang paling mengesalkan, dengan santainya Ren menyuruh pak Usman melanjutkan perjalanan pulang tanpa memikirkan gimana nasib Hpku yang terbuang sayang.

Selamat tinggal Hpku. Nomor Nisa yang belum kutahu, kak Rini, Teman-temanku dikampung.

#Bagaimana hubungan Awan dengan Annisa dan Kak Rini ? akankah terhenti sampai disini ? seiring terbang indahnya HP butut Awan. Silahkan ditunggu lanjutan ceritnya.


Author POV (Ekstra)

*Woi Kalera, giliran kawan terakhir takana dek ang. (Kalera=Umpatan, giliran Teman aja paling akhir loe ingat)

*Sorry kawan, wak panik ko haa. (Sorry kawan, gue panik nih)


Next Episode : CHAPTER 5 : WILL YOU REMEMBER ME ?
 

4Scott

Anak GoCrot
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
370
Reaction score
3,909
Points
93
Will You Remember Me ?

POV Renata



Renata Wijaya​

Hari-hariku semakin penuh warna sejak kedatangan Awan. Entah kenapa berada dekat dengannya membuatku senang. Padahal kalau dekat dengannya malah aku yang lebih banyak bicara, dan Awannya lebih sering diam dan menuruti apa saja kemauanku. Tapi meski begitu, aku tahu kalau dia itu sangat cerdas. Kalau ngobrol panjang lebar dengannya selalu saja nyambung. Walau kadang dia akan diam untuk sesuatu hal yang dia tidak tahu. Dan luar biasanya, tidak lama pasti dia akan mencari tahu hal yang belum diketahuinya tersebut. Sayang selama ini Awan tinggalnya di desa sehingga kurang update dengan perkembangan terkini. Coba kalau dari kecilnya sudah hidup dikota, dimana semua informasi bisa di dapat dengan mudah.

Balik lagi pada kejadian siang ini. Jam 15.00 Wib. Seharusnya hari ini adalah jam tambahan untuk pelajaran Matematika. Namun Bu Sofia yang seharusnya masuk mengajar materi tersebut tidak masuk tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. 15 Menit menunggu membuat kami jenuh, sehingga aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang. Senang! So pasti, karena akan bisa pulang bareng Awan lagi, entah kenapa aku selalu saja betah berada didekatnya, Awan seperti candu bagiku saat ini. Sebenarnya sohib-sohibku mengajak untuk pulang bareng. Namun mereka sepertinya maklum kalau aku sekarang bareng Awan. Sehingga mereka pulang duluan.

Aku dengan semangat melangkah kelantai dua, menuju kekelasnya Awan. Namun tak kutemui Awan saat setibanya disana. Ops! Aku baru ingat kalau Awan pulangnya kan jam 14.00Wib yah. Mungkin sudah menunggu di parkiran, pikirku. Dan aku buru-buru menuju parkiran sekolah. Apesnya, bukan Awan yang kutemui justru Bowie yang lagi nangkring diatas motor warna Hijau, Kawasaki Ninja 250cc-nya.

“Hai Nata, bisa bicara sebentar”, Sapanya dengan sopan.

Hhmn tumben nih orang sopan banget, pikirku. Tapi entah kenapa perasaanku jadi tidak enak begini jadinya.

“Bicara aja”, balasku datar.

“Tapi, gak disini”.

“Maaf kalau ditempat lain aku gak bisa”, tolakku. Lagian aku mau menunggu Awan bukan menemui yang lain.

“Please Nata!”, kata Bowie memohon.

“Kalau kamu mau bicara, bicara aja. Tapi kalau mau ngajak bicara ditempat lain, aku gak bisa”, tolakku. Sebenarnya aku agak khawatir juga. Karena tempat ini mulai sepi, karena banyak siswa yang sudah pulang. Hanya beberapa siswa yang kulihat masih ada di dalam area gedung sekolah.

“Pasti karena bocah itu kan!”, kata Bowie geram.

“Bocah yang mana! Aku gak ngerti maksud kamu apaan”, jawabku kesal.

“Siapa lagi kalau bukan pacarmu anak kelas dua itu”, katanya sinis.

“Ingat! Gue bisa saja hancurin tuh bocah kalau lu gak ikut gue sekarang”. Ancam Bowie sambil mendekat kearahku.

Degh

Jujur aku sangat takut dengan ancaman Bowie saat itu, karena aku tahu Bowie anak geng motor yang tidak segan-segan berbuat jahat pada siapapun. Sebenarnya, aku bisa saja menolak keinginan Bowie, namun dengan ancamannya yang akan mencelakai Awan, entah kenapa aku sangat cemas akan keselamatan Awan dan pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk dan menuruti ajakan Bowie.

“Tapi, ingat hanya sekedar bicara tidak lebih”, kataku tegas padanya.

Bowie hanya tersenyum kecil sambil mengajakku keluar area sekolah.

Tapi belum sampai jauh kami melangkah, aku melihat banyak teman-teman gengnya Bowie yang berkumpul di depan warung depan gang sekolah kami. Firasatku benar-benar tidak enak saat ini. Melihat gelagat tidak baik dari mereka, sepertinya mereka berniat yang tidak baik. Sehingga aku menghentikan langkah kakiku, tepat beberapa meter dari tempat mereka berkumpul.

Menyadari aku yang berhenti berjalan dibelakangnya. Bowie melihatku dengan tatapan yang sangar.

“Kayaknya percuma gue ngomong baik sama loe Nat. Sekarang AYO IKUT”, Kata Bowie dengan agak keras sambil memaksa menarik tangan kiriku dengan paksa.

Oh tidaak. Teriakku dalam hati, kenapa aku terlalu bodoh percaya pada Bowie dengan mengikuti dan percaya padanya kalau ia hanya akan sekedar bicara. Aku merutuki kebodohanku.

“aakkhh. Kamu menyakitiku”, teriakku pada Bowie karena merasakan perih pada pergelangan tangan kiriku yang ditariknya.

“Aku benci kamu Bowie”, teriakku padanya, tanpa sadar aku mulai menangis ketakutan. Tapi sepertinya Bowie benar-benar sudah nekat dan telah merencanakan semua ini sebelumnya. Padahal Bowie yang kutahu, walau aku tidak pernah menanggapi cintanya, tapi ia tidak pernah berani menyakitiku selama ini. Entah kenapa Bowie yang kujumpai saat ini, menjadi gelap mata seperti ini.

“Sebentar lagi loe akan semakin benci ma Gue Nat. Tapi sebelum itu akan gue nikmatin tubuh loe”, Ucap Bowie dengan tatapan yang seakan-akan menelanjangiku. Tampak kawan-kawan geng Bowie tersenyum sumringah seperti akan menikmati sebuah pesta.

Aku menangis sejadi-jadinya. Dalam hati tidak henti-hentinya aku memanggil-manggil nama Awan.

Awan, tologin Ren please. Demi Tuhan aku gak mau disentuh oleh orang lain, hiks hiks. Doaku dalam hati.

Bowie menarik paksa tanganku, beberapa siswa yang melihat aku diseret paksa oleh Bowie, hanya melihat tanpa berani menolongku. Sepertinya mereka sangat takut sama Bowie sehingga membiarkan tanpa ada yang berani ikut campur.

Disaat genting seperti itu, sepertinya Tuhan masih sayang padaku. Aku melihat Awan berlari kearahku dari dalam sekolah. Matanya merah, dia seperti seorang Harimau yang siap melibas lawan-lawannya.

Disatu sisi aku sangat senang melihat orang yang kusayang datang disaat yang tepat untuk menolongku. Namun disaat bersamaan, aku terhenyak melihat Awan seperti saat ini. Karena Awan yang kulihat saat ini, bukan seperti Awan yang kukenal. Tatapannya sangat tajam dan mematikan, aku sempat gemetar ketika melihat tatapannya.

Bowie juga kaget ketika melihat perubahan Awan, Takut ? entahlah. Mungkin itu yang dirasakan oleh Bowie. Sehingga pegangan Bowie pada pergelangan tanganku sempat terlepas dan aku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk lari dan bersembunyi di belakangnya Awan.

Disaat keadaan semakin memanas, datang Ilham dan teman-temannya. Ilham ini anak IPS, aku tidak tahu terlalu banyak tentangnya. Yang jelas dia ini juga salah satu anak Geng motor ternama di kota ini. Tapi meskipun begitu, dia hampir tidak pernah membuat kerusuhan di sekolah. Mungkin karena itu juga catatan keburukannya disekolah hampir tidak ada.

Bowie dan teman-temannya tampak kaget dan mungkin tidak menyangka akan kehadiran Ilham dan teman-temannya membantu kami. Bowie menatap kami dengan penuh dendam, aku sendiri heran apa yang membuatnya berubah seperti ini. Apakah karena cinta bisa membuat orang jadi berubah jadi jahat seperti ini.

“dan buat loe Ren, loe harus jadi milik Gue. Dan Jika gue gak bisa milikin loe, maka gak ada seorangpun yang bisa miliki loe, ngerti!” Ancamnya padaku saat itu.

Jujur aku sangat takut pada saat itu, tapi melihat Awan yang berdiri di depanku, membuatku tenang dan tidak terlalu khawatir dengan ancaman Bowie. Tapi, yang lebih gilanya. Awan seperti malah sengaja memancing kemarahan Bowie.

“Kenapa gak sekarang aja!”, kata Awan sengaja memprovokasi Bowie. Gila! Nih anak malah sengaja memancing keributan. Apa dia gak takut apa kalau harus berhadapan dengan berandalan sepereti Bowie. Malah aku yang jadi ketakutan sendiri dibelakangnya. Reflek aku memegang erat tangan Awan supaya dia tidak berkelahi. Aku sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Awan. Aku tidak mau kalau dia terluka karena melindungiku.

Tapi, untunglah suatu yang kutakutkan tersebut tidak terjadi. Bowie dan teman-temannya memilih pergi. Tapi, perasaanku masih tidak tenang. Orang nekat seperti Bowie tidak mungkin pergi begitu saja tanpa merencanakan sesuatu yang lebih jahat. Dan yang kukhawatirkan kalau sampai ada apa-apa dengan Awan.

Tidak lama, Ilham dan teman-temannya pergi setelah memastikan kalau kami aman dan baik-baik saja. Yang membuatku merasa aman adalah sikap Awan yang sangat perhatian padaku.

Awan mengajakku ke taman sekolah, dia dengan sabar membuatku nyaman dan tenang. Dan, itu berhasil!, bahkan hatiku jadi merasa berdesir indah akan sikap awan yang seperti itu. Dan itu untuk pertama kalinya kami berpelukan. Sebuah pelukkan yang akan kukenang seumur hidup. Pelukan dari seorang yang sangat kucintai.

Degh degh. Jantung kumohon jangan membuatku mati dalam keindahan rasa seperti ini. Batinku sambil menenangkan diri dari detak jantung yang semakin cepat.

“Kalau gitu, biar kamu gak sedih dan bisa melupakan kejadian tadi, gimana kalau hari ini aku temani jalan-jalan, terserah deh mau kemana”, kata Awan lembut.

Eh aku jadi ingat!, kalau aku mau merubah penampilan Awan. Dan itu membuatku jadi sangat bersemangat.

Jadilah pada hari itu kami main ke TSM diantar pak Usman supirku. Sebelum belanja, kami mampir ke sebuah salon yang ada dalam Mall. Awan sangat terkejut begitu tahu kalau dia yang akan di salon. Wajahnya itu loh, lucu sekali. Hahaha. Aku sampai tak berhenti tertawa melihat ekspresi Awan yang pasrah di cukur sama mbak-mbak salonnya. Aku sempatkan belanja sebuah HP baru, rencananya sebagai hadiah buat Awan. Kasihan juga, HP awan sudah butut begitu masih saja dipake.

“Hmnnn apa Awan akan senang nanti yah”, pikirku. Aku sengaja menyimpannya dulu sebagai suprise nantinya. Yah, semoga aja Awan senang dengan hadiah yang kuberikan. Dan pada hari itu juga, aku sengaja membelikan Awan pakaian-pakaian terbaru. Walau awalnya Ia sempat protes, tapi karena aku memaksa jadilah ia menuruti kemauanku. Egois! Yang mungkin juga sih. Tapi itu semua kulakukan agar ia bisa tampil modis tanpa di remehkan oleh orang lain. Karena aku ingin Awanku selalu tampil kece baday. Hehehe.

Tapi suasana senang hari itu harus rusak, gara-garanya ketika di mobil Awan malah asik dengan HP bututnya. Eh, dia sms an sama siapa sih sampe senyum-senyum gitu. Aku cemburu.

“Gitu aja terus, penting yah HP daripadaku ?”, kataku kesal padaku.

Entah kenapa, aku jadi sangat cemburu padanya, padahal seharusnya suatu hal yang wajar jika ia berbalas sms dengan teman-temannya atau dengan siapapun itu. Tapi, karena perasaan cemburuku yang tidak bisa kutahan, akhirnya keluar juga kata-kata itu.

“Eh maaf Ren, ini lagi balas pesan temanku dikampung”, jelasnya pada ku.

“Alesan aja, bilang aja dari cewek-cewek centil yang kemaren kan ?”, tuduhku.

Sampai terjadilah kejadian itu, aku melemparkan HP Awan keluar mobil. Aku melihat Awan sangat marah saat itu, sampai-sampai dia hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang, sebenarnya aku jadi merasa bersalah juga saat itu.

Sampai beberapa hari setelah itu, aku masih melihat kemarahannya. Walau Awan tidak menghindariku, tapi Dia selalu mendiamkanku. Dan itu membuatku jadi sangat galau. Kenapa dia tidak marah saja, atau memakiku, karena itu jauh lebih baik, daripada didiamkan seperti ini!. Itu semua karena keegoisanku. Mungkin HP itu berharga bagi Awan atau punya kenangan tersendiri baginya, kalau tidak mana mungkin Awan bisa semarah itu ketika Hpnya kubuang.

Dan sekarang aku menyesali sikapku padanya. Itu semua karena keegoisanku, karena kecemburuanku yang tidak mendasar padanya. Hmnn. Aku harus cari cara gimana supaya Awan mau memaafkanku.

Bu Arini!

Aku seperti dapat cara untuk baikan dengan Awan.

“Nak Ren kenapa? Kok beberapa hari ini ibu perhatikan gelisah begitu ?”. Kata Bu Arini berdiri disampingku yang lagi duduk di kursi malas dekat taman.

Baru aja kepikiran sudah datang orangnya, hihihi.

“Gak ada apa-apa bu. Itu.. hmnn”

“Lagi ada masalah sama Awan yah?”, kata bu Arini langsung menebak.

“Kok Ibu tahu”, kataku agak kaget, karena tidak menyangka Ibu bisa menebak permasalahan yang sedang kuhadapi.

“Hmnnn dasar anak muda zaman sekarang”, kata Ibu sambil duduk disebelahku.

“Semua orang dirumah ini juga tahu, lah kalian diem-dieman begitu kan gak biasanya!”

“Cerita sama Ibu masalahnya dimana, siapa tahu ibu bisa bantu” kata Ibu lembut.

Aku ceritakan pada Ibu tentang masalahku dengan Awan. Tapi tentang masalah dengan Bowie sengaja tidak aku ceritakan biar Ibu tidak khawatir.

“Trus Ren dah minta maaf pada Awan ?”, tanya Ibu

“Itu dia bu yang belum. Awannya mendiamkan Ren terus”, kataku agak cemberut.

“Sini”, kata ibu merentangkan tangan, aku pun bermanja dengan memeluk Ibu.

“Kalau kita salah, maka harus siap mempertanggung jawabkan kesalahan kita, sebesar apapun itu kesalahan yang kita buat, karena itu yang akan membuat kita menjadi lebih dewasa”, kata Ibu menasehatiku dengan bijak.

“Iya bu akan Ren coba”, entah kenapa aku jadi adem dengar nasehat Ibu.

“Nah kalau gitu, sana temuin Awan. Bicarakan baik-baik dengannya”, kata Ibu berdiri.

“Loh Ibu mau kemana ?”

“Yah kerja lah”, kata Ibu sambil tersenyum.

“Tapi bu.. temeninn”, kataku manja padanya.

“Hmnnn mau bawa pasukan bantuan ceritanya! Gak mau, selesaikan sendiri, hihiii” kata Ibu berlalu.

“Yahhh ibu begitu”, kataku sambil menyusul Ibu kedalam rumah.


POV Author

Malam itu setelah selesai makan malam, Awan langsung pamit pada Ibunya untuk kekamarnya. Tanpa menyapa Ren sama sekali. Tampak kalau ia masih kesal dengan kejadian sebelumnya. Ren juga diam walau ia melihat Awan dengan tatapan sendu seperti itu. Bu Arini yang melihat itu hanya diam saja. Walau ia tahu kalau anaknya dan Ren sedang ada masalah, tapi ia lebih memilih diam dan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri karena itu bagian dari proses pendewasaan mereka. Begitu pikirnya.

Bu Arini mengusap kepala Ren.

“Dah bicara sama Awan ?” kata Bu Arini lembut.

“huffftt... belum bu, orangnya diam begitu, serem liatnya”, kata Ren pasang wajah cemberut.

“Ya sudah sana temuin, Awan itu aslinya lunak kok”, suruh bu Arini

Renata tiba-tiba tersenyum manis.

“Loh kok malah senyum-senyum begitu ?”, tanya Bu Arini heran.

“Ada deh bu, hihihii”

“Pasti nyogok dengan hadiah lagi kan!”, tebak bu Arini yang ternyata tebakannya sangat tepat.

“Loh kok Ibu tahu ?” Tanya Ren membulatkan matanya.

“Yah Tahu lah, anak Ibu kalau ada maunya pasti nyogok dengan hadiah dulu”

“iihh Ibu mah gitu” kata Renata malu-malu.

...
Saat Awan sampai dalam kamarnya, dia melihat sebuah bungkusan yang terletak di atas tempat tidurnya. Ketika dibuka, ternyata sebuah handphone keluaran terbaru dengan logo apelnya. Tampak ada secarik kertas kecil yang dilipat dua bagian, ketika di buka ada sebuah tulisan.

“MAAF”

Ttd.
Renata.


Lama Awan duduk merenungkan maksud Ren memberikan hadiah tersebut padanya. Mungkin Renata minta maaf karena ia telah semena-mena membuang HPnya sebelumnya.

“Yah mungkin, aku terlalu kejam mendiamkan Ren seperti ini”, katanya pelan bicara pada dirinya sendiri. Bukan karena HP sebagai hadiah yang diberikan Ren padanya, ia mau memaafkan Ren. Karena ia juga menginsafi dirinya sendiri, bagaimana pun ibunya Awan adalah pembantu di rumah Ren, secara tidak langsung ia juga pembantu di rumah nya Ren. Walau statusnya saat ini sebagai anak angkat dari keluarga Wijaya.

Awan keluar dari kamarnya menuju ruang makan, karena menyangka Ren masih ada di ruang tersebut, niatnya mau membicarakan hal tersebut biar tidak berlarut-larut. Tapi yang ditemui malah Mbak Surti dan Inah yang lagi membereskan meja makan.



Surti



Inah​

“Malam mbak Surti, mbak Inah”, kata Awan Ramah menyapa mereka.

Surti dan Inah kaget dan jadi salting begitu tahu yang menyapa adalah Awan.

“Malam mas”, jawab mereka malu-malu.

“Ibu sama Ren kemana Mbak ?”, tanya Awan pada mereka berdua.

“Ibu lagi didapur barusan mas, kalau Non Renata gak tahu Inah”, jawab Inah.

“Mungkin di kamarnya Mas”, kata Surti.

“Ooh kalau begitu saya temuin Ren nya dulu yah Mbak”, kata Awan pamit kelantai atas.

“Oya Mas”, tahan Inah.

“Ya Mbak Inah”, kata Awan berbalik menatap Inah.

“Hmnn mas Awan mau dibikinkan minum gak ?”, tawar Inah malu-malu

“Eh gak usah mbak, gak papa. Saya Keatas dulu yah”, kata Awan sambil jalan kelantai atas.

“Iya, hati-hati mas”, jawab mereka kompak. Selanjutnya terdengar mereka bisik-bisik dan senyum dari ruang makan.

Lama Awan berdiri di depan pintu kamar Ren. Dia jadi ragu, mau mengetuk kamar Ren atau tidak. Jangan-jangan Ren sudah tidur, begitu pikirnya.

Akhirnya awan memutuskan berbelok keruang baca. Sebaiknya bicara besok aja, begitu putusnya. Sifat Awan yang serba tidak enakan, karna tidak elok jika mengetuk kamar seorang gadis malam-malam, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Ren malam itu.


“Wuiihh banyak banget koleksi buku disini”, batin Awan kagum begitu masuk ke ruang perpustakaan pribadi milik yang punya rumah. Koleksi bukunya lengkap, mulai dari buku tentang bisnis, buku-buku umum, juga buku tentang materi di sekolahnya, apa ini koleksi buku Ren yah ?, pikirnya. Awan seperti menemukan syurganya sendiri begitu melihat saking banyaknya koleksi buku tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk membaca beberapa buku yang menurutnya bagus, fisika Quantum dan beberapa buku manajemen yang menurutnya menarik untuk menambah pengetahuannya.

Baru 30 menit berlalu ketika Awan asik dengan bacaannya. Ren masuk kedalam ruangan tersebut dan langsung duduk tepat disamping kanan Awan, sambil membawa dua gelas susu dan sepiring kecil kue kering.


“Eh Ren..”, kata Awan agak kaget begitu tahu Ren yang duduk disebelahnya.

“kenapa cuma berdiri aja di depan pintu kamar tadi ?” kata Ren tiba-tiba.

“Eh itu.. anu..”, jawab Awan grogi.

Renata melirik awan sesaat. Entah kenapa mereka jadi sama-sama canggung. Akhirnya mereka hanya sama-sama terdiam beberapa saat, yang terdengar hanya detak jantung mereka dan denting waktu yang seakan-akan melambat.

“Awan..”, panggil Ren membuka pembicaraan sambil menatap Awan yang duduk disebelahnya.

“Ya Ren..” Jawab Awan pelan.

“Maaf yah soal HP yang kemarin”, kata Ren dengan tatapan memelas.

POV Awan


Aku gak nyangka Ren punya inisiatif duluan untuk meminta maaf. Sebenarnya aku juga sudah berniat untuk membicarakan hal ini padanya, kalau aku juga sudah memaafkannya. Rasanya terlalu naif juga kalau aku mendiamkan Ren terlalu lama. Kok rasanya yah kekanakkan begitu.

“Pasti HP itu punya nilai istimewa yah ?”, Sambungnya.

“Gak papa, aku sudah maafin kok”

“Beneran”, mata Ren berbinar senang menatapku. Entah sengaja atau tidak, tangannya malah memegang telapak tangan kananku.

Degh degh

“Eh maaf”, kata Ren gak enakan begitu sadar kalau dia memegang tanganku.

“hmnn gak papa”

“Jadi ?”, kata Ren pelan sambil menatapku.

“eh jadi apanya ?”, gila. Aku kok jadi deg-deg an begini yah.

“Ada cerita apa di balik HP yang aku buang kemaren ?”, Tanya Ren penasaran.

“Oh itu... hmnn sebenarnya itu HP pertamaku saat masih SMP dahulu”, jawab ku pelan sambil melirik ke arah Ren. Aku baru sadar, ketika melihat Ren dengan seksama. Ren malam ini hanya memakai hot pants dan tanktop hitam. Glek. Aku menelan saliva. Njir pakaian Ren bisa membuatku khilaf kalau menatapnya lama-lama, hadeehh!

Ren masih menatapku, menungguku melanjutkan cerita.

Hiufftt aku menarik nafas sambil melihat kearah depan, dan membenarkan posisi dudukku biar jadi lebih rileks. semoga Ren tidak menyadari kalau Awan junior yang ikut menggeliat karena melihat penampilannya yang sungguh.. ahsudahlah!. Bikin tegangan naik yang jelas, hahaha.

“Dulu, waktu aku kelas satu SMP. Ibu ngirim uang, katanya buat beli handphone biar lebih mudah komunikasinya..”, kataku mulai menjelaskan sejarah tentang HP bututku. Biar reader gak sange duluan, takutnya kebablasan bahas masalah tegangan, mana suasana sangat mendukung lagi, baru awal nih! masa dah coli duluan gara bayangin Ren, bisa di kick momod ane ntar bahas underage. Wkwkwk.

“Nah waktu ke pasar bukittinggi, pas lewat loakan buku, eh aku benar-benar lupa untuk beli hape baru, yang ada malahan aku beli beberapa buku. Dan aku baru sadar ketika pulang, kalau seharusnya aku harusnya beli hape bukan buku. Aku jadi khawatir banget waktu itu, kalau-kalau Ibu akan marah. Saat aku cek di dompet, ternyata uangku hanya sisa 100rb, duh dapat hape apaan yah dengan uang segitu”, kataku sambil membayangkan kejadian saat itu.

Ren duduknya makin mendekat sambil mendengar ceritaku dengan antusias. Hadooh, Ren yang mendekat, aku malah jadi gak tenang bercerita jadinya.

“Napa ? dilanjutkan ceritanya”, kata Ren dengan polosnya.

Aduh Ren kok makin imut gini yah!. Astaga! Apa yang kupikirkan. Ren juga sih, membangunkan harimau tidur nih namanya.

“ehmn..” aku sedikit berdehem, biar suaraku tidak terdengar grogi ketika bercerita.

“Jadi dengan uang segitu, aku coba tanya-tanya ke counter HP, siapa tau ada hape yang murah. hehehe”, aku ketawa kecil ketika mengingat kejadian itu.

“Penjaga counternya malah bilang, ‘ada dek hape paling murah, tapi harganya 150ribu, mau ?’ kata penjualnya waktu itu. Tau gak?, aku harus kerja nguli di Pasar bawah bukittinggi. Hmnn.. sampai akhirnya aku dapat uang 65ribu waktu itu setelah kerja mengangkat barang-barang dipasar sampe sore. Jadi lumayan, hapenya dapat, walau hanya hape murah dan bekas, plus ada uang buat ongkos, jadi aku gak perlu jalan kaki pulangnya”, kataku menutup cerita.

“Maaf yah, aku jadi gak enak karena telah membuang hape mu waktu itu. Kamu sih gak jelasin waktu itu”, katanya sambil ketawa kecil.

Adooh, gak jelasin apanya. Dah kujelasin waktu itu kalau yang sms temanku dikampung, Dianya main lempar aja. Begitulah wanita, ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya. Eh, malah cerita Hayati begini yak.. piece ^^

“Awan”, panggil Ren sambil kembali memeluk lenganku.

“Ya ?”, tanyaku makin heran dengan sikapnya.

“Nonton yuk”, ajak Ren.

“Hah! Nonton apaan”

“Yuk ikut”, katanya berdiri sambil menarik tanganku.

“Eh bentar dulu”, kataku mau membenahi buku bacaanku.

“Udah biarin aja, tar biar mbak Inah yang rapiin”, katanya gak sabaran menarikku.

Terpaksa aku mengikuti Ren dengan senang deh. Hahaha

Ren mengajakku menonton dalam kamarnya. Ternyata di kamar Ren ada TV besar lengkap dengan sound systemnya. Udah seperti dibioskop aja ini, pikirku.

Malam itu kami menonton film ‘Me Before You’ yang diperankan oleh Sam Claflin dan Emilia Clarke. Ceritanya tentang pemuda kaya yang mencari seorang perawat kemudian jatuh hati pada perawatnya tersebut. Sayangnya kisah cinta mereka tidak berakhir dengan bahagia, dimana si Cowok harus meninggal karena sakit yang dideritanya. Njir ceritanya sedih banget. Mau nangis malu, kok yah cowok baper. Jatuhlah imageku sebagai cowok tangguh di cerita ini tar, hehehe.

Hiksss.. terdengar suara isakan disebelahku. Eh Ren malah nangis saking menghayati cerita difilm tersebut. Bahkan ketika film tersebut berakhir, masih terdengar isakan Ren. Tapi bedanya kali ini dia menyandarkan kepalanya kebahuku.

“Apa yah rasanya mati ?” tanya Ren sendu.

Degh. Kenapa perasaanku jadi tidak enak ketika Ren menanyakan hal ini.

“Ngapain sih nanya-nanya begitu”, jujur aku tak senang Ren menanyakan itu.

“Sakit gak yah ?” kata Ren sedikit terisak.

“Gak tahu, aku belum pernah merasakannya”, jawabku sekenanya.

“Apa orang yang mati akan diingat oleh orang yang ditinggalkannya yah ?”, duh kok malah makin aneh gini pertanyaan Ren yah.

“Gak tahu”, jawabku singkat.

“Awan”, panggil Ren.

“Hmnn..”

“Apa kalau aku mati nanti, will you remember me ?”, tanya Ren lagi.

Pertanyaan Ren makin aneh. Degh! Pertanyaan Ren membuatku lama berpikir. Tanpa Kusadari ternyata Ren telah masuk terlalu dalam kedasar hatiku. Entah kenapa ketika ditanya dengan pertanyaan begini, hatiku jadi terasa sesak.

“Yang jelas, jika kamu mati, itu akan meninggalkan lobang yang besar diingatanku. Ketika kamu tiada, itu akan membuatku... sangat kehilangan”, ucapku pelan, dan kali ini aku menatap matanya sangat dalam.

“Hiksss. Aku gak mau seperti di film itu”, kata Ren terisak sambil mengusap pipi kananku.

“Aku tidak mau mati jika itu membuat orang yang kucintai jadi terluka karena tidak bisa melupakanku”, katanya pelan. Eh “Orang yang kucintai”, maksud Ren itu aku kah ?.

Perlahan wajah kami semakin mendekat, bisa kurasakan hembusan nafas Ren di wajahku. Dan entah siapa yang memulai duluan.

Cuppp

Bibir kami jadi bertaut mesra.

Hmnnf.. cupp cupp

Mata kami saling terpejam menghayati setiap kecupan. Bibir Ren terasa sangat lembut terasa di bibirku. Waktu seperti melambat. kami tidak bosan-bosannya saling menghisap bibir masing-masing. Aku menghisap bibir tipis Ren yang tanpa polesan lipstip sungguh sangat menggoda. Dan membuatku jadi ketagihan dan tak ingin momen ini cepat berhenti.

Ahhh.. hmmpphh.. napasku ikut memburu, Ren juga begitu.

Sampai Ren memukul dadaku karena tidak kuat menahan napasnya.

Haaahh.. haahhh. Ren menghirup napas dalam.

Kuhusap tepian bibir Ren pelan, Ren memandangku sayu. Sejenak aku hampir terlarut dengan keadaan yang sangat intim barusan.

“Astaga... Ren, apa yang telah kita lakukan!”, secuil kesadaran membuatku kembali ke alam nyata. Oh my God! Aku telah mencium Ren. Enak sih! Tapi aku sadar kalau aku tidak boleh melakukan hal begini.

Reflek aku berdiri keluar kamar Ren, aku takut kalau aku akan khilaf dan melakukan hal yang belum patut aku lakukan.

“Awan..” Kata Ren menahan tanganku.

“Maaf Ren, kita belum pantas begini. Ini sudah gak benar”, kataku sambil tergesa keluar.

Ren mencoba menahan tanganku ketika berdiri. tapi tidak kuhiraukan, dan terus keluar menuju kamarku.

Astaga apa yang telah kulakukan!, pikirku menyesal membayangkan hal barusan. Kami telah melangkah pada tahap yang seharusnya belum boleh kami lakukan. Aku tidak tahu, harus senang atau sedih akan hal ini. Aku juga bingung, bagaimana harus bersikap ketika bertemu Ren besok hari. Duh, aku jadi malu.


POV Rini


Shafira Nathania Apsarini (Rini)​

“Riniii...” Teriak Teman kosku memanggil dari luar kamar.

“Ya bentaarr..”

“Ada apa Mel ?” kataku ketika membuka pintu kamar.

“Ya elah nih perawan, masih mendam dikamar aja. Dah mau siang nih!. Tuh ada yang cariin di depan”.

“Siapa ?”, tanyaku heran. Karena aku merasa gak ada janjian dengan siapapun hari ini.

“Tuh didepan, cakep banget loh”, kata Amel tersenyum nakal.

“Cowok ?”

“Ya iyalah cowok neng. Kalau cewek ngapain gue puji, emang gue lesbong”, kata Amel pura-pura sewot.

“Ya sapa tau kan, hehehe”.

“iih najiss”, kata Amel sedikit mencibir.

“Udah buruan, dandan yang cantik gih! Kalau gak, keburu diembat sama anak-anak yang lain loh. Tau sendiri kan, teman-teman kayak apa! Tar di godain cowok loe baru tau rasa, nangis dah loe!”, kata Amel gregetan.

“Ya udah, aku siap-siap dulu”

Jadi pensaran, siapa yang dimaksud Amel barusan yah. Cowok cakep ? hmnn, Indra?. Mengingat salah satu teman kampusku yang pernah naksir padaku. Tapi gak mungkinlah! Kalau Indra pasti Amel juga tahu, kami satu fakultas soalnya.

Penasaran, aku dandan seadanya. Ketika turun ke ruang tamu yang ada di lantai satu. Tampak seorang cowok pake jaket levis warna biru muda yang duduk membelakangiku sedang bicara dengan Amel dan beberapa teman kosku yang lain. Tampak sekali teman-temanku begitu genit mendekati ‘cowok’ yang kata Amel mencariku. Siapa yah!

“Hah.. Awan?” kataku kaget. Begitu melihat ternyata yang mencariku adalah Awan.

“Hai kak Rin..” Sapanya sambil tersenyum ramah padaku.

“Awaannn...” reflek aku berteriak senang sambil memeluknya.

Duh beneran gak nyangka, beberapa hari ini aku kebingungan karena gak ada kabar darinya, tiba-tiba hari ini dia datang ke kosku. Hatiku berlonjak senang, melihatnya.

“Eh kak Rini”, katamya Kaget karena aku yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.

“ehmm ehmnn”, teman-temanku berdehem. Amel hanya senyum-senyum dan ada teman-temanku yang lain menatap kami dengan pandangan yang cemburu.

“Oii ingat tempat oii”, sindir salah satu teman kosku.

“eh sorry-sorry, abisnya aku seneng sih”, kataku dengan wajah sedikit memerah ke gap sama teman-temanku langsung main peluk cowok aja didepan mereka.

Awan jadi salting juga, karena pelukanku barusan serta di tertawakan sama teman-teman kosku.

Aku jadi tersenyum nakal memikirkan sebuah ide. Aku menarik Awan keatas menuju kamarku.

“eh mau kemana Rin ? main tarik-tarik anak orang aja”, tanya salah seorang teman kosku.

“Iya tuh, langsung main tarik ke kamar aja” celoteh yang lainnya.

“Bagi-bagi ma kita dulu napah”, protes temanku yang lain.

“Hahaha.. mau ?” godaku pada mereka

“Bawa mang Kuciah aja sana, hahahaa”, kata ku sambil berjalan agak cepat naik tangga.

Tampak mereka agak kesal, karena disuruh bawa Mang Kuciah penjaga kosan kami yang biasa ngantar-ngantar Air Galon ke kosan, hehehe.

Awan yang kutarik hanya ngikut saja tanpa protes sama sekali.

“Duduk dulu Awan, mau dibikinin minum apa”

“Gak usah kak Rin, gak haus kok. Aku Cuma...” katanya menggantung ucapannya.

“Cuma apa ?”, tanyaku heran. Gak biasanya awan begini. Eh memang kalau diperhatikan Awan terlihat lebih ganteng dari pertama kali kami bertemu. Rambutnya di potong pendek dan rapih. Hmnn jadi lebih maco begini Awannya, jadi semakin aja padanya, hihi!.

“Cuma kangen aja pada kak Rin”, katanya sambil memegang bahuku.

Degh!.

Wajahku terasa memanas mendengar Awan mengatakan kalau dia kangen padaku. What! Aku gak salah dengar kan?

Awan kemudian memegang belakang kepalaku dengan mesra.

Eh, Awan mau ngapain!. Detak jantungku berdetak makin cepat. Kenapa Awan jadi begini! Aku mundur beberapa langkah. Tapi dibelakangku ada pintu yang barusan kututup.

Degh degh

Detak jantungku makin cepat, aku ingin menolaknya. Apa ini tidak terlalu cepat yah!. Pikirku.

Walau aku ingin menolaknya, tapi entah kenapa tubuhku berbicara lain. Pelan aku memejamkan mata, malah seperti menunggu apa yang akan dilakukan Awan.

Dan...


cuppp! Mmuuaachhh

Awan menciumku sangat lama, bibir kami saling menempel lama. Tesss.. hatiku seperti ditetesi embun-embun cinta.

Hmnn ini ciuman pertamaku, dan itu ciuman terindah yang pernah kurasakan. Karena ciuman pertamaku dengan cowok yang selama ini menghiasi ruang rinduku.

“Bibir kak Rin, enak”, kata Awan mesra sambil mengusap ujung bibirku.

“Kamu...Telah mengambil Ciuman pertama.. hmpphhh”, belum sempat aku menyelesaikan ucapanku dia kembali mencium bibirku pelan.

Mmuuacchh.. mmuacchh

Beberapa kali ciuman panjang dan teramat dalam. Entah kenapa Awan begitu bersemangatnya malam ini, dan parahnya aku semakin terbuai dengan semua itu.

Tangannya mulai menjelajah masuk kedalam kaosku..

Ahh tidaakk ia akan menyentuh payudaraku yang belum pernah dijamah oleh siapapun sebelumnya. Awan dengan piawai nya mengelus setiap inci kulit perutku, mulai dari bagian pusar dan mulai merayap terus keatas, bulu romaku jadi merinding dibuatnya.

Ahhh ahhh

Nafas kami semakin memburu karena nafsu yang semakin memuncak. Sampai jari-jari hangat itu kurasakan mengusap puncak payudaraku lembut.

Bibir kami seakan enggan untuk berpisah, ketika awan melepas ciumannya, aku mengejar bibirnya kembali, dan begitu sebaliknya. Ciuman awan mulai menjamah leher ku..

“ahh Awan gelii sayang...” rintihku.

Awan bak pemain biola yang memainkan biola nya dengan sangat lembut dan hati-hati. Caranya memperlakukanku itu membuatku semakin hanyut dalam gelora nafsu yang semakin menyesak menuntut pelampiasan.

“Kak, aku buka yah!”, katanya meminta ijin membuka kaosku.

Aku hanya mengangguk pelan tanpa bersuara, karena suaraku terasa serak dan berat menahan gejolak syahwat yang semakin menggelora.

“Hmmmnn sangat indah” katanya ketika berhasil melolosi kaos serta BH-ku.

Tangannya mengusapi puting payudaraku, dan tatapannya yang berbinar kagum memandang tubuhku, membuatku jadi malu, kurasakan mukaku terasa panas karena ditatap seperti itu.

“Jangan ditatap begitu, aku... malu”, kataku coba menutupi payudaraku dengan tangan.

“Jangan ditutup kak Rin sayang, aku suka dengan payudaranya. Putingnya berwarna muda dan mengkilat.. hmmhh sangat menggemaskan.. hmpphh”, katanya sambil menyedot kedua putingku dengan gemasnya.

“auuhhh... geli sayang”, kataku sambil memeluk dan mengusap kepalanya. Aku ingin lebih, bagian bawahku terasa sangat basah saat ini.

Lama Awan bermain di kedua payudaraku secara bergantian, seakan ia tiada bosan-bosannya menikmati payudaraku. Perlahan kurasakan Awan mulai bergeser kebawah, perutku, pusarku, tak luput dari ciuman mautnya.

“Kak, aku buka yah”, ijin nya ketika memegang tepian celana hotpantku.

Dan lagi-lagi aku tak kuasa menolak keinginannya.

Awan melolosi celanaku berikut celana dalamku. Setiap ia menarik celanaku makin kebawah, tidak ada satu incipun yang luput dari ciumannya.

Ia naik keatas memeluk dan mencium bibirku kembali, ahh ini terlalu nikmat. Tapi aku takut jika ini akan melampaui batas.

“Ahhh Nikmat sayangggg...” Bisik Awan ditelingaku, ketika ia mulai menggesekkan kelaminnya tepat diatas kemaluanku yang hanya dibatasi oleh celana Awan.

“Sayang, buka aja bajunya, tar kotor... aahhhh”, kataku megingatkannya ditengah intensnya gesekkan kemaluan kami.

“Bukain yah”, pintanya mesra. Dan lagi aku menuruti saja keinginnya karena tatapannya yang sangat mempesona itu.

Awan duduk agak tegak dengan bertumpu pada lututnya. Aku mulai melolosi kaosnya keatas. Tubuh Awan sangat sempurna, aku mengusap dadanya yang bidang, putingnya kecil kecoklatan.

Cupppp aku mengecup gemas putingnya sambil mengelusi tubuhnya.

“ahhh enak kak” desah Awan. Aku jadi makin bersemangat mengelus setiap inci tubuh bidang Awan. Perutnya yang sixpack, membuat jantungku berdebar kencang ketika mengelusnya.

Ketika aku akan membuka celananya, Awan membantu dengan melolosi kedua celananya berikut dengan celana dalamnya.

“Ahhh...”, kataku kaget ketika melihat kemaluan Awan yang menjulang dengan gagahnya. Penisnya terlihat sangat panjang, kokoh, dan berurat.

“pegang aja sayang”, kata Awan ketika menyadari aku memandang lama ke kemaluannya.

Tanganku agak gemetar ketika memegangnya. Terasa hangat, tapi apa ini tidak terlalu besar ? tanganku tidak muat ketika mengenggamnya, sehingga harus pakai dua tangan agar bisa mengenggamnya secara penuh.

“Diemut kak Rin sayang...”, katanya sambil mengelus payudaraku.

“Eh.. tapi, aku belum pernah sayang”.

“Kalau gitu, di kocokin aja, aku dah gak tahan sayang”, pintanya.

Aku mulai mengocoknya perlahan dari ujung sampai ke pangkal, begitu seterusnya sampai aku mulai terbiasa dengan irama ini.. hmnnn kalau diperhatikan penisnya Awan sangat menggemaskan.

“ahhh terus sayanggg... kocokanmu enak bangetss,, ahhh”, kursakan paha Awan agak menegang. Tiba-tiba ia mendorongku berbaring kemudian menggeser kedua pahaku agak melebar mengangkang.

“Eh, mau ngapain dek ?” kataku sedikit panik ketika Awan mulai menggesekkan ujung kemaluannya ke bibir vaginaku.

“Ahh aku gak tahan sayang... aku masukin yah” katanya dengan tatapan memohon.

Oh tidak tatapan itu lagi!,

“Tapi aku masih perawan sayang..ahhh”, Awan semakin intens menggesekkan ujung kemaluan kami. Kalau ia nekat, tinggal tekan sedikit lagi bisa bobol perawanku.

“Jangan sayang...ahhh”, kataku coba menahannya dengan menahan perutnya. Jujur nafsuku juga sudah dipuncaknya. Aku sangat ingin dimasuki saat ini. Tapi sekelebat kesadaran mengingatkanku untuk menjaga suatu hal yang sangat berharga bagiku, paling tidak sampai saat aku menikah dengan orang yang kucintai kelak.

“Aku janji akan tanggung jawab sayang...”, kulihat wajah Awan sudah memerah karena menahan puncak nafsunya. Tubuh kami sudah sangat basah dibanjiri dengan keringat yang mengalir deras karena persetubuhan terlarang ini.

Entah kenapa, dengan tatapan Awan begitu, aku hanya bisa mengangguk pasrah.

“Tahan yah sayang, aku masukin”, katanya sambil memegang penisnya dan mengarahkan tepat kelubang kemaluanku.

Terasa penis Awan mulai membelah kemaluanku, terasa perih dan panas pada kemaluanku.

“Ahhhhhhhh sakit sayanggg”, teriakku ketika Awan mulai menembus selaput daraku.


“Rinnn Rinnn bangun”, teriak Amel membangunkanku.

“Hahh hahhh”, aku tersentak bangun dari tidurku. Astaga, ternyata hanya mimpi, tapi itu terasa begitu nyata, pikirku.

“Mimpi apaan sih Rin ? kok sampe teriak-teriak gitu ?”, kata Amel sambil menyodorkan air minum padaku.

“Mimpi tentang Awan Mel”, jawabku jujur apa adanya.

“Cowok yang loe temuin di Bandara waktu itu ?”, tanya Amel

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Astaga Riinn, masih aja loe mikirin dia, mang gak ada cowok lain apa? Lagian sudah berapa hari dia gak bisa loe hubungin kan ?”

“Hiksss...”, aku hanya bisa menangis sambil menekuk dan mendekap kedua lututku.

“Mang segitunya yah loe cinta ma dia ?”, tanya Amel mendekatkan duduknya sambil memelukku dari samping.

“Gue juga gak tahu Mel. Dia begitu saja ada di semua bayangan Gue. Gue gak bisa berhenti mikirin dia,, hiksss”, dadaku semakin sesak, sehingga tangisku tumpah pada saat itu.

Amel menenangkan sambil mengusap punggungku.

“Loe mang sobat gue paling aneh Rin”, kata Amel pelan.

“Indra, ketua BEM kita yang terang-terangan menyatakan cintanya ma loe, malah loe tolak. Ini bocah yang masih sekolah begitu, dan baru sekali loe temuin, malah bisa buat loe kayak begini. Penasaran Gue kayak apa orangnya yang bisa bikin sobat Gue ini sampe begini cintanya”, kata Amel panjang lebar.

“Gue juga gak tahu kenapa Mel. Bicara dengannya, tatapannya, selalu membuat gue berdebar ketika berada didekatnya, bahkan ketika dia tidak bisa dihubungi seperti ini, malah semakin membuat gue kepikiran ma dia, takut dia kenapa-napa”, kataku jujur pada amel.

“atau jangan-jangan dia sudah ada pacarnya Rin ?”, tanya Amel tiba-tiba

Degh.. eh mungkinkah?.

“Gue gak tahu Mel. Kalaupun iya, paling tidak gue ingin bertemu dengannya, terus bilang padanya tentang perasaan Gue, Gue gak peduli kalau dia akan nerima Gue atau tidak, paling tidak gue akan lega ketika berhasil mengungkapkan apa yang gue rasa padanya”, kataku sambil menatap ke dinding kamarku membayangkan Awan yang seolah-olah berdiri didepanku saat ini.

Amel hanya geleng-geleng kepala melihat keteguhanku.

“Yah sebagai sahabat, gue hanya bisa dukung apapun keputusan loe Rin”, kata Amel menguatkanku.

“Tapi loe harus realistis juga. Seandainya suatu saat loe tidak menemukan apa yang loe harapkan, tidak sesuai dengan apa yang loe inginkan” Kata Amel menasehatiku. Beruntungnya Aku ada seorang sahabat yang begitu pengertian seperti Amel.

“Yaudah, Gue tinggal dulu yah!” katanya ketika berdiri dan mau melangkah keluar kamarku.

“Eh loe mau nitip gak ?”, kata Amel saat membuka pintu

Aku menggeleng kecil

“Oke deh, kalau begitu gue tinggal yak. Awas jangan galau lagi!” katanya mengingatkan sambil bercanda.

Saat Amel pergi. lagi, aku terhanyut kembali dalam suasana sepi dan itu membuatku jadi ingat kembali sama Awan. Kemana yah dia ? kenapa beberapa hari ini nomornya tidak bisa dihubungi sama sekali. Padahal beberapa hari sebelumnya dia selalu menghubungiku, walau hanya sekedar via sms untuk sekedar sai hello, atau mengabari tentang sekolahnya. Aku benar-benar tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkannya, atau benar kata Amel tadi. Kalau Awan sudah punya pacar, atau lebih parahnya dia tidak ingin menghubungiku lagi. Tidak tidak! Aku tidak ingin membayangkan hal buruk seperti itu.

Saat seperti itu, di sebelah kamarku terdengar lagu D’Cinamon yang judulnya ‘Selamanya Cinta’. Ketika aku menghayati liriknya, aku jadi semakin larut dalam kesenduan yang dalam.


Dikala hati resah
Seribu ragu datang
Memaksaku
Rindu
Semakin menyerang
Kalaulah ku dapat
Membaca pikiranmu
Dengan sayap
Pengharapanku
Ingin terbang jauh
Biar
Awanpun gelisah
Daun daun jatuh
Berguguran
Namun cintamu kasih
Terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah
Menerangi jiwaku
Andaikan ku dapat
Mengungkapkan
Perasaanku
Hingga membuat
Kau percaya
Akan ku berikan
Seutuhnya
Rasa cintaku
Selamanya
Selamanya
Biar
Awanpun gelisah
Daun daun jatuh
Berguguran
Namun cintamu kasih
Terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah
Menerangi jiwaku
Andaikan ku dapat
Mengungkapkan
Perasaanku
Hingga membuat
Kau percaya
Akan ku…


Awan, masihkah kau mengingatku ?

Aku hanya bisa menyaampaikan rasa dan asa ini dalam segenap ruang rinduku.


POV Annisa


Annisa Azahra​

10 hari sudah ketika Awan meninggalkan kampung ini. Tanpa kusadari, saparuh jiwaku ikut pergi bersamanya. Tersalip indah dalam Surat cinta yang keberikan padanya. Entah keberanian darimana, aku nekat memberikan surat cinta itu pada seorang pemuda desa yang bernama Saktiawan Sanjaya. Teman ku dari kecil sekaligus rivalku di Sekolah.

Kami sekolah di sekolah yang sama, mulai dari Sekolah Dasar hingga tingkat SLTA. Hingga ketika mau naik kelas 2, Awan memutuskan untuk sekolah di Bandung tempat Ibunya bekerja. Aku hanya bisa memakluminya. Karena disini Awan sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang akan mengasuhnya. Dulu ada Angku Abu (kakeknya Awan) dan Mak Ratih (Neneknya Awan), namun setelah nenek Awan meninggal yang kemudian disusul oleh Kakeknya beberapa bulan setelahnya, tepat saat Awan kelas 1 SLTA, sehingga Awan tinggal seorang diri. Bapak Awan ?, aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya. Menurut isu-isu yang beredar dari masyarakat disini, katanya Bapak Awan pergi merantau sejak Awan masih dalam kandungan dan tidak ada yang tahu bagaimana kabarnya hingga saat ini. Awan sepertinya juga tidak pernah merisaukan hal tersebut.

Balik lagi pada diriku saat ini.

Siang tadi ketika pulang dari sekolah, Fadil dan Aldo menghampiriku yang sedang jalan mau pulang bareng dua sahabatku, Sri dan Yuni.

“Nisa, tunggu sabanta”, (Nisa, tunggu sebentar). kata Aldo menyusul langkah kami dari belakang diikuti oleh Fadil sahabatnya.

Entah kenapa, ketika melihat mereka berdua, lagi-lagi aku teringat akan sosok Awan. Biasanya Awan selalu ada diantara mereka berdua. Dimana ada Awan disitu ada Fadil dan Aldo. Mereka sahabat dekat yang tidak terpisahkan. Walau Awan dekat dengan semua orang, tapi Aldo dan Fadil sudah seperti saudara yang selalu bersama.

“Iya do, ado apo ?”, (Iya Do, ada apa ?), tanyaku pelan.

“Adoh Awan mehubungi Nisa ?”, (ada Awan menghubungi Nisa ?). tanyanya.

“Eh alum ado do, mang Awan tau nomor Nisa ?”, (belum ada, memangnya Awan tahu nomor Nisa ?). tanyaku heran sekaligus bercampur senang.

“Eh itu! kapatang si Fadil mangirimkan nomor Nisa ka Awan, katonyo Awan mintak Nomor Nisa”. (Itu, kemeran Fadil mengirim nomor Nisa pada Awan, katanya Awan meminta nomor Nisa). Kata Aldo sambil melirik Fadil sahabatnya.

“Iyo Sa, Awan mamintak nomor Nisa ka ambo, jadi ambo kirimkan nomor Nisa, sangko ambo kok alah di hubungi samo Awan”. (Iya Sa, Awan meminta nomor Nisa pada saya, jadi saya kirimkan nomor Nisa, Saya kira sudah dihubungi oleh Awan). Sambung Fadil menjelaskan.

“hmnn, alum adoh Nisa dihubungi lai”, (Hmnn, belum ada Nisa dihubungi). kataku jujur apa adanya.

“Oh mungkin Awan sibuk di tampek sakolahnyo yang baru mungkin ma”. (Oh mungkin Awan sibuk di sekolahnya yang baru). Kata Aldo menimpali.

“Deh kalau betu Nisa ajolah yang mahubungi, mungkin pas Awan mahubungi sedang dak dapek sinyal do”, (Kalau begitu Nisa aja yang menghubungi Awan, mungkin saat Awan menghubungi Nisa, signal sedang tidak ada). Kata Fadil sambil menyerahkan secarik kertas.

Eh ini nomor Awan kah ?, pikirku ketika melihat beberapa deret nomor telphone uang tertulis dikertas itu.

“Makasih yo Fadil, Aldo”

“Yo lah, kalau bak itu kami duluan yo Sa”, (okelah, kalau begitu kami berangkat duluan ya Sa). Kata mereka pamit.

“Yo Fadil, Aldo, sakali lai tarimakasih yo”. (ya Fadil dan Aldo. Sekali lagi terimakasih ya).

Dua sahabatku melambai sambil saling senyum dengan mereka.

“Ado apo samo kalian ?”, (Ada apa dengan kalian?). tanyaku curiga melihat gelagat sahabat-sahabatku ini.

“Hehehe, ada dehh”, jawab Sri dan Yuni kompak.

Hmnn jadi curiga, jangan-jangan mereka ada hubungan spesial nih.

Ketika melihat mereka, lagi-lagi aku teringat dengan Awanku yang jauh disana. Apa ia akan mengingatku juga yah ?, sama sepertiku yang merindukannya disini.

Tapi aku ber-azzam, sesuai janji yang kutuliskan disuratku pada Awan. Aku janji untuk mengejar impianku, menjadi seorang dokter, dan kelak bisa mengabdi dikampung halaman ini. Dan disini, Aku akan menunggu pangeranku datang untuk menjemputku. Tapi, apa Awan akan datang yah!. Tidak. Aku harus yakin, kalau nanti Awan pasti kembali kesini.

#Will you Remember me ? masihkah Awan akan mengingat wanita yang mencintainya ? dengan siapakah akhirnya Awan akan berjodoh ?

Next Chapter : SEMOGA SAJA MASIH SEMPAT
 
Top