Avail
Avail
Avail
avail-2
 
 

ENZO

Siapa Jodoh Rakata aka Enzo?

  • Tante Puki

    Votes: 6 8.1%
  • Ariska

    Votes: 41 55.4%
  • Yaning

    Votes: 2 2.7%
  • Bu Ningnung

    Votes: 3 4.1%
  • Tokoh Lain

    Votes: 4 5.4%
  • Terserah Mamang Ganteng

    Votes: 18 24.3%

  • Total voters
    74
  • Poll closed .

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
Last edited:

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
Salam suwir,
Cerita absurd ini kok mirip dengan sebuah cerita berjudul: Cinta Rakata?
Ya! Memang itulah dia.
Udah minta ijin mang?
Udah!
Boleh?
Gak tahu!
Kok?
TSnya baik kok, ganteng lagi!
Baiklah kalau begitu. Gocrot kan, mang.
Siap!!

#Gelombang 805 Baraya Bapers.
 
Last edited:

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
- I -



Kuaduk kopi hitam tanpa gula yang baru saja pelayan sodorkan, sorot mataku lekat menatap gelombang kecil pada permukaan cangkirnya.

Kuhirup aroma khasnya, langsung merasuk ke dalam penciuman dan masuk ke dalam benak. Pikiran kalutku sejenak terasa lebih tenang. Aroma kopi hitam seolah menjadi theraphy di saat pikiranku terasa buntu.

“Enzo?” belum juga aku mengangkat gagang cangkir, sebuah suara merdu memanggil namaku.

“Kamu Enzo, kan? Enzo Astana?”

Aku mengernyitkan dahi seraya menoleh ke arah datangnya suara. Beberapa kali mataku mengerjap. Bukan.. bukan karena aku mengenalnya, melainkan karena sosok cantiknya yang membuatku seperti ini. Jantungku seketika terkesiap.

Sesosok gadis semampai berpakaian kasual berdiri di hadapanku. Rambut sebahu yang dicat pirang nampak serasi dengan parasnya yang oval. Wajahnya yang cantik alami hanya dipulas make-up tipis, bahkan bibirnya terlihat merah alami tanpa lipstik. Mungkin ia memakai sedikit glow sehingga terlihat selalu basah.

Tanpa sadar aku menjilati bibirku sendiri, seolah sedang mencecap bibir tipis itu. Tenggerokokanku seketika terasa kering dan segera kubasahi dengan tegukan air liur.

Sejenak sorot mataku terpendar mengagumi kecantikannya. Kedua busungan di dadanya tak luput dari pengamatanku, nampak sekal dengan ukuran sedang. Tanganku langsung melingkari cangkir kopi sekedar untuk menaksir besarnya gelembungan di balik bra gadis manis ini. “Haiiish.. ukuraannya pasti lebih besar dari cangkir ini.” aku berkata dalam hati. Sekali lagi aku meneguk liur membayangkan gundukan putih dan puting mungilnya.

“Maaf, aku salah orang yah?” bibir merah muda yang nampak basah itu menyadarkanku dari keterpesonaan. Ia nampak sedikit jengah oleh sorot mataku yang sedang menikmati lekuk tubuhnya.

“Eh.. iyah... kamu siapa?” aku sedikit gugup sambil mengeratkan cengkeraman pada cangkir kopi.

“Benar kan Enzo?” ia balik bertanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah orang.

Tiba-tiba sudut mataku menangkap sebuah nama pada name tag yang menyembul pada tas tangannya.

“Ariska Chysara.” aku mengeja dalam hati.

Jantungku seakan berhenti berdetak dan nafasku seketika menjadi berat. Tanpa sadar aku menggeleng, seraya mencoba melawan tatapan matanya.

Ada raut kecewa yang nampak pada paras cantik itu, meski begitu ia seakan masih ingin mencari kepastian.

“Maaf kamu salah orang.” aku mendahului sebelum ia bertanya lebih lanjut.

“Maaf.” dengan sedikit pelan dan nada kecewa, namun tidak mengikis alunan merdu dalam pendengaranku.

“No problem.” singkatku sambil mencoba tersenyum.

Gadis itu mengangguk sambil membalas dengan senyum kecut lalu melangkah meninggalkanku. Kuhembuskan nafas tanpa berpaling menatap punggungnya. Rambutnya berkibar diterpa angin sore, dan pinggulnya bergoyang; menggiurkan bagi setiap insan lelaki yang melihatnya.

Ada sedikit sesak dan perih kurasakan, bahkan kelopak mataku terasa panas. Segera aku menunduk dan kembali menatap cangkir kopiku; keputusan yang tepat ketika aku berhenti mengamatinya, karena dari sudut mataku nampak ia berhenti dan menoleh ke arahku. Kuseruput kopiku, berusaha tak menghiraukannya, padahal hatiku sangat menginginkan agar ia duduk dan ikut menikmati secangkir kopi bersamaku. Aku belum menaksir apakah ia masih perawan atau tidak. Tapi ya sudahlah... dan sosok semampai itu pun akhirnya menghilang.

Kopiku terasa pahit pada tegukan pertama, namun rasa manisnya muncul ketika kukecap. Ya namanya sebangsa buah-buahan... kalau tidak manis ya kecut. Dan kopi... adalah buah termanis yang selalu kugemari karena ia menyembunyikan kemanisannya di dalam rasa semu yang orang menyebutnya pahit.

“Sorry gua telat.” sesosok pria kurus muncul dengan langkah terburu, lalu tanpa permisi duduk di hadapanku.

“Udah biasa.” ujarku datar.

“Sorry man tadi gua kena ma...”

“Macet atau macek?” potongku sambil menyeruput kembali kopiku.

“Hehehe... sorry abisnya cewek gua minta jatah.”

Tebakanku benar, ia baru saja menggauli pacarnya, entah pacar yang mana. Kutatap sinis sahabatku yang satu ini, namanya adalah Ganda, tapi aku biasa memanggilnya Gandul atau Ndul.

“Ada yang baru?” aku langsung pada inti persoalan, kehadiran gadis bernama Ariska tadi cukup merusak mood-ku.

“Fix.” ujar Ndul sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya dan menyodorkannya padaku.

Kukeluarkan isinya dan kuperiksa dengan detail. Tanpa diminta sahabatku menyampaikan beberapa informasi yang ia dapatkan, sedangkan mataku fokus pada lembaran dokumen di depan mataku sambil tetap mendengarkan penjelasan yang Ndul paparkan.

“Makasih bro. Gua sangat menghargai usaha dan bantuan lu.” aku memasukan kembali dokumen ke dalam amplop dan menatap sahabatku.

Ndul hanya diam, tapi anggukannya sudah cukup bagiku. Ada sorot simpati dan prihatin yang tergambar. Sikap tengilnya seketika hilang. Begitulah cara dia ketika berada dalam keadaan serius, memang... kehadirannya sebagai sahabat lebih aku butuhkan daripada sekedar kata-kata peneguhan atau nasihat penghiburan.

“Rencana lu gimana?” lirih Ndul.

“Seperti semula.”

“Yakin?”

Aku mengangguk, meski jauh di dalam lubuk hatiku ada keraguan yang besar, bercampur dengan rasa takut. Ndul yang nampak menyadari kegamanganku segera merunduk dan menepuk pundakku. “Masih ada waktu jika lu mau berubah pikiran,” ujarnya pelan.

Kutatap sahabatku sepintas lalu menggeleng. Kusulut rokokku dan menghembuskan asapnya perlahan.

“Tadi ada cewek yang nyamperin dan nanyain nama gua. Gua kira dia adalah bagian dari keluarga itu.” gumamku sambil menengadah dan menggelembungkan asap rokok.

“Namanya?”

“ Ariska. Ariska Chysara.”

“Hmmmm... ada rencana tambahan?”

Aku menggeleng mantap, “Coba cari tahu tentang dia, tapi jangan lu sentuh dia, dan jagain dia untuk gua.”

“As your wish, bro.” Ndul tersenyum datar.

Setelah bercakap-cakap ringan dengan Ndul, sejam kemudian kuputuskan untuk pulang. Aku harus bersiap-siap agar tidak ketinggalan kereta malam.

“Nanti malam gak usah anter gua.” ujarku sesaat sebelum memasuki mobilku.

Ndul hanya mengangguk dan meninju bahuku, ada pancaran sedih yang tergurat dalam wajah cekungnya. Aku pun merasakan hal yang sama, dialah sahabat terbaikku, dan entah sampai kapan kami akan berpisah; kami akan kehilangan momen-momen “edan” dalam persahabatan kami. Meskipun (mungkin) hanya untuk sementara.

“Ingat, otak mesum lu bisa jadi penghalang.” canda Ndul, aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Meskipun bercanda, tapi ucapannya banyak benarnya.

Setelah sekali lagi saling memberikan tinju perpisahan, aku menaiki mobilku dan melajukannya keluar dari area cafe.

Kulihat langit sore yang cukup mendung, dan laju mobilku sedikit tersendat oleh kepadatan para pengemudi roda dua yang saling berpacu. Mereka seakan enggan terguyur hujan yang bisa tercurah kapan saja.

Teeeet!!!

Tiba-tiba sebuah mobil mengelakson dengan keras dari arah samping, aku melirik sewot, tapi karena ia bukan mengelaksonku, melainkan tukang cilok yang menyeberang dan nyaris keserempet, aku urung ngomel. Kuabaikan saja, dan kembali fokus pada kepadatan jalanan.

Dua puluh tujuh menit kemudian aku bisa sedikit bernafas lega ketika bisa lolos dari kesemerawutan jalanan kota ini. Kubelokan kendaraanku memasuki sebuah kompleks perumahan yang cukup elite. Aku tinggal di sebuah rumah di kawasan ini.

“Dua tujuh aman?” tanyaku pada security yang sudah sangat kukenal.

“Siap. Terkondisikan.” jawabnya sambil memberi hormat a la tentara.

Aku tersenyum mendengarnya, lalu kututup kembali kaca mobil.

Seperti biasa, aku tidak langsung menuju rumahku, melainkan melaju pelan menuju sebuah rumah yang megah. Kuhentikan mobilku di seberang jalan dan kuturunkan sedikit jendela kaca; dan bersamaan dengan itu rintik gerimis pun akhirnya turun.

“Sayang, ayo masuk.” sama-samar terdengar suara seseorang dari halaman.

Nampak sesosok wanita paruh baya berwajah cantik tergopoh keluar rumah dan memanggil dua gadis bocah yang sedang bermain di halaman.

Cantik dan molek! Yah... wanita itu nampak begitu memesona dalam usianya yang sudah memasuki kepala empat. Dada dan pahanya terpamer karena ia hanya mengenakan daster mini sebatas lutut. Meski jarak kami cukup jauh, aku masih bisa melihat belahan payudaranya yang membusung.

Aku menghela nafas berat sambil lekat menatapnya dari balik kaca mobil. Lalu perhatianku kualihkan pada dua anak kecil berusia dua belas dan sembilan tahun yang berlari riang, menghambur ke dalam pelukan wanita itu. Ciuman pun mendarat pada pipi mereka masing-masing, lalu dengan terburu ia menggandeng tangan kedua anaknya memasuki rumah, sebelum tubuh mereka benar-benar basah oleh gerimis.

Pintu rumah pun tertutup. Tak terasa ada aliran bening yang menetes di ujung mataku, dadaku terasa sesak dan perih. Aku mendengus antara sedih, kesal, marah, dan pasrah. Kulajukan kembali mobilku menembus hujan yang tiba-tiba menderas bagai tercurah.

Hanya berselang satu blok, aku pun tiba di rumahku, segera kumasukan kendaraan ke dalam pekarangan yang tanpa pagar. Setelah mematikan mesin, kuusap sisa air mataku, lalu turun menuju pintu.

“Enzo.”

Sosok itu menyambutku di depan pintu. Aku mencoba membalas senyumnya dan melangkah menghampiri. Meski usianya dua belas tahun di atasku, namun di mataku tubuhnya tetap indah dan menggiurkan. Dalam usianya yang sudah menginjak 37 tahun 20 hari dan 7 jam, ia malah terlihat begitu seksi dan menggoda. Apalagi ia masih mengenakan pakaian kerja berupa rok ketat di atas lutut. Bagian atas ia mengenakan kemeja putih dengan sengaja membiarkan kancing atasnya terlepas. Bergerak sedikit saja, pasti bajunya akan tersibak dan belahan payudara mengkalnya akan terekspos.

“Kebiasaan deh mesumnya.” gumamnya penuh keibuan sambil mendekatkan tubuh montoknya dan mencium kedua pipiku. Aroma parfum pun langsung menghinggapi penciumanku.

“Eh..” ia tersadar sesuatu dan mengamati wajahku lekat.

“Kenapa?” herannya sambil mengusap ujung mataku.

“Gak papa, Tan, terkena gerimis.” jawabku, dan ia hanya tersenyum, ia tahu kalau aku berbohong.

Aku sedikit gelisah, bukan karena ia mengetahui kebohonganku, melainkan karena wajahnya yang begitu dekat, nafas harumnya tercium, dan bibir merah jambunya yang terlihat basah sedikit terbuka. Seksi.. sangat seksi… Ah andai saja dia bukan orang kepercayaanku dan belum bersuami, aku akan rela melepaskan keperjakaanku untuknya. Bahkan aku juga rela jika harus menjaganya seumur hidup dengan menjadi suaminya.

Aku mengerjap sesaat berusaha sadar diri, lalu melangkah memasuki rumah. Namun rupanya Tanteku yang satu ini malah mengapit tanganku sehingga sikutku menyentuh tepian gundukan payudaranya. Terasa kenyal membuat bulu-bulu halus lenganku sedikit meremang.

Selalu saja begini kalau di rumah, ia selalu memanjakanku, atau sebaliknya ia yang bermanja padaku? Entahlah. Padahal kalau di kantor ia terkenal jutek dan galak, aku sebagai atasannya pun tidak jarang terkena semprotannya.

“Tante tidak tahu apa yang harus dipersiapkan untuk keperluanmu selama di sana, tapi tante sudah menyiapkan orang kita supaya menjagamu.” ujarnya.

“Tante..!!!” aku hendak protes tapi urung ketika ia membuka lebar kelopak matanya.

“Semuanya udah aku siapkan tadi pagi kok, Tan, jadi tinggal berangkat aja.” aku membelokan jawaban.

“Baguslah kalau begitu. Kamu hati-hati di sana, ingat mesum boleh tapi jaga keperjakaanmu untuk orang yang tepat hihi…” ia mencoba menyembunyikan kesedihannya dengan bercanda.

“Aku ingin keperjakaanku buat tante.” tapi hanya berani kubatinkan dalam hati saja, bisa kena gampar kalau aku mengucapkannya.

“Siap, Tante.” hanya kata singkat itu yang keluar di mulutku.

“Yaudah kamu istirahat dulu mumpung masih ada waktu, nanti tante akan antar ke Stasion Hall.” ujarnya sambil melepaskan gandengan tangan.

Aku pun hanya mengangguk dan melangkah menuju kamarku yang terletak di lantai dua, sedangkan ia menuju dapur.

Aku memang tinggal seorang diri, tapi ia sudah terbiasa datang ke rumahku, dan sudah hafal seluruh seluk-beluk rumah ini. Ya, dia masih familiku, neneknya dan kakek buyutku adalah kakak beradik. Namanya adalah Pupuh Kinanti, dan aku suka sekali memanggilnya Tante Puki yang merupakan singkatan dari namanya. Tapi ia akan marah kalau aku memanggilnya seperti itu, entah apa yang salah dengan sebutan itu.

Ia sudah bersuami meski belum dikaruniai momongan. Om Toyski, suaminya, adalah seorang kapten kapal pesiar. Untuk menutupi kesepiannya, tak jarang Tante Puki menginap di rumahku, sehingga kami merasa begitu dekat karena sering bersama baik di rumah maupun di kantor.

Setelah meletakan tasku atas meja, kuputuskan untuk membersihkan diri. Kutanggalkan pakaianku sambil mengamati seisi kamar. “Sebentar lagi aku akan meninggalkan semua kemewahan ini. Selamat tinggal kota idaman, selamat tinggal kamar kesayangan.” batinku.

Tak ingin larut dalam kesedihan, aku segera melangkah bugil ke kamar mandi. Ada ritual yang harus kuselesaikan, sekedar membuang kegalauan, yaitu coli sambil membayangkan Tante Puki alias Tante Pupuh.



*

*

*



Bersamaan dengan selesainya pembicaraanku dengan Ndul melalui sambungan seluler, Tante Pupuh pun memarkirkan mobil tak jauh dari pintu utama stasion. Aku segera membuka pintu hendak turun, tapi urung ketika Tante Pupuh tak kunjung mematikan mesin.

Aku menengok ke arahnya, dan aku baru sadar kalau wajahnya sudah basah oleh lelehan air mata. Kututup kembali pintu mobil dan membalikan badan setengah berhadapan.

“Tante jangan sedih. Kayak aku mau pergi jauh aja.. Kita kan masih bisa sering kontak atau janjian ketemu.” ujarku sambil mengepalkan tangan. Sengaja kulakukan agar aku tidak menyentuh pipinya yang basah oleh air mata.

Inginku adalah mengusap dan mengeringkannya, tapi aku takut kalau tanganku kepeleset turun ke dada montoknya. Ehh!!! Hadoooh… ni otak.

“Bukan itu, Nzo. Tante.. tante…”

Katanya terputus oleh isak tangis, dan tiba-tiba saja ia merangkulku erat. Apa yang kuhindari namun kuinginkan pun terjadi, ganjalan kenyal di dada membuat jantungku berdetak kencang.

Perasaanku berkecamuk, antara sedih, haru, dan mesum. Semuanya kutumpahkan.. dengan membalas dekapan eratnya. Dan.. perlahan mesum ini memudar seiring isak tangisnya, terganti rasa sakit dan sedih yang selama bertahun-tahun telah kukubur.

Mau tak mau air mataku berlinang, tanpa sepatah kata pun yang mampu kuucapkan. Sesaat kami larut dalam kecamuk perasaan masing-masing. Larut dalam lara bernama perpisahan.

Kalau tadi aku menahan tanganku yang ingin nakal, kini aku membiarkannya mengusap rambutnya dengan rasa sayang. Biar bagaimana pun, Tante Pupuhlah yang telah membimbingku sampai aku bisa sukses seperti sekarang ini; dialah yang menggantikan peran orangtua dalam membimbing dan membesarkanku. Dosaku padanya.. aku sering memesuminya meski sebatas di dalam angan. Sejujurnya, mesum itu adalah pelampiasan karena rasa frustasiku atas rasa sayang yang tak mampu terwujudkan.

“Kita tidak berpisah jauh, Tante, bahkan sangat mudah bagi kita untuk bertemu setiap saat.” gumamku pada akhirnya sambil mengusap punggungnya lembut.

“Hikkss.. tapi tante tidak ingin kita sering bertemu, itu bisa mengganggu pencarianmu. Kalau menuruti keinginan, tante ingin ikut bersamamu, tante tidak mau jauh darimu, tante takut kangen… karena… karena… hiiiks… tante sayang kamu.” isaknya makin keras.

Aku tercekat sesaat, ia menyampaikan perasaan sayangnya. Aku mengerjap tidak mau gede rasa, sudah selayaknya ia menyayangiku karena kami masih satu garis keluarga, sebagaimana aku juga menyayanginya meskipun dalam wujud yang berbeda.

“Aku juga sayang Tante. Makasih.. karena kasih sayang Tante, aku bisa tumbuh menjadi seperti sekarang ini.” lugasku sambil mencoba tegar.

“Hiks.. hiks… tante sayang banget ama kamu, Zo.” ujar Tante Pupuh di sela isak tangisnya.

Aku tercekat sesaat. Nada ungkapan itu berbeda, bukan seperti tante pada keponakannya. Kudorong bahunya dengan lembut, dan mataku lekat memandang wajahnya yang basah. Ada sorot mata yang berbeda dari biasanya, terlihat begitu sendu. Jantungku berdebar kencang, bibirku bergetar tanpa mampu berucap sepatah kata pun.

Kuusap linangan air mataku sendiri, dan kuamati wajah cantik di hadapanku. Tiba-tiba Tante Pupuh kembali memelukku, kali ini ia tidak membenamkan wajahnya pada bahu, namun mencari pipiku. Diciuminya wajahku dengan nafas tersengal, wajahku basah oleh air matanya.

“Zo, tante.. tante…”

Cuuuuup!!!

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, terganti oleh bibir lembutnya yang tiba-tiba mendarat pada bibirku, dan langsung melumat. Aku tercekat sesaat tanpa mampu membalas. Nafasku ikut tersengal. Ciuman ini bagai mimpi jahanam yang sudah lama kuinginkan.

Lembut.. teramat lembut sentuhan bibir itu, meskipun gerakkannya sedikit kasar dan nafasnya tersengal. Kupejamkan mataku, dan mulai membalas lumatannya. Segala yang kupendam, hasrat yang sembunyi tersimpan, kini kutumpahkan. Bibir kami semakin bertautan, dan tanpa komando lidah kami sudah saling membelit. Kami melupa pada suasana sekitar, tak peduli seandainya ada orang yang melihat, ciuman ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Entah berapa lama kami seperti ini, aku teramat menikmatinya. Ia ingin mengakhiri, aku yang enggan; aku yang mengurangi tensi, ia yang memperdalam lumatan. Sudah tak ada lagi isak tangis, terganti oleh bunyi syahdu cumbuan. Bahkan tanganku sudah tidak menumpang lagi pada pinggangnya, melainkan mulai menjalar meremas paha putihnya. Ia terkejat, dan membalas dengan meremas rambutku.

“Mmmmmh…” lenguh kami bersamaan. Ciuman kami terlepas, dan ia berusaha menahan tanganku yang sudah semakin merambat menuju pangkal selangkangannya. Jangan ditanya, penisku sudah menegang, dan terasa sakit terhimpit celana dalam dan jeans yang kukenakan.

Sorot mata kami beradu sendu, bibir seksinya terbuka, dengus nafasnya yang terengah menerpa wajahku. Lalu satu tangannya terjulur untuk membersihkan sisa air liur pada ujung bibirku.

“Maafkan tante, Zo.” suaranya pelan, antara sesal dan ingin melanjutkan.

“Jangan minta maaf, aku sayang Tante, sangat sayang, aku sudah merindukan ini sejak lama.” aku akhirnya bisa jujur atas apa kurasakan sambil berusaha menggeser paha sekedar memberi ruang pada penisku yang terasa sakit karena tegang.

Senyum itu mengembang. Sebuah senyum bahagia, namun juga sekaligus getir karena -mungkin- rasa bersalah karena ia sudah bersuami.

“Aku sayang, Tante. Bukan sayang sebagai satu saudara, melainkan sayang seorang lelaki pada perempuan.” aku kembali jujur.

Air matanya kembali menjentik, dan ia pun berujar, “Tante juga sayang kamu, Zo, sudah lama tante menahan dan menyembunyikan ini semua, tapi….”

Kuhentikan ucapannya dengan menempelkan telunjuk pada bibirnya. Ada senyum yang terpancar ketika ia meraih tanganku dan menggenggamnya. Lalu ia sedikit membalikan badan dan membuang pandangan keluar kaca mobil. Tidak denganku, aku lebih senang memandang tubuh sintalnya.

Kuusap rambut sebahunya yang dicat sedikit pirang. Lalu pandanganku turun pada busungan dada montoknya yang menggiurkan. Jantungku terkesiap ketika menyadari pakaiannya yang sedikit acak-acakan karena ciuman panas tadi. Pandanganku sedikit nanar ketika tertuju ke bawah, roknya terangkat memamerkan tiga perempat pahanya yang putih dan mulus. Nampak menggoda dan menggiurkan. Tangan kiriku terulur dan sedikit bergetar untuk menyentuhnya. Halus kurasakan.

Tante Pupuh memandangku antara takut dan pasrah. Sorot mata kami beradu, sedangkan tanganku mulai mengelus tanpa penolakan. Nafasnya kembali terdengar pendek, diselingi sedikit desahan halus.

Tanpa kata, kini mata kami yang bicara. Rasa cinta ini saling ada, melampaui status dan norma.

Wajah kami kembali saling mendekat, nafas kami beradu, sedangkan elusan pada pahanya sudah berubah menjadi remasan. Keningnya mengernyit menahan rangsangan dan bibirnya terbuka. Tak kusia-siakan.. langsung kukecup dan kami kembali larut dalam cumbuan. Kali ini tidak saling tergesa, kami sama-sama saling menikmati dan menghayati.

Kecupan-kecupan lembut saling kami berikan sampai akhirnya saling mengulum. Kukulum bibir bawahnya, dan ia mengulum bibir atasku. Begitu sebaliknya, bergantian tanpa bosan. Sampai akhirnya… sambil sama-sama memiringkan wajah berlawanan, lidah kami saling mencucuk. Tak lama.. saling lilit dan belit pun kami lakukan. Kembali kami melupa pada suasana dan tempat kami berada… saling hanyut dan larut dalam cumbuan. Bukan hanya itu, tanganku sudah mencapai sela-sela paha atasnya, menyentuh tepian celana dalamnya. Lembab kurasakan.

Tubuh Tante Pupuh bergetar hebat, cumbuannya semakin dalam dan tak terkendali. Bersamaan dengan remasanku pada gundukan kewanitaannya, ia mengerang di tengah cumbuan, dan seketika ia meraih selangkanganku. Ciumanku terhenti sesaat, merasakan kenikmatan getaran pada padang penisku yang ia remas, meski dari luar celana yang kukenakan.

Aku membungkuk dan cumbuanku pindah pada lehernya, turun pada belahan payudaranya. Bersamaan dengan itu, kocokan pada penisku terasa semakin cepat. Tak puas dengan itu, ia menurunkan risletingku dan mengocok dari luar celana dalam.

Aku terkesiap dan langsung memangsa payudaranya dengan cumbuan dan remasan. Gaun yang ia kenakan tidak menjadi penghalang. Entahlah.. kami sama-sama larut dan hanyut. Rasa yang disimpan dan ditekan kini membuncah, tercurah tanpa kendali. Kami pun akhirnya saling memuaskan melalui cumbuan dan sentuhan tangan yang saling menggerayangi.

“Uuuugggh…” lenguh kepuasan terdengar.

“Aaaahhh sssh…” aku mendesis seiring semburan penisku di balik celana dalam.

Sesaat duniaku hilang, terkulai lemas, wajahku ambruk pada payudaranya yang turun-naik karena sengal nafasnya. Selangkangan Tante Pupuh pun terasa basah oleh semburan orgasmenya.

Tik tok tik tok.

“Tante.”

“Enzo.”

Ucap kami bersamaan.

Kami pun saling memandang dan saling melempar senyum. Kini sudah tidak perlu saling menutupi, rasa itu sama-sama ada.

Ia mengecup bibirku lembut, dan kubalas tak kalah lembut. Bisikan-bisikan mesra pun kami hembuskan, dan kata sayang saling terlontar, seiring janji untuk saling menyayangi sambil memikirkan bagaimana rencana kami ke depan.

“Ya ampun, sayang!!! Enzooo cepetan!!!” tiba-tiba Tante Pupuh memekik.

“Heh?” aku tidak mengerti.

Kutahan dorongan tangannya, aku masih ingin memeluk dan mencumbu wanita ini.

“Stop, sayang. Ini jam berapa?”

“Kupret.” makiku dalam hati sambil melihat jam tangan.

Keretaku tinggal lima menit lagi berangkat. Aku langsung berpikir untuk membatalkan perjalanan; namun Tante Pupuh seperti membaca isi pikiranku. Ia langsung membenahi pakaiannya dan mendorongku supaya keluar. Sikap lembut dan manjanya hilang, berubah menjadi galak, dan bahkan ia tak sungkan membentakku supaya segera keluar mobil.

Aku hanya bisa pasrah menuruti kemauannya. Aku turun dari mobil dan kuraih tas ranselku yang disimpan di jok tengah.

“Cepetan Enzo.” teriak Tante Pupuh.

“Euh.. iyah… ini…”

“Cepetan!!!”

Kucium kedua pipinya, dan langsung berlari tanpa bisa berpikir lagi. Tante Pupuh membuntutiku dari belakang, seperti mau memastikan bahwa aku bisa masuk tanpa ketinggalan kereta.

Aku nekad menerabas antrian. Banyak orang protes, dan petugas sudah mau menegurku, namun begitu melihat tiketku ia berbaik hati memperbolehkanku langsung masuk. Satu menit tersisa, dan aku pun berlalu kencang menuju lajur yang petugas tunjukan. Aku berhenti sesaat dan menengok ke belakang, berharap masih bisa melihat sosoknya di luar gerbang, namun tak kulihat ada di sana. Kuputuskan untuk kembali berlari.

“Pak!!!” teriakku pada petugas yang hendak mengangkat tanda pada masinis bahwa kereta sudah bisa diberangkatkan.

“Semarang, dek?” tanyanya.

“Iya, pak. Maaf.. hash.. hash…”

“Ayo buruan naik!”

Aku pun meloncat memasuki gerbong yang pintunya sudah bergerak menutup otomatis. Terlambat satu detik saja, aku pasti terhimpit, atau setidaknya tas ranselku yang terhimpit. Namun keberuntungan masih berpihak padaku.

Tak lama kemudian, kereta pun bergerak meninggalkan kota yang telah banyak mengajariku tentang pahit dan manisnya kehidupan. Sejenak aku hanya berdiri sambil bersandar pada pintu gerbong, nafasku tersengal. Setelah mengatur nafas, aku pun melangkah gontai. Sesungguhnya, sejak beberapa menit yang lalu, aku tidak ingin pergi dari kota ini.

Kuperhatikan tiketku, dan aku masih harus menyeberangi dua gerbong di depan. Aku berjalan tanpa semangat. Barisan tempat duduk di gerbong pertama kulewati, hanya sedikit yang peduli pada keberadaanku, namun ada juga yang memperhatikan, ada tawa yang mereka sembunyikan. Apa peduliku, kami tidak saling kenal.

Di gerbong berikutnya, semakin banyak yang melihatku secara aneh. Apa peduliku, kami tidak saling kenal.

Akhirnya aku sampai di gerbongku, kucari tempat dudukku. Nomor 27A. Tidak perlu jauh berjalan karena posisinya agak di belakang. Kursiku memang kosong, dan di sebelahnya telah terisi oleh seseorang berambut pirang. Kuletakan ranselku di atas tempat duduk, agak belakang dari jokku.

“Permisi, Mbak.” ujarku pada penumpang sebelahku, mengingat tempat dudukku berada di dekat jendela.

“Iya… Eh?!!! Kamu?!”

Menyadari keterkejutan gadis itu, aku pun membalas menatap wajahnya.

“Eh.. Mbak?” aku tak kalah kagetnya.

Tiba-tiba sorot matanya berubah, dan wajah ramahnya berubah ketus dan jijik. Aku tak berusaha peduli, setelah permisi sekali lagi aku pun melewatinya dengan posisi menghadap ke arahnya. Ia melengos jijik.

“Kupret!!!” aku baru sadar kalau risletingku belum ditutup dan celanaku nampak basah oleh sperma.



Bersambung….
 
Last edited:

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
- II -


Aku pun duduk dengan sedikit kikuk, sedangkan Ariska membuang muka sambil pura-pura mengambil smartphone dari dalam tas kecilnya.

“Kenapa ia ada di sini? Mau ke mana dia?” tanyaku dalam hati. Yeah.. baru juga bertemu beberapa jam yang lalu, kini sudah bertemu lagi, duduk bersebelahan pula. Rasa heran, malu, dan senang pun bercampur menjadi satu. “Jangan-jangan dia mau membuntutiku,” aku sedikit curiga.

Fiuuuh…!!! Aku menghela nafas panjang.

Sialnya aku sudah telanjur mengaku diri bukan Enzo, jadi aku harus mengarang cerita tentang diriku seandainya ia mengajak ngobrol dalam perjalanan ini. Aku harus mengganti image tentang diriku di hadapannya, from somebody to nobody; dari pemuda terpandang menjadi tak dikenal orang.

Bodo!! Saat ini yang ada di pikiranku adalah Tante Puki. Kejadian di mobil baru saja membuat perjalananku kali ini terasa gamang. Hatiku tertinggal. Bukan perbuatan mesum yang kami lakukan yang membuatku seperti ini, kalau itu mah udah pasti enak, tapi justru kejujurannya bahwa ia menyayangiku yang membuatku merasa tidak rela untuk pergi dari kota ini. Inginku adalah ada bersamanya selamanya. Suaminya? Berikan kepada hansip Gang Celup saja! Cinthunks!

Kulirik gadis di sampingku, nampak ia sedang sibuk dengan smartphonenya. Dari bayangan kaca kereta nampak sekali-kali ia melirik ke arahku dengan pandangan aneh. Hmmm… cantik sih, tapi pesonanya masih kalah oleh Tante Puki. Lagi pula aku khawatir kalau dia adalah… ah ya sudahlah..!!!

Aku mendengus gusar. Kukeluarkan smartphoneku, dan jariku otomatis mencari nama Tante Puki dan mengabarinya bahwa aku baik-baik saja dan tidak ketinggalan kereta. Tak perlu menunggu waktu lama ia pun membalas, dan kami larut dalam percakapan chatting, saling mengungkapkan rasa sayang yang selama ini terpendam. Keberuntungan belum berpihak padaku, ketika kejujuran ini baru terungkap di akhir kebersamaan kami di kota ini.

Chatting terhenti ketika Tante Puki memberi kabar bahwa suaminya menelpon. Membunuh jenuh, kubuka gallery fotonya. Banyak kenangan kami berdua yang terekam di sana. Bodohnya aku, dari bahasa tubuhnya dalam banyak fose, ternyata Tante Puki lebih banyak menunjukan sikap sebagai seorang kekasih daripada seorang tante pada keponakannya.

Jariku terhenti menggeser layar ketika wajah manis itu ada di sana. Wajah bangun tidur ketika secara diam-diam aku menjepretnya. Rambutnya yang sedikit acak-acakan membuatnya terlihat manis sekaligus seksi, ujung-ujung helaiannya menjuntai pada kulit putihnya, dan bahkan ada juga yang menyusup di antara belahan payudaranya. Bahagianya jadi rambut Tante Puki! Aku merasa iri.

Nampak pula dua busungan besar di balik daster tali berwarna putih. Nampak menantang dan seperempatnya menyembul tanpa tertutup apapun. Andai saja aku memotretnya secara full body, pasti akan terpajang juga setengah pahanya yang putih mulus. Shiiit.. membayangkannya saja membuat ada yang menggeliat di dalam celana dalamku.

Aku sedikit mengubah posisi dudukku sekedar untuk memberi ruang pada ‘si kentang’ (demikian aku biasa menyebut penisku sendiri) yang sedang terkulai ke bawah menjadi mendongak ke atas. Tapi terhambat celana dalam. Posisinya yang mulai tegang membuat perjalanannya menunjuk pusar terhambat, tertekuk, dan ini membuatku tidak nyaman. Dudukku sedikit gelisah.

Terganggu oleh keadaan di tengah selangkangan, refleks satu tangan meluruskannya dari luar celana dengan sedikit mengangkang, tanpa berpaling dari layar smartphone. Nafas lega kuhembuskan ketika penisku sudah kembali vertikal. Kulirik tanganku sendiri yang terasa lembab karena menyentuh sesuatu yang basah. Kupret… rupanya dari tadi aku belum menutup risleting dan tanganku menyentuh basahnya sperma bekas percumbuan panas dengan Tante Puki. Segera kunaikan risleting jeans dan kubersihkan tanganku dengan mengelapkannya pada ujung celana.

“Jorok! Mesum!!!”

Tiba-tiba suara ketus terdengar. Aku mendongak dan melirik ke samping. Bazeeengan.. aku lupa kalau ada gadis bernama Ariska di sampingku. Wajahnya merah padam dan satu tangan ia tutupkan pada mulut seakan mau muntah. Matanya melotot jijik.

“Aku pindah duduk aja!!” belum juga aku bereaksi, ia langsung berdiri dan meraih tasnya dan pergi meninggalkanku.

“Eh.. Mbak…!!” sia-sia, ia bergegas ke depan gerbong tanpa menggubrisku.

Fiiiuuuh…!!! Dengan kikuk aku pun berdiri, bukan untuk menyusulnya, tapi untuk mencuci tangan, sekalian mencuci ‘si kentang’. Kuabaikan pandangan heran beberapa penumpang yang melirik ke arah aku dan Ariska bergantian.

Usai membersihkan semua yang lengket, Tante Puki menelpon. Kuputuskan untuk bercakap-cakap dengannya di depan toilet. Selain saling berbagi rindu, kami juga membicarakan beberapa rencana tambahan. Tak lupa aku pun menyampaikan bahwa ada gadis bernama Ariska, dan aku memintanya mencari tahu tentang gadis itu.

“Kamu lanjutkan kebohonganmu, sayang, jangan mengaku bahwa kamu adalah Enzo.” ujar Tante Puki.
“Hmm.. sebaiknya aku pakai nama apa?”
“Hm…” ia balik bergumam seperti sedang berpikir.

“Gimana kalau Mendung?” ia melanjutkan.
“No!”
“Adven?”
“No!”
“Kuciah?”
“No!”
“Arek?”
“No!”
“Zinggo?”
“No.”
“Delimo?”
“No.”
“Ntung?”
“Amit-amit.”
“Hmmm.. lalu apa donk?” ia terdengar frustasi.
“Cari yang lain.” aku sendiri tidak punya ide.

Tik tok tik tok.

“Kopyor?” suaranya terdengar lagi.
“Koplok aja sekalian, Tante.” kesalku.
“Eh.. dengar ya sayang, kata kakekmu dulu, Kopyor itu…”
“Nah itu Tante.” aku memotongnya.
“Maksudmu?”

“Kata. Ya aku akan memakai nama Kata.” aku antusias.
“Eh.. masa aneh gitu? Hmm.. tapi boleh juga.. Kata.. Kata.. Kata… Rakata.”
“Rakata! Setuju!” aku menimpali.

Kami pun tertawa. Setelah melanjutkan percakapan dan memberi ciuman jarak jauh kututup telponku, dan kembali ke tempat duduk.

Gadis itu ada di sana. Di tempat duduknya.

“Gak jadi pindah, Mbak?” tanya polosku.
“Nggak!” ketusnya sambil memiringkan posisi duduknya untuk memberi ruang padaku agar bisa lewat.
“Kenapa?”
“Bodo!”

Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat juteknya. Apalagi ketika ia mengusap-usap celana di bagian lututnya, seolah jijik karena bergesekan denganku saat lewat.

“Aku Rakata.” aku mengulurkan tangan.

Ia melongos dan tidak mengubris uluran tanganku.

“Yaudah kalau tidak mau berkenalan. Aku udah tahu kok nama Mbak kok.” ujarku. Ucapanku sukses membuatnya menengok ke arahku.

“Heh? Tahu dari mana?”
“Tahu aja.” singkatku.

“Emang siapa namaku?” ia nampak penasaran.
“Dewi, kan?” aku ngasal.

“Gak lucu!!” ia tidak suka.
“Loh? Nama Mbak memang Dewi, kan?” aku masih sok percaya diri.
“Enak aja, ngasih nama sembarangan. Huh!!”
“Halah.. gak usah ngeles, Mbak.”

“Heh!! Dengar yah, namaku Ariska, bukan Dewi!!”
“Iyah. Ariska Dewi, kan?” jurus modus masih kulancarkan.
“Dasar mesum!!”

Ariska nampak kesal, dan seperti sadar bahwa ia telah terjebak dengan menyebut namanya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Gadis yang tadi siang kulihat nampak feminim dan gemulai ini, ternyata cukup jutek dan galak juga.

“Mbak Ariska kenapa gak jadi pindah?”
“Bodo!!”
“Siapa yang bodo? Mbak atau masinisnya?”
“Kamu?!!!” ia kembali melotot.

Kulihat penumpang di seberang melirik ke arah kami, kuputuskan untuk diam, daripada malah membuat gadis ini semakin marah dan mengundang kericuhan. Aku cukup paham, perjalanan masih panjang dan masih akan banyak stasion yang akan dilewati, sehingga tidak mudah bagi Ariska untuk mengganti tempat duduk. Apalagi kulihat bahwa semua bangku di gerbong ini sudah terisi penuh.

Kereta pun terus melaju di atas dua rel yang tidak akan pernah saling menyatu ataupun berpisah, karena kalau itu terjadi, maka kereta pun aku terjerumus dari jalurnya.

Kubuka aplikasi kindle, dan kubaca sebuah novel karangan penulis Brazil, yang membahas tentang rel kereta api dalam cuplikan kisahnya.

“Dasar mesum!” suara judes itu kembali terdengar.
“Heh?!” aku menengok.
“Pasti lagi baca cerita mesum, kan?” ia menuduhku.
“Emang ada yah cerita mesum?” aku balik bertanya.
“Ya ada lah… buka aja GC.”
“Kok Mbak Ariska tahu? Hayooo…”
“Eh.. itu.. kamu… nyebelin!!!”

Ia salah tingkah dan kehilangan kata-kata, wajahnya sedikit memerah.

“Hehehe.. bercanda Mbak.” aku tidak enak hati. Lalu kusodorkan layar smartphoneku agar ia tahu apa yang sedang kubaca.

Ia hendak menolak, tapi karena kutempatkan smartphoneku tepat di depan wajahnya mau tidak mau ia pun melihat layar meski dengan enggan.

“Eh!? Kamu!!”

“Apalagi sih, Mbak? Dari tadi manggil-manggil aku galak terus seperti itu.” aku merasa heran.

“Eh sorry.. bukan.. bukan… maksudku… kamu baca karya Coe*** juga?”
“Loh Mbak juga?”

Aku menghembuskan nafas lega ketika nama novelis tersebut bisa sedikit mencairkan suasana di antara kami. Ia pun mengeluarkan smartphonenya dan membuka aplikasi yang sama. Koleksi novelnya rupanya sudah sangat lengkap, bahkan edisi terbaru pun sudah ia miliki.

Jadilah… obrolan pun tercipta, membahas apa yang masing-masing telah kami baca. Ia menyukai The Zahir, aku menyukai Eleven Minutes, ia membaca Alkemis tiga kali, aku membaca The Winner Stand Alone lima kali. Ia tidak tahu saja kalau aku telah membaca ratusan Cerbung yang semuanya memuat adegan lendir.

“Ngomong-ngomong…”
“Ngomong aja, Mbak.” potongku.

“Kamu itu.. shhh…!!”
“Hehee… kenapa?”
“Jangan panggil aku ‘mbak’.”
“Ok. Riska aja?”

Ia mengangguk.

“Siapa Enzo? Kenapa kamu menyangka aku orang itu?” tanyaku mengalihkan percakapan.

Bukannya menjawab, Ariska malah memandangku lekat, dan aku membalasnya. Aku cukup grogi juga bertatapan cukup dekat seperti ini. Ia memang cantik.. sangat cantik di mataku.. dan ia bisa merawat diri, ia tidak menutupi kecantikan alaminya dengan makeup yang berlebihan. Bahkan garis indah alisnya dibiarkan tetap alami tanpa mengikuti trend yang sedang booming saat ini.

Jantungku terkesiap, hatiku mengatakan bahwa gadis ini adalah ‘dia’. Seseorang yang pernah ada di masa laluku. Apa dayaku, aku harus menutupinya sekarang.

“Siapa dia?” tanyaku lagi sekedar untuk menutupi kekaguman pada paras cantiknya, sekaligus menyembunyikan kegelisahan karena ingatan akan masa lalu.

“Eh.. nggak… kamu mirip dia.” singkatnya sambil membuang pandangan ke depan, tangannya sedikit meremas smartphone dalam genggamannya. “Eh.. siapa namamu tadi?” ia mencoba menyembunyikan sesuatu.

“Kata..”
“Oh iyah aku ingat.. Rakata. Rakata Mesum.. jijik aku..” sambungnya.
“Hehehe…”
“Tertawamu pun mesum!”

Meski sikapnya masih judes tapi sudah ada senyum yang tergambar di sana, dan sejenak aku bisa melupa dari rasa rindu pada Tante Puki. Obrolan pun berlanjut, kembali soal kisah-kisah novel yang telah kami baca. Sampai akhirnya saling terdiam seiring rasa kantuk yang datang, dan ia pun mulai terlelap. Aku sampai lupa bertanya tentang kota tujuannya.

Sejenak aku mengamati paras itu, ingin rasanya aku mengaku sebagai Enzo dan memeluknya, tapi aku tidak ingin semuanya menjadi berantakan.

“Enzo!!”

Ia mengigau dalam lelapnya.


*
*
*


Aku tiba di Stasion Tawang menjelang subuh. Bukan hanya aku yang turun, ternyata Ariska pun berhenti di kota ini. Aku semakin heran, namun ia tidak mau mengatakan apa-apa. Hanya basa-basi perpisahan yang ia lakukan. Jangankan mau bertukar nomor telpon, akun medsos pun tidak mau ia berikan. Pandangan bahwa aku mesum rupanya sudah melekat dalam pikirannya, sehingga ia enggan untuk kenal lebih dekat denganku, meskipun itu hanya sebatas melalui media sosial. Yasudahlah.. mungkin ini yang terbaik aku tidak kenal dekat dengannya, meskipun aku sangat menginginkannya.

Ariska pun langsung bergegas ke parkiran karena katanya sudah ada yang menjemput, sedangkan aku memutuskan untuk mencari kedai kopi. Setelah menghangatkan diri dengan segelas kopi dan Serabi Bi Radi, aku mencari grab untuk mengantarku keliling kota ini.

Setengah hari aku berada di kota ini, sekedar jalan-jalan dan napak tilas pada tempat-tempat yang pernah kusinggahi semasa kecil dulu. Tepat jam dua belas siang aku pun berangkat menuju kota kecil di pesisir selatan dengan naik bis, menurut perkiraan aku akan tiba di sana sekitar jam tiga sore.

Tidak meleset jauh, aku pun tiba jam 15.15. Aku langsung menggunajakan ojol menuju alamat yang sudah kurekam di dalam ingatan.

“Salkum.. punten… permisi… spada…” seruku di depan sebuah pagar tinggi sebuah rumah. Rumah tua peninggalan zaman belanda dengan halaman depan yang cukup luas.

“Mas.. Mas…” tukang ojek memanggilku.
“Iya, Mas?”
“Ini bayar dulu ojeknya.”
“Oh iyah… Maafkan, Mas.” seraya menyodorkan uang dua puluh ribu.

Bersamaan dengan perginya tukang ojek, dari pintu rumah nampak seorang wanita paruh baya keluar. Ia mengenakan pakaian khas Jawa, berbalut kebaya dan kain, hanya rambutnya saja yang tidak disanggul, melainkan digulung dan diikat di belakang.

Aku sedikit terbengong melihat lekuk tubuhnya yang aduhai. Aku sudah mendengar kabar sebelumnya bahwa ia adalah wanita keturunan, ayahnya Jawa tulen sedangkan ibunya berasal dari negeri Tirai Bambu. Mukanya bulat dan cantik, matanya sedikit sipit, dan bibirnya tebal merah tanpa pulasan. Pinggangnya ramping dan mengembang pada pinggulnya yang lebar. Kancing kebayanya seakan mau lepas karena gelembungan besar di baliknya. Tanpa sadar aku pun menelan air liur.

Plukkk… daun jati kering jatuh di hadapannya. Aku berharap ia menunduk mengambilnya sehingga aku bisa mengintip belahan payudaranya, tapi itu tidak ia lakukan. Yasudahlah.. belum rejekiku.

“Iya, nak, mencari siapa yah?” tanyanya dengan logat Jawa yang kental. Terdengar merdu di telingaku.
“Selamat sore, Bu, saya Rakata, datang dari Bandung. Apakah benar ini rumah Ibu Ningnung?” aku mencoba sopan meski mataku mencuri pandang pada putih lehernya.
“Iya, saya sendiri. Nak Rakata siapa, yah?”

“Oh iyah.. saya keponakannya Tante Puki, dari Bandung?”
“Puki?!” ia nampak heran.
“Oh.. maaf.. maaf… Tante Pupuh. Pupuh Kinanti.”
“Oalah.. Nak Kata toh. Iyah, tadi pagi Ibu Pupuh menelpon bahwa yang akan datang adalah Nak Kata, bukan Enzo. Memang Nak Enzonya kemana? Oalah… kok malah bawel ya.. mari Nak Kata masuk.”

Ia segera membukakan pintu pagar dan mempersilakanku masuk. “Cerewet juga nih ibu.” batinku.

Begitu pintu terbuka, kami langsung bersalaman, tangannya halus kurasakan. Ibu Ningnung pun mengajakku masuk rumah sambil cerewet menanyai kabar Tante Pupuh dan perjalananku. Aku hanya senyam-senyum sambil menjawab seperlunya, sedangkan mataku selalu mencuri pandang pada goyangan pinggulnya yang nampak lebar dan ketat.

Ibu Ningnung mempersilakan duduk di ruang tamu, sedangkan ia langsung bergegas ke belakang untuk membuatkan minum. Sambil duduk mataku menyapu seluruh ruangan, sebuah rumah tua yang masih sangat terawat. Semua kusen dan furniture terbuat dari kayu jati terbaik yang sudah -menurut taksiranku- berumur ratusan tahun. Nampak ada satu ruangan dengan pintu tertutup yang sepertinya adalah kamar tamu.

Tak lama kemudian, Tante Ningnung muncul sambil membawa baki berisi segelas kopi dan keripik pisang. Aku berdebar menunggu momen yang kuinginkan.

“Silakan diminimun, Nak Kata, pasti capek setelah perjalanan jauh.” ujarnya sambil berlutut untuk meletakan toples dan cangkir.

“Iya, terima kasih, bu.” jawabku pada wanita yang kutaksir berusia empat puluh tahunan ini.

Meski menjawab begitu, mataku langsung menanti momen itu, dan jantungku langsung terkesiap, ketika ia menunduk. Payudaranya seakan mau tumpah, dengan belahan putih dan mulus. Hanya beberapa detik, tapi entah berapa kali aku menelan air liur.

Tak lama kemudian ia duduk di hadapanku sambil mendekap baki, seolah membuat tameng bagi payudaranya, melindungi dari tatapan mesumku.

Ibu Ningnung sangat ramah, dan ramai, suaranya renyah. Ia seperti tidak sedang berhadapan dengan orang baru. Aku pun tidak perlu sungkan lagi, dan cepat bisa menyesuaikan diri. Sambil menikmati hidangan yang ia suguhkan, dan juga suguhan kemolekannya pada mataku, kami pun saling ngobrol ringan untuk mengakrabkan diri. Ia banyak bercerita tentang rumah ini, dan kesedihannya karena ia harus meninggalkannya.

Ya. Bu Ningnung adalah pewaris rumah ini, dan ia terpaksa melepasnya karena desakan ekonomi. Akulah, melalui Tante Puki, yang beruntung mendapatkan dan membelinya. Mendapatkan rumah ini adalah keharusan bagiku, daripada tetap berada di tangan orang lain, karena begitu bersejarah bagi keluarga besarku. Keluarga? Memang aku punya? Ah.. yasudahlah!

Setelah sekitar setengah jam bercengkerama, Bu Ningnung mengajakku berkeling rumah. Kami memasuki ruang tengah, yang adalah ruang keluarga, nampak ada tiga kamar di sini. Masuk lebih dalam lagi melewati dapur, menuju teras belakang.

Teras belakang rupanya lebih luas daripada teras depan. Ada beberapa tempat duduk dan juga tempat bekerja. Halamannya tak kalah luas, dengan dua buah pohon sawo besar yang berbuah lebat. Sekeliling halaman terdapat bangunan tanpa dinding, yang lebih mirip seperti gudang dan kurang terawat. Konon, pada zaman dulu bangunan itu adalah tempat membuat batik, dan sudah hampir tiga puluh tahun tidak dipakai lagi karena bangkrut.

“Yah beginilah…” ujar Bu Ningnung gamang. Ekepresi ramah dan gembiranya seketika hilang, berganti sedih yang aku sendiri tidak mengerti entah karena apa.

Sadar ada yang berubah, aku pun mengajak Bu Ningnung duduk di salah satu kursi kayu.

“Kalau ada apa-apa, Bu Ning tidak perlu sungkan. Ibu bisa menceritakannya kepada saya.” ujarku sambil memandangnya.

“Hiks.. hiks…”

“Bu?” aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa ketika ia mulai berlinang air mata.

“Kalau boleh, ibu minta waktu kepada Nak Kata agar ibu dan Yaning, anak ibu, bisa tetap tinggal di sini beberapa minggu depan lagi, sampai kami mendapatkan rumah baru.” ujarnya sambil mencoba menahan diri agar tidak segukan.

Aku cukup kaget mendengarnya, bukan karena ia meminta waktu untuk tetap tinggal bersamaku, melainkan karena ia belum mendapatkan rumah baru. Lalu uang pembayaranku atas rumah ini lari kemana?

“Saya sih tidak keberatan, Bu, tapi tolong jelaskan kenapa ibu berani menjual rumah ini sementara ibu belum mendapatkan tempat tinggal baru sampai sekarang?” heranku sambil melirik dada atasnya yang terkena tetesan air mata, lalu mengalir menuju lembah di antara dua gunungnya.

“Maafkan ibu, Nak Kata, jadi begini…”

Di sela isak tangisnya mengalirlah sebuah kisah tentang keluarganya. Ternyata selama ini ia hanya menempati rumah ini, sedangkan kepemilikan rumah sendiri masih menjadi sengketa di antara saudara-saudaranya. Keluarga besar akhirnya memutuskan untuk menjual rumah ini dan hasilnya di bagi rata. Karena mereka sepuluh bersaudara, maka Bu Ningnung hanya mendapat bagiannya tidak seberapa, itu pun tidak mendapat penuh karena ada satu keluarga yang mengambil haknya, dengan alasan bahwa itu adalah uang sewa karena Bu Ningnunglah yang selama ini menempati rumah ini.

Rasa sedih dan marah pun mendesak di dalam dadaku. Bisa-bisanya ada keluarga yang seperti itu. Apa bedanya dengan pengalamanku sendiri yang selama ini terbuang? Kisahnya mengingatkanku pada pencarianku selama ini, pada orangtua yang sudah menelantarkanku. Bahkan aku tidak tahu siapa kakak dan adik kandungku.

“Kalau begitu aku tidak mengijinkan ibu…” kata-kataku terhenti karena rasa sedih, marah, dan kecewa.

“Hiks.. hiks… kalau begitu beri ibu waktu beberapa hari ini.. hiks.. hiks… untuk…”

“Eh bukan itu, Bu. Maksud saya… saya tidak mengijinkan ibu meninggalkan rumah ini. Ibu boleh tinggal di rumah ini sampai kapan pun ibu mau. Lagian saya juga hanya seorang diri, dan belum tentu juga saya akan tinggal selamanya di sini. Jadi ibu tidak perlu mencari tempat tinggal baru. Tetaplah di sini!”

“Nak.. hiiiksss.. Nak Kata serius?” air matanya kian berderai.

Aku mengangguk mantap sambil menatapnya. Tanpa diduga ia langsung berdiri dan memelukku erat dengan tubuh terguncang karena tangisnya yang sudah tak tertahan lagi. Aku lupa pada ganjalan kenyal payudaranya, pada tubuh montoknya, mesumku tiba-tiba hilang sesaat. Kubalas pelukannya sambil juga menitikan air mata.

Entah berapa lama kami seperti ini, dan entah bagaimana akhirnya pelukan ini terlepas. Namun air matanya sudah mulai mengering, dan ia kembali ke tempat duduknya. Aku tidak menghitung berapa kali ia mengucapkan ‘terima kasih’ padaku.

“Berapa ibu harus membayar uang sewa tiap…”

“Bu..” aku memotongnya, “Ibu tinggal saja di sini dan ibu simpan uang ibu untuk jaga-jaga ke depannya. Aku tidak memerlukan uang ibu, yang saya butuhkan adalah ibu dan anak ibu tidak telantar gara-gara rumah ini jatuh ke tanganku.”

“Tapi, Nak…”

“Tapi aku lapar, bu. Apakah ibu bisa masak untuk makan kita.”

“Hiks.. hiks.. Nak Kata ini…” ada tawa di balik linang air matanya.

“Yaudah, Nak Kata istirahat dulu, sementara ibu masak. Sebentar lagi juga Yaning akan pulang kuliah.” ujarnya sambil berdiri.

“Makasih, bu.”

Bu Ningnung mengantarku ke kamar yang terletak di salah satu sisi ruang tengah, dengan jendela tepat menghadap ke halaman belakang. Kurebahkan diriku di atas ranjang untuk melepaskan penat, baru sekarang aku merasa lelah dan tubuhku pegal-pegal. Dan aku pun terlelap.

Adalah ketukan pada pintu yang membuat aku terjaga. Kulihat keluar jendela, dan hari sudah gelap.

“Masuk.” jawabku tanpa bangkit dari kasur.

Pintu pun terbuka dan sosok Bu Ningung berdiri di ambang pintu. Kali ini penampilannya berbeda. Nampak segar pertanda sudah mandi, dan tidak berkebaya lagi, melainkan mengenakan daster rumahan.

“Duh maaf, Bu, saya ketiduran.” keluhku sambil bangkit dan duduk di tepi kasur.
“Iya gapapa, Nak, ibu ngerti. Nak Kata pasti capek sekali, jadi ibu baru berani bangunin sekarang. Mari.. Nak Sirna makan dulu.” undangnya dengan ramah dan penuh keibuan.

“Saya mandi dulu deh, bu. Eh ada siapa, bu?” saat mendengar percakapan di luar kamar.

Mendengar pertanyaanku, Bu Ningnung tidak menjawab, melainkan langsung masuk dan duduk di kursi samping jendela.

“Maaf, Nak, keponakan ibu datang tanpa bilang-bilang, dan ibu minta ijin agar Nak Kata memperbolehkannya menginap di sini selama dua malam.” ia berkata dengan nada sungkan.

“Oh yasudah atuh, gak apa-apa, Bu. Silakan saja. Ini kan rumah ibu juga, jadi siapapun anggota keluarga ibu boleh berkunjung ke sini.” ujarku sambil tersenyum agar Bu Ningnung tidak merasa tidak enak hati.

“Sekali lagi terima kasih, ya Nak.” dengan nada penuh haru.

“Ah ibu… dari tadi terima kasih.. terima kasih melulu.” aku mencoba bercanda.

“Habisnya… Nak Kata baik sekali. Yaudah sekarang mandi dulu, lalu makan, nanti kalau Nak Kata mau, ibu pijatin biar capeknya cepet hilang.” ujarnya sambil meninggalkan kamar.

“Mau bangeeeet!” tapi hanya dalam hati, yang terucap adalah, “Terima kasih, Bu.”

Kutanggalkan pakaianku dan melangkah ke dalam kamar mandi dengan keadaan bugil, inilah satu-satunya kamar dengan kamar mandi di dalam. Sadar akan sesuatu, aku segera kembali dan membongkar tasku untuk mengeluarkan handuk dan perlengkapan mandi.

Drrrttt… drrrtt…

Belum juga aku selesai mengambil handuk, tiba-tiba smartphoneku bergetar. Nampak panggilan dari Tante Puki.

“Hallo, Tante.”
“Kamu sudah nyampe, sayang? Kok gak ngabarin tante? Kenapa WA tante gak dibalas dari sore?”
“Hehe.. tadi aku nyampe jam tiga lebih dan langsung ketiduran, Tante, nih baru bangun.”
“Oh yaudah kalau kamu sudah nyampe dengan selamat. Ada yang mau tante sampaikan nih.”
“Apa itu, Tante?”

“Sayang, besok tante akan ke sana naik pesawat pagi ke Semarang, lalu akan diantar seorang kenalan ke sana. Temui Tante di hotel Cemerlang.”
“Loh kok mendadak gini, Tante, ada sesuatu yang penting kah?”
“Penting banget!”
“Apa itu, Tante?”
“Tante Kangen! Dan…”
“…” menunggu lanjutannya.
“Kamu harus menjadi milik Tante. Tante tidak ingin keperjakaanmu kamu berikan bagi orang lain, itu milik tante. Tante tidak yakin kamu bisa menjaganya, makanya tante mau ambil apa yang menjadi hak tante.”

Penisku melonjak girang…

“Hallo kok diam?”
“Eh iyah, Tante, ng.. nggak… aku senang aja Tante mau datang. Tapi menurutku Bu Ningnung dan anaknya tidak perlu tahu.”
“Ya kalau itu tante juga sudah tahu, makanya tante nginapnya di hotel. Kamu bisa, kan?”
“Siap, Tante.” sambil tanpa sadar mengusap batang penisku yang tiba-tiba tegang.

Aku cukup senang mendengar bahwa Tante Puki akan datang, sekaligus juga grogi karena akan lepas perjaka. Aku rela.. aku ikhlas… sudah lama aku menginginkannya. Menjadikannya janda dan menjadi suaminya pun aku mau.

Kami pun melanjutkan obrolan dan ia banyak bertanya tentang perjalananku. Sekali-kali ia menggodaku dengan suara mesra dan menggoda. Penisku pun semakin tegang membayangkan tubuh tanteku yang satu ini.

Cekleeek!!!

“Hiyaaaa… mesuuum…!!!” teriak seorang gadis.

“Kamu?!!! Kamu kok ada di sini?” saking kaget dan heran karena kehadiran Ariska, aku sampai lupa menjauhkan tangan ini dari batang penisku.



Bersambung.
 
Last edited:

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
ijin mojok disini @Mamang Senja
Belum sempat baca ..
Aturan dr Momod
Komen dulu, baca nanti diperbolehkan.

Trims suhu @Mamang Senja
Tongkrong Ya dulu ach.. ada @Mamang Senja
Makasih ya Mang Akhirnya di Bawa Kemari Juga
yes masih kebagian slot page 1
Ikutan nampang di vegiwan ya mang..
Wah para sohib pada mampir... welcome to angkringan suwir ya sob semua.
 

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
- III -




Haiiish!!!

Segera kulempar smartphone ke atas kasur, dan kuraih handuk untuk menutupi dada dan bagian atas tubuhku. Shit… aku tidak punya payudara, maka kuturunkan handuk dan kututupkan pada penisku. Tonjolannya perlahan menghilang seiring layunya ‘si kentang’ karena kaget dan panik melihat kehadiran Ariska yang tiba-tiba ada di dalam rumah ini dan muncul di kamarku.

“Ka.. kamu?!” gugupku sambil berusaha melilitkan handuk.

Ariska hanya terbelalak dengan mata melotot, mulutnya yang menganga segera ia tutup dengan telapak tangan. Untung bukan oleh Laurier bersayap.

“Dasar manusia mesum!!” ketusnya setelah ia bisa menguasai diri.

“Eh.. aku.. aku…” aku masih tergagap.

“Menjijikan!!!”

Braaaak!!!

Setelah membentakku ia langsung berjingkat dan membanting pintu kamar.

“Heiii…!!! Ini rumah dan kamarku!!!” spontan aku teriak.

Tidak ada jawaban dari luar, selain suara berisik Bu Ningnung dan seorang perempuan lain, mungkin Yaning anaknya.

Aku menghela nafas panjang beberapa kali. Kaget, malu, bingung, kesal… bercampur menjadi satu. Kenapa Ariska ada di sini, apakah ia memang benar sedang membuntutiku?

Aku melangkah menuju kamar mandi dengan gontai dan membersihkan diri. Badan ini terasa lengket setelah hampir 24 jam tidak terkena air. Meski begitu aku bukan cewek, mandiku tidak perlu lama. Cukup tiga gayung air untuk membasahi tubuh, menyabuni seluruh kulit dan kuguyur lagi dengan lima gayung air. Selesai.

Setelah berganti pakaian aku pun keluar kamar, hanya terlihat Bu Ningnung dan seorang gadis manis yang ada di ruang makan; sedangkan Ariska tidak terlihat.

“Selamat malam, Bu… hai kamu Yaning yah…?” sapaku sambil mendekati gadis yang nampak sedang terpana, melihatku tanpa berkedip. Cukup dimaklumi secara aku memang ganteng.

“Malam, Nak Kata. Ning… hei… kok malah bengong? Ini kenalin Nak Kata, pemilik baru rumah kita?” ujar Bu Ningnung sambil mencolek lengan gadis di sampingnya.

“Eh iyah.. hmmm… euuuu… hallo Mas, eh Kak.. eh kalau di Bandung Aa yah? Atau Akang?”

“Yaning?!! Yang sopan kamu!”

Aku hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Bu Ningnung pada gadis ini, sekaligus geli melihat sikap si gadis yang nampak begitu lucu. Penampilannya agak tomboy, tapi wajahnya imut lucu. Lugu-lugu bikin nafsu..!

“Hehehe.. Hei.. aku Rakata. Gimana enaknya aja, mau manggil apa juga boleh.” sambil mengulurkan tangan.

“Masa manggil ‘apa’ sih, mas?” ia nampak bercanda garing, tapi tetap membuatku tertawa. “Aku Yaning, Mas, udah itu ajah, tidak ada kepanjangannya, ibu pelit ngasih aku nama. Hihi…”

“Yaning!!!” Bu Ningnung menghardik, tapi tak diacuhkan.

Dan telapak tangan kami pun bersentuhan, kulitnya tidak halus pertanda ia pekerja keras, namun tetap saja itu adalah tangan perempuan yang selalu memberi sensasi berbeda. Kugenggam erat, eh dia malah membalas tak kalah erat. Sorot mata kami beradu, ia mencoba bertahan, tapi akhirnya menunduk kalah pamor. Meski begitu ia tidak berusaha menarik tangannya kembali.

“Eheeem..!!!” sebuah deheman yang dibuat-buat terdengar, cukup keras dan ketus.

Aku melirik ke arah datangnya suara sambil melepaskan jabatan tangan. Ariska muncul dari arah belakang sambil membawa brownies kukus, nampaknya oleh-oleh dari Bandung untuk bude dan sepupunya.

“Hai, Ris.” sapaku sambil duduk.

Yaning tiba-tiba pindah duduk ke sampingku, dan memberikan tempat duduknya bagi Ariska, ia tak sungkan mengamati tampang kerenku.

“Hmmm!!” hanya gumaman ketus yang kudengar.

“Ayo duduk, Ris, kita makan. Kok bisa sih kalian sudah saling kenal?” tiba-tiba Bu Ningnung menyahut, seperti hendak mencairkan suasana.

“Kenal di jalan aja sih, Bude. Males sebenarnya kenal manusia mesum seperti dia. Jijik aku.” ketus Ariska. Bu Ningnung sudah mau menegur sikap tidak ramah keponakannya, tapi kalah cepat oleh Ariska, “Ini oleh-oleh dari Bandung, Bude, kemarin mamah yang beliin.”

“Gak modal, bawa brownies aja dari mamahnya, bukan beli sendiri.” maksud hati ingin membatin, tapi eh malah terucap.

“Apaaa?!!!”

“Risss..!!!” Bu Ningnung tidak enak hati.

“Kakaaakkk!!” Yaning ikut tidak suka atas sikap tidak ramahnya padaku.

“Sudah.. sudah.. ayo kita makan. Makasih, ya Ris, malah ngerepotin segala.” ujar Bu Ningnung, “Ayo Nak Kata kita makan.”

“Ayo, Mas.” Yaning sigap mengambil piringku dan mengisi dengan nasi.

“Gak usah diambilin, Ning, dia bisa sendiri kok. Hati-hati kamu, jangan sampai jadi korban mesumnya.” Riska mencegah.

“Riiisss.. sudahlah.. lagian salah kamu sendiri masuk kamar Nak Kata tanpa ngetuk dulu.” Bu Ningnung mengingatkan.

“Iya.. Kakak apaan sih?!” tambah Yaning sambil meletakan piring berisi nasi di hadapanku. “Ayo Mas, mangutnya aku yang masak loh, makan yang banyak yah.”

Aku hanya bisa nyengir kuda berada dalam suasana seperti ini. Bu Ningnung sangat baik dan ramah, cantik pula. Ariska kebalikannya, sangat galak dan judes, meski juga cantik. Sedangkan Yaning berada di antara kedua sifat itu, dan tidak terlalu cantik, tapi bodynya montok menggoda.

“Jadi.. Ariska ini adalah keponakan ibu yang tadi ibu ceritakan ke Nak Kata, dan Yaning ini adalah putri tunggal ibu.” ujar Bu Ningnung untuk mencairkan suasana makan yang terasa kaku.

“Iya, Bu, saya paha… mmm…” ujarku sambil mengunyah.

“Tuh kaan.. mesum…!!!” ada yang melotot di seberang meja.

“Hihi.. Mas Kata lucuuu…” Yaning tertawa.

Bu Ningnung akhirnya hanya bisa kembali terdiam sambil menyembunyikan senyum, sedangkan aku hanya terkekeh sehingga ada satu biji nasi yang muncrat, segera kucomot dan kumasukkan kembali ke dalam mulut.

Yaning semakin tertawa, Bu Ningnung sudah tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya, hanya Ariska yang cemberut seolah jijik.

Suasana obrolan sekitar meja makan hanya terjadi antara kami bertiga, minus Ariska. Ia hanya sekali-kali berbicara, itu pun hanya kepada bude dan sepupunya.

Aku tahu, Bu Ningnung nampak tidak enak hati, tapi aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya bercanda, atau dengan menanggapi celotehan Yaning. Anehnya, Ariska nampak semakin tidak suka ketika aku bisa cepat akrab dengan gadis di sampingku ini.

Seusai makan aku pindah duduk ke serambi belakang ditemani oleh Bu Ningnung, sedangkan Ariska dan Yaning membereskan meja makan dan mencuci piring.

“Maafkan keponakan ibu, ya nak.” ujarnya sambil menurunkan ujung dasternya, sepertinya ia sadar kalau bagian itu sering kulirik.

“Gak apa-apa, Bu, ini hanya salah paham aja.” aku menjawab sambil mencelupkan ujung rokok di antara bibir.

“Ada apa, Bu?” tanyaku ketika menyadari bahwa raut wajah Bu Ningnung berubah sedih dan bingung.

Bukannya menjawab, ia malah menunduk sambil meremas-remas tangannya sendiri, beberapa detik aku bisa lebih leluasa mengamati betisnya yang mulus dan berbulu halus.

“Ibu tidak perlu sungkan, kalau ada apa-apa ibu bilang saja ke saya.” sambungku sambil cepat membuang muka ketika kulihat ia mengangkat wajah melihat ke arahku.

“Sebelumnya ibu minta maaf. Sebetulnya kedatangan Ariska ke sini adalah untuk membicarakan masalah rumah.” ujarnya pelan.

Bu Ningnung pun menyampaikan bahwa Ariska adalah keponakannya dari kakak yang paling tua. Ia adalah satu-satunya anggota keluarga yang tidak mau menjual rumah ini, bahkan orangtuanya sendiri pun ia lawan. Alasannya, karena Ariska pernah menghabiskan masa kecilnya di rumah ini dan tidak ingin keluarga besar menjualnya. Tapi ia kalah suara, dan akhirnya rumah ini keburu dibeli oleh Tante Puki (tentu saja atas namaku).

Aku mengangguk paham sambil mematikan rokok pada asbak batok kelapa. Aku bisa memahami gejolak perasaan Bu Ningnung, aku juga bisa mengerti jika Ariska ingin mempertahankan rumah ini, tapi aku lebih menginginkannya. Rumah inilah yang akan menjadi titik awal pencarianku, dan semoga menjadi petunjuk akan identitasku yang sesungguhnya. Dan aku sama sekali tidak takut karena rumah ini sudah kubeli dan sertifikatnya sudah balik nama.

“Sebetulnya, alasan Ariska juga karena ia tidak ingin ibu dan Yaning terlantar mengingat kami belum menemukan tempat tinggal baru yang cocok. Ia itu sangat dekat dengan ibu. Ia sudah menganggap ibu seperti mamahnya sendiri, ia juga sangat dekat dengan Yaning dibanding dengan para sepupunya yang lain. Makanya ia langsung datang ke sini ketika mendengar bahwa pembeli rumah ini akan datang dan akan mulai menempatinya.” jelas Bu Ningnung lagi.

“Aku mengerti, Bu. Sudah yah.. ibu tidak perlu takut atau merasa tidak enak hati, nanti kita bicarakan baik-baik dengan Ariska. Toh saya aku juga tidak akan menelantarkan ibu dan Yaning. Ibu akan aku anggap sebagai keluarga sendiri, dan saya malah sudah berpikir untuk menghidupkan kembali usaha batik yang sudah puluhan tahun terhenti. Kita rintis lagi dari awal.” ujarku sambil menatapnya, dan kulihat senyumnya mengembang, sangat memesona bagi jiwa kelelakianku.

“Makasih banyak, ya Nak. Ibu tidak tahu harus bilang apa lagi, Nak Kata sangat baik…” namun ucapannya terputus ketika Ariska dan Yaning muncul dari arah dapur.

“Serius amat?” ujar Yaning sambil duduk di sampingku. Sedangkan Ariska hanya diam dan duduk di samping Bu Ningnung.

“Heheh.. nggak kok, Ning.” ujarku sambil sengaja memindahkan tanganku agak ke samping agar sekali-kali bisa bersentuhan dengan kulit lengan gadis itu.

“Bude, besok aku pindah tidur di hotel yah.” ujar Ariska tiba-tiba.
“Looh kok gitu? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Sudahlah tidur aja di rumah, kan Bude juga masih kangen. Kasihan tuh Yaning..” heran Bu Ningnung.
“Males aku tinggal serumah ama orang mesum!” ia menyampaikan alasannya dengan ketus.

Teteeep. Ia masih menganggapku mesum dan seperti jijik padaku, belum tahu saja dia enaknya dimesumin. Bu Ningnung langsung menasihati keponakannya, sedangkan aku hanya tersenyum sambil bergantian mengamati keunikan atas kecantikan tiga wanita yang ada di sekitarku. Ketiganya jelas berbeda, namun memiliki keunikan dan daya tarik seksual masing-masing.

Ariska sendiri memilik sifat yang aneh menurutku, mood dan sikapnya bisa berubah-ubah dengan cepat. Ia bisa baik, bisa nyambung, tapi bisa juga galak dan judes dengan cepat. Tapi aku malah suka melihat judesnya, membuatnya kelihatan semakin cantik. Dan rupanya cap mesum yang ia tanamkan padaku membuatnya begitu antipati, dan bahkan kesamaan hobby membaca novel pun tidak cukup untuk membuatnya mau dekat denganku.

“Pokoknya Bude ingin kamu tetap tinggal di sini. Nak Kata juga tidak keberatan kok!” tegas Bu Ningnung dan diamini oleh Yaning.

Ariska mau protes, tapi urung ketika melihat tatapan tajam Bu Ningnung. Ia hanya menghela nafas panjang sambil menatapku dengan sorot mata yang penuh kebencian.

“Iya Ris, kamu nginap aja di…”

“Diam kamu!” sahutanku terputus oleh hardikan gadis itu.

Fiuuuh..!!! Sabar-sabar… Aku mencoba tetap tenang dan tersenyum.

“Dengar yah… eh ya udah deh… sekalian kita ngumpul.. aku mau bicara serius, sekaligus biar kamu tahu tujuanku datang ke kota ini.” ia masih ngegas.

“Ris, kita bicarakan baik-baik yah.. tidak usah sambil marah-marah bicaranya.” Bu Ningnung sudah mati akal menghadapi keras kepala keponakannya yang satu ini.

“Udah Bu, biarin aja Riska bicara. Moodnya memang lagi jelek, biasa lagi dapet tamu bulanan, soalnya di kereta dia sempat pamit untuk mencari tempat duduk, padahal aslinya mau ke toilet ganti pembalut.” lama-lama aku kesal juga melihat tingkah gadis ini, sekalian saja aku kerjain biar meledak semua amarahnya dan akhirnya capek sendiri.

“Kamuuu..!!” benar saja ia melotot dan mau menunjuk wajahku tapi keburu ditahan oleh Bu Ningnung.

“Cadangannya masih ada gak, Kak? Kalau kurang aku masih punya persediaan kok di kamar.” Yaning gagal fokus dengan polosnya.

Mendengarnya, mau tidak mau aku pun tertawa dengan puas. Bu Ningnung menggelengkan kepala tanpa bisa berkata-kata, wajah Ariska merah padam karena amarah, sedangkan Yaning celingukan tidak mengerti.

“Dengar yah.. aku datang ke sini itu bukan tanpa alasan. Aku ke sini untuk membatalkan jual-beli rumah ini. Aku tidak mau rumah ini dijual, apalagi setelah tahu bahwa pembelinya adalah kamu, bisa-bisa malah dijadikan rumah mesum!”

Buset tuh mulut. Ingin rasanya aku menghardik balik, tapi aku tidak mau buang-buang energi, pikiranku masih lelah karena rindu pada orang-orangku di Bandung dan badanku masih terasa pegal karena sisa perjalanan.

“Lalu?” singkatku dengan suara tenang.

“Ya aku mau membatalkan transaksi atas rumah ini.” tegasnya.
“Ya tidak bisa begitu, rumah ini sudah aku beli, dan sertifikatnya juga sudah dibalik nama di hadapan notaris.”
“Pokoknya aku mau beli kembali!”
“Caranya? Kalau aku tidak mau menjualnya gimana?”

Sebetulnya kata-kataku cukup provokatif meski disampaikan dengan tenang dan tanpa nada marah. Ariska tahu itu.. sikapku malah membuat ia semakin terlihat penuh emosi, keanggunannya sudah sama sekali hilang.

“Sudahlah, Ris, jangan kamu mempermasalahkan rumah ini lagi. Toh keluarga kita sudah memutuskan untuk menjualnya. Untuk apa kita mengungkitnya kembali? Nanti malah makin panjang urusannya, bukan hanya dengan Nak Kata, tapi juga dengan keluarga besar kita.” Bu Ningnung menenangkan keponakannya.

“Tapi aku tidak mau menjualnya, Bude, aku tidak suka keluarga kita sendiri membuat hidup Bude dan Yaning menjadi seperti ini. Mereka seolah menganggap Bude adalah orang lain.” tegas Riska.

Di balik sikap galak dan juteknya, ia memiliki tujuan baik, yaitu membela dan melindungi Budenya ini. Mungkin kalau pemilik baru rumah ini bukan aku, sikapnya tidak akan menjadi searogan ini.

“Sudah.. tidak usah diungkit lagi. Rambut di kepala kita saja tidak lurus semua.” Bu Ningnung tidak ingin masalah keluarganya diungkit kembali di hadapanku.

“Jembut juga tidak keriting semua, Bu.” batinku.

“Iya, Bude. Tapi kalau rumah ini dijual, Bude dan Yaning mau tinggal di mana?” tangkasnya.

“Tadi sore ibu sudah bicara dengan Nak Kata, dan ibu bersama Yaning masih diperbolehkan tinggal di sini. Nak Kata malah mendesak ibu supaya tetap tinggal agar bisa menemaninya sekaligus membantu merawat rumah ini.” jelas Bu Ningnung lagi.

“Ha?!! Nggak!! Pokoknya Bude dan Yaning gak boleh tinggal ama orang mesum ini. Kalau pun ia tidak mau menjual kembali rumah ini, biar aku sendiri yang akan mencarikan rumah buat Bude.” dengan mata terbelalak.

“Tidak semudah itu, sayang. Lagian apa salahnya kalau bude tetap di sini, anggap saja agar bisa tetap merawat rumah kesayanganmu ini, rumah yang begitu bersejarah bagi keluarga kita.” Bu Ningnung masih berusaha meyakinkan.

“Iya, Kak. Lagian aku juga sangat betah tinggal di rumah ini kok. Mas Kata juga baik orangnya, nggak.. enggak…” Yaning sungkan melanjutkan ucapannya.

“Mesum!” sambungku.

“Nah, itu hihi…”

“Niiing! Kok kamu malah belain dia sih? Aku kan ke sini untuk melindungi kamu juga.” Ariska kesal.

“Begini… sekarang semuanya dengerin bude.” Bu Ningnung nampak kehilangan kesabaran. Giginya rekat dan kedua tangannya terkepal. Sikap arogan Ariska langsung berubah dan hanya terdiam, Yaning menunduk, sedangkan aku terpana, tidak menyangka bahwa wanita selembut Bu Ningnung bisa marah seperti itu.

“Bude ingin, agar tidak ada satu pun dari keluarga kita yang mengungkit kembali rumah ini. Bude sudah capek bertahun-tahun direcoki oleh saudara-saudara bude hanya karena rumah ini, dan sekarang setelah semuanya diam seiring terjualnya rumah, kamu malah mengungkitnya lagi….

“Bude sudah capek, Ris, capeek… Dan sekarang Bude ingin hidup tenang. Bude juga sudah memutuskan untuk menerima kebaikan Nak Kata dengan tetap tinggal di sini. Ia tidak akan menjadikan bude dan Yaning sebagai orang asing di sini, apalagi menganggap kami sebagai pembantu, melainkan menganggap kami sebagai anggota keluarganya… Apakah ada kakak-adik, keponakan, dan saudara-saudara bude yang lain yang begitu perhatian pada bude selain kamu sendiri, Ris? Lah ini Nak Kata yang baru kita kenal malah sudah menganggap bude sebagai anggota keluarganya? Hiiiks…”

Bu Ningnung menumpahkan semua unek-uneknya, dan namanya wanita, pelampiasan terbaik atas emosi yang menghimpit adalah dengan cara menangis. Ia terisak seolah mengabarkan rasa nyeri yang selama ini ia pendam. Ariska luluh dan ikut menangis, pun pula Yaning. Kini aku hanya bisa termenung menyaksikan peristiwa haru dan sedih tiga wanita di hadapanku. Ketiganya langsung saling berpelukan sambil berurai air mata.

Ah.. mungkin rasa sedih dan haru adalah obat mujarab bagi mesumku. Pikiran itu tidak ada lagi meskipun aku melihat cara duduk Bu Ningnung yang sembarangan sehingga pahanya kelihatan, melihat gelembungan pada pada pangkal paha Yaning yang mengenakan celana jeans pendek, juga melihat kulit mulus pinggang Ariska karena tepi kaosnya terangkat.

Dan kini… aku malah rindu sebuah tangisan. Tangis anggota keluargaku sendiri yang tak pernah kumiliki, satu-satunya anggota keluargaku yang ada saat ini hanyalah Tante Puki.

“Semuanya sudah jelas, dan tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.” singkatku. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kecamuk perasaan yang tidak menentu. Kuputuskan untuk meninggalkan mereka bertiga.

“Mas?” nampak Yaning mau mencegah.

Tapi aku menggeleng sambil tersenyum, memastikan bahwa aku baik-baik saja. Kuberi juga kode untuk tidak mengikutiku. Aku ingin memberi mereka waktu.. waktu untuk saling berbicara dari hati ke hati sebagai saudara, untuk saling mengungkapkan rasa yang mungkin selama ini saling mereka sembunyikan satu sama lain, untuk membahas urusan keluarga besar mereka yang tidak seharusnya aku ikut campur di dalamnya.

Aku pun keluar rumah dan menyusuri jalanan yang sudah lengang, sekedar untuk menenangkan diri dan melihat-lihat kehidupan malam di kota kecil ini.



*

*

*


Hampir tengah malam aku baru kembali ke rumah, namun aku urung membuka pintu pagar ketika melihat sebuah tulisan pada pintu rumah tetangga.

Drs. Cintung Icik Kiwir, BA., S.Col., S.Tel., S.tmj., S.Mes.
Lurah Desa Weton, Kecamatan Wetan, Kabupaten Kulon.

Aku tersenyum membacanya, hari gini masih ada saja pejabat yang bangga dan suka pamer dengan rentetan gelar akademisnya. Aku juga mencoba menebak gelarnya yang terakhir, namun sekeras apapun aku berpikir, aku tidak menemukannya.

“Apa Sarjana Mesum ya?” tanyaku dalam hati. Kalau memang demikian, berarti kemesumannya melampaui semua gelar yang lain.

Cepat atau lambat aku pasti harus menemui dan mengenalnya, sudah kewajibanku sebagai warga baru untuk melapor kepada pejabat setempat.

Aku pun membuka pintu pagar secara perlahan agar tidak mengganggu orang rumah yang mungkin sudah memasuki alam mimpi masing-masing; dan secara perlahan pula aku menutup dan menguncinya.

“Dari mana kamu?” aku urung memutar gagang pintu ketika pintu itu terbuka sendiri dari dalam dan sosok Ariska muncul.

“Abis jalan-jalan, kenapa?” heranku.

Kulihat sikapnya sedikit berbeda, lebih perhatian, meski tetap saja juteknya tetap dominan.

“Kamu nungguin aku, yah?” tanyaku.
“Nggak! Siapa kamu sampai aku harus nungguin kamu selarut begini?”
“Oh..!!”

Tak acuh aku masuk, niatku adalah langsung tidur. Aku sudah malas berurusan dengan gadis ini, daripada malah membuat keributan dan membangunkan yang lain.

“Hei! Mau ke mana?” ia mencegah.
“Mau tidur. Ngantuk.”
“Oh..!!”

Kali ini dia yang bergumam singkat. Tanpa peduli aku terus berjalan menuju kamarku.

“Eh?” aku heran ketika Ariska membuntutiku sampai ambang pintu.

“Aku mau ngomong.” ketusnya.
“Hmm.. berarti bener kan kalau kamu nungguin aku?”
“Kalau nggak, ya nggak!!”
“Ohhh…”

Aku berlagak mau menutup pintu kamar dari dalam.

“Iyah, aku nungguin. Puas?!” Ariska keki.

“Nah gitu donk. Apa susahnya sih ngaku?” aku masih bersikap cuek.

“Bisa gak kita ngobrolnya secara baik-baik?”
“Lah yang sejak tadi sore nyolot terus siapa?” aku menatapnya tajam.

“….”

“Lagian apa sih salahku, sampai segitunya kamu membenciku?” ujarku lagi sambil kali ini berdiri berhadapan dan menatapnya tajam.

“….”

“Yaudah… kamu mau ngomong apa?” kini malah aku yang bingung sendiri karena Ariska banyak diam.

“Gak jadi!” tiba-tiba Ariska berjingkat meninggalkanku sambil mengusap wajahnya sendiri seolah membersihkan sesuatu.

Kupret! Maunya nih cewek apa sih! Aku dibuat keki sendiri. Sambil mendengus kesal, aku pun masuk kamar dan menguncinya dari dalam.

Kuraih smartphone yang masih tergeletak di atas kasur sejak sebelum mandi tadi sore. Nampak ada puluhan notif yang masuk. Kurebahkan tubuhku sambil membuka tombol lock. Banyak pesan dan miscall dari Tante Puki, juga panggilan tak terjawab dari Ndul.

Hampir semua isinya menanyakan kabar dan keberadaanku, tidak ada sesuatu yang penting dan urgent. Kukirim pesan kepada Ndul, hanya contreng satu. Kutelpon Tante Puki, tidak aktif. Shhh.. sepertinya mereka sudah pada tidur. Waktu memang sudah menunjukan jam 00.27.

Aku memang merasa lelah, tapi ketika mencoba memejamkan mata, tetap saja tidak bisa tidur. Aku hanya gulang-guling di atas kasur. Kebiasaan… selalu susah tidur di tempat baru, apalagi baru hari pertama kedatanganku ke rumah ini sudah ada masalah yang langsung mengganggu pikiran.

“Tidur, Nzo, kamu harus menyiapkan banyak energi untuk besok.” aku menyemangati diri sendiri, mengingat besok sore aku harus menyambut Tante Puki. Tapi tetap saja aku tidak bisa tidur.

Haiiish… sepertinya aku butuh mood booster. Kuputuskan kembali keluar kamar untuk ngopi dan merokok di serambi belakang. Setelah menyeduh kopi hitam di dapur, aku pun melangkah menuju serambil belakang sambil menenteng mug batik berwarna hijau (berisi kopi) dan mengapit sebatang marlbor merah yang sudah kusulut.

“Hiks.. hiks…”

Belum juga aku duduk, tiba-tiba bulu kudukku merinding. Dari bawah pohon sawo terdengar suara tangis seorang perempuan. Rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Aku ingin lari dan kembali ke kamar, tapi di sisi lain aku juga penasaran pada sumbernya suara. Tak bisa mengambil keputusan, akhirnya aku pun hanya mematung.

Kupertajam pendengaranku, dan kufokuskan penglihatanku pada arah datangnya suara. Hanya gelap yang kusaksikan, sedangkan suara tangis itu semakin jelas terdengar. Cukup heran juga bahwa rumah ini ada “penghuninya” karena Bu Ningnung tidak pernah bercerita apapun.

Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan rasa takut. Kuhisap rokokku dan melangkah perlahan mendekati sumber suara. Jantungku berdegup kencang, dan penisku meringkuk ketakutan. Aku sudah bersiap membanjurkan kopi seandainya itu adalah suara kunti penghuni sawo.

Aku mengendap perlahan sambil menyesuaikan pandangan di tengah kegelapan karena lampunya dimatikan, dan suara tangis itu semakin jelas terdengar. Jantungku makin dag dig dug der daiyaa…

Kreeek!! Tanpa sengaja aku menginjak ranting kecil, membuat suara itu berhenti. Aku menahan nafas sambil waspada. Kutajamkan pula pendengaranku.

Kreeek!! Kali ini suara itu muncul dari arah suara tangisan tadi.

Awalnya aku sudah mau mendekat ke arah datangnya suara, tapi urung ketika menyadari kebodohanku sendiri. Segera kubuang puntung rokok dan kukeluarkan smartphone untuk menyalakan senter.

Byaaar… gelap gulita berganti terang. Nampak sosok Ariska ada di sana, ia sedang berjingkat seperti mau sembunyi, tapi urung ketika aku keburu menyalakan senter.

“Ngapain kamu di sini?” tanyaku.
“Nggak ngapa-ngapain!”
“Lalu kenapa gelap-gelapan?”
“Karena gak ada lampu?”
“Terus kenapa nangis?”
“Siapa yang nangis?”
“Kamu!”
“Nggak yah!!!”
“Bohong kamu.”
“Ooooh!”

Aku hanya melongo ketika dengan cueknya gadis itu melintas di hadapanku, dan melangkah menuju ke arah serambi. Aku tidak salah, ada sembab di matanya, jadi tadi itu adalah suara tangisannya, bukan suara kunti.

Aku pun membuntuntunya. Ariska duduk di undakan serambi sambil memeluk lutut dan membuang muka untuk menghindari beradu sorot mata denganku. Kuputuskan untuk duduk di kursi jati, tak jauh dari tempatnya duduk.

Kuseruput kopiku dan meletakan mug-nya di atas meja, kusulut batang kedua rokokku sambil menerawang melihat ke arah kegelapan pohon sawo.

Ingin aku bercakap-cakap dengan Ariska, tapi sikap judes dan ketusnya membuatku lebih memilih diam. Dan kami pun hanyut dalam pikiran masing-masing.

Tik tok tik tok.

“Aku tahu kamu penakut, tapi kamu punya akal menghadapinya. Siapa kamu? Kenapa mirip dia?” ia nampak bosan hanya saling berdiam diri.

“Heh? Dia siapa?” mendengar suaranya yang pelan dan tidak ngegas, aku pun menanggapi dan menatap punggungnya.

“Kenapa sosokmu mengingatkan aku pada dia?”

“Siapa?”

“Kenapa aku harus bertemu kamu di NeNeN Cafe.. di kereta.. dan akhirnya di sini?”

“Heh?”

“Kenapa aku harus berurusan dengan kamu?”

“Aku tidak mengerti kamu sedang ngomong apa.”

“Kenapa kamu itu menyebalkan?”

“Aku?”

“Kenapa sejak melihatmu pertama kali aku sudah antipati dengan caramu melihat perempuan, aku ingin membencimu, tapi susah sekali untuk bisa membeci kamu?”

“Ris?”

“Kenapa kamu mesum? Waktu ngeliat aku pertama kali di cafe.. di kereta… bahkan tadi aku memergokimu sedang phone sex.”

“Heh? Kamu jangan nuduh…”

“Siapa kamu? Kenapa aku harus berurusan denganmu? Kenapa kamu memilih pindah ke kota ini, dan kenapa kamu membeli rumah kami?”

“….”

Aku capek menanggapi. Apapun jawabanku selalu tidak ia tanggapi dan ucapannya hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya bukan ditujukan padaku, tapi pada dirinya sendiri.

Kuseruput kopiku kembali, pandanganku beralih pada Ariska yang sudah berdiri dan pindah duduk pada kursi di hadapanku.

Kupandang wajahnya, tapi ia tidak membalas, melainkan lebih memilih tengadah menatap atap. Nafas panjang ia hembuskan beberapa kali.

“Kenapa kamu membeli rumah ini dan pindah ke sini?” tanyanya lagi dengan tetap tanpa melihat ke arahku.

“….”

“Kenapa?”

“….”

“Jawab!!”

“Eh.. kirain tidak harus dijawab, habisnya dari tadi kamu hanya nanya-nanya melulu dan seperti tidak butuh jawabanku.”

“Jawabannya?” kali ini ia menatapku, sorot matanya lebih menunjukan ekspresi sedih dan sendu, daripada rasa ingin tahu dan penasaran.

“Kenapa kamu keukeuh ingin mempertahankan dan membeli kembali rumah ini?” aku tidak menjawab, melainkan balik bertanya.

Ariska diam dan menunduk.

“Apakah benar karena kamu tidak ingin Bu Ningnung dan Yaning terlantar? Hanya karena itu?”

Ariska membalas tatapanku dan menggeleng lemah. Lama aku menunggu sampai akhirnya ia berujar, “Itu benar, dan tadi Bude udah cerita kalau kamu memperbolehkan beliau tinggal di sini. Makasih ya, aku sangat berterima kasih padamu. Bukan aku tidak mampu untuk mencari rumah baru bagi mereka, tapi rumah ini sangat penting bagi keluarga kami.”

“Sangat penting juga bagiku.” dalam hati. Kutatap Ariska yang kali ini menampakan sisi kelembutannya sebagai seorang gadis. Ucapannya terdengar tulus. Kucoba menebak isi hatinya yang sesungguhnya dengan melihat (buah) dadanya, dan ia sigap menutupi dengan selendang kain.

“Tapi…”

Aku urung berujar ketika Ariska melanjutkan kata-katanya.

“Alasan lain yang membuat aku kecewa rumah ini dijual adalah…”

Tik tok tik tok.

“… karena rumah ini sangat berarti bagi… bagi… hiiiks… Enzo!”

Andai saja ini adalah cerita di TV mungkin aku sudah terbatuk, tapi tidak dalam ceritaku kali ini. Aku lebih memilih menebak ukuran bra nya daripada terbatuk karena kaget. Eh.. aku sedih loh mendengarnya. Hatiku terasa diremas dan sakit.

“Enzo.. siapa dia?”

“Dia adalah sahabat terbaikku ketika masa kecil dulu. Sejatinya rumah ini adalah rumah keluarganya, dan kami sering bermain bersama di bawah pohon sawo itu. Ia sangat mencintai rumah ini.. ia suka tinggal di sini.”

“.…”

“Sampai akhirnya, entah bagaimana, almarhum kakekku membeli rumah ini. Orangtuanya pergi pindah ke kota lain. Sedangkan Enzo.. aku tidak mengerti… ia tidak ikut.. melainkan malah dijemput kerabatnya dan pindah ke Bandung.”

“….”

“Usiaku masih tujuh tahun ketika ia pergi. Dan aku masih ingat… sangat ingat… Enzo menangis karena harus pergi dari rumah ini. Bahkan beberapa malam sebelum kepergiannya, ia sering menyendiri dan menangis di bawah pohon sawo itu.”

“Dan.. hiks… ia pergi di suatu malam tanpa pamit padaku. Hiiiks…”

Aku hanya diam sediam-diamnya, bahkan rokokku sampai mati sendiri tanpa kuhisap, kopiku dingin sendiri tanpa kumasukan ke dalam kulkas.

“Aku selalu menunggunya, tapi ia tidak pulang. Ketika aku dewasa, aku selalu mencarinya, tapi tidak kutemukan.” ujarnya lagi sambil mengusap air matanya.

“Kini yang ingin kulakukan adalah menjaga rumah ini untuknya, tapi itu pun aku tidak bisa.”

Ingin aku menitikan air mata mendengarnya. Tapi kutahan sedemikian rupa, kuhabiskan kopiku yang sudah dingin itu. Ada rasa sedih dan haru mendengarnya, aku ingin mengaku bahwa akulah pemuda itu dan menghambur memeluknya. Tapi ada rasa lain yang membelenggu, yaitu amarah karena kakeknya telah membeli rumah ini dan mengusir orangtuaku. Ada juga amarah karena ayah dan ibuku tidak membawaku ikut serta kala itu, melainkan meninggalkanku begitu saja, sehingga orangtua Tante Pukilah yang menjemputku, merawatku, dan membesarkanku.

“Maaf.” gumamku lebih ditujukan pada diri sendiri. “Lalu kenapa waktu ketemu di NeNeN kamu menyangka bahwa aku adalah Enzo?”

Ariska menghembuskan nafas panjang dan menatapku sendu, “Sulit kukatakan. Tapi akhirnya aku yakin bahwa kamu bukanlah dia, Enzo tidak mesum.”

“Tadi katanya mesumku mirip dia?”

“Eh iya sih.. tapi.. tapi… ah gak tahu deh.”

“….”

“Makasih, Ka.” suaranya terdengar sungguh-sungguh dan tulus.

“Untuk?”

“Kamu telah mengijinkan bude dan Yaning tetap tinggal di sini. Kelak kalau seandainya kamu ingin melepas kembali rumah ini, tolong beritahu aku, apapun yang terjadi… berapapun harga yang kamu minta… aku akan sekuat tenaga membelinya. Demi Enzo!”

Fix.. sekarang aku benar-benar menangis, meski tanpa air mata. Aku terisak dalam diamku, dalam gejolak perasaan yang paling dalam.

“Aku janji. Aku akan selalu ingat itu, dan aku akan merawat rumah ini demi kamu dan Enzomu.” suaraku sedikit bergetar dan terbata.

“Dan satu lagi…” sorot mata Ariska kembali tajam.

“Jangan mesumi Bude dan Yaning. Awas kamu!!!”

Aku hanya mengangguk pelan tanpa berani melawan tatapan matanya. “Kalau yang ini berat, Ris. Keduanya sangat menggoda. Eh.. kamu juga menggoda sih.”

“Besok kamu kosong gak?” tanyanya lagi.

“Hmm.. nggak juga sih. Pagi mau ketemu ketua RT dan lapor, sekalian ketemu Pak Kades juga, tadi kulihat kalau rumahnya ternyata bertetanggaan. Sore aku ada acara juga, aku mau…”

Aku sedikit ragu.

“Oh gak apa-apa kalau kamu ada acara, tadinya aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Emangnya sore mau ke mana?”

“Pacarku mau datang, dan kami mau jalan.”

“Oh.”

Ariska langsung berdiri dengan ekspresi yang sulit kugambarkan. Ujarnya ketus dan datar, “Malam, Ka, aku tidur duluan ya!”

“….” selain anggukan kecil.



Bersambung…
 

RSP27

JURAGAN SUWIR
Thread Starter
Joined
Oct 1, 2019
Messages
450
Reaction score
4,451
Points
93
- IV -



Aku keluar kamar dalam keadaan segar, setelah sebelumnya mandi terlebih dahulu. Waktu sudah menunjukan jam sepuluh pagi, dan sepertinya tak seorang pun yang berani membangunkanku.

“Pagi, Bu.” sapaku kepada wanita jelita yang sedang menyeduh kopi. Ia sudah mengenakan pakaian khasnya berupa kain jarik dan kebaya.

“Pagi, Nak, maaf ibu tidak berani membangunkanmu, sepertinya capek sekali. Memang semalam pulang jam berapa?” sapanya begitu ramah.

“Hehe.. pulang sih sekitar jam satu, Bu, tapi lanjut ngobrol dengan Riska.” aku menjawab sambil celingukan mencari keberadaan gadis itu; bahkan Yaning pun tidak nampak batang pahanya.

“Yaning udah berangkat kuliah, tadi dianter Riska. Riska katanya mau sekalian ketemu teman masa kecilnya.” Bu Ningnung mengerti apa yang sedang kucari.

“Yaudah ibu sekalian seduhin kopi buat Nak Kata, kebetulan di belakang ada Pak Lurah Cintung.” ujarnya lagi.

“Oh ada Pak Lurah toh, padahal rencananya aku mau sowan siang ini. Kebetulan kalau begitu.” ujarku sambil melirik tonjolan sekal payudara Bu Ningnung, lalu melangkah menuju serambi belakang.

“Salkum, Pak Lurah.” sapaku sopan pada pria yang sedang duduk membelakangi arah kedatanganku. Seorang pria setengah tambun dengan rambut hanya lebat di bagian belakang.

“Kumsalam.” pria itu menjawab salamku dan menengok.

Aku mendekatinya sambil mengamati perawakan pria itu. Ia hanya mengenakan kaos dalam ketat sehingga perut buncitnya nampak membulat, sedangkan bawahannya hanya mengenakan sarung kotak-kotak yang sudah agak lusuh. Kuulurkan tanganku untuk menyalaminya, tangannya terasa kasar dan kapalan.

“Kamu pasti Kata.” ujarnya.
“Betul, Pak Lurah, saya baru datang kemarin sore, maaf belum sempat berkunjung ke rumah Pak Lurah.” jawabku sambil duduk berhadapan.

“Nama lengkapmu siapa?”
“Rakata, Pak Lurah.”
“Oh nama yang bagus. Saya Drs. Cintung Icik Kiwir, BA., S.Col., S.Tel., S.tmj., S.Mes., lurah di sini selama 17 tahun.” jawabnya bangga.

“Iya, Pak. Maaf saya panggilnya Pak Lurah saja, atau Pak Dokterandes?” sambil menahan senyum.

“Hahaha..” ia terbahak. Dan obrolan kami terhenti ketika Bu Ningnung datang membawa dua cangkir kopi.

Kompak kami sama-sama melirik ke arahnya, dan mengamati goyangan payudaranya yang nampak terbungkus ketat di balik kebaya coklat yang Bu Ningnung kenakan. Kulihat jakun Lurah Cintung seperti naik turun.

“Aku punya saingan.” perasaanku memberi warning.

“Makasih, Bu.” ujarku sekedar untuk menyadarkan Lurah Cintung yang jelalatan.
“Kayak dengan siapa aja.” jawab Bu Ningnung sambil berlutut untuk meletakkan cangkir.

Kulihat Lurah Cintung tak bergeming, dan mata besarnya nampak semakin terbuka ketika belahan payudara Bu Ningnung terpampang.

Kulirik Lurah Cintung dengan kesal, dan aku semakin jengkel ketika sarungnya bergerak di bagian selangkangan, seperti ada yang mengacung di dalamnya. Kalau aku bukan pendatang baru, mungkin sudah kujepret ujungnya pake karet, atau kuelus-elus jidat licinnya pake swallow.

“Silakan diminum, Pak Lurah.” Bu Ningnung sadar akan mata jelalatan Pak Lurah, dan ia langsung berdiri.

“Nak Kata, silakan diminum. Ibu masuk dulu untuk nyiapin sarapan. Pak Lurah mau ikut sarapan sekalian?” ujarnya lagi sambil menangkupkan baki di atas dadanya.

“Iya, Bu.” singkatku sambil menyalakan marlbor.

“Eh itu.. anu.. apa itu.. saya sudah sarapan sih, tapi boleh deh sarapan lagi.” ingin kulempar jidatnya pake zippo begitu aku mendengar jawabannya. Tapi biar bagaimana pun dia adalah pejabat di sini dan aku harus bersikap sesopan mungkin.

Aku dan pak lurah sama-sama mengantar kepergian Bu Ningnung ke dalam rumah dengan mata yang sama-sama terpaku pada pinggulnya yang bergoyang di balik balutan ketat kain yang ia kenakan.

“Silakan diminum, Pak Lurah.” aku lebih dahulu bisa menguasai kemesuman.
“Eh.. anu… iyah, makasih.” jawabnya sambil mata mengerjap-ngerjap, mungkin untuk mengusir pikiran mesumnya.

Kami sama-sama menyeruput kopi, dan tanpa permisi Pak Lurah langsung menyatut rokokku.

“Gelar boleh banyak, tapi rokok aja gak modal.” batinku sambil menghisap rokokku sendiri.

Akhirnya aku dan Pak Lurah ngobrol santai untuk saling memperkenalkan diri. Kusampaikan tentang siapa aku dan tujuanku pindah ke kota ini, sedangkan ia begitu membanggakan jabatannya yang sudah belasan tahun menjadi lurah, dan juga rangkaian gelar yang ia dapatkan. Sebetulnya Lurah Cintung adalah orang yang ramah dan lucu, suka bercanda; bicaranya ceplas-ceplos mengarah ke saru. Tetapi sikapnya pada Bu Ningnung tadi membuatku ekstra hati-hati.

“Bapak sih sering nongkrong di mari untuk ngopi.” ia mengatakan sendiri tanpa harus kutanyakan. Fix.. ia datang bukan untuk ngopi tapi untuk memesumi yang membuatkan kopi. Apalagi ia hanya datang saat Bu Ningnung sedang seorang diri di rumah.

Tak lama kemudian, Bu Ningnung muncul kembali untuk mengundang kami sarapan. Aku sedikit bernafas lega ketika kali ini ia menutupi lehernya dengan selendang. Setidaknya Lurah Cintung bisa sadar diri pada umurnya untuk tidak mengambil jatah mesumku.

Kami bertiga pun beriringan menuju ruang makan. Belum juga kami duduk, terdengar suara pintu depan terbuka.

“Salkum. Bu.. Bu Ningnung..” terdengar suara cempreng terdengar dan tiba-tiba raut muka Pak Lurah berubah pucat.

“Iya, Bu. Mari masuk, Bu Kecup.” jawab Bu Ningnung.
“Suamiku ada di sini gak, Bu?”

Belum juga dijawab, sesosok wanita montok muncul di ambang pintu. Ia hanya mengenakan daster yang nampak basah seperti baru selesai mencuci atau menjemur pakaian. Tali BH hitamnya terlihat, dan payudara atasnya terpajang nyaris seperempatnya. Nampak kuning langsat dan seksi karena basah.

Bibir merahnya langsung berubah datar dan matanya melotot ketika melihat Lurah Cintung berada bersama kami.

“Oalaaah.. ngapain toh, Pak, ada di sini? Apa jatah di rumah masih kurang?” hardiknya.

Kulihat Bu Ningnung hanya senyam-senyum, Lurah Cintung gelagapan, sedangkan aku fokus pada pahanya. Wanita itu nampak mengangkat ujung dasternya agar langkahnya bisa panjang.

“Ini Bu.. bapak.. bapak hanya numpang sarapan… eh bukan… bapak ke sini untuk nemuin Nak Rakata, penghuni baru di rumah ini.” Pak Lurah nampak gelagapan.

“Alasan saja! Dasar gatel! Mesum!! Apa jatah di rumah masih kurang?! Pasti ke sini untuk mesumin Bu Ningnung, kan? Sadar, Pak, sadar. Inget umur!! Tadi malam aja hanya kuat satu setengah ronde, ini masih mau cari yang lain. Sarapan apaan? Nemuin tamu apaan? Palingan hanya mau sarapan mata ke sini.”

Buset dah.. perempuan itu nampak begitu cerewet dan galak. Payudaranya nampak turun naik karena amarah.

“Ayo, pulang Pak!! Lain kali Bu Ningnung gak usah bukain pintu kalau bapak datang ke sini!” galaknya sambil melirik ke arah Bu Ningnung.

Anehnya Bu Ningnung nampak tenang saja, ia seperti sudah biasa menyaksikan adegan seperti ini.

“Tenang dulu toh, Bu, ini malu ama Nak Rakata.” Pak Lurah berusaha menenangkan wanita yang ternyata istrinya ini.

“Ayo pulang!!” sambil menjewer telinga suaminya dan menariknya keluar ruang makan.

Pak Lurah pun terhuyung sambil tangannya sibuk membenahi sarungnya yang hampir melorot karena nyangkut pada ujung kursi. Wajahnya meringis kesakitan.

“Sudah toh, Bu, kasihan Pak Lurahnya.” Bu Ningnung mengingatkan.

“Yang kasihan itu punyaku, Bu, jarang ditengok. Si bapak sukanya nengokin yang lain!!” entah sadar atau tidak ia berkata begitu, namun terdengar lucu di telingaku. Andai bukan istri Pak Lurah mungkin aku bersedia menengokinnya setiap hari. Ah lupakan… kan nanti sore aku akan menengok Tante Puki, lagian punya Bu Ningnung aja belum kutengok. Ooops!!!

“Eh…” istri Pak Lurah nampak sadar. Ia melepas jewerannya dan mendorong suaminya keluar ruang makan, wajah galaknya berubah ramah sambil memandang ke arahku.

“Ini yah penghuni barunya? Siapa namanya, Nak? Selamat datang ya.” sambil mengulurkan tangan.

Kusambut tangannya sambil tersipu, “Nama saya Rakata, Bu.”

“Oalah nama yang ganteng.. eh bagus… Perkenalkan nama ibu Kecup, Kecup Basiah, istri Pak Lurah.” balasnya sambil membenahi rambutnya sehingga lehernya terpajang.

“Iya. Senang bisa, berken…”

Belum juga aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba Pak Lurah menarik lengan istrinya, kali ini ia yang berubah galak.

“Bu, ayo pulang!!”

“Eh.. ko sek toh, Pak.” Bu Kecup kaget.

“Pulang!! Bu Ningnung.. Nak Rakata… kami permisi!!” ketus Pak Lurah sambil menarik lengan istrinya.

Aku mengikuti keduanya meninggalkan rumah, sedangkan Bu Ningnung hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum saja. Ia lebih memilih tetap berada di ruang makan.

Aku mengawasi mereka dari emper rumah. Nampak Bu Kecup meronta dan memarahi suaminya yang terus saja menarik lengannya.

“Lepasin, Pak! Apaan sih? Ada juga aku yang harus marah, punya burung kegatelan.” protes Bu Kecup.

“Iya, karena gatel, bapak minta digaruk. Ayo cepet pulang makanya.”
“Beneran, Pak?”
“Iya. Ayooo..!!!”

Bu Kecup pun setengah meloncat memeluk suaminya lalu keluar dari pintu pagar. Sungguh pasangan yang aneh. Setelah ini mereka pasti ganas saling menggaruk, apapun yang mereka garuk itu.

“Ayo, nak, sarapan dulu. Mereka mah sudah biasa seperti itu.” sambut Bu Ningnung ketika aku kembali ke ruang makan.

Aku hanya terkekeh mendengarnya, dan aku pun makan dengan lahap di bawah pandangan mata Bu Ningnung yang teduh dan penuh keibuan. Dari bibir manisnya mengalir cerita tentang kehidupan keluarga tetangga kami yang satu itu. Pak Lurah dan Bu Kecup memang sering ribut, tapi konon lebih ribut lagi kalau sedang di tempat tidur, bahkan bisa sampai terdengar ke rumah tetangga.

Tak hentinya aku tertawa mendengar ceritanya, dan aku suka melihat wanita di hadapanku ini cekikikan, ia nampak begitu ceria dan terlihat lebih muda.

Cukup lama kami saling ngobrol di ruang makan, dan masih berlanjut ke ruang cuci piring. Aku membantunya, meskipun berkali-kali Bu Ningnung menolak. Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman berada di dekatnya.

“Sekali-kali, undang Bu Pupuh kemari, Nak.” ujarnya sambil menaruh piring terakhir pada rak.

“Loh, ibu belum pernah ketemu?” tanyaku.

“Belum. Selama ini hanya berbicara di telpon. Kemarin waktu proses jual-beli rumah, selalu asistennya yang datang kemari. Namanya Ganda. Nak Kata kenal, kan?”

“Oh kenal banget, Bu, dia adalah orang kepercayaan Tante Pupuh, sekaligus juga sahabatku.” jawabku.

Mendengar penjelasan Bu Ningnung, otakku langsung berputar, tidak ada salahnya aku mengajak Tante Puki ke rumah dan mengaku sebagai pacarku, toh Bu Ningnung tidak mengenalnya.

“Bu, nanti sore saya pergi dulu, ya bu. Mau ambil mobil sekalian mau jalan ama pacarku.” ujarku. Kami sama-sama berjalan menuju ke emper belakang, dan duduk berhadapan.

“Oalah… pacarnya orang sini, toh? Kenapa gak diajak ke rumah aja, biar ibu juga kenal.” jawabnya antusias.

“Hehehe.. bukan orang sini, kok Bu, dia orang Bandung juga. Cuma kebetulan ia sedang ada kerjaan selama dua hari di sini.” jawabku.

“Oh.. gitu.. ajak mampir ke sini aja, biar ibu juga kenal.” pintanya lagi.
“Iya, Bu, nanti saya ajak.”
“Duh seneng deh.. pasti dia gadis yang baik dan cantik.” Bu Ningnung antusias, dan aku hanya terkekeh mendengarnya, sambil mengamini yang ia katakan.

Obrolan kami semakin meriah ketika Yaning datang dari kuliahnya. Ia begitu ramai dan setiap omongan yang ia lontarkan selalu terdengar renyah. Entah mengapa, kami bertiga bisa begitu cepat akrab dan merasa dekat; seperti satu keluarga yang sudah saling mengenal.

“Riska mana?” aku sadar akan gadis itu.
“Kak Riska tadi dijemput temannya ke Pati dan baru pulang malam.”
“Pasti bareng Aetel.” tanya Bu Ningnung.
“Iya, Bu, tapi mereka bertiga kok, bareng Mas Saldo.”

“Oh syukur deh kalau ada Saldo, semoga mereka berjodoh.” gumam Bu Ningnung.

Aku mengerutkan dahi mendengar nama itu, jauh di dalam lubuk hatiku ada rasa cemburu yang menggeliat.


*
*
*


Aku disambut di sebuah dealer mobil tanpa banyak pertingsing, Tante Puki dan Ndul telah mengurus segala sesuatunya jauh sebelum kedatanganku ke kota ini. Maka Pajero Sport dengan nomor R 27 SP pun sudah bisa kubawa dalam waktu singkat. Sengaja aku memilih nomor itu karena mengingatkanku pada seorang pujangga mesum favorit di kota asalku.

Bermodalkan google map, aku pun segera menuju Hotel Cemerlang, satu-satunya hotel bintang empat di kota ini. Tante Puki sudah menungguku di sana. Setelah memarkirkan mobil, aku pun langsung menuju lobi. Dan… ia sudah ada di sana, sedang duduk di atas sofa sambil memainkan gadgetnya.

“Sayaaang.” suaranya setengah terpekik menyambut kehadiranku.

Dengan penampilannya saat ini, siapapun tak akan menyangka bahwa usianya sudah di atas kepala empat dan sudah bersuami. Tante Puki hanya mengenakan t-shirt putih bertuliskan “ENZ” sedangkan bawahannya mengenakan jeans ketat setengah betis. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai, seolah menjadi latar bagi wajahnya yang cantik.

Aku tahu semua yang ia kenakan adalah branded terkenal, tapi pilihannya untuk mengenakan pakaian kasual seperti ini memberi kesan anggun dan sederhana.

Aku merasa kelu, tak bisa berkata apa-apa, pesonanya menyihirku, dan rasa senang atas perjumpaan ini tak terwakili oleh bahasa apapun. Kusambut tubuhnya dan kudekap erat. Pun pula Tante Puki, ia mendekapku tak kalah erat. Kami tak peduli pada beberapa pasang mata yang melihat ke arah kami. Kami saling menumpahkan rasa rindu.

Kupeluk erat tubuh sintalnya sambil menghirup wangi parfum kesayangannya. Kukecup keningnya ketika pelukan kami terurai, dan pipinya bersemu merah di antara senyum bahagia yang terpancar.

Tak perlu tanya tentang kabar masing-masing, tak perlu basa-basi tentang perjalanan, perjumpaan ini jauh lebih membahagiakan.

Kuberikan kecupan sekali lagi, kali ini pada pipi kanannya. Senyumnya selalu terulas dan sinar matanya menggambarkan kebahagiaan.

“Kita jalan.” ujarku setengah berbisik mesra.

Tante Puki mengangguk lalu mengapit lengan kiriku, dan kami melangkah meninggalkan hotel.

Setibanya di dalam mobil kami kembali berpelukan, dan sudah tidak sungkan lagi berbagi belaian serta ciuman. Seluruh rasa sayang dan rindu saling kami kabarkan melalui sentuhan-sentuhan lembut dan mesra.

Masih tanpa banyak kata, kustarter mesin dan melajukan mobilku, sedangkan ia tetap bermanja dengan merebahkan kepalanya di atas bahuku. Sekali-kali kukecup bibirnya ketika ia mendongak.

“Kita mau kemana?” ujarnya pelan.

“Ke pantai. Lihat sunset sambil nunggu makan malam.” jawabku.

Dan kecupan basah kurasakan pada pipiku. Sikapnya sudah tidak menunjukan bahwa ia adalah tanteku, melainkan berubah manja layaknya seorang gadis yang sedang dimabuk asmara.

Tak sampai setengah jam kami sudah tiba di Pantai Caruban. Semesta nampak mendukung, suasana sore cukup cerah, dan tidak terlalu nampak banyak pengunjung. Kami melangkah meninggalkan parkiran dengan selalu berdempetan, kulit kami enggan dipisahkan. Kugandeng pinggangnya yang ramping, dan ia menumpangkan telapak tangannya pada pundakku. Senyum kami tidak hentinya terpulas, dan sorot mata kami saling berbinar ketika beradu pandang.

Kemesraan di antara kami berdua membuat beberapa pasangan muda-mudi saling pandang penuh arti, dan mereka pun akhirnya tak malu saling untuk bermesra seperti aku dan Tante Puki.

Meski berada di pantai, aku tidak ingin langsung mengajaknya bermain air atau sekedar berjalan menyusuri pasir. Inginku adalah menanti senja bersamanya, menikmati tenggelamnya matahari hanya dengannya, menunggu gelap semesta hanya berdua, meski tak ada maksud untuk menyuwir di sini. Kubimbing tubuhnya menuju sebuah hutan pinus yang tak jauh dari pantai.

Tante Puki menarik tanganku menuju sebuah ayunan di antara pohon pinus. Ia pun duduk sedangkan aku berdiri di hadapannya. Ia langsung mendekap pinggangku dan membenamkan kepalanya pada dadaku. Kupeluk erat untuk menahan agar ayunan tak bergoyang.

“Kenapa baru sekarang, sayang?” suara itu cukup pelan seperti ditujukan pada diri sendiri. Ia seakan menyesali kenapa baru kali ini kami saling mengungkapkan rasa sayang yang selama ini sama-sama kami sembunyikan.

Aku merunduk dan kukecup kepalanya lembut. Kupejamkan mataku untuk meresapi sentuhan bibirku pada rambutnya, sekaligus seakan mencurahkan perasaan sayangku padanya. Aku tak peduli kalau ada rentang usia yang cukup jauh di antara kami, aku tak peduli ia sudah bersuami; peduliku hanya satu: aku menyayanginya. Itu saja!

Dan ia merasakannya. Pelukannya begitu erat, seolah enggan terlepas.

Awalnya aku murni mengungkapkan rasa sayang, tapi sadar bahwa wanita yang ada dalam dekapanku adalah wanita molek yang dulu hanya bisa kujadikan bahan fantasiku, tiba-tiba dadaku bergemuruh, dan ada yang menggeliat di balik celanaku. Wanita ini kini sudah menjadi milikku. Tak perlu lagi membayangkannya, ia nyata bagiku, dan rela memberikan seluruh dirinya.

Suhu tubuhku terasa menjadi panas, nafasku mulai pendek. Tante Puki tentu saja adalah wanita yang sudah berpengalaman, ia bisa merasakan perubahan aura tubuhku. Pelukannya terurai dan wajahnya mendengok, ada senyum dikulum di sana, dan pipinya sedikit merona entah karena apa.

Kuawasi kondisi sekitar melalui pendaran sorot mataku, setelah merasa aman dan tidak ada orang, kubalas tatapannya yang kini sudah berubah sendu. Bibirnya sedikit terbuka dengan nafas yang juga mulai tersengal.

Aku merunduk, ia mendongak; aku membungkuk, ia tengadah. Nafas hangatnya menerpa wajahku, tercium harum dan membangkitkan gairah. Sejenak aku terpaku, terpesona oleh kecantikannya. Dadaku berdesir, jantungku berdetak lebih kencang. Perlahan aku merunduk. Bibir kami semakin dekat, nafas kami beradu, seiring redupnya sorot matanya.

Cuuuuppp.

Bibir kami bersentuhan tipis, sangat tipis, sejenak kami saling terpaku dan terdiam. Kutekan dan kudiamkan lagi beberapa detik. Sangat lembut kurasakan. Bibir kami sama-sama bergerak, bukan mencumbu, tapi bergetar oleh sentuhan yang menghanyutkan.

Kurasakan ia meremas bahuku, sambil sedikit memiringkan wajah. Aku mengerti, kuputar wajahku berlawanan arah. Bibir kami semakin lekat.

Tanpa komando, kami sama-sama mulai saling mengulum dengan lembut, saling menebarkan kasih sayang, saling menghirup nafas cinta yang terpendar dalam derasnya nafas. Bibirnya begitu lembut, nafasnya begitu wangi, dan dengus resahnya melenakan.

Perlahan tapi pasti kami mulai saling mengulum dengan mata terpejam, lalu saling menjaga jarak beberapa inchi sambil membuka mata dan berpandangan sendu, dan mengulum lagi. Begitu seterusnya… Indah.. terasa indah…

Mmmmh…

Lenguhan halusnya terdengar ketika akhirnya aku tidak bisa menahan diri lagi, bibirnya langsung kulumat dengan gemas sekaligus penuh gairah. Ia membalas. Kulumat bibir bawahnya, ia menghisap bibir atasku, puas begitu, lalu saling berganti bibir.

Kujulurkan lidahku untuk menyisir bibirnya, namun ia melakukan hal sama. Tubuhku sedikit bergetar seiring sengatan perjumpaan ujung lidah kami. Menggiurkan, menghanyutkan, membuatku terbuai, lupa akan keadaan.

Kini bukan lagi lumatan yang kami lakukan, tapi sudah berupa cumbuan panas. Lidah kami saling membelit, saling menggelitik, saling melilit, dan sekali-kali saling menyapu rongga mulut.

Gairahku langsung berkobar, tanganku gelisah mengusapi rambut dan punggungnya; sekali-kali meremas. Kukejar terus bibirnya agar ciuman kami tidak terlepas, dan ia nampak kewalahan. Tubuhnya terdorong, terus kukejar, bahkan tanganku mulai merambat pada bagian dadanya.

Kugapai gundukannya yang begitu kenyal, langsung kuremas pelan. Tante Puki memekik geli, tubuhnya menggelinjang, dan…

“Hiyaaaaa.” ia memekik, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terdorong ke belakang.

Ciuman kami terlepas dan ia berusaha menggapai apapun yang bisa ia raih agar tidak terjungkal. Sikap paniknya malah menjadi petaka, pinggulnya yang duduk di atas ayunan terdorong ke depan.

Hmmmfff… aku mengejan ketika penisku yang sudah tegang terhantam tepi papan dudukannya. Kutahan rasa ngilu ini, dan sigap merunduk untuk menahan tubuh wanitaku. Namun tanganku salah sasaran, aku menahan dengan menggenggam payudaranya, sehingga Tante Puki makin kaget. Satu tangan meraih bahuku, dan satu tangan meraih tali ayunan. Akibatnya, pinggulnya semakin terayun ke depan dengan punggung terjengkang; tangannya meraih dan menarik tubuhku.

Bruuuuk…!!!

Tubuh kami sukses nyungsep di atas tanah, dan aku hanya berhasil menahan kepala belakangnya agar tidak terbentur, sisanya kami terjerembab saling menindih. Ayunan pun terdorong oleh kakinya.

“Maaf, sayang lirihku.” sambil berusaha bangkit agar ia tidak terhimpit berat badanku.

Buuuuk!!! Belum juga aku berhasil menegakan badan, kepala belakangku terbentur papan ayunan. Aku kembali ambruk, wajahku nyungsep di antara belahan payudaranya. Nyeri kurasakan, mataku sedikit berkunang-kunang. Kuputuskan untuk tetirah pada bantalan empuk payudaranya dengan nafas tersengal.

“Uhhh… sayang aaah…” keluh wanitaku yang dilanjutkan oleh kekeh renyahnya setelah berhasil menguasai keadaan dan menyadari kebodohan yang kami lakukan.

“Sayaaang…” keluhnya lagi ketika aku tak bergeming.

Klik.. klik…

Kudengar jepretan kamera DSLR. Aku segera mendongak, nampak sepasang muda-mudi sedang mengabadikan kekonyolan kami sambil cekikikan.

“Hei!!” teriakku.

Namun keduanya langsung berlari sambil terbahak. Aku berusaha bangkit untuk mengejar, namun urung ketika Tante Puki menahan ujung bajuku sambil berusaha bangkit.

“Udah biarin aja. Hihi…” ujarnya.

Kubantu Tante Puki untuk berdiri, dan kami pun sama-sama tertawa menyadari kebodohan ini.

“Maaf, sayang.” ujarku sambil membersihkan dedaunan pinus pada rambutnya.

“Dasar.” ia masih terkekeh dan mencubit pipiku gemas.

“Uuuuh…” keluhku. Rasa ngilu pada penisku kembali kurasakan, ditambah lagi nyeri pada kepalaku.

“Kenapa, sayang?” ekspresinya berubah khawatir. Tangannya terulur pada bekas benturan di kepalaku.

Aku tidak menjawab, kepala bawah jauh lebih sakit dari pada kepala atas. Segera kususupkan tanganku ke dalam celana untuk mengusapi batang ‘si kentang’ yang terasa ngilu.

“Sayaang, malu tahuu.” ujar Tante Puki sambil celingukan karena takut ada yang melihat ulahku.

Aku tak peduli, batangku harus diselamatkan, jangan sampai cidera sebelum pertandingan yang akan segera dilaksanakan nanti malam. Kupijat, kuurut, kuelus… sial.. dianya malah bangun lagi. Ringis sakit pun berubah nikmat.

“Tuh kan.. kan.. kaaan… mesum kaaan.” Tante Puki cemberut sambil mencubit lenganku keras-keras.

“Sakiiit sayang.” keluhku sambil mengeluarkan tanganku dari dalam celana. Langsung kuulurkan untuk mengelus pipinya, namun ia cegah.

“Joroook. Lap dulu.” protesnya.

Aku tak peduli, malah kuarahkan telapak tanganku pada mulutnya agar ia ciumi. Tante Puki meronta, dan berlari, kukejar. Renyah tawa saling kami lontarkan sambil berlarian di antara batang-batang pohon pinus. Kami mempraktekan adegan sinetron dalam kehidupan nyata kami.

Ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menangkap pinggangnya, dan berhasil menahan rontaannya. Gelak tawanya semakin keras, dan diakhiri tatapan sendu, berlanjut lumatan panjang dalam ciuman yang takkan terlupakan.

“Yank, naik perahu yuk.” ujarku sesaat setelah cumbuan kami terlepas.

“Gendong!” sambil merentangkan tangan.

Wanita paruh baya ini berubah manja layaknya gadis yang baru pertama jatuh cinta. Langsung kuberikan punggungku dan ia langsung meloncat sehingga aku terdorong satu langkah ke depan. Hadiah kecupan pada pipi pun ia berikan.

Kugendong tubuh wanitaku menuruni bukit kecil, menuju pantai. Susah payah aku melangkah karena Tante Puki tidak mau diam, ada saja ulahnya. Entah menciumi pipi, entah mendekap leher terlalu kuat, entah menggesekan betisnya pada penisku.

Aku menyeberangi hamparan pasir menuju sebuah anjungan, sedangkan di barat nampak langit sudah memerah dan cincin semesta mulai turun hendak tetirah.

“Turuuun.” majanya.

Aku pun melepaskan gendongan. Sejenak kami saling pandang sambil memberikan senyum bahagia. Tanpa malu pada orang-orang, kami saling memberi kecupan kecil dan diakhiri oleh pelukan mesra.

Kami benar-benar dimabuk asmara. Kaki kami melangkah pelan dengan tubuh rapat karena tangan yang saling melingkar pada pinggang. Kami terus melangkah menyusuri anjungan dengan arah pandangan selalu tertuju pada merahnya langit senja.

Aku memang sudah menyiapkan semuanya sebelum menjemput Tante Puki ke hotel. Segera kupapah wanitaku menuruni tangga di ujung anjungan, dan menaiki perahu yang tertambat.

“Yank?”

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Kubantu wanitaku untuk menaiki perahu sampai bisa duduk dengan nyaman. Setelah melepaskan tali, aku segera duduk dibelakangnya untuk mengayuh dayung. Betapa indah.. ketika ia merebahkan tubuhnya pada dadaku, sedangkan tanganku mendayung dengan pelan.

Kuarahkan perahu agak ke tengah, lalu kuhadapkan ke arah barat. Cincin semesta sudah membulat merah, perlahan turun seakan hendak mencium garis bumi. Sementara gelombang kecil berkejaran, berkemilau oleh sorot sinarnya.

“Sukaaaa.” lirihnya sambil mendongak.

Kulingkarkan tanganku pada pinggangnya sambil mengecup bibirnya. Sejenak kami saling mencumbu, lantas kembali fokus menikmati indahnya sajian alam. Hanya sentuhan-sentuhan dan belaian kecil yang kami lakukan, sisanya kami larut dalam kekaguman pada pesona semesta.

Kukabarkan rasa sayangku dengan memeluknya semakin erat dan menempelkan pipi kami masing-masing. Kami bermesra dalam diam, tanpa mengalihkan padangan pada keindahan yang semesta suguhkan.

Sejenak pikiranku melayang, mengingat sebuah goresan pena dari penulis mesum yang kukenal:

Matahari kian membulat merah dan memberi bias emas pada hamparan laut yang bergelombang. Langit dan laut seakan bersatu, bersentuhan, dan beradu rindu sebelum berpisah menjemput malam; dunia atas dan dunia bawah saling bercumbu dalam ciuman berupa bentangan garis panjang di ujung pandangan. Dan gelombang seakan menjadi deru rasa yang menggelorakan gairah semesta.

Aku duduk sambil menekuk lutut sebagai sanggaan daguku, sementara kedua tangan melingkar dan memeluk kedua betis. Mataku enggan berkedip memandang pesona ‘perkawinan’ alam di hadapanku. Sebentar lagi mereka akan hilang, cumbu mereka akan diselimuti malam, ‘percintaan’ mereka akan ditemani kemerlip bintang.

Debar jantungku seakan menjadi irama yang mengidungkan kekaguman pada semesta, sekaligus kabar perih atas nasib diri. Semuanya akan menjadi sempurna kalau aku menikmati keindahan ini dengan orang yang selalu kusayang, semuanya akan utuh ketika kami mengantar pulang siang sambil memeluk sebuah tubuh yang selalu menggelayut dalam setiap rasa rinduku.

Aku hanya bisa merekatkan gigiku saat apa yang kurasa dan kupandang berubah beda. Yang kupandang adalah harmonisnya alam, tapi yang kurasa adalah perih karena terkoyaknya kasih sayang.

Langit dan laut saling meminang, keduanya diikat oleh cincin merah semesta. Matahari membulat sempurna di tengah garis antara langit dan laut, antara dunia atas dan bawah, antara keabadian dan kefanaan.

Seperti matahari yang menyatukan langit dan laut saat terbenamnya, demikianlah mimpi dan harapku, aku ingin menjadi saksi kebahagiaan pelaminan orang yang paling kusayang, sebelum aku memenuhi undangan yang takdir berikan. Aku ingin menjadi terang baginya, sebelum terbenam untuk selamanya.

Semesta,
Aku pulang.
Terimalah nyawa dan ragaku, semoga masih ada maaf yang kau anugerahkan atas hidupku di masa lalu.
Aku mendesah pelan. Aku bersyukur bahwa kidung itu bukanlah milikku, senja tidak menjadi kisah pedih bagiku. Sebaliknya, menjadi momen indah yang dapat kunikmati bersama kekasih dan pujaan hati. Senja boleh selalu sama, tapi kisah para penikmatnya senantiasa berbeda. Dan senja ini… aku bahagia.

Kulihat matahari tinggal setengah, sisanya sudah tenggelam seakan ditelan tepi bentangan laut. Aku dan Tante Puki saling melirik, saling pandang, lekat tanpa bosan. Rasa sayang saling kami kabarkan.

Langsung kukecup bibirnya dan kukulum lembut. Ia membalas tak kalah lembut. Kemesraan kami bagikan. Kami hantar kepulangan sang surya dengan cumbuan hangat dan syahdu.

Alam pun mulai meremang, semesta mulai sunyi, selain hablur ombak yang terdengar. Aku masih enggan pulang, kuperdalam cumbuan, dan ia membalas. Lumatan demi lumatan kami berikan, merahnya matahari kini terganti merahnya gairah dalam hati.

Kutarik kaosnya yang ia masukan ke dalam celana. Tanganku menyelusup, menyentuh kulit perutnya yang halus. Kurasakan ia sedikit bergetar dalam ciumannya, tangannya berpindah pada punggung telapak tanganku meski tanpa sungguh-sungguh berniat untuk menolak.

Aku semakin hanyut dalam sensasi sentuhan yang kurasakan, juga dalam setiap cumbuan yang semakin syahdu. Setelah jemariku puas melingkari pusarnya, telapak tanganku semakin naik. Tante Puki semakin gelisah dalam cumbuannya, lidahnya makin bergerak liar.

Kurasakan tepian BH-nya yang merekat erat. Tanpa ragu langsung kutelusupkan jemariku, dan gundukan kenyal mulai kurasakan.

“Mmmh.. shhh…” Tante Puki mendesah di sela ciumannya.

Tanganku semakin merambat naik. Kudorong tepian BH-nya oleh punggung tangan sedangkan telapak tangan mulai menggenggam bagian bawah payudara dara kenyal wanitaku. Aku sangat menikmati sensasi sentuhan ini, tanganku mulai meremas, dan jemariku bergerak liar mencari puting susunya.

“Mmmmh..” lenguhnya lagi hingga ciuman kami terlepas. Nafasnya tersengal dan pandangannya begitu sayu.

Kesempatan ini kugunakan untuk memasukan tanganku yang satunya. Kaosnya sudah semakin tersingkap ke atas. Kutarik pula pembungkus payudaranya melewati dua gunungannya besar yang menjuntai.

“Aaaah…” pekiknya ketika aku berhasil meraih kedua putingnya bersamaan. Tegang kurasakan.

Langsung kujepit di antara dua jari sambil mengintenskan remasan. Tante Puki semakin gelisah dan desahannya semakin kerap. Ia turut meremasi punggung tanganku sehingga telapakku semakin tertekan pada payudaranya.

Aku pun merunduk dan menempatkan daguku di antar pundak dan lehernya. Aku ingin melihat apa yang sedang kuremas. Bukan hanya tangan ini yang ingin menikmati, tetapi mataku juga ingin memandang keindahan payudaranya.

Mataku terasa nanar, ketika di antara keremangan aku bisa melihat payudaranya yang besar dan indah. Menyembul mulus karena genggaman dan remasanku.

Aku terbakar gairah. Selangkanganku terasa sakit karena ‘si kentang’ menggeliat dan tegang maksimal. Kepalanya terasa cenat-cenut, sepertinya ia sudah tidak tahan ingin nyelup.

Aku ingin menuntaskan hasratku saat ini juga. Kuciumi lehernya sambil terus meremas, duduknya kian gelisah sehingga perahu mulai bergoyang, bibirnya mencari mulutku untuk mencumbu.

Cuuuup!!!

Bibir kami beradu dan langsung saling melumat dengan panas. Kesyahduan ini membuat kami lalai, gairah ini membuat kami abai. Kami terhanyut dalam gairah yang ada, tanpa sadar pada dunia sekitar.

Byuuuur!!!! Braaaak!!!!

Perahu cinta kami membentur sebuah penutup cerita: BERSAMBUNG….
 
Top